Persembahan di Usia 49 Tahun untuk Mama

“A mother knows what her child’s gone through, even if she didn’t see it herself.” Pramoedya Ananta Toer.
Ya, seorang ibu bahkan mengetahui perkembangan anak, melebihi dari apa yang mungkin tidak ia alami sebelumnya. Maknanya? Patutlah kita bersyukur bahwa ibu memberi kita apapun yang ia tahu dan ia miliki, meski ia sendiri sadar dahulu ia tidak mendapatkannya. Ibu, tiga huruf yang selalu mengetahui kemana anaknya yang sedang menulis tentang beliau ini akan melangkahkan kaki, meski kadang langkah itu salah dan membuatnya gundah.
Aku ingin menceritakan mamaku. Mama yang melahirkanku pada 2 Mei 1990. Mama yang memiliki cita-cita menjadi guru tapi tidak kesampaian, dan akhirnya cita-cita tersebut tersalurkan ke anaknya ini. Mama yang mengalah demi suaminya agar ia mengurus anak-anaknya dibandingkan kerja di luar rumah. Mama yang sampai hari ini masih sangat bahagia dengan handphone senter 1200 nya, yang justru itu didapat dari undian berhadiah akibat langganan koran. Mama yang selalu merawat tanaman di rumah, yang sangaaatttttt raaapppiiiiii dalam menata apapun, yang membuatku kadang-kadang bingung, apa mama tidak capek membuat semuanya terlihat sempurna?
Mama yang dengan tulus merelakan ijazah pendidikannya tersingkirkan demi saya, Iwan, dan Sadi. Ah ma, aku rasa aku tidak cukup mampu menuliskan tentangmu lembar demi lembar. Akan selalu ada lembaran baru yang kubuka tentangmu, entah sebatas tulisan hari ini, atau di masa depan. Ia tidak akan pernah habis. Seperti cintamu kepada kami.
3 Oktober 1964, hari dimana mama dilahirkan sebagai anak kedua dari akas (kakek) dan ombai (nenek). Meski anak kedua, beliau adalah anak pertama perempuan di keluarga akas. Layaknya anak pertama di kalangan perempuan, ia banyak dicontoh oleh saudaranya. Rasanya tidak habis bahan cerita kalau ketemu saudara perempuan mama di Palembang yang beliau ceritakan kepada saya begini: “Dulu mama Bella itu selalu rajin membersihkan rumah, menyapu lantai atas dan bawah, mengelap perabotan milik ombai, dan membantu akas menjaga warung.”
Di kesempatan lain, akas berkata “Mama Bella kalau jaga warung jujur, gak pernah ambil uang untuk jajan. Kalau ada orang yang membeli ke warung, mama Bella selalu memberikan uang itu kepada akas. Meski begitu, akas kadang suka menceramahi mama Bella kalau jalannya sudah agak bungkuk dan mulutnya manyun.” Aku terkikik mendengar kalimat terakhir akas ini. Ternyata sifat terakhir itu banyak menular kepadaku😀
Masa kecil mama, menurutnya, sangat bahagia. Orangtua mama sangat memperhatikan pendidikan beliau, bahkan mama tetap ingin kuliah meski hanya sebatas diploma. See, mama saya itu, tetap ingin sekolah, meski jaman dahulu susah sekali meraih gelar S1. Aku pun bersyukur bisa disekolahkan hingga tamat S1. Suatu kesempatan yang mungkin langka didapatkan oleh anak muda jaman sekarang. Ia menamatkan pendidikan diplomanya di bidang sosial, meski ia tahu ia lebih meminati anak-anak, menulis, alam, dan tata boga kala itu.
