Lebaran dan Menyucikan Diri

IMG_20130809_171239[1] Allahu akbar..allahu akbar..allahu akbar
Laa..ila..haillahlah..huallahuakbar..
Allahu akbar..walillah ilhamd..

Gema takbir di suatu sore menjelang malam terdengar di penjuru Oeseli, salah satu kampung dengan penduduk muslim terbanyak di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Di mesjid itu, pengurus dan masyarakatnya menyempatkan diri untuk menikmati momen bahagia menjelang Hari Raya Idul Fitri. Merapikan mesjid, mengepel lantai, memasang pengeras suara, dan aktivitas lainnya adalah kegiatan yang mereka lakukan sebelum kumandang takbir menggema.
Diantara masyarakat yang hadir saat itu, terdapat seorang wanita, masih lajang, dan masih merasa dosa-dosanya belum sepenuhnya terampuni oleh Allah Swt. Ia duduk terdiam di sajadah musholla tersebut. Selepas sholat maghrib, ia merenung. Mengingat dosa-dosa yang telah ia lakukan kepada ayah ibunya, kepada saudaranya, dan kepada manusia makhluk ciptaanNya, juga dosa yang membuat ia kufur di mataNya.
Wanita itu menutup kedua matanya dengan mukena yang ia pakai. Kenangan masa lalu terbayang sudah di benaknya. Saat ia jauh dari keluarganya kala itu, ia merasa bersalah, ia merasa tidak layak berada disana. Memang, sebuah penyesalan selalu berada di belakang. Itulah yang wanita itu rasakan saat ini.
Tanpa terasa, tetesan air mata jatuh. Ia rindu akan kampung halamannya, dimana ia bisa bercanda tawa dan merasakan perihnya hidup bersama keluarga dan koleganya. Ia rindu akan aktivitas sebelum ia berada di Rote. Ia ingin malam itu juga ia hadir di tengah-tengah keluarganya, mengumandangkan takbir bersama. Ia ingin pulang kampung, tapi tak bisa. Ia ingin kembali.
Sementara jamaah sholat lain hilir mudik, ia tetap berada di barisan shafnya, tidak bergeser sedikitpun. Sedikit suara terdengar dari tangisannya. Malam menjelang Idul Fitri itu terasa haru baginya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk keluar dari sana. Ia tertahan hingga pertengahan Desember, ketika ia pikir ia bisa cuti untuk pulang kampung. Ia makin sedih, teramat sedih.
Lebaran kali ini baginya sungguh jauh berbeda. Ia hidup di lingkungan yang membuatnya menjadi minoritas. Ia hidup dalam keberagaman budaya yang baru. Ia dihargai sebagai minoritas disana. Ia selalu bangun sahur, mencoba untuk tidak telat. Ia menyiapkan makanan buka puasa bersama penghuni tempat tinggalnya. Ia bahkan dipersilahkan makan malam dahulu ketika penghuni rumah itu menyadari, seseorang yang sedang puasa pasti akan sangat lapar ketika tidak makan dalam waktu 13 jam lamanya.
Suasana Ramadhan tersebut membuat dirinya kuat untuk tidak menangis lagi di Hari Raya Idul Fitri. Cukuplah ia menepikan diri pada kekufuran yang telah ia lakukan sebelumnya pada malam itu. Cukuplah ia menghubungi sanak saudaranya sebagai pelepas rindu malam itu juga. Esok harinya, wanita tadi siap menatap lembaran baru bagi dirinya.
Di Hari Idul Fitri tersebut, wanita tadi merasa ada yang mengganjal di dalam dirinya. Ia masih belum bisa memaafkan, dan ia masih merasa belum dimaafkan olehNya. Mungkin satu kesatuan ini saling berhubungan. Ia pasti tahu, jika ingin dimaafkan, maka terlebih dahulu kita lah yang harus memaafkan. Idul fitri yang beda kali ini membuatnya menjadi dewasa, dalam pola pikir dan bertindak. Ia tidak mau salah langkah lagi. Ia tidak ingin dosanya bertambah.
Kini, jelang pertengahan bulan syawal, ia bertekad untuk berdamai dengan masa lalunya. Ia telah memaafkan masa lalunya, ia telah memaafkan orang lain dan dirinya sendiri. Ia ingin kembali suci, bersih, dan bahagia seutuhnya. Ia tidak ingin suasana lebaran tahun ini akan memporakporandakan sebelumnya. Entah bagaimana ia menyampaikannya, ia ingin agar hidupnya bahagia seperti dulu, tanpa ada perasaan aneh.
Ia ingin, ketika ia pergi dari kehidupan duniawi, Allah Swt telah mengampuni dosa-dosanya, dan memasukkannya ke dalam Surga firdaus yang kekal abadi bersama Sang Pencipta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s