Suka Duka Hari Pertama Sahur dan Buka Puasa

Menggusar adalah ciri khas saya ketika dibangunkan tengah malam. Mata terkantuk-kantuk adalah bahasa tubuh saya ketika dibangunkan sahur oleh mama. Beberapa tahun lalu saya identik dengan dua hal tersebut ketika bangun sahur. Rutinitas yang hanya dilaksanakan satu kali dalam satu tahun ini membuat saya tidak terbiasa bangun tengah malam sekitar jam tiga pagi. Meski ini kewajiban saya sebagai umat Muslim, tapi layaknya manusia biasa, saya terkadang malas-malasan😀

Kini, saya malah merindukan mama yang membangunkan saya sahur. Pun bukan hanya saya, tapi juga adek laki-laki dan papa saya. Saya bukanlah anak pertama yang tidak sahur dengan orangtuanya. Adek laki-laki saya yang nomor dua telah mengalaminya lebih dahulu daripada saya. Iwan kuliah di Bogor sejak 2009. Sejak itu pula ia harus menjalani puasa sendiri (meski tidak terlalu sendiri karena ada kakak mama saya disana).  

Jadi, sebagai anak kedua yang merantau jauh dari orangtua ketika puasa bagi saya bukanlah hal baru. Hanya saja suasananya berbeda. Bagi saya, pertama kali menjalani Ramadhan jauh dari orangtua dan berada di kalangan minoritas adalah tantangannya. Semandiri-mandirinya saya, sisi manja bahkan lebih sering terlihat di rumah. Nah sifat manja itu justru tidak mungkin saya perlihatkan di daerah penempatan ini kan? Saya pun mulai berdamai dengan Ramadhan 1434 H ini.  

Caranya? Saya memperbanyak ibadah kepada Allah Swt. Dzikir dan doa setelah selesai sholat fardhu, sholat taraweh dan witir, dan tadarus Al-Qur’an adalah cara saya mendekatkan diri kepadaNya. Bagi saya yang berada di kalangan minoritas, hanya itu yang dapat saya lakukan disini sebagai umat Muslim satu-satunya yang tinggal di wilayah Onatali. Rasanya hati ini nyaman sekali setelah menghadapNya. Jadi tidak takut lagi dan mendadak diberi kekuatan untuk menjalani hidup selama satu tahun kedepan disini :’)  

Bagi sebagian teman-teman saya sesama Pengajar Muda VI Indonesia Mengajar, barangkali ada yang baru pertama kali menjalani puasa jauh dari orangtua untuk pertama kalinya, layaknya saya. Namun ada pula yang telah berkali-kali menjalani puasa jauh dari orangtua, seperti Ice, Wiwik, dan lainnya. Jadi ini bukanlah hal baru bagi mereka kan? Dari pantauan status Facebook teman-teman saya, mereka sepakat bahwa Ramadhan kali ini terasa lebih berwarna karena berada di lingkungan dan keluarga baru. Sontak saja kegiatan masak bareng menjadi favorit mereka bersama keluarganya, tidak terkecuali saya.  

Ya, buka puasa pada hari pertama kemarin, saya memasak bareng Ibu Fehmi, guru di SD Inpres Onatali yang juga rekan mengajar saya, sekaligus pula orang tua angkat saya. Beliau membantu memasak masakan yang telah saya rancang beberapa hari sebelumnya, yakni es kacang merah, sambal terasi, sayur wortel+kentang+sawi, dan menggoreng telur dadar. Aktivitas memasak dimulai dari jam 4 sore, di saat teman satu penempatan saya, Ice, juga hadir di mess. Sambil memasak, sambil mengobrol dengan Ibu Fehmi, Ice, dan Kak Werni adalah aktivitas baru bagi saya.  

