Belajar Kehidupan dari Akas Usman: Catatan Kenangan dari Cucu Pertamamu

“Kas, payungnyo bagus, beliin payung ini, kas,” rengekku kepada akas saat melewati took di seputaran pasar suatu hari.
Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, akas berkata, “Kita balik dulu, Bella.”


Saya masih mengingat momen itu hingga sekarang, meski dialog percakapannya tidak sama persis. Namun, isi dialognya kira-kira seperti itu. Begitu banyak kenangan masa kecil bersama almarhum akas saya, H. Usman, yang tersimpan di memori jangka panjang saya. Tulisan ini setidaknya mencoba merangkum ingatan yang bisa jadi suatu hari terlupakan. Dan tentu saja, tulisan ini jadi pelipur hati kami, anak dan cucunya yang ditinggalkan, yang masih menghirup oksigen gratis pemberian dari Allah Swt.

Akas Usman yang merupakan ayah dari mama saya, adalah kakek yang banyak berinteraksi dengan saya. Seharusnya saya juga berinteraksi dengan akas dari pihak papa, tapi ayah papa tersebut bahkan saya tidak sempat bertemu sejak saya kecil, karena akas Mahmud sudah meninggal sejak papa masih remaja. Alhasil, saya lebih banyak didampingi oleh akas Usman, yang seminggu lalu telah meninggalkan saya pula ke pangkuan Sang Maha Kuasa.

Akas Usman adalah sosok panutan terbaik. Saya belajar banyak dari almarhum. Ketegasan, kebermanfaatan hidup, kedermawanan, kasih sayang, pola pikir, komunikasi, dan kepemimpinan. Salah satu contoh kebermanfaatan hidup dan kedermawanan yang diceritakan oleh mama adalah beliau sering memberi makan dan minum kepada orang yang sering lewat di depan rumah akas (rumah akas terletak di tepi jalan besar di Kertapati). Ini juga dilakukan almarhum kepada keluarganya, termasuk saya.

Jika teman-teman melihat sebuah lemari kayu tua di rumah almarhum akas di Palembang (beberapa mungkin yang membaca pernah berkunjung ke rumah akas di Palembang), akan terlihat tempelan es krim terkenal disana. Itu tidak lain karena saya suka minta dibelikan es krim😀 Kebetulan saat itu hadiah stiker gratis diberikan saat pembelian es krim. Lantas penuhlah sisi lemari dengan stiker tersebut. Siapa yang membelikan es krim itu? Akas.

Selain es krim, tekwan, es jeruk, dan bakso yang kerap saya sambangi tokonya juga karena kemurah hatian almarhum akas. Bahkan saat pertama kali saya dimasukkan ke lembaga kursus bahasa Inggris di depan rumah akas, itu juga karena andil beliau. Dulu, ketika saya di daerah terpencil Nipah Panjang pada tahun 1990-an, buku-buku berkualitas pun dikirimkan akas dari Palembang (selain dikirimkan oleh bik Inab, adik papa di Bandung saat itu). Kasih sayangnya kepada saya tak terbatas :’)

Beranjak remaja, akas mulai memberi tahu tentang cita-cita dan masa depan. Mama kemarin cerita kalau akas ingin anak-anaknya bisa mengemban pendidikan tinggi meski ekonomi saat itu tidak memungkinkan, kalau bisa hingga ke luar negeri. Akas juga memberikan cakrawala luas terhadap ilmu pengetahuan, mengenal sepakbola Indonesia, daerah-daerahnya yang indah, dan hal lain yang menambah wawasan. Dua poin tersebut menjadi ikhwal perkembangan diri saya saat menjadi mahasiswa, ingin melihat Indonesia lebih luas, ingin menambah wawasan ilmu pengetahuan, dan ingin ke luar negeri.