Aku dan mama punya tanda yang sama di kaki sebelah kanan kami. Ya tanda itu terbuat oleh suatu kejadian, bukan dari pemberian Tuhan Yang Maha Esa sejak lahir. Tanda itu adalah bekas kena knalpot! Haha. Aku gak tahu ini emang udah takdir dariNya atau tidak, tapi yang pasti kami berdua memiliki tanda itu di tempat yang sama. Kejadiannya pun sama, sama-sama jatuh dari motor karena kena knalpot. Waktu itu mama belajar motor dan terjatuh, lantas kakinya terkena knalpot yang panas, alhasil membekaslah tanda itu. Kalau aku sendiri, aku dibonceng oleh temanku ketika berusaha mengunjungi desa yang jauh dari peradaban kota Jambi, nekat melewati kebun sawit yang jalanannya becek saat hujan kala itu, hingga motor oleng ke kanan dan terjatuhlah aku mengenai knalpot!
Bedanya, sejak itu mama kapok naik motor. Digonceng motor? Masih mending sih sekarang. Kalau dulu, kalau bukan papa yang boncengin mama, mana mau mama naik motor. Sampai sekarang pun mama gak pernah dan gak mau bawa motor sendiri. Sedangkan aku? Wah jangan ditanya, hehe.. Yang nulis ini malah gak jera. Selalu naik motor kemanapun pergi😀
Cerita lain dari mama adalah sifatnya yang sederhana, hemat, perhatian, perasa, dan rajin. Sifat sederhana ini terlihat dari tutur kata, pakaian, dan barang yang ia kenakan sekarang. Mama bertutur kata halus, lemah lembut, dan perasa. Ia juga sederhana dalam berpakaian, pakaian mama di rumah bahkan hanya memakai daster yang bahkan lagi adalah sudah robek-robek, entah itu robeknya kecil atau besar, ia selalu menambalnya. Padahal saya yakin banget lho, mama ada simpanan uang yang ia tabung sendiri. Tapi beliau tidak mau memakainya untuk membeli keperluan yang menurutnya tidak terlalu mendesak, mama lebih menyukai jika uang itu dibelanjakan untuk pendidikan anaknya daripada kesenangan dunia bagi dirinya sendiri :’) Pun begitu pula dengan barang. Handphone mama hanya handphone senter yang 1200 itu lho teman-teman. Dengan kondisi mama yang harus mendampingi pekerjaan papa sekarang, ia sama sekali tidak tergiur untuk membeli smartphone. Padahal, teman-teman mama malah ada yang pakai tablet, dan mama sama sekali gak tersinggung saat orang lain menyindirnya kenapa hanya pakai handphone biasa.
Hemat adalah sifat kedua dari mama. Entah itu dari makanan atau uang, hematnya minta ampun deh. Di rumah, makanan tidak terhidang seperti di restoran, bisa pilih ini itu sebebasnya, padahal saya yakin lagi uang gaji papa bahkan sanggup membeli makanan di restoran. Namun mama memprioritaskan makanan yang benar-benar dibutuhkan, yang tentunya bergizi pula bagi tubuh anaknya. Pernah suatu kali ikan yang tidak terlalu besar dipotong-potong mama dan dibagikannya kepada kami, anaknya, dan suaminya. Ikan itu bahkan bisa habis dimakan hingga malam hari. Sampai sekarang, kalau makan ikan, ayam, telur, atau sayuran, saya selalu mengambilnya sedikit demi sedikit. J
Oya mama juga hemat dalam uang. Uang gaji papa ia tabung untuk keperluan keluarganya di masa depan. Aku melihat sendiri lipatan-lipatan uang yang dibalut karet dan kertas tergeletak di dekat tempat tidur dan lemarinya. Uang itu disimpan rapi. Kata mam: “Kalau ada keperluan dari keluarga yang mendesak, uang ini bisa digunakan. Kita harus berhemat, jangan sampai masa depan kalian pupus karena uang lebih banyak dibelanjakan daripada ditabung.” Kini di penempatan pun, saya berusaha menghemat pengeluaran, saya mencatat pengeluaran seperti yang mama saya lakukan. Hanya membeli pengeluaran yang benar-benar butuh.
