Sekapur Sirih #30daysofwritingchallenge

Rote dalam pandangan pertama saya di pelabuhan Ba'a

Rote dalam pandangan pertama saya di pelabuhan Ba’a

                ”Anak-anak Bawean menanti bapak ibu guru…”

                Sejenak kata-kata dari salah satu fasilitator kami saat Pelatihan Intensif Pengajar Muda angkatan VI Mei 2013 lalu terhenti. Ia menarik nafas panjang. Sesaat kemudian aku mendengar satu persatu nama-nama temanku terdengar di telinga. Aku bahagia. Akhirnya mereka mendapat kepastian dimana mereka akan mengajar selama 1 tahun ke depan.

                “Eni, Kinkin, Naim, Tika, Ano, dan Fauzan,” sebut salah satu fasilitator kami dengan suara lantang.

                Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, dengan posisi yang sama yakni memejamkan mata, aku mendengar kabupaten Rote Ndao disebutkan. Ah, dalam hati aku berpikir, apakah aku berada disini? Atau aku malah ke kabupaten lain?

                “Anak-anak di Rote Ndao menunggu bapak ibu guru, Rizqie, Tika, Fitri, Nadia, Ice, Wisnu, Iwan, Bella, dan Tiva!”

                Mendengar namaku disebut dalam tim Rote Ndao, aku bersujud syukur. Sedikit tetesan air mata kurasakan mengalir di pipiku. Aku terharu. Selang beberapa minggu lagi, aku akan melihat tanah timur, tepatnya pulau paling selatan di negara ini, Pulau Rote di Kabupaten Rote Ndao.

 

                Hidup sejatinya lebih bermakna ketika kita dapat berarti bagi orang-orang yang kita cintai. Kehadiran kita dinantikan. Tutur kata menjadi panutan. Kebermanfaatan bagi sesama selalu dirindukan. Kita bisa memilih hidup kita ingin lebih berarti atau tetap pada saat ini. Saya memilih yang pertama.

Satu tahun di Rote Ndao bukan sebagai prestise menjadi pengajar muda yang melunaskan janji kemerdekaan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Satu tahun di Rote Ndao tidak hanya mengajar dan seumur hidup menginspirasi. Lebih dari itu, satu tahun di Rote Ndao membuat hidup saya lebih bermakna. Saya lebih mengenal diri saya. Saya lebih mengenal Allah Swt, sang pencipta jagad raya. Saya merindukan keluarga dan ingin lebih mengenal mereka. Dan saya semakin cinta Indonesia.

                Telah 1 bulan lebih saya kembali ke tanah tempat saya belajar, Jambi. Dalam kurun waktu itu pula tak banyak yang sudah saya lakukan sekembalinya saya kesini. Saya menunggu panggilan lamaran yang saya tuju kepada berbagai institusi, baik di Jambi maupun luar Jambi, saya menunggu tes abdi negara, saya berdiskusi dengan komunitas di Jambi, dan saya kembali mulai mengajar privat. Di sisi lain, saya memiliki banyak waktu bersama keluarga dan berkontemplasi dengan Tuhan saya; untuk apa saya hidup, mengapa saya hidup, dan apa yang harus saya lakukan di hidup ini.

                Sejatinya ini adalah awalan. Dalam beberapa hari kedepan, saya berencana membuat proyek #30daysofwritingchallenge dimana saya kembali akan menuliskan kisah perjalanan hidup yang saya pelajari selama di Rote. Ini bukan tentang sudah atau belum move on, karena bagi saya lebih baik kita memahami makna: “Menulis adalah melukis sejarah. Menulislah sebelum kau hilang dari sejarah.” Jadi, sebelum saya ‘diambil’ olehNya dari muka bumi ini, sebelum saya memiliki pekerjaan yang sibuk sekali, sebelum saya pada akhirnya tidak memiliki waktu untuk menulis, saya memutuskan untuk menantang diri saya dalam 30 hari kedepan untuk menulis. Minimal dalam satu hari saya menulis satu tulisan, lebih pun juga boleh.

                Proyek ini adalah hasil olah pikir saya dengan mengenang apa yang sudah saya alami dalam satu tahun belakangan. Saya akan bernostalgia dengan ingatan saya dan bantuan orang-orang yang berada di sekeliling saya dalam satu tahun lalu. Mungkin teman-teman akan melihat tulisan saya bisa haru, bahagia, penuh gelak tawa, atau bahkan sedih. Lumrah halnya ketika manusia hidup di umur 24 tahun, tentu banyak kisah suka duka yang ia alami. Pun saya juga begitu.

                Akhirnya, ini adalah pengantar sebelum saya menulis proyek #30daysofwritingchallenge. Mohon ingatkan saya kalau sampai jam 10 malam belum mengupload tulisan juga (jika teman-teman berkenan). Proses dari pagi hingga malam akan merunutkan saya terhadap kejadian-kejadian yang akan saya tulis, sebelum pada akhirnya saya berkutat di depan laptop seperti saat ini.

                Sampai jumpa di cerita pertama saya malam nanti!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s