Cerita Dibalik Perjalanan ke Amerika #1

New Journey Will Come
Saya mengemasi barang-barang di koper dan tas ransel. Saya memastikan tak ada satupun barang yang tertinggal. Pakaian, makanan, peralatan mandi dan berhias, peralatan sholat, oleh-oleh, dan makanan, semuanya ‘dipaksakan’ masuk ke dalam koper yang kupinjam dari papa. Sambil melirik pemintai waktu di arloji yang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, saya merasakan waktu berjalan lambat. Tak sabar ingin memulai perjalanan baru dalam hidup saya, sesuatu yang telah lama ditunggu.

 

Dikepung Asap
Pagi itu saya merasakan semangat yang mengalir dalam nadi melesat hingga 100%. Bangun pagi tak pernah semenarik ini, pikir saya. Semangat pagi yang saya rasakan dipompa oleh impian yang perlahan-lahan semakin mendekat. Pagi itu saya menyiapkan diri untuk memulai petualangan baru. Saya mengecek kembali perlengkapan yang akan dibawa. Tak lupa pula mengingatkan orangtua untuk mengantarkan saya ke bandara pukul 09.30 WIB.
Pesawat ternama di Indonesia itu akan mengantarkan saya ke provinsi dengan magis yang kuat. hedonisme Jakarta menanti saya pada hari itu juga. Jadwal penerbangan dengan maskapai yang tergabung dalam Sky Team itu diprediksikan akan berangkat dari Jambi pukul 11.00. Itu artinya saya sudah harus berada di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin maksimal 30 menit sebelum keberangkatan. Tiket itu saya simpan di bagian belakang ransel, karena akan sangat mudah diambil ketika dibutuhkan.
Saya mengedarkan pandangan ke luar jendela kamar dan teras samping rumah, yang keduanya terletak pada lantai dua. Hati ini risau. Hati ini bimbang. Mungkinkah Allah Swt menundanya lagi kali ini? Mungkinkah Allah Swt sebenarnya tidak merestui saya ke negara super power itu? Mungkinkah kali ini saya harus merelakan lagi? Akankah saya harus mengubur impian itu kembali? Seribu prasangka berkecamuk dalam pikiran saya. Seiring itu pula, status update dari beberapa teman di BBM seolah-olah melumpuhkan harapan, “Asap tebal di Jambi membuat banyak penerbangan dibatalkan.”

 

Keputusan Dalam Situasi Tersulit
Dari 10 skala kepemimpinan yang saya ketahui saat menjadi bagian dari Pengajar Muda, salah satunya ialah decision making yang membuat saya harus belajar lebih banyak. Belajar mengaplikasikan pengambilan keputusan. Ya, siapapun pasti tak ingin di-php-in, terluntang-lantung di bandara tanpa kepastian. Berharap pesawat akan mendarat pukul 11.00, dan membawa saya beserta penumpang lainnya ke Soekarno-Hatta. Namun harapan itu sirna seketika setelah 4 jam menunggu, sebuah pengumuman diberitakan, “Garuda membatalkan penerbangan siang dan sore.”
Dengan handphone di tangan, secepat kilat saya menghubungi beberapa teman-teman di kontak BBM, yang saya pikir tahu jadwal keberangkatan mobil travel ke Palembang. Ya, saya memutuskan ke Palembang! Awalnya saya masih berharap Garuda Indonesia akan mendarat pada sore hari di Jambi, namun dikarenakan pengumuman itu, saya semakin tidak yakin pesawat sekelas Garuda akan mendarat di Jambi pada malam hari. BBM saya banyak dibalas teman-teman, namun kebanyakan menginformasikan mobil travel yang penumpangnya telah penuh ketika papa menghubugi terlebih dahulu.
Saya duduk di kursi tunggu penumpang sambil tetap fokus pada keajaiban orang-orang yang mungkin menginformasikan saya mobil travel yang masih bisa dipesan untuk berangkat pukul 19.00. Tiba-tiba saya melihat BBM seorang teman, Windy, yang menginformasikan travel di dekat Simpang Kawat berikut dengan kontaknya. Secepat mungkin saya menghubungi nomor tersebut, dan betapa bahagianya saya saat orang di seberang telepon mengatakan bahwa kursi masih ada!
Situasi sulit itu hampir saja membuat saya melelehkan air mata. Meski mata sudah berkaca-kaca dan menatap ke langit-langit bandara, pikiran saya melayang ke beberapa tahun silam. Kerasnya perjuangan meraih mimpi mengeraskan tekad saya untuk tetap berdiri meski diterpa badai. Saya melayang pada perjuangan itu.
Saya bahkan sempat berpikir, kenapa Allah Swt memberikan cobaan sesulit ini untuk keluar dari Jambi? Kenapa asap harus datang pada awal September di saat saya mau berangkat? Kenapa saya harus capek-capek berangkat ke Palembang naik travel selama 6 jam untuk menjangkau Jakarta? Badan ini sudah letih, ya Allah.. Pikiran saya sudah capek sekali. Hingga akhirnya seorang penumpang menyadarkan lamunan saya sembari bertanya nomor telepon mobil travel yang baru saja saya telpon.