Semua pencapaian saya saat jadi mahasiswa tak luput untuk diberitahukan kepada akas. Bahagia rasanya jika memberikan kabar baik kepada akas tentang cucunya satu ini. Akas seperti biasa selalu tersenyum dan memberikan petuah kepada saya. Hingga di akhir kalimatnya, akas pernah bilang, “Akas bangga!,” sambil mengepalkan tangan kanannya dan menyilangkannya di dada. Di sisi lain ia juga mewanti-wanti saya untuk tidak sombong dan rendah hati.

Suatu hari, saya pernah menceritakan saya ingin ke Papua Barat, mengabdi disana dalam beberapa tahun lewat sebuah perusahaan migas. Akas tidak langsung mematahkan semangat saya karena ia tahu saya sangat ingin ke daerah timur yang pelosok. Saya tahu saat itu akas sebenarnya tidak mengizinkan saya dan member tahu orangtua saya bahwa ia khawatir jika cucu perempuannya yang pertama ini jauh dari orangtua, di sebuah daerah yang butuh pengawasan lebih oleh penjaga keamanan. Akhirnya saya membatalkan, meski di dalam hati pengen banget kesana.

Pengalaman cita-cita ini pun juga berhubungan dengan harapan akas kepada anak-anaknya untuk melihat negara luar. Ini bisa jadi karena akas dulu pernah berinteraksi dengan orang luar negeri yang bekerja satu tempat dengannya (akas dulu dipercaya menjadi seorang mantri meski beliau bukan lulusan kesehatan, hingga akhirnya meninggalkan pekerjaan tersebut dan beralih menjadi pengusaha bahan bangunan). Saya berulang kali meminta doa akas untuk mengikuti seleksi ke luar negeri, berulang kali pula saya belum diizinkan oleh Allah Swt.

Akhirnya 2015 lalu impian tersebut dikabulkan. Saya menjelaskan ke telinga akas dengan suara agak kencang (pendengaran akas sudah agak berkurang) pada Agustus 2015 bahwa saya akan berangkat ke Amerika Serikat September 2015. Meski responnya tidak aktif seperti dulu lagi, saya bisa merasakan nada haru pada kata “Oh…” yang dilontarkan akas, sambil mengusap mata. Pada akhir hayat almarhum pula, akas masih mengenakan kaos dari Washington, DC, oleh-oleh dari saya (kaos itu dipakai sejak dua minggu yang lalu saat saya mau pulang dari Palembang ke Jambi, dan tidak dilepas hingga ajal menjemput akas).

Namun tak jarang akas juga mengkritik saya. Salah satunya saat saya sering dilihatnya berjalan agak bungkuk. Berulang kali akas mengingatkan saya untuk tidak seperti itu, dan bahkan beliau mencontohkan cara jalan yang tegap. Seketika kalo mengingat akas mempraktekkan cara berjalan itu di hadapan saya, maka saya suka senyum sendiri. Kenapa? Karena posisi tubuh akas yang tegap dan cara penyampaiannya yang lucu akhirnya membuat saya malu sendiri, hehe. Hingga kini saya berusaha untuk tidak jalan bungkuk lho. That’s because of him.

Bagi saya yang masih banyak dosa ini, saya banyak belajar arti hijrah dan penerapan agama Islam dari beliau. Saya selalu ingat bagaimana akas selalu siap mengambil wudhu dan duduk membaca dzikir sebelum adzan Maghrib berkumandang. Akas juga selalu mengajak anak dan cucunya sholat berjamaah. Akas yang juga diiringi oleh ombai Ada, selalu menjadi contoh penerapan agama Islam yang baik. Tidak cukup sholat 5 waktu, sholat tahajud kerap saya saksikan saat saya tidak sadar bangun tengah malam ingin ke toilet. Akas selalu bangun di sepertiga malam untuk mencari lapis-lapis keberkahan dari Allah Swt. Satu hal yang saya sedihkan sejak akas sakit dan terbaring di kamar saja, akas sering lupa sholat. Saya kadang tidak tega saat mama atau keluarga mama lainnya mengingatkan akas untuk sholat, dan akas terlihat sangat menyesal kenapa ia lupa waktu sholat. Semoga Allah Swt memberikan keringanan atas penyakit ini ya.

