Saat Kaki dan Hati Bergetar di Wanadri

“A journey of a thousand miles begin with a single step.”

Saya melangkahkan kaki berkali-kali melewati jalanan terjal dalam beberapa hari. Saya memulai perjalanan berat itu berjam-jam. Langkah pertama selalu  saya iringi dengan doa, memanjatkan harapan agar kelak saya bisa mencapai puncak. Nyatanya, meski tidak semulus yang dikira, perjalanan bermil-mil itu tiba juga di penghujung cerita. Saya berhasil melewatinya.

Adalah Wanadri, komunitas pecinta alam yang juga menanamkan nilai nasionalisme terhadap anggotanya, yang mengiringi perjalanan saya dan teman-teman Pengajar Muda angkatan VI selama di dua tempat, Gunung Kareumbi dan Ranca Upas. Dalam dua perjalanan yang berbeda minggu itu, saya belajar banyak hal. Langkah kaki di Gunung Kareumbi dan Ranca Upas menyisakan banyak kisah yang sarat makna. Bahkan jika saya mengingatnya kembali, mungkin ada beberapa kalian yang tidak percaya saya bisa melakukannya.

Pertama, di Gunung Kareumbi. Kisah ini dimulai ketika kami diberi misi untuk mencari sebuah desa di Gunung Kareumbi. Saya dan kelompok saya waktu itu hanya diberi selembar kertas petunjuk. Selebihnya, untuk mengatur perjalanan menggunakan kendaraan apa, how to get there, dan lainnya, itu semua diserahkan kepada kami. Saya yang baru pertama kali menemui tantangan seperti ini, awalnya sempat shock. Meski begitu, saya berusaha menenangkan diri, karena banyak teman-teman yang menyemangati.

Selama di perjalanan menuju Gunung Kareumbi, banyak pertanyaan yang saya lontarkan. Apa yang bakal saya temui di jalan? Apa yang bakal saya lakukan disana? Bagaimana kondisi jalannya? Apakah saya mampu? Untuk pertanyaan terakhir, ketika itu belum mampu saya menjawabnya. Tetapi, setelah melalui kejadian-kejadian, akhirnya saya bisa bilang: “Saya mampu.”

Melewati jalanan Jakarta-Bandung, naik angkot menuju gerbang wisata Gunung Kareumbi, bertemu dengan Iti yang tertinggal dengan kelompoknya, berjalan saat hujan ketika di Gunung Kareumbi dengan kondisi jalan yang becek, mendaki jalanan yang menanjak saat hujan pula, hingga tiba di sebuah desa yang dituju, dan bermalam di rumah warga selama 1 malam, membuat hari pertama saya dilewati dengan baik.

Hari kedua dan seterusnya, hingga acara di Gunung Kareumbi selesai,lebih banyak lagi pengalaman yang saya rasakan. Saya harus memanggul ransel kecil Global Youth Forum yang kini sudah tidak berbentuk baik. Saya harus berlari-lari kecil menuju tempat pertemuan bersama kakak panitia dan teman-teman Pengajar Muda angkatana VI (PM VI), melewati sungai kecil dan hampir terpeleset, memasak dan mencuci di alam terbukan, beribadah dengan kondisi sulit di alam terbuka, berteriak lantang Indonesia sambil menyanyikan lagu kebangsaan penambah semangat, dihukum push up bersama teman-teman PM VI akibat kelalaian, terkagum-kagum dengan kakak-kakak Wanadri yang keren-keren, ketemu pembicara dari Wanadri yang sangat menginsipirasi dan membangkitkan rasa nasionalisme, menjadi komandan regu di kelompok saya, perasaan minder karena teman-teman PM VI hebat-hebat semua, tidur bersama teman-teman di tenda yang dibuat bersama-sama, hingga pada akhirnya saya harus mendirikan tenda sendiri di suatu malam; berkontemplasi apa saja yang sudah saya perbuat. Meski takut tidur di tenda sendirian, dengan penerangan yang minim, tapi saya bisa melewatinya! Sesuatu hal yang saya anggap saya nggak bisa sebelumnya, akhirnya saya bisa melakukannya. Saya tidak takut, dan saya buktikan di minggu pertama pelatihan itu :’)

Then, saya ketemu Wanadri lagi minggu kemarin. Pada minggu ke-7 survival ini, saya dan teman-teman melakukan aktivitas yang tidak banyak berbeda dengan aktivitas Wanadri di minggu pertama. Hanya saja kali ini, kami dengan konstum TNI lengkap bak tentara seiap perang menaiki bus yang telah disediakan oleh kakak panitia menuju kawasan wisata Kawah Putih, Ciwidey, Bandung Selatan. Awalnya saya kira mau jalan-jalan, hehe, ternyata kami diarahkan menuju bumi perkemahan Ranca Upas.

