Suara dan Suasana Yang Saya Rindukan, Rote  

 

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Selalu dipuja-puja bangsa

 

Disana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata

 

Tak bosan saya mendengar lagu ini dilantunkan dengan suara syahdu nan merdu. Ia berdentum keras di telinga lewat earphone yang saya kenakan. Tak bosan saya menyanyikan lagu itu tatkala saya menulis kenangan satu tahun lalu. Satu tahun teramat susah untuk dikembalikan lagi. Satu tahun yang akan selalu saya kenang. Satu tahun yang kelak menjadi cerita paling berapi-api untuk dikabarkan kepada anak cucu saya kelak :’)

Dua hari yang lalu, tepatnya pada hari pertama bulan September, saya menelepon anak-anak saya yang berada di wilayah paling jauh dari sekolah. Kawasan Leli terletak 6 km dari sekolah. Anak-anak saya menempuhnya dengan berjalan kaki atau menumpang kendaraan masyarakat yang lewat di hadapan mereka. Adalah Irvan, yang menggerakkan saya untuk menelepon mereka, ibu gurunya ini rindu akan suara khas anak Rote itu.

Alhasil pada pukul 19.47 WITA, mereka akhirnya ditelepon ibu gurunya ini! Saya yang meminta Irvan untuk mengumpulkan Fera, Kesya, Martha, Windi, dan Jefri, murid-murid saya saat mereka di kelas 3. Meski Jefri tidak hadir disana (rumahnya agak jauh dari rumah mereka meski berada dalam satu kawasan), ternyata ia tergantikan oleh Wahyu, Yandri, Agus, serta ibu dan adik Irvan. Di rumah Irvan, suara saya berkumandang sekitar 1 jam lamanya.

Saya mengobrol dgn Irvan terlebih dahulu. Menanyakan kabar, menanyakan sekolah, menanyakan segala yang membuat saya bisa bernostalgia dengannya malam itu. Setelah Irvan, gagang telepon berpindah ke Kesya, hingga berlanjut Fera, Martha, dan Windi. Setelah murid-murid saya selesai mengobrol dengan saya, gagang telepon dipindahkan kepada Wahyu, dia adalah siswa kelas 6 dulunya, dan kini sudah menginjakkan bangku SMP. Lalu Agus, adik Irvan yang kini kelas 2, serta dilanjutkan oleh Yandri, siswa kelas 6 yang meski awalnya malu-malu berbicara dengan saya. Terakhir saya mengobrol dengan ibu Irvan dan adik perempuannya. Ahh sungguh kangen berada di tengah-tengah masyarakat Rote :’)

Mama pun kebagian berbicara dengan mereka. Bedanya, saya berbicara dengan akses Rote sangat jauh dengan mama saya yang berbicara dengan bahasa Indonesia hehe. Irvan yang memegang gagang telepon mendengarkan mama saya berbicara dari A-Z, hehe, dan dia menjawab, “Iya, Bu.”

Terlibat pembicaraan dengan mereka mengundang sejuta pertanyaan yang ingin saya ketahui. Apa yang sedang mereka lakukan? Bagaimana kabar mereka, beserta bapa dan mama? Bagaimana kabar sekolah dan pelajaran mereka saat ini? Bagaimana suasana Rote sekarang? Serta motivasi-motivasi yang tak hentinya saya bilang: “Bosong jangan malas-malas e, rajin belajar. Kalau son tahu, bosong tanya sama ibu guru. Nanti kalau bosong pintar, bapa mama senang toh. Bosong ju bisa pi Jakarta, atau ketemu ibu di Jambi nanti. Kalau bosong pung cita-cita mau tercapai, jangan lelah, terus berusaha, belajar, dan berdoa kepada Tuhan e. Ibu turut mendoakan bosong dari sini.”

Entah dari mana tiba-tiba, pertanyaan salah satu siswa saya terlontar begini, “Ibu Bella tanggal berapa pi Rote lai?” Itu pertanyaan seolah-olah menyuruh saya ke Rote dalam waktu dekat. Ah Nak, andai saja ibu seperti Doraemon, yang punya pintu kemana saja, yang bisa memilih kapan dan dimana ibu akan pergi. Pasti ibu akan menuju Rote saat itu juga. Sayangnya ibu guru kalian satu ini harus masih di Jambi. Nun jauh kalian lihat di peta Indonesia yang pernah kita saksikan bersama-sama dulu. Beginilah jauhnya jarak antara Pulau Rote yang berada di paling selatan Indonesia dan kota Jambi yang berada di wilayah Sumatera. Kalian tentu ingat bukan, kalo naik kapal berapa malam di laut bukan?

Nak, ibu bersyukur menjadi bagian dari kalian. Menjadi bagian dari negara kepulauan yang luas ini. Bersyukur pernah mengenal lebih dekat dengan Rote. Bersyukur diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk menginjakkan tanah timur Indonesia, suatu cita-cita yang sudah lama ibu inginkan.

Nak, kelak akan kita bertemu lagi. Kita akan bercerita lebih banyak lagi. Kita akan menjadi lebih dewasa di negeri ini. Yakinlah Nak, kelak saat kita bertemu, kau telah menjadi bintang bagi keluarga dan daerahmu. Kau telah menjadi kebanggaan Indonesia. Kau telah meraih cita-citamu. Kau telah menjelajah Indonesia, dan tentunya keinginanmu untuk pergi ke luar negeri seperti kartu pos yang telah dikirimkan oleh teman ibu kepada kalian. Kelak kau akan menjadi anak Indonesia yang berkarakter, beriman, nasionalis, dan cerdas. Harapan ibu besar untuk kalian. Jauh dari sanubari hati ibu, ingin rasanya bertemu kalian lagi. Kita hanya berdoa semoga Sang Maha Kuasa menyegerakan harapan kita.

 

Jambi, 3 menit menjelang 22.00

3 September 2014, dari guru yang merindukan suara dan suasana kalian di Rote :’)20131010_075226

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s