Irama Musik Pagi Hari

IMG-20150913-WA0032

Mendengar alunan musik Sungai Detroit di Detroit, Michigan, USA, sembari menatap Kanada di depan saya.

Dua hari ini saya libur (yaayy!). Dua hari ini pula saya punya banyak waktu istirahat di rumah dan bercengkrama dengan keluarga. Dua hari ini rasanya begitu damai, tidak melakukan aktivitas sehari-hari di tempat kerja dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Dua hari ini pula energi saya kembali, setelah runtutan kehidupan yang dipastikan selalu sama untuk dilewati.

Pagi ini saya terbangun. Mendengar kicauan burung bersuara merdu. Saya langsung meraih laptop ini untuk menulis, sembari mendengar lagu Tak Perlu Kelilling Dunia. Saya meraih es teh sis tadi malam. Masih segar untuk menyambut hari libur kedua ini. Ngomong-ngomong soal irama musik pagi hari, saya jadi terkenang akan suara-suara merdu nan menarik yang saya dengar di beberapa tempat.

Pertama dan yang utama adalah di rumah saya di Jambi. Kicauan burung di sekitar rumah yang sudah sedikit pohonnya tentu menjadi pendengaran langka. Tapi berkali-kali saya mendengarnya, meski tidak terlalu lama ia berkicau. Ketika mendengar kicauan ini, saya terdiam dan memejamkan mata. Akankah hari esok saya masih diberi kesempatan untuk mendengarnya?

Irama musik pagi hari kedua saya dengar saat di Rote dulu. Kali ini irama musiknya lebih komplit. Tak hanya bunyi burung saja, namun juga hewan-hewan lainnya. Ditambah lagi kadang pada pagi hari lagu-lagu beat pop dan lagu daerah Timur turut hadir berdendang. Semuanya bersahut-sahutan, memanggil kami yang masih terlelap dalam buaian. Kadang ibu angkat saya, Ibu Femi, sempat merisaukan musik yang diputar teramat kencang, saya juga ikut-ikutan mengeluh, namun akhirnya malah jadi bernyanyi bersama haha.. Oya irama musik di Rote juga terdengar indah jika kita berdiri di tepi pantai. Debur ombak di laut memecah kesunyian, membuat saya rindu akan hal itu.

Lain halnya di rumah keluarga mama dan papa di Palembang. Suara musik yang berasal dari lalu lalangnya kendaraan mendominasi, khususnya jika di rumah keluarga mama di Kertapati (karena rumah akas dan ombai terletak di pinggir jalan). Dulu kata orangtua saya, anaknya ini hobi banget bikin orang jantungan, mendadak sudah berdiri di tepi jalan yang tepat berada di depan rumah akas😀

Selain di kota, rumah keluarga papa berada di dusun kecil, dusun yang kata orang Komering “Alangkah kerasnyo nian wong yang tinggal disano.” Campang Tiga menjadi daerah dengan irama musik kedua di Palembang. Saya masih ingat dulu ketika bermain di sungai depan rumah almarhumah ombai, sorak sorai hewan dan aliran sungai berbaur menjadi satu. Bersama sepupu kami bisa berjam-jam disana.

Well, diantara sekian provinsi dan kota yang saya jelajahi saat menjadi mahasiswa, irama musik pagi hari di Dieng adalah favorit saya. Tidak hanya mendengar kicauan burung dan hewan lain, tapi juga hembusan nafas yang terlihat seperti asap menjadi irama unik. Bahkan beberapa kali menghembuskan nafas hanya untuk mendengar dinginnya udara yang terlontar membentuk asap. Ditambah lagi awan-awan cantik Dieng yang membuat kita pengen kembali lagi kesana (ya, saya pengen banget kesana lagi!). Tiba-tiba duo sunrise pun muncul, golden dan silver. Makin mempesona!

Terakhir, irama musik yang tak akan saya lupakan pula, ketika saya berada di Detroit, Michigan, USA, September lalu. Pagi itu, saya keluar hotel bersama peserta IVLP. Tak dinyana, udara pagi yang demikian segar itu mengharuskan saya memakai sarung tangan dan jaket. Yup, udara dingin melanda! Namun saya memaksakan tubuh untuk menikmati udara pagi hari. Saya berjalan menuju Detroit River di belakang kantor General Motors, menyusuri sungai dan menatap Kanada dari negeri seberang ini. Disini saya mendengar irama musik pagi hari yang berbeda dengan negara saya, riuhnya suara para bule, deburan air sungai yang jernih, dan tertibnya lalu lintas.

Layaknya manusia, ia justru butuh untuk berkicau. Dan itu, alangkah lebih tepatnya jika ia berkicau hanya kepada Sang Maha Besar, Allah Azza Wajalla. Saya menganalogikan kicauan ini sama seperti musik pagi hari yang saya dengar di beberapa tempat di atas. Kicauan manusia itu seperti musik. Iramanya kadang rendah, dan tak jarang tinggi. Saya memang jarang menikmati pagi hari yang tidak tergesa-gesa, tapi saya tentu tak akan melewatkan momen kicauan saya bersama Allah Swt setiap harinya. Ayo jangan kalah dengan irama musik pagi hari ini ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s