Perjalanan dimulai saat saya dan teman-teman penempatan Rote Ndao melewati kebun strawberry dan seledri yang sejuk. Disana saya terkagum-kagum akan keindahan Indonesia, kebun, sawah, pepohonan, dan gunung berpadu menjadi satu, pun ditambah dengan cuaca dingin, makin lengkap perjalanan bersama tim kece saya. Makan di tengah kebun, dilewati oleh pekerja kebun, disapa oleh mereka, membuat saya merasakan arti Gemah Ripah Loh Jinawi di bumi Indonesia. Saya berharap tagline itu tidak berubah sampai kapanpun.

Di Ranca Upas, selama 3 hari 4 malam, melewati banyak kenangan yang sampai saat ini saya bisa terpelongo mengenangnya. Saya melewati jalanan mendaki dan menurun dengan sangat miring, terjal, dan licin. Saya sholat di alam terbuka. Saya melakukan aktivitas pembuangan di alam juga. Ada satu kejadian yang membuat batin saya menentang ketika harus melakukan aktivitas itu. Jadi ceritanya, saat saya tidur di tenda yang dibuat dari ponco saya, suatu malam tepat pukul jam 12 malam saya ingin membuang sesuatu. Namun karena didera rasa takut dan gak berani keluar tenda, saya menahannya sambil memanggil teman di samping tenda saya, Tika, dengan harapan dia mau bangun dan menemani saya. Namun yang terjadi adalah dia tidak bangun dan malah kakak dari Wanadri yang menyahut. Saya pun malu, masa ditemani kakak Wanadri, pikir saya. Akhirnya saya menyayupkan suara saya dan mencoba untuk tidur, sambil memegangi kepalan tangan yang sudah amat sakit menahan.😀

Akhirnya ketika jam 2 pagi, saya sudah tidak tahan lagi. Saya memanggil nama Tika teman saya lagi, meski ia tidak bangun juga. Namun kembali lagi kakak Wanadri menyahuti panggilan saya tadi, dan akhirnya saya  mengaku ingin melakukan aktivitas pembuangan. Haha. Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Kakak Wanadri tadi (tentunya cewek) menemani saya melakukan aktivitas itu, haha. Padahal awalnya saya tidak menyangka bahwa kak Caca akan menemani saya, karena saya akan terlihat tampak bodoh, namun dengan baik hati dia malah membuatkan lubang untuk pembuangan saya. Duh sungguh terharu. Klimaks cerita tentang aktivitas pembuangan itu pun ditutup dengan saya tidur kembali dan masuk tenda. Tentunya nggak lupa bilang: “Terima kasih, Kak.”

Satu hal yang membuat perjalanan menuju puncak 2020 m di ranca Upas, tepatnya Leuweng Tengah, menjadi lebih berkesan bagi saya adalah saya hampir jatuh dari ketinggian beberapa meter dengan kondisi tubuh miring dan tidak memegang apapun di atas, dengan tubuh terlentang ingin mendaki dengan tidak menumpukan kaki bahkan lutut di tanah, jadi posisi seperti merangkak seperti anak bayi dengan kemiringan yang sangaaatttttt mirriiinnngggg.

Saya bisa akui saya lemah saat itu. Mental block saya diuji. Saya teringat mama dan keluarga di Jambi, saya teringat Allah swt, saya jadi takut kalo saya terjatuh ke bawah dan gak bisa naik ke atas, maka saya akan patah tulang, kemudian saya masuk rumah sakit, dan tidak jadi diberangkatkan ke Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. pada titik itu, dimana posisi saya terlentang se[erti merangkah dengan kemiringan yang sangat miring, tanpa ada akar atau pohon yang bisa dipegang dan hanya bertumpu pada tanah, sambil memanggu carrier Consina 40 L, saya menghentikan perjalanan sejenak. Saya menangis. Saya nggak kuat menahan beban waktu itu. Mau berdiri dengan kemiringan seperti itu susah. Mau naik ke atas tidak ada pegangan, pun kalo saya lengah sedikit maka saya akan jatuh ke bawah dan mengulang estafet kembali. Saya sadar saya tidak boleh menangis saat itu, tapi entah kenapa begitulah cara saya untuk menetralkan isi hati yang saya rasakan. Saya pun disemangati oleh temen-teman tim Rote Ndao bahwa saya bisa. Akhirnya dengan sekuat tenaga untuk bangun dari posisi miring itu, saya bangkit kembali, mencoba mencari akar di sekitar saya, menumpukan tangan dan lutut di tanah, hingga saya pun bisa berdiri kembali. Sumpah, itu pengalaman paling berharga seumur hidup saya, saya memaknai seperti ini: “Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini.”

