A Day to Remember: For My Lovely Dad

Yup..hari ini adalah hari yang sangat penting untuk diingat bagi saya. Terlebih lagi bagi papa saya, seorang suami untuk istrinya dan ayah untuk tiga anaknya. Hari ini penting diingat, kenapa? Karena papa saya mengulang hari dimana ia dilahirkan. Ia mengulang momen ketika Ombai Solha (ombai dalam bahasa Palembang artinya nenek) melahirkan beliau pada 16 September 1961. Saya yakin, Ombai Sol dulu berjuang mati-matian untuk melahirkan papa. Saya yakin pula, ayah pasti sedih melihat kondisi ibunya yang dulu melahirkan beliau kini terbaring lemah tidak berdaya di atas kasur karena struck yang diderita sejak beberapa tahun lalu. Tapi saya yakin juga, papa tidak akan membiarkan kesedihan itu berlama-lama, saya tahu ia adalah sosok yang tegar.

Saya melihat sifat papa sebagai sosok yang tegar. Kenapa? Karena sejak beliau remaja, kira-kira SMA, ia sudah ditinggal pergi oleh akas (sebutan untuk kakek dalam bahasa Palembang). Ia adalah anak pertama untuk kalangan cowok di keluarganya. Maka dari itu, papa lah yang bertanggung jawab sepenuhnya untuk keluarganya, setidaknya meski ia anak kedua, tapi beliau-lah anak laki-laki pertama yang diharapkan keluarganya, setelah Barob Rus sebagai anak pertempuan pertama.

Ketegaran ini membuat papa semakin keras. Ia berjuang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya setelah Almarhum Akas Mahmud meninggal. Papa yang waktu kecil dulu suka bandel di kampungnya, Busali, Campang Tiga, Ogan Komering Ulu, Palembang. Pernah dapat nilai merah di raport. Pernah bikin onar dengan teman-temannya. Dibalik itu semua, untuk urusan keluarga ia menomorsatukannya. Ia sangat menyayangi Ombai Sol, dan saudara-saudaranya: Barob Rus, Om Mulkan, Almarhum Om Robi, Bik Inab, Bik Iyah, Om Udin, dan Bik Yuli. Tegarnya papa dalam berjuang di hidupnya juga terlihat pada usaha kerasnya untuk belajar.

Sifat beliau yang kedua berhubungan dengan satu kata, keras. Entah keras kepala, pekerja keras, atau berpendirian teguh. Hasilnya memang ‘kekerasan’ itu berdampak baik bagi diri papa. Ia akan keras kepala untuk urusan yang menurut beliau tidak sesuai dengan prinsipnya. Ini sejalan dengan pendirian teguh yang dimiliki papa. Ketika memang ia tidak setuju, ia akan bilang tidak. Tak satupun yang dapat mengubahnya. Selain itu, sifat pekerja keras yang paling saya sukai ini membuat ia berhasil mengangkat derajat keluarganya dari segi pendidikan.

Papa membuktikan bahwa kalau ingin maju dan membahagiakan keluarga, peganglah pendidikanmu setinggi mungkin. And my dad had prove it to me. Meski dulu sekolah banyak tersendat, tapi ia berhasil melampauinya. Meski waktu sekolah ia harus menumpang di rumah adik ayahnya yang notabene seorang TNI di Palembang, ia melewati perjalanan hidup itu dengan baik. Hidup keras tadi saya rasa juga dipengaruhi oleh Almarhum Akas Arsyad, adik akas saya ini. Kata papa, dulu waktu beliau mau makan di rumah, ia harus menunggu anak Almarhum Akas Arsyad selesai makan, barulah beliau makan. Ia juga pernah mengatakan bahwa ketika mau belajar pun harus rela meluangkan waktu dipanggil oleh keluarga adik akas saya ini untuk diminta bantuan. Terpaksa ayah meninggalkan waktu belajarnya. Tuhan, kalau saya jadi ayah, pasti nggak akan konsentrasi belajar ‘__’

Papa sebelum seperti sekarang, pernah melewati beberapa pekerjaan apa saja (tentunya halal). Mulai dari tukang cuci mobil di bengkel, penjual bawang merah, penjual makanan dalam jumlah besar, dan lainnya. Pekerjaan itu, kata papa, adalah kenangan baginya yang ia petik pelajarannya sebagai berikut, dan ia sampaikan kepada saya: “Nanti kalau sudah jadi ‘orang’, jangan lupa dengan masa lalu, jangan lupakan pengalaman yang pernah dijalani, meski itu pahit. Karena dari sana kita belajar, terutama belajar untuk tidak cepat puas/tidak sombong dengan keadaan yang mapan, tidak melupakan orang-orang yang pernah membantu, dan tidak lupa untuk berbagi kepada orang lain yang membutuhkan.”

