Saya, Siswa, dan Cerita dari Rote

Saya, Siswa, dan Cerita dari Rote

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru..
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…”

Lagu itu menjadi jelas di telingaku pagi ini, setelah aku telah lama tidak mendengarnya. Lagu itu kembali berkumandang di telingaku, dinyanyikan oleh siswa kelas 5 dan 6 saat upacara bendera tadi. Dulu sekali, ketika sekolah di Nipah Panjang, saya sesenggukan bernyanyi lagu itu saat upacara perpisahan SD N 10/X, kini malah saya yang mendengarnya dari siswa/i di SD Inpres Onatali. Keadaan kini telah berbalik, dulu saya siswa, sekarang saya yang mengajari dan mendidik siswa. Adalah suatu kebahagiaan ketika lagu itu dinyanyikan oleh anak-anak setulus hati, untuk kita, para guru mereka.
Menjadi pengajar muda adalah impian saya sejak kuliah dulu, tepatnya setelah saya menonton film Laskar Pelangi pada tahun 2009. Bulatnya tekad itu saya sadari bahwa ternyata di belahan manapun di Indonesia, pendidikan anak-anaknya perlu ‘asupan gizi’ yang bagus. Asupan gizi itu bersumber dari guru. Seseorang yang memberikan ilmu kepada mereka setiap harinya di sekolah, pun bahkan mungkin tidak cukup di sekolah saja, namun juga mengenyampingkan waktu keluarga dan dirinya untuk anak didiknya yang belum tuntas belajar.
Kini, impian itu telah saya capai, dan kini sedang saya jalani. Ya, saya mengajar. Seperti cita-cita saya dulu, mengajar anak-anak di luar provinsi Jambi, ikut serta dalam program Pengajar Muda VI di Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Kini, 28 anak-anak saya selalu siap menyambut saya di kelas 3. SD Inpres Onatali menjadi tempat belajar saya di dunia pendidikan selama satu tahun ini. Pun juga menjadi pembelajaran sebagai bekal kelak saya menjadi seorang ibu :’) Mereka bintang hati saya. Mereka membuat saya banyak belajar dan bertafakur diri, di Rote.
Perlu digarisbawahi, menjadi seorang Pengajar Muda ternyata tidak semudah yang saya bayangkan dulu. Ternyata tidak semulus apa yang saya pikirkan, bahwa akan bisa ini itu, dan didukung oleh ini itu. Idealisme bisa menggebu-gebu, namun kadang idealisme itu menurun ketika tahu kita sedang butuh dukungan untuk lebih baik. Itu pula yang saya rasakan.
Banyak kenyataan yang berbeda dalam dunia pendidikan yang saya temui antara di kota dan disini. Mungkin untuk menuliskannya saya perlu daftar 1-100 kali ya? Miris rasanya ketika kita tahu anak didik kita berangkat sekolah tanpa makan pagi. Mereka bisa apa kalau tidak makan? Mereka bisa fokus belajar tidak? Apa pelajaran yang disampaikan oleh gurunya akan masuk ke dalam memori jangka panjang mereka dengan baik? Sungguh miris saat tahu bahwa mereka hanya makan nasi kosong, mie, atau bahkan orang tua mereka tidak memasakkan sarapan untuk mereka.
Di sisi lain, jauhnya letak rumah siswa dan sekolah membuat mereka harus bangun lebih pagi. Jauhnya jarak itu ternyata tidak menyurutkan langkah mereka untuk berangkat ke sekolah lebih awal. Ibu gurunya ini pun kadang dibuat malu karena kadang datang ke sekolah saat bunyi bel tiba, sedangkan anak-anaknya yang tinggal di Leli bahkan berangkat sejak pukul 5 pagi. Ya, mereka yang tinggal di Leli ada banyak, ada Irfan, Jefri, Fera, Martha, Windi, dan Kesya. Jarak rumah mereka dengan sekolah sejauh 6 km. Untuk mencapai sekolah, mereka harus menumpang oto (mobil/truk) atau motor yang supirnya berbaik hati menumpangi mereka. Pun pulang sekolah juga begitu. Tapi suatu hari, saya menemukan anak-anak saya itu datang telat ke sekolah. Mereka tidak menemukan oto yang berbaik hati menumpangi mereka, alhasil mereka jalan kaki sejauh 6 km.
Latar belakang pendidikan dan keluarga juga berperan penting disini. Saya sungguh bersyukur dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat mementingkan pendidikan anaknya dan mendapat perhatian penuh dari orang tua. Menyadari bahwa ada beberapa anak yang tidak mendapat perlakuan yang sama seperti saya dulu membuat saya menghela nafas panjang. Perekonomian keluarga dan kesibukan orang tua mereka bekerja untuk sekedar mengepulkan asap dapur menjadi alasan utama saat saya bertanya kepada orang tua siswa saat berkunjung ke rumah-rumah.
Anak-anak dibesarkan di lingkungan yang keras. Setiap hari orang tua siswa saya yang bekerja sebagai petani, nelayan, atau pembuat gula air banting tulang untuk menghidupi keluarga mereka. Pulang dari bekerja, mereka memasak, setelah itu mereka kadang menyempatkan diri untuk menanyakan PR anak atau membantu anak menyelesaikan pelajaran yang tidak ia ketahui. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada beberapa orang tua siswa yang tidak melakukan itu karena kesibukan bekerja. Saya tidak bisa menghakimi mereka. Tidak bisa. Saya sekedar bisa memberikan saran saat berkunjung ke rumah orang tua siswa, sambil berdoa bahwa semoga Tuhan selalu membukakan pintu hati orang tua mereka untuk peduli dan perhatian terhadap pendidikan anaknya.