Well, mama itu orangnya perhatian sekali. Setiap hari, ia dipastikan akan mengirim sms ke Iwan, adik saya nomor dua yang berada di Bogor. Sms itu ia tulis dengan awalan “Yuk, Kak, dan Dek.” Yuk merujuk ke saya sebagai ayuk perempuan. Kak merujuk ke Iwan sebagai kakak laki-laki, sedangkan Dek merujuk ke Sadi sebagai adik bungsu laki-laki. Sms beliau pendek, hanya menanyakan kabar, makan, dan terpenting adalah mengingatkan kami untuk tidak lupa beribadah kepada Allah Swt, dan tidak meninggalkan sholat tentunya. Oya selain perhatian kepada anaknya, mama juga perhatian kepada keluarganya di Palembang. Mama juga jadi tempat curhat saudaranya, bahkan pernah beliau sakit karena kepikiran masalah dari saudaranya. Well, sifat ini yang justru melankolis.
Saya menyebut sifat dari paragrap pada kalimat terakhir di atas adalah perasa. Ya, mama orangnya perasa. Hatinya lembut. Sedikit saja ada yang tidak cocok dengan hati dan jiwanya, ia pasti akan sedih, kepikiran, dan terlihat murung. Kadang mama menceritakan apa yang ia rasakan kepada papa. Entah kenapa untuk urusan curhat, mama dan saya bahkan jarang ngobrol tentang apa yang kami rasakan. Kadang terbersit untuk membantu atau sekedar mendengarkan curhatan hati mama, tapi saya bingung bagaimana memulainya. Jadi selama ini pun saya jarang curhat tentang masalah perasaan kepada mama. Sebenarnya iri sih melihat teman-teman mudah mencurahkan perasaannya kepada mama, but I just don’t know how to convey it. How to make my mom share it with me too.
Kemelankolisan mama ini pun terbawa ke saya. Mood bagus dan jelek dengan mudah menghampiri saya. Entah itu masalah pribadi, kerja, organisasi, atau kerabat, mampu membuat saya melonjak kegirangan, atau bahkan rapuh serapuh-rapuhnya. Meski begitu, sifat perasa ini menjadi keunggulan bagi mama. Ia lebih peka. Ia tahu jika ada sesuatu yang tidak enak terjadi, ia akan membereskannya. Ia juga mudah peka dan peduli terhadap nasib orang lain yang kehidupannya berada di bawah. Ini pula yang ditanamkan mama kepada kami, selalu melihat mereka yang di bawah, biar gak silau dengan kehidupan di atas :’)
Sifat terakhir yang ia wariskan kepada saya (meski saya tidak terlalu 100& seperti beliau) adalah rajin. Ia rajin membereskan rumah, merapikan sesuatu jika tidak rapi, menyapu, dan semua pekerjaan yang saya bahkan bisa bilang: “Ini mama kapan selesai kerjanya sih?”