Sebelumnya saya menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu. Membersihkan kacang merah, mengupas kulit kentang dan wortel, menyuci sayur, cabe, bawang merah, dan bawang putih, adalah aktivitas yang saya lakukan. Selanjutnya saya mulai memasak kacang merah terlebih dahulu, dilanjutkan dengan mengulek sambal terasi dan memasak sayur. Sementara itu Ibu Fehmi membantu memasak nasi dan menggoreng telur. Sayangnya karena saya lupa merendam kacang merah sebelum direbus di panci, alhasil kacang merah yang direbus sejak pukul 4 sore itu baru kelar pukul 18.30. Kealpaan saya untuk merendam kacang merah ini agaknya merepotkan acara masak memasak. Mendekati buka puasa, telur dan sayur belum dimasak, dengan waktu kilat dan sigap, dua makanan itu segera dimasak sembari saya masih menunggu kacang merah lembut :’)  

Tidak lama kemudian, acara berbuka dimulai. Saya makan tiga kurma dan minum sirup jeruk yang sudah dibubuhkan batu es. Well, alhamdulillah nikmat sekali :’) Saya bersyukur masih bisa diberikan kekuatan dalam menjalani puasa kemarin. Bersyukur masih bisa menikmati hidangan yang telah saya buat, di saat masih banyak orang di luar sana yang mungkin tidak makan atau malah menunda buka puasanya karena rezeki tidak kunjung tiba.  

Kali ini pun saya belajar bagaimana cara berbuka yang baik. Minum sedikit dan makan makanan yang manis, kemudian dilanjutkan sholat Maghrib, agaknya lebih baik daripada langsung makan nasi, hehe. Jujur saja, dulu di Jambi saya malah mendahulukan makan nasi daripada sholat Maghrib. Jadi saya belajar satu hal lagi disini. Keimanan dan keistiqomahan ibadah saya kepadaNya disini justru disadarkan olehNya. Saya merasa pembelajaran dalam berbuka ini membuat saya mengubah pola makan saat berbuka ke arah lebih baik.  

Pelajaran kedua yang saya petik dari sahur pertama kemarin adalah begitu berharganya waktu 15 menit. Kalo dulu waktu 15 menit itu bisa saya pakai untuk berangkat dari rumah menuju sekre Sahabat Ilmu Jambi, ke kampus, atau ke tempat bimbel dimana saya mengajar di Broni. Sekarang suasana jauh berbeda. Waktu 15 menit saya gunakan untuk makan sahur. Eitsss, jangan kira saya hanya makan sahur dalam waktu 15 menit ya, tapi 15 menit disini maksudnya adalah waktu sahur yang mepet dengan imsak di Rote Ndao!  

Naahhhhh iya tepat sekali dugaanmu kawan! Sahur kemarin saya hampir tidak makan. Dibangunkan oleh telepon dari papa saya pada pukul 04.21 (waktu di Jambi sendiri yang notabene WIB adalah pukul 03.21), membuat saya sontak kaget. Saya belum makan! Saya baru bangun tidur karena sebelumnya tidur jam 12 malam! Oh no! Saya lantas mengiyakan suara papa di seberang pulau sana untuk bergegas makan sebelum imsak, kemudian saya mematikan handphone. Beranjak dari kasur menuju toilet bak cahaya kilat. Mengambil makanan dan memakannya pun begitu. Saya seperti kesetanan menghabiskannya dalam waktu 15 menit tersisa. Untung saja saya nggak lupa membaca doa sahur, kalo tidak ya makin berabe, hehe..  

Beruntungnya masyarakat di Onatali toleransinya sangat tinggi. Bapak kepala sekolah dan guru-gurunya sangat perhatian sekali kepada saya, begitupun masyarakat disini. Ada yang mengucapkan selamat berpuasa, makan di ruangan lain agar tidak terlihat saya, hingga terheran-heran karena saya tidak makan dan minum hingga adzan Maghrib tiba. Kepedulian mereka menjadi kekuatan saya. Bahkan saya merasa tidak terlalu lelah, haus atau lapar disini, karena banyak orang yang menyediakan waktunya untuk berbincang dengan saya, banyak hal juga yang saya kerjakan sebelum proses belajar mengajar dimulai. Dengan begitu, saya pun enjoy saja menjalani puasa di kalangan minoritas🙂

Hidangan buka dan sahur ala chef Bella!

Hidangan buka dan sahur ala chef Bella!

Hari-hari akan terus berlanjut. Ramadhan pun akan saya jalani dengan suka cita. Mohon doanya ya kawan saya bisa menjadi hamba Allah Swt yang Ia cintai dengan ibadah yang saya kerjakan di bulan Ramadhan ini. Semoga saya lebih baik, semoga dosa saya diampuniNya, amiinnn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s