Soal kepemimpinan dan komunikasi, saya melihat ini dilakukan akas sangat baik. Akas tidak sungkan untuk mengobrol dengan anak-anaknya. Kata mama, akas suka memberi pengarahan tentang kehidupan kepada anak-anaknya. Akas juga tidak pernah mendikte harus seperti ini ataupun itu, yang jelas beliau akan memastikan anak-anaknya terhimpun pembelajaran agama dengan baik. Akas juga tidak membeda-bedakan kelima anaknya, termasuk saya cucu pertamanya. Namun jika terbukti kami salah, akas tidak akan segan-segan menegur.

Oya, akas dulu juga sering mengajak saya bertemu dengan temannya sesama pengusaha di dekat rumah maupun yang jauh. Saya ingat banget lho saat saat akas mengajak saya bertemu temannya itu. Diam-diam sejak kecil saya telah mencuri pembelajaran berharga dari akas, hingga saya memiliki kepribadian seperti sekarang. Diam-diam akan menularkan semangat itu sejak dulu. Negosiasi akas kepada teman-temannya dan bagaimana ia menjalin silaturahmi dengan baik membuat saya juga mengamini itu untuk kehidupan saya.

Subhanallah, umur akas yang kurang lebih 82 tahun ditutup pada pukul 21.30 tujuh hari yang lalu di kamarnya di Palembang. Akas menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang kurang lebih 1,5 tahun terbaring. Akas mengucapkan nama Allah saat sekujur tubuhnya dingin dan berwarna kuning, sesaat setelah mama saya di Jambi, bik Dewi di Cilegon, papa Mulkan di Bogor menelepon akas dan handhone diletakkan di telinga akas, juga bik Ana, Matiar, dan keluarga besar lainnya mendampingi ia menghadapi sakratul maut tepat di sisinya.

Empat belas hari yang lalu saya begitu haru menyenandungkan Lilin-lilin Kecil yang ternyata salah satu lagu lawas yang disukai akas (kata bik Dewi). Tujuh hari yang lalu saya berusaha untuk tidak histeris, karena saya tahu akas pasti akan sangat kesal jika kami meraung histeris karena kepergiannya. Saya saat ini berusaha untuk tidak meneteskan air mata karena begitu banyak kenangan manis yang sulit dihapuskan, meski akas sudah dimakamkan di tempat peristirahatan terakhirnya. Begitu banyak pembelajaran hidup yang saya peroleh dari akas. Saya bahkan bisa bilang, beliau salah satu yang membentuk kepribadian saya hingga menjadi Bella Moulina saat ini. :’)

Teman-teman, mohon doanya untuk akas, mohon dikirimkan Al Fatihah atau Surat Yasin kepada almarhum. Mohon doanya agar akas ditempatkan di tempat terbaik di surge Allah Swt bersama para syuhada, semoga akas diberi tempat peristirahatan terakhir yang terang, luas, dan indah. Semoga pula amal ibadah akas selama di dunia menjadi timbangan berat untuk akas menuju surganya, juga mungkin kekhilafan akas dihapuskan olehNya. Amin.

20160123_200628

Ayo tebak, umur berapakah saya saat duduk di pangkuan akas ini?🙂

We do love you, akas. InsyaAllah kita akan bertemu di surge jannah Allah Swt ya, akas Usman. :’)

2 thoughts on “Belajar Kehidupan dari Akas Usman: Catatan Kenangan dari Cucu Pertamamu

  1. Amin ya rabbalalamin

    Semoga mang Usman mendapatkan tempat tetinggi dan terindah di alam sana.
    Doa dan salam hormat kami selalu buat mang Usman

    Wassalam

    Anto

    Ponakan mu, anak Kalung Rahmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s