Sedekah, Akankah Menjadi Gaya Hidup?

“Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah…bertambah…bertambah.” HR. Al Tirmidzi

Sedekah ibarat investasi. Ya, menginvestasikan amalan diri untuk bekal di akhirat, sekaligus investasi di dunia, yang akan mendatangkan hasilnya kembali kepada diri berkali lipat dalam hitungan hari. Sedekah membuat siapapun menjadi kaya, karena investasi amalan itu sendiri. Seperti hadits dari HR. Al Tirmidzi tadi, sedekah tidak akan membuat kita miskin, justru akan menambah kepemilikan kita. Nggak percaya? Mungkin kisah di bawah ini dapat mencerahkan kita.

Alkisah ada seorang teman yang setiap bulannya menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk kaum dhuafa di negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini. Ia sadar betul bahwa ia tidak meminta imbalan apapun terkait dengan sedekahnya itu. Ia terus bersedekah hingga beberapa tahun kemudian. Suatu hari ia mengikuti pertukaran pemuda ke luar negeri, dan di saat itu Allah Swt memberikan balasan atas apa yang ia lakukan selama ini. Ia mendapatkan kesempatan tersebut setelah gagal beberapa kali.

Di Jambi, ajakan untuk bersedekah sudah menjadi gaya hidup. Bahkan ada komunitasnya lho! SEDekah itU indaH (SEDUH) salah satunya. Komunitas ini digagas oleh anak muda Jambi, yang juga memiliki kepedulian untuk mengajak lebih banyak orang Jambi untuk bersedekah. Pegiatnya telah beberapa kali mendonasikan sedekah yang diperoleh dari relawan untuk kaum dhuafa. Komunitas SEDUH ini layaknya pemantik api. Ketika ia dinyalakan, pancaran api mengenai disekelilingnya dan memberikan cahaya inspirasi untuk bergerak bersama-sama.

Andai sedekah menjadi gaya hidup kita, nggak bisa dipungkiri bahwa masalah kemiskinan, kelaparan, dan ketidakmampuan kaum dhuafa dapat teratasi. Andai sedekah menjadi gaya hidup sehari-hari, nggak akan disangka-sangka rezeki kita akan dilipatgandakan oleh Sang Pencipta. Andai saja semua orang berpikir bahwa dengan sedekah, saya bisa menyelamatkan hajat hidup orang banyak. Andai saja sedekah dari nilai terkecil kita lakukan dengan konsisten. Andai saja bisa dimulai dari diri sendiri. Pasti asyik!

Pernah nonton film Laskar Pelangi kan? Dalam film tersebut, ada seorang tokoh bernama Pak Harfan, guru Lintang dan teman-temannya di sekolah. Pada satu adegan, beliau berkata seperti ini kepada siswa-siswanya: “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Tentu banyak sekali makna dari kalimat tersebut. Saling membantu antar sesama, tugas manusia di bumi sebagai khalifahNya, lebih baik memberi daripada menerima, dan makna lain yang berhubungan dengan kata mutiara itu. Harapannya slogan tadi masuk ke relung hati kita, terhubungkan ke alam bawah sadar, dan terlaksana atas dasar ikhlas dan tulus berbagi.

Prinsipnya, mulailah bersedekah (meski dengan nominal kecil), mulailah dari diri kita (jangan menunggu orang lain), dan mulailah saat ini juga (jangan menunda waktu). Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s