 

Right or Wrong Decision?
Saya bersyukur di saat saya sedang down karena batal berangkat dari Jambi, Allah Swt memberikan pertolongan lewat teman saya, Dhanny. Pria keturunan Tionghoa ini menawarkan bantuan kepada saya untuk mencari mobil travel ke Palembang. Letak rumahnya yang dekat di bandara dan waktu pulang kerja yang sudah seharusnya membuat saya tak bisa menolak bantuannya.
Awalnya saya sungkan merepoti orang lain, tapi karena satu koper dan satu ransel yang saya bawa tak mungkin dibawa dengan motor, maka Dhanny adalah penyelamat saya waktu itu. Sedangkan orang tua sudah di rumah dan letak antara rumah dan bandara yang jauh, tidak mungkin saya meminta orangtua kembali ke bandara. Meski begitu, saya bertemu dengan papa di loket keberangkatan travel, ia membawakan botol minuman dan obat-obatan dari mama.
Palembang adalah satu-satunya jawaban untuk memutus rantai kesulitan hari itu. Akhirnya setelah diantar Dhanny ke loket, berangkatlah saya menuju Palembang. Di tengah jalan saya bahkan berharap keajaiban, kalau saja pesawat mendarat di Jambi malam itu, saya akan membatalkan keberangkatan menuju Palembang, dan mengubah jadwal penerbangan lagi dari Jambi ke Jakarta pada waktu Subuh. Saya membuang pikiran itu jauh-jauh. Pikir saya itu adalah hal yang mustahil karena asap masih mengepung Jambi.
Guess what? Ternyata penerbangan dari Jakarta ke Jambi malam itu mendarat! Saya yang baru tahu informasi tersebut setelah 30 menit perjalanan langsung lemas. Saya tidak mungkin meminta berhenti mobil, apalagi membatalkan perjalanan sedangkan mobil sudah berjalan. Saya hanya menghela napas panjang. Mungkin Allah Swt sedang menguji saya melalui keputusan yang saya ambil. Tak ada definisi mutlak salah dan benar dalam hal ini, jadi saya pikir, “I have to enjoy my life.”

 

Akhirnya Meninggalkan Sumatera
Tiba tengah malam di Palembang bukan perkara mudah, apalagi saat itu jam tangan menunjukkan pukul 02.00. Saya harus waspada, pikir saya. Bagaimana tidak, ada seorang perempuan satu-satunya di mobil travel, yang diantar paling akhir dan rumah keluarganya agak jauh dari pusat kota. Kadang kalo ingat ini, saya nggak habis pikir sama diri sendiri, terlalu berani atau terlalu penakut ya? Hehe..
Tiba di rumah ombai dan akas adalah kebahagiaan pada tengah malam itu. Saya langsung bergegas mengangkut ransel dan koper menuju pekarangan rumah. Matiar, oom saya, membukakan pintu toko bagian bawah. Melihat ombai yang terbaring di sisi adik sepupu perempuan saya, bergegas saya menyalami tangan beliau. Saya melihat akas yang berada di kamar sebelah, akas sudah tertidur pulas. Biarlah esok pagi saya bercengkrama dengan akas, batinku.
Pagi hari, seisi rumah akas melontarkan banyak pertanyaan dan kesalutan yang tak biasa yang dilakukan oleh cucu pertama dari keluarga ibu saya. Perjalanan yang harus dilakukan sebelum malam nanti berangkat ke Amerika, hingga cuaca di Jambi yang tidak memungkinkan saya untuk berangkat, saya ceritakan semuanya. Akas, yang sudah sepuh, meski sudah saya jelaskan berulang kali kenapa harus ke Amerika, tetap bertanya. Maklum, akas saat ini tidak memiliki pendengaran yang baik, jadi saya harus berulang kali menjelaskan jawaban yang sama.
Setelah berjam-jam mengobrol dengan akas, ombai, oom, tante, dan adik sepupu, akhirnya saya harus berangkat dari rumah khas Palembang itu. Diantar oleh sepupu oom saya, satu mobil penuh dengan keluarga oom dan adik sepupu yang mengantar. Mau meleleh rasanya air mata melihat perjuangan orang-orang di sekitar saya yang membantu saya hari itu. Mungkin kalau tidak ada saudara di Palembang, mungkin saya sudah tidur di pelataran bandara tengah malam itu.
Pesawat pun menerbangkan saya ke Bandara Soekarno Hatta pukul 11.00. Saya tak henti berdoa dan bersyukur karena telah diselamatkan oleh orang-orang baik di sekitar saya. Jika tanpa seizin Allah Swt, pertolongan itu tidak akan menghampiri saya. Burung besi yang masuk dalam jajaran maskapai penerbangan terbaik se-dunia itu membawa saya meninggalkan tanah Sumatera, memberangkatkan saya ke Tangerang bertemu dengan peserta International Visitor Leadership Program lainnya. (bersambung)

happy faces

Bersama keluarga di Jambi, sebelum berangkat ke Jakarta (yang pada akhirnya berangkat dari Palembang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s