Bagi saya, sebagai guru, mendidik adalah hal paling sulit saya jalani. Disini, di Rote, mendidik perilaku anak adalah prioritas utama saya dibanding dengan mengagungkan nilai 10. Awal masuk mengajar saya menemui masih banyak anak yang suka mengadu, kuku tangan berwarna hitam dan kotor, muka dan tangan masih kotor, tidak cuci tangan, memberikan sesuatu dengan tangan kiri, dan tidak disiplin. Perlahan-lahan, saya mencoba untuk membuat mereka peduli terhadap perilaku mereka tersebut. Saya bertanya, apakah itu baik? Dan ketika mereka menjawab tidak baik, saya bertanya lagi, apakah itu akan tetap dipertahankan? Ketika mereka menjawab tidak, maka saya akan mengatakan: “Jika sonde baik, maka lakukan yang baik. Ibu yakin katong semua su tahu mana yang baik.”
Di balik semua cerita di atas, saya sangat salut dengan psikomotorik anak-anak saya disini. Saya juga sangat salut dengan inisiatif membantu mereka. Contohnya ketika mereka harus berjalan kaki menuju sekolah, ketika mereka bermain tanpa menggunakan sendal, atau bahkan ketika mengambil air dari sumur atau mata air, dan memikulnya hingga ke rumah mereka. Kuatnya badan mereka mungkin telah terbentuk dari kerasnya hidup orang tua mereka, yang mereka saksikan sendiri. Mencari ikan atau keong di laut, atau bahkan membantu orang tua mereka mencari nafkah di laut dan menanam padi di sawah, they do it. Sesuatu yang saya pikir hanya bisa dikerjakan oleh orang tua, tapi ternyata kebanyakan anak-anak saya mampu melakukannya. Sungguh, saya malu jika dibandingkan dengan mereka.
Initiating action adalah salah satu dari chart leadership yang saya pelajari di pelatihan Pengajar Muda VI lalu. Initiating action adalah suatu tindakan inisiasi yang dilakukan sendiri dan tanpa diminta untuk melakukannya. Nah, anak-anak disini, entah apa yang membuat mereka bisa seperti itu, rasa peduli untuk membantu orang lain dan melakukan sesuatu tanpa diminta berada di urutan teratas. Suatu kali saya keberatan membawa buku-buku di tangan, anak-anak menawarkan bantuan kepada saya. Yang datang tidak hanya satu anak, namun banyak sekali! Sampai-sampai saya kewalahan menghadapi banyaknya tawaran bantuan dari tangan-tangan mungil itu. Bahkan ada satu anak di kelas saya yang selalu bertanya kepada saya setiap selesai mengajar, “Ibu, hapus sa tulisan di papan tulis? Ibu su kasih ajar katong, teman-teman su catat ju.”
Di balik kesulitan yang bisa saja saya dan teman-teman Pengajar Muda temui di lapangan, menghadapi kenyataan yang berbanding terbalik dengan di kota, atau malah miris ketika tahu ada anak kelas tinggi yang masih belum bisa lancar membaca, menulis, berhitung, atau special needs, kami semua sedang berusaha di tengah keterbatasan itu. Kami berusaha untuk mendampingi mereka dengan semampu kami. Pun saya disini, bukanlah seorang malaikat yang harus diagung-agungkan kebaikannya bagi murid, sekolah, maupun masyarakat. Saya bahkan terkadang masih mementingkan ego sendiri. Namun pendampingan terhadap anak-anak selama satu tahun disini akan lebih berarti ketika tahu beberapa tahun selanjutnya kita akan ditelepon oleh murid kita, memberitahu bahwa cita-cita mereka telah tercapai, dan itu berkat kita, guru mereka. Mungkin memang tidak banyak dan tidak terlalu bagus apa yang saya lakukan disini, mungkin masih banyak kekurangan yang harus saya perbaiki, tapi saya yakin semua itu akan indah pada waktunya. Saya yakin mereka adalah generasi masa depan Indonesia yang harus didampingi sejak dini dengan baik. Bukan hanya oleh keluarga mereka, tapi juga saya dan para guru lainnya yang sedang berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa untuk masa depan. :’)
“Ass, Ibu, Ini Rantih dari SD N Cilegong. Gimana kabar Ibu di Rote? Baik-baik saja kan? Syukurlah kalau baik-baik saja. Salam, Rantih.”
Sebuah pesan singkat di atas saya terima tadi malam dari Rantih, murid di SD N Cilegong, Purwakarta, ketika saya ikut pengalaman praktek mengajar sebagai bagian dari pelatihan Pengajar Muda VI Indonesia Mengajar Mei 2013 lalu. Dan ternyata, anak itu masih mengingat saya, meski saya sendiri bingung, saking banyaknya anak-anak yang saya ajar waktu itu, Rantih yang mana ya? :’) Semoga kamu selalu semangat, sehat, dan selamat disana, Nak. Doa ibu menyertai masa depanmu nanti.20130828_163249

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s