Emosian adalah sifat yang beliau amini, dan begitu pula diturunkan kepada saya, hehe. Kata mama, saya dan papa sama-sama suka cepat emosi, apalagi untuk sesuatu yang nggak disukainya. Langsung cablak bilang nggak suka, bahkan kata-katanya terkadang suka nyakitin (jadi, mohon maaf bagi teman-teman yang menganggap omongan saya terkadang dengan nada tinggi dan cablak). Saya menyadari ini entah karena turunan dari desa yang kata keluarga, orang-orangnya kasar, omongan dengan nada tinggi, dan nggak mau kalah, atau memang sudah digariskan oleh Tuhan? I don’t know exactly. In spite of that, sifat ini pelan-pelan sudah dirubah oleh ayah saya. Dulu kalau papa marah, saya takut sekali. Namun sekarang mungkin karena faktor umur, jadi papa nggak emosian lagi. Ditambah lagi dengan semakin meningkatnya ibadah kepada Allah Swt, papa pun sadar kalau sifat seperti itu nggak baik.

Papa juga orang yang menyayangi keluarganya. Ia mencintai ibunya yang kini terbaring lemah karena struck. Beliau juga sangat menyayangi almarhum adiknya yang telah wafat pada November tahun lalu. Menyayangi saudara-saudara lainnya, dan keluarga besar lainnya. Papa pula yang setiap pulang kampung ke Palembang selalu datang duluan ke rumah orang tua mama di Kertapati, tempat mertuanya tinggal disana. Papa mencintai Akas Usman dan Ombai Ada, orang tua mama. Ia juga menyayangi keluarga mama, dimana beliau selalu kasih nasihat kepada keluarga mama dan selalu membantu jika dibutuhkan.

Jadi tidak berlebihan jika rasa cinta yang papa berikan kepada keluarganya di Palembang juga ia berikan kepada mama saya, Iwan, Sadi, dan saya sendiri. Papa akan mengusahakan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Ia akan berjuang untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, sesuai dengan minat dan bakat anaknya. Ia yang selalu mendukung anak-anaknya dalam mengambil keputusan, meski kadang keputusan itu butuh waktu lama untuk ia dukung. Tapi jangan sesekali berharap ia akan mendukung anaknya dalam hal harta. Dari dulu papa tidak pernah menyayangi kami dengan uang atau barang berharga lainnya.

Seingat saya, saya hanya satu kali minta barang berharga, itupun sebagai bentuk penghargaan dari papa kepada saya karena berhasil masuk universitas lewat SPBM pada tahun 2007, Nokia 5200 yang masih saya gunakan hingga sekarang. Selebihnya, motor Beat yang diberikan kepada saya, tidak pernah saya minta merengek-rengek. Waktu itu tiba-tiba saja papa berbicara kepada saya untuk membelikan motor di tahun kedua saya kuliah, yang sebelumnya saya suka nebeng teman, atau naik bus KPN Unja ke kampus, atau ngangkot kemana-mana. Begitu pula dengan kedua adik laki-laki saya, mereka tidak berani minta sesuatu yang harganya mahal pake banget. Bisa-bisa kena ceramah satu hari satu malam deh, hehe..

Kata papa, anak tidak seharusnya dimanjakan dengan harta. Anak itu dididik agar bisa hidup sederhana, itu lebih bagus. Kata beliau pula, uang tidak mudah dicari, jadi harus dihargai setiap pemberian rezeki yang diberikan Tuhan. Kata papa, kami harus bekerja keras untuk memperoleh sesuatu yang kami inginkan. Sejak itulah, saya bertekad untuk membeli barang-barang dengan uang sendiri. Hingga akhirnya saya membuktikan kepada papa bahwa sejak remaja saya bisa mengusahakan uang sendiri dengan mengirimkan tulisan ke koran Jambi Ekspres, dan mendapat honor. Pertama kalinya uang honor menulis itu saya belikan buku. I did it as you wish, dad.