Dengan mendirikan tenda bivak alam solo di hari terakhir, diberikan makanan umbi-umbian 3 buah untuk 1 hari, makan tumbuhan di alam (poh-pohan, begonia, dan kawan-kawannya itu), mendaki dan menuruni jalanan terjal yang licin saat hujan, memakai jas hujan ponco ketika berjalan, hingga kedinginan yang teramat sangat, dan tidur sendirian dengan bivak alam yang dibuat sendiri adalah titik poin dimana saya berhasil melakukan sesuatu (lagi) saat saya pikir itu tidak mungkin bagi saya. Well, I did it well enough :’) Saya berhasil tidur tanpa atap bivak alam dari daun pisang yang tidak bocor, saya bisa tidur tanpa ada gangguan macem-macem, meski jam 12 saya malah terbangun karena mau melakukan aktivitas pembuangan (lagi) hehe. Pengalaman tadi membuat saya menjadi kuat dan tidak manja. Saya menjadi pemberani dan mandiri semandiri-mandirinya, tidak menggantungkan hidup dengan orang lain.

Pada malam terakhir itu, ketika pukul 1 pagi, saya dibangunkan oleh Teh Maya, selaku kakak fasilitator kami. Dia meminta saya untuk menuliskan perasaan saya selama mengikuti pelatihan Indonesia Mengajar dan Wanadri di selembar kertas. Saya pun menuliskannya dengan gemeretuk tangan yang menggigil. Setelah itu, saya pun diminta Teh Maya untuk membereskan bivak dan segera berjalan ke suatu tempat dengan tanda gelang cahaya warna biru, orange, dan hijau, SENDIRIAN SAMBIL MENEMBUS GELAPNYA MALAM PUKUL 2 PAGI! Oh lalalalala! Pengalaman baru lagi yang membuat saya harus berani! Saya komat kamit membaca doa dan ayat Al-Qur’an, saya mulai perjalanan dengan bismillah, hingga akhirnya saya sampai di suatu tempat dimana teman-teman PM VI sudah banyak yang berkumpul, duduk di tanah dan diam. Disana saya berkumpul dengan mereka, kedinginan bersama-sama, nyanyi bareng pula. Lalu, kami pun diminta untuk pergi ke suatu tempat lagi, dimana pak Anies Baswedan dan mas/mbak pegawai IM telah menunggu kami untuk melantik. Disana kami meneriakkan Indonesia, merapatkan barisan, dan tanpa lelah melompat-lompat kecil agar tidak kedinginan.

Tiba saatnya saya dilantik oleh Pak Anies. Setelah beberapa teman terlebih dahulu dilantik, kini giliran saya. Saya mengucapkan: “Saya, Bella Moulina, siap menjadi Pengajar Muda Indonesia.” Rasa haru, bangga, bersyukur telah melewati proses selama 7 minggu membuat saya bahagia. Pesan Pak Anies untuk kami, kami resapi. Adalah kehormatan bagi kami melaksanakan tugas bangsa ini, melunasi janji kemerdekaan dengan mencerdaskan anak bangsa, sesuai maklumat UUD 1945. Ini baru seperempat perjalanan. Kami harus melewati banyak perjalanan, entah itu sedih atau bahagia, kami akan melewatinya selama 1 tahun kedepan. Selama 2 bulan dilatih oleh IM, saya merasakan 9 komponen kepemimpinan yang dilontarkan dari IM sangat berarti bagi saya. Apalagi ketika Wanadri, saya berubah drastis. Pengalaman yang menurut saya nggak akan pernah tergantikan.

Kini, H-2 menjelang keberangkatan menuju Rote Ndao, dengan kesiapan yang sudah saya terima selama pelatihan, dengan modal yang saya miliki selama ini, insyaallah saya siap melanjutkan estafet perjalanan yang akan lebih panjang, lebih susah, dan lebih ceria. Karena perjalanan besar dimulai dari perjalanan yang kecil, saya pasti bisa melaluinya!pak Anies 1

9 thoughts on “Saat Kaki dan Hati Bergetar di Wanadri

  1. Bella,, I am personally,was so proud of you, u always make progress in every part of ur life,wish i were u,,keep fighting sister, and always make ur parents proud having a daughter like U, two thumbs up for u sist🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s