Merefleksikan 25 Tahun

*Sebuah refleksi quarter of life syndrome

“Bel, ikut PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) lagi gak tahun ini?” ujar seorang teman kepada saya beberapa waktu lalu.
Saya jawab, “Hmm, masih bingung. Banyak yang dipertimbangkan.”

Beberapa minggu setelah itu, kembali bertanya lagi, dengan orang yang berbeda. Dan saya jawab lebih panjang, lebih rinci, layaknya orang yang mau wawancara beasiswa, ada alasan yang panjang sekali disana.
“Kayaknyo idak lah, banyak nian yang dipertimbangkan. Orangtua minta aku untuk mikirin masa depan. You know lah the term of ‘masa depan’. Beda halnya dengan tahun-tahun kemarin, aku kalo ikut kegiatan-kegiatan dapat izin mudah, leluasa, nah sekarang keknyo diminta mengabdikan diri dulu ke orangtua, karena aku kayaknya banyak kemano-mano dulu tu. Yo mudah-mudahan be nanti aku biso dapat kesempatan lain ke luar negeri, meski bukan dari jalur itu. Dan semoga saja dapat izin belajar bareng dengan pendamping aku suatu hari nanti, entah di luar negeri atau mungkin tetap di Indonesia.”


Masa-masa jadi mahasiswa adalah masa-masa dimana saya banyak belajar dari orang-orang keren di Jambi dan Indonesia pada umumnya. Saat itu dimana jiwa muda pengen banget ini itu. Pengen melakukan ini, pengen buat ini, pengen kesini, dan pengen-pengen lainnya. Menjadi mahasiswa membuat saya juga mengembangkan kapasitas diri.

Saat jadi mahasiswa banyak sekali yang saya lakukan. Alhamdulillah, nggak hanya kuliah pulang – kuliah pulang saja. Mulai dari kegiatan organisasi, bekerja part time, diskusi dan sharing, forum kepemudaan, traveling, pelatihan, kepanitiaan kegiatan, dan lomba. Tema-tema yang saya ikuti tidak lepas dari passion dan ketertarikan saya terhadap pendidikan, lingkungan, jurnalistik, kepemudaan, kepemimpinan, kerelawanan sosial, serta wisata dan budaya.

Saya ingat betul pertama kali saya merasa, “I want to change my life.” Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan sebelumnya saat masih jadi siswa. Saya memutuskan untuk belajar menulis melalui organisasi yang saya pilih, Majalah Kampus Trotoar. Bergabung disana membuat saya yang awalnya minder dan tidak memiliki kepercayaan diri menjadi lebih percaya diri dan tidak minderan. Turning back saya bisa dibilang berawal dari sana. Karena sejak dari Trotoar, saya bisa mengembangkan kapasitas diri saya yang justru timbul setelahnya.

Well, turning back saya itulah yang saya manfaatkan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri saya. Pada akhirnya saya benar-benar merasa “enjoying my life as university student”. Kesempatan terbuka bagi saya, pengalaman terbaik dari orang-orang terbaik. Dari mereka saya belajar untuk nggak hanya ‘study’, tapi lebih kepada ‘learn.’ Beruntungnya saya diberikan keinginan untuk tidak berpuas diri terhadap ilmu yang didapatkan, maka saya pun banyak bertanya, banyak belajar, banyak melihat, banyak mendengarkan, dan banyak berdiskusi.

Saya menyadari bahwa kehidupan lebih baik ini tidak serta merta datang tanpa restu dari Allah Swt dan dukungan orangtua saya. Mungkin ihwal pertama saya keluar dari Jambi tanpa didampingi oleh orangtua juga jadi turning back-nya saya. Waktu itu saya harus ke Lampung untuk mengikuti Simposium Generasi Mahasiswa Pers Nasional, mewakili Majalah Kampus Trotoar dari Universitas Jambi. Padahal saya di mata orangtua saat itu adalah anak perempuan yang kalau pergi kemana-mana agak rawan karena suka pusing-pusing, hehe.. Di sisi lain, orangtua takut anaknya ini belum mandiri dan hilang di rantauan orang. Namun berkat usaha saya ‘merayu’ orangtua, akhirnya diperbolehkanlah saya keluar Jambi. Disini tampaknya kepercayaan orangtua mulai timbul untuk saya.

Dalam kurun waktu 2008 – 2012 hampir 50 kegiatan skala kota, provinsi, dan nasional yang saya ikuti. Dalam kurun waktu itu pula, saya selalu merasa seperti gelas kosong yang airnya belum penuh. Pengen diisi terus, terus, dan terus. Bukan berarti saya sombong, tapi sekali lagi saya bilang masa mahasiswa adalah masa dimana kamu dapat leluasa mengembangkan kapasitas diri yang berguna bagi masa depan.

