Kadang

Kadang, kita merasa bahwa segala usaha yang telah diupayakan selama ini cukup layak untuk memberi hasil terbaik. Kadang, kita merasa bahwa doa-doa yang telah dipanjatkan kepada Sang Khalik sangat pantas untuk mendorong keinginan terkabul. Kadang, kita merasa bahwa apa yang dinanti itulah yang terbaik, maka patut untuk diperjuangkan, dipertahankan. Kadang, kita merasa bahwa sesuatu yang baik untuk kita harus diusahakan. Hanya saja, itu terbatas pada ‘kadang.’

 

Lalu, apa yang kau rasakan jika pada akhirnya ‘kadang’ itu berbuah pahit? Apa yang akan kau lakukan jika ternyata apa yang kau pertahankan tidak menjadi terbaik? Lalu bagaimana kau akan menahan emosi jika apa yang kau nanti ternyata berbanding terbalik, atau ternyata tidak menanti kita sendiri? Apa yang kau lakukan jika semuanya sia-sia? Jika harapan semu belaka? Di satu sisi kau berharap, namun di satu sisi lainnya kau dijatuhkan?

 

Seorang partner kerja bahkan berkata pada kasus pertama, “Untuk apa menunggu yang tidak pasti jika orangnya saja mengatakan seperti itu? Untuk apa menanti yang tidak tahu kapan akan mengakhirinya? Dan kau tahu sekarang, bahwa fakta baru terkuak? Satu tahunmu tidak memberikan yang terbaik seperti yang kau harapkan. Cukupkan pada satu hal ini saja.”

 

Di lain kesempatan, ia pula berkata tentang kasus kedua, “Mengapa harus mengulang kesalahan yang sama? Mengapa harus menunggu orang yang tidak pasti? Mengapa harus menjadi orang yang ke-GR-an, sedangkan ternyata orangnya dulu malah memiliki rasa pada orang lain, meski pada akhirnya orang itu mengakhiri rasanya pada orang lain? Mengapa kau harus menunggu hingga tahun depan, dalam waktu berbulan-bulan, sedang ia belum pasti memberikan harapan? Mengapa kau harus memanjangkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti lagi? Jangan sampai kali ini pun sama hasilnya dengan yang kemarin. Penantian yang sia-sia.”

 

Kadang, hidup yang diharapkan akan lebih baik jika bersama dengan orang yang kita kira tepat, ternyata berbanding terbalik. Kadang pula, berbuah manis seperti yang kita harapkan. Pada dua kasus ini, jika memang ‘kadang’ itu tidak memberikan hasil baiknya, maka kau harus kuat laksana pohon beringin di tengah kota itu. Namun, jika pada suatu hari, Allah SWT memberikan hasilnya, maka beryukurlah. Ia telah memeluk mimpi-mimpi dan penantian itu.

2 thoughts on “Kadang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s