Oh ya, mungkin kalo papa tidak menyuruh saya dengan paksa untuk mengirimkan tulisan ke koran Jambi Eskpres waktu saya SMA kelas 3 dulu, mungkin saya nggak akan menulis dengan hati seperti sekarang. Kenapa? Dulu papa-lah orang yang pertama kali bilang begini: “Kirimlah tulisan ke Jambi Ekspres, nulis apa aja, yang penting nulis.” Bagai kena tampar dan kena setrum listrik tengah hari, saya bingung setengah mati. Ini masih anak SMA, kelas 3 dan mau UAN, malah disuruh nulis di koran. Sudah nggak punya pengalaman organisasi di SMA, nggak juga gaul kayak anak-anak lainnya, dan nggak pernah nulis di media massa sebelumnya, eh malah disuruh.

Well, sejak itu saya mulai memberanikan diri menulis. Tulisan pertama saya dimuat di rubrik dimana pembaca bisa memberikan pendapatnya secara sederhana, di koran Jambi Ekspres. Saya lupa judul tulisan yang saya buat, entah soal kosmetik alami, nasionalisme, atau peristiwa pesawat Adam Air yang jatuh, karena ketiga tulisan itu serentak saya kirim dan dalam waktu berturut-turut dimuat. Meski belum dapat honor waktu itu, saya sudah senang karena tulisan dimuat. Papa bangga melihat anaknya yang masih SMA dulu bisa tembus tulisan di koran provinsi. Terlebih lagi mama, yang ternyata saya mewarisi minat mama di bidang menulis, beliau turut senang. Sejak itu, saya mulai mengirim karya tulis remaja (kejadiannya masih saat saya SMA) dan puisi sederhana, dengan tetap mengirimkan surat di kolom pendapat. Hingga akhirnya saya ditelepon dan diajak bergabung di Jambi Ekspres sebagai wartawan anak muda di halaman Xpresi. Rasa-rasanya nggak percaya, 1,5 tahun setelah kelas 3 SMA, saya menikmati profesi baru seorang wartawan. Dua komponen, talk and write, saya jalani dalam beberapa tahun. Menjalani profesi wartawan di koran lokal dan majalah persma kampus dalam waktu bersamaan. Bukan hanya melatih keterampilan menulis, tapi juga menimbulkan rasa berani saya menghadapi orang-orang baru di sekitar saya, dan membuat saya tidak minder lagi. It’s because my father, if I didn’t do that, I can’t write with my heart like now. :’)

Nostalgia terhadap papa akan menjadi waktu yang selalu indah dikenang. Banyak pelajaran hidup yang saya kagumi dan tauladani dari beliau. Saya belajar semuanya dari role model

Foto papa di Masjid Atta'awun, Puncak, Bogor, pada Juni 2011, ketika kami sekeluarga beserta akas dan ombai dari pihak mama, liburan ke Bogor :)

Foto papa di Masjid Atta’awun, Puncak, Bogor, pada Juni 2011, ketika kami sekeluarga beserta akas dan ombai dari pihak mama, liburan ke Bogor🙂

laki-laki kedua setelah yang pertama, Nabi Muhammad Saw. Sejatinya papa saya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, saya ingin role model saya itu bisa menghilangkan kebiasaan merokoknya yang menurut saya Allah Swt bisa saja mengambil nyawanya kapanpun dan dimanapun akibat zat di dalam rokok yang merugikan kesehatan itu. Ahh, semoga saja papa mengurangi rokoknya ya kalau Bella cuti di Desember nanti. Semoga.

A day to remember
A day that we say: “Happy birthday, Daddy! Wish you all the best in your life.”

A day to remember
A day that I say: “Thanks Allah Swt, you send him to us.”

A day to remember
A day that you say: “Thank you very much, and you still remember it, Bella.”

Ya Allah, jaga papa disana selama saya berada di penempatan ini. Berikan kesehatan baginya untuk menjalani hari-hari yang semakin keras. Berikan keselamatan dimanapun ia melangkahkan kakinya. Berikan ia kebahagiaan dan ketentraman hati bersama mama dan Sadi. Berikan ia rezeki yang halal agar mampu memenuhi kebutuhan keluarga besar kami. Yang terpenting, hapuskanlah dosa-dosa dan kesalahan yang pernah beliau perbuat, tunjukkan ia jalan yang lurus yang akan membuatnya masuk surga firdausMu. Berilah pahala yang besar atas amalan yang ia lakukan di dunia. Selalu ingatkan papa untuk semakin mendekatkan diri kepadaMu, Sang Maha Pencipta, yang menjadi imam untuk keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s