Mama, kata ombai, memang anak yang rajin sejak ia remaja. Di saat saudara perempuan lainnya berebut pakaian, ia justru asyik membereskan rumah akas yang dua lantai di Palembang. Ia tidak ingin debu setitik pun nempel di perabotan milik ombai. Sarang laba-laba lah, meja dan kursi yang kotor lah, atau perabotan yang tidak rapi ia susun dan bersihkan secepat mungkin. Setelah itu, dengan sigap ia mengerjakan tugas lain, seperti mencuci pakaian akas dan ombai. Kerajinan ini terangkum ke dalam rumahku di Jambi pula. Kalau kalian datang ke rumah saya, pasti kalian akan setuju dengan sifat mama yang satu ini J
Namun dibalik semua sifat mama itu, ada kejadian yang membuat mama sampai sekarang kalau mengingatnya merasa sedih. Mama hampir kehilangan ayah yang ia sayangi waktu remaja. Akas dulu sempat masuk rumah sakit dalam waktu yang lama, di saat mama justru butuh bimbingan dari sang ayah. Alhasil kata mama, ia kerap tidak datang sekolah dan tidak ikut kumpul dengan teman-temannya karena lebih memilih untuk menjaga akas. Itulah yang membuat mama sangat sayang dengan akas. Bahkan ketika pamitan pulang ke Jambi, mama sering meneteskan air mata saat pamit dengan akas. Dari kejadian ini, aku tahu mamaku orangnya sabar dan tabah. :’)
Perjalanan hidup di usia yang baru ini, 49 tahun dilalui mama dengan keluarganya yang sederhana. Dengan seorang suami yang kepribadiannya bertolak belakang dengan dirinya, dengan anak-anaknya yang suka membuat tertawa dan kadang membuatnya risau hati. Dengan segala apa yang ia alami selama 49 tahun ini, aku yakin mamaku adalah mama terhebat sedunia. Dia adalah orang yang tidak pernah menolak apa yang aku inginkan. Ia mendiplomasi dengan baik agar aku bisa berpikir apakah yang aku inginkan itu harus atau belum atau bahkan tidak. Ia yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan di masa depan yang kelak berguna bagiku. Ia yang merelakan waktunya untuk mengurus anak-anaknya sejak kecil hingga sudah dewasa. Ia yang merelakan ijazah pendidikannya hanya tersimpan di lemari, dan untuk hal ini ia berkata kepada saya: “Asal membahagiakan hati akas karena sudah melihat anak perempuannya sarjana.” Ia yang selalu mendengarkan keluhan dan semangat dariku. Ia yang tidak pernah habis diceritakan dalam 3 lembar halaman word ini, dialah mamaku.
Terngiang suara mama saya di telepon pagi tadi, saat saya menelepon beliau mengucapkan selamat ulang tahun bersama siswa saya di kelas 3. Anak-anaknya mengikuti apa yang saya ucapkan. “Ayo bilang begini: halo mama Ibu Bella, ini murid Ibu Bella di SD Onatali (kemudian menyebutkan nama satu persatu). Selamat ulang tahun ya mama Ibu Bella, semoga sehat dan panjang umur,” ujar saya tadi pagi.
Dengar koor yang panjang, anak-anak pun mengikuti apa yang saya ucapkan. Terdengar jelas suara mama di seberang pulau sana mengucapkan terima kasih dengan intonasi suara yang bahagia karena anak-anak saya turut mengucapkan. Saya juga memberi tahu mama bahwa anak-anak saya mengirimkan surat ucapan selamat ulang tahun kepada mama yang mereka buat tepat tanggal 3 Oktober. Anak-anak saya mendoakan mama saya dengan beragam doa. Tulisan mereka lugu-lugu, singkat, sederhana, namun sarat makna. Dalam perjalanan saya menjadi guru, bahagia melihat mereka bisa menulis meski hanya satu kalimat dan tidak terlalu baik proporsi kalimatnya. Terlepas dari itu, bahagia sekali anak-anak bisa turut merasakan kebahagiaan saya dan mama hari ini. Raut wajah mereka pun seolah-olah berkata: “Kami ingin ketemu juga dengan mama Ibu Bella hari ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung.”
Well, this is your birthday mom. Meski Bella jauh dari mama, doa selalu Bella panjatkan untuk mama. Dimanapun mama berada, Allah Swt insyaallah akan melindungi mama, memberikan mama kesehatan, keselamatanm, ketentraman diri, dan kekuatan hidup yang membuat mama semakin baik dari hari ke hari. Mama adalah wanita pertama yang akan Bella kenang seumur hidup. Tak terbatas ruang halaman word dan tak terbatas waktu, saya akan selalu menuliskanmu di dalam hatiku, Ma. Semoga persembahan ini membuat mama tersenyum di usia ke-49 tahun. Semoga mama disayang Allah Swt :’)24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s