Menjadi 26

Tulisan ini adalah hasil refleksi saya selama 26 tahun hidup di bumi, 2 Mei 2016 lalu…

 

Salah satu mentor saat saya mengikuti kegiatan pelatihan kepemudaan di Jakarta, seorang wanita tangguh yang menginvestasikan dirinya untuk pengembangan kapasitas diri anak muda, Bunda Tatty Elmir, mengirimkan ucapan rasa syukurnya bagi saya yang telah berumur 26 tahun pada 2 Mei lalu di dinding Facebook:

 

                “HBD Bella, sehat ceria, penuh karya dan berbagi yang tak pernah alpa. Selamat merayakan tanggal juang Ibu hebat melahirkan anak yang tak kalah hebat. Titip peluk buat beliau. :))”

 

Ya, saya punya ibu hebat. Ibu yang tidak seperti ibu kebanyakan. Ibu saya adalah pribadi yang sederhana. Dimana saya dan adik-adik diajarkan untuk hidup hemat. Yang ikan sepotong bisa dibagi rata. Yang dari kehematannya itu, kami bisa menikmati kehidupan yang lebih baik saat ini. Ibu saya juga tidak haus akan kehidupan dunia. Saat ibu-ibu lain memiliki smartphone canggih atau berbelanja di mall, ibu saya; yang justru sebenarnya punya pundi-pundi untuk memiliki itu semua, malah tidak tertarik untuk berbelanja yang tidak penting.

 

Ibu saya juga orang yang terlalu memikirkan kehidupan anak dan saudaranya, di saat beliau sendiri bahkan kurang memperhatikan kesehatannya sendiri. Bahkan kadang menurut saya, ibu terlalu sensitif untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia bahkan bisa sedih seharian gara-gara adik nomor dua yang tidak membalas SMS atau menjawab telponnya. Ibu saya orang yang terlalu peduli dengan kehidupan orang lain, beliau ingin membahagiakan keluarganya. :’))

 

Jadi, wajar saja saya yang selalu banyak salah ini, kadang sedih harus melihat mama; begitu saya dan adik-adik memanggilnya, saat beliau tidak enak hati. Ya, siapa sih yang bahagia melihat ibunya sedih? Akhir-akhir ini mama bahkan banyak member wejangan kepada saya untuk kehidupan masa depan. Well, you know what I mean about “future life” lah ya. Namun, kadang mama tidak menyadari bahwa anaknya juga berjuang dan tidak lelah berdoa, meski Allah SWT masih belum member kepastian. Disini kadang saya sedih belum memenuhi harapan mama yang spesial itu. Jujur, menjadi beban rasanya kalau keinginan orang yang kita sayangi belum terpenuhi. Namun apalah daya segala ketetapan Allah SWT belum memberikan tanda-tanda yang pasti.

 

Selain mama yang hebat, saya juga punya papa yang hebat. Papa yang pekerja keras, sekeras hati dan pikirannya seperti saya. Kerja kerasnya untuk membuat keluarga yang lebih baik menampakkan hasilnya. Tentu saja saya dan adik-adik termotivasi untuk melakukan hal serupa. Tidak ada kata ‘malas’ dalam kehidupan yang harus diperjuangkan. Jadi, kalau teman-teman melihat sifat keras saya (entah dalam bidang apapun, keras kepala, pekerja keras, atau suara keras, hehe…), itu justru menurun dari papa.

 

Papa juga pemimpin yang tegas. Ia sepertinya terlatih untuk tegas dan disiplin dalam bertindak. Ditambah lagi papa berkali-kali dipercaya memimpin institusi. Meski kadang papa juga pernah mengeluh, tapi ketegasan papa tidak pernah luntur. Kata mama, sifat tegas dank eras sepertinya sudah bawaan suku Komering Palembang, hehe… Pernah saya melihat papa berbicara dengan tegas kepada partner kerjanya. Bagi papa, tegas dalam memimpin itu harus, apalagi memimpin keluarga. Jangan lembek dan tidak punya pendirian. Untuk hal ini, saya setuju dengan ketegasan papa.

 

Last but not least, mama yang hebat dan papa yang hebat belum membentuk anak yang hebat. Saya merasa saya masih banyak kurang membahagiakan mereka. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa tidak begini, tidak begitu,seperti dulu yang mungkin mereka lihat saya aktif, saya bisa katakan ini kepada mereka:

 

“Sepertinya 26 tahun hidup ini, saya terlalu banyak menyusahkan orangtua. Selama 26 tahun ini terlalu banyak saya berada di luar pengawasan mama dan papa. Maksudnya saya sering pergi ke luar Jambi dan meninggalkan orang tua. S2? Di usia saat ini untuk mengambil S2, saya mengkhawatirkan usia. Harapannya nanti bisa belajar, entah itu untuk S2 atau short course, saat saya sudah menikah (doakan ya!). Semoga pendamping hidup saya nanti juga mengizinkan saya untuk terus belajar, jadi saya tetap bisa meraih impian saya. Oya di sisi lain jika saya mengambil S2, saya inginnya di luar Jambi, nah kalau lolos jadi pilihan sulit bagi saya. Masa harus keluar Jambi lagi? Masa harus meninggalkan orangtua lagi 2 tahun? Masa di rumah hanya mama, papa, dan adik bungsu saja? Jadi jawabannya, saya masih ingin berada di dekat mereka, ingin membahagiakan mereka sebelum saya atau salah satu dari mereka meninggal. Saya ingin berbakti kepada kedua orangtua dengan kemampuan yang saya miliki. Satu doa dari mama, yang juga menjadi capaian untuk membahagiakan mama dan papa, adalah menikah. Bukan ingin diburu-buru, tapi kata mama sudah waktunya, jangan terlalu terlena dengan cita-cita yang tidak akan ada habisnya. Doakan saya bisa membahagiakan mama dan papa, doakan saya agar harapan saya menikah sebelum umur 27 tahun terwujud, doakan saya agar mama dan papa masih sehat saat saya menikah nanti. Doakan saya semoga Allah SWT memberikan keputusan terbaik pada setiap keputusan yang saya ambil. Saya percaya, ridho Allh SWT juga ridho orangtua. Jadi, insyaAllah semua akan terlaksana pada saat yang tepat.” :”)

 

 

2 thoughts on “Menjadi 26

  1. Amin🙂
    Bismillah,
    Semua akan datang disaat yang tidak disangka dan diwaktu yang tepat.
    Bersabar mungkin bukan kata yang harus saya ucapkan, tetaplah seperti ini sampai ketetapan yang pasti itu datang.
    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s