Hanya saja kegiatan-kegiatan yang saya ikuti tersebut belum ada skala internasional. Maka, sejak itu pulalah saya selalu mengusahakan untuk pergi ke luar negeri, belum pasti tujuan negara mana, yang jelas daftar saja dulu, begitu prinsip saya. Jika dihitung, sepertinya sudah lebih dari 10x saya mendaftar kegiatan internasional. Saya mengirimkan aplikasi dan saya mengikuti seleksi secara face to face. Hasilnya? Belum berhasil😀 Namun saya tidak menyerah.

Kalo kata Walt Disney, “If you can dream it, you can do it.”
Saya percaya bahwa kekuatan cita-cita dapat mengakumulasikan cita-cita itu sendiri menjadi nyata. Meski memang pada akhirnya saya belum diizinkan oleh Allah Swt sampai sekarang ke luar negeri, tapi saya percaya tidak ada mimpi yang kadaluarsa. Akhirnya di tengah-tengah kegalauan nggak bisa ke luar negeri, saya malah diberikan izin oleh Allah Swt untuk menikmati alam Indonesia dengan berbaur di masyarakatnya satu tahun lalu di Pulau Rote, pulau paling selatan yang kalau dilihat di peta Indonesia, cuma titik doang.
Satu tahun disana membuat kehidupan saya lebih banyak berubah. Belajar dari orang Indonesia membuat saya sedikit hampir melupakan impian saya tadi. Bagi saya, mungkin ini rencanaNya yang pengen saya tetap saja di Indonesia, jangan dulu ke negara luar kalau negara sendiri saja tidak tahu 100%. Mungkin ini juga teguran bagi saya, bahkan bisa jadi ini pembelajaran bagi saya. Jadi kalau mau ke luar negeri ya nggak shock culture banget jauh dari orangtua dan berada di kalangan minoritas.

Hampir satu tahun kembali ke Jambi, dan selama itu pula saya menyadari rencana kita apalah daya dibanding rencana Allah Swt. Saat masih di Rote, saya bilang dengan teman-teman sepenempatan bahwa saya ingin mencoba lagi PPAN dan mungkin mengambil beasiswa S2. Nyatanya sekembalinya ke Jambi, rencana saya sedikit berubah dari sudut pandangan orangtua yang menginginkan anaknya untuk tetap di Jambi. Saya menyadari bahwa kerinduan orangtua terhadap saya begitu besar. Bahwa nanti jika satu atau dua tahun lagi saya menikah dan lantas jauh dari orangtua, penjagaan mereka untuk saya tidak akan sebesar sekarang. Saya juga mengerti bahwa kalau saya lulus PPAN atau S2 ke luar Jambi, it means that akan dalam waktu yang lama, lebih dari 6 bulan bisa jadi. Nah, garis besarnya adalah kapan saya bisa dekat dengan orangtua kalau tidak sekarang?

Namun di sisi lain saya menyadari konsekuensi umur quarter of life ini. Banyak sekali harapan yang belum terwujud dengan umur yang semakin matang dan kerap ditanyai ‘kapan menikah?’ dan saya sendiri belum tahu jawabannya, dan saya jawab ‘masih direncanakan oleh Allah Swt.’ Hehe. Maka jika datang pikiran seperti ini, saya hanya berharap agar impian yang masih memuncak di kepala ini dapat terwujud suatu hari nanti. Harapannya pendamping hidup saya di masa depan nanti tidak melarang saya mengikuti kegiatan yang bermanfaat dan melaksanakan mimpi-mimpi saya. Bahkan mungkin bisa bersama-sama mewujudkannya justru lebih bagus bukan?
Tulisan ini juga berawal dari kegelisahan saya akan dosa-dosa saya di masa lalu, disamping juga hasil refleksi saya di umur 25 tahun pada 2 Mei lalu. Mungkin tidak banyak yang dapat diambil pelajarannya dari tulisan ini, namun saya sendiri sudah agak lega menuliskan keriwetan pikiran saya akhir-akhir ini. Allah Swt menjadi tempat saya memanjatkan doa dan harapan, terima kasih atas 25 tahun yang bermakna, semoga ia membuat saya yang banyak dosa ini jadi lebih baik. Semoga selalu ada kebaikan yang dilimpahkanNya kepada saya.

2 thoughts on “Merefleksikan 25 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s