Nipah Panjang: Dahulu, Kini, dan Nanti

Senja kala di hari Jum’at, 15 Maret 2013 lalu menyisakan kenangan mendalam bagi saya. Setelah 9 tahun meninggalkan Nipah Panjang,  sebuah desa yang kaya akan daun nipah, saya menyapanya kembali pada hari itu. Tepat dimana ketika adzan Maghrib berkumandang. Sayup-sayup saya mendengar “Selamat datang di Nipah kembali, Bella.”

Perjalanan saya hari itu awalnya hanya keinginan tersendiri, namun ketika saya mengutarakan keinginan ingin ke Nipah kepada relawan Sahabat Ilmu Jambi (SIJ), membuka taman baca dan kegiatan lainnya, akhirnya relawan SIJ pun menyetujui pula untuk membuka taman baca. Dan saya pun kesana tidak sendiri, tapi dengan semangat kawan-kawan, akhirnya niat yang sudah lama ingin dilaksanakan itu tercapai. Hari itu, setelah sholat Jum’at, saya, Amel, Rini, Rio, dan Maul bergerak dari rumah saya menuju Nipah Panjang. Diselingi dengan perbincangan absurd Rio dan Maul tentang “Ale-ale”, nyasar di komplek perkantoran Tanjabtim karena Rini yang ragu-ragu menentukan pilihan arah, serta jalanan Nipah yang cukup AMAZING, sampailah kami pukul 18.00 tepat.

Nipah Panjang, bisa saya katakan hampir 100% berubah. Jalanannya yang dulu menurut saya bagus dan mulus, kini dipenuhi dengan batu kerikil dan berlubang. Alhasil kalo bawa kendaraan disini nggak bisa ngebut-ngebut. Di sisi lain, jembatan disana juga beberapa telah berubah, dari yang dulunya kayu, kini sudah diberi semen (di beberapa tempat). Di depan rumah saya juga, dulunya sawah membentang, kini? Ruko dan rumah yang membentang! Rumah saya dulu, yang pernah saya tinggali bersama keluarga, dimana banyak kenangan tersisa disana, pun kini sudah reyot, hampir mau roboh. Melihat bentuk rumah tersebut, sayang sekali rasanya harus berada dalam keadaan demikian. Rumah kayu itu-lah yang membentuk pribadi saya, disanalah orangtua saya menanamkan sifat sederhana.

Yang tidak pernah berubah dari Nipah Panjang adalah keramahan masyarakatnya. Masyarakat disana masih saja mengingat Bella yang kecil, keluarga Bella yang begini begitu, adek-adek Bella yang hiperaktif semua, haha.. Di satu sisi terharu mendengar masyarakat disana masih mengingat saya dan keluarga, di satu sisi rasanya kok agak lebay ya? Hahaha. Bahkan ketika saya sampai di rumah dimana saya menginap, di tempat salah satu keluarga saya, Tante Erna dan Om Herman, mereka bilang Bella dulu begini begitu. Lalu ketika saya bertemu dengan Wak Aro, yang sempat mengasuh saya (karena dulu rumah saya pernah berada di bedeng samping rumah beliau), yang katanya kalo saya nangis dan misalnya gak boleh keluar rumah dan bla bla bla lainnya. Wak Ari menceritakan itu semua dengan berlinangan air mata. So sweeettttt.. :’)

Cerita lain juga saya dapatkan dari kerabat mama dan papa disini. Mereka kebanyakan bertanya soal orangtua saya, titip salam, dan bilang kalo ke Nipah Panjang lagi jangan lupa mampir ke rumah mereka. Kerabat mama dan papa pun mencoba untuk menostalgiakan saya yang dulu masih kecil. Haha. Ampun deh.😀 Oya selain berkunjung ke kerabat mama, saya juga dikomentarin oleh guru-guru saya, dari TK, SD, hingga SMP, banyak yang bilang kalo Bella sekarang beda banget. Terus ditanyain apa kegiatannya sekarang, kerja dimana? Dulu kuliah dimana? Hingga pertanyaan paling absurd pun dilontarkan: kapan nikahnya? Oh my God..hahahahaha.

Menyimak dari berbagai komentar tadi, saya bersyukur akan satu hal: betapa indahnya dunia ketika ada yang mengenang kita di masa lampau. Ya di masa ketika kita pernah menjadi bagian dari hidup mereka. Saya dan Nipah Panjang yang dulu :’)

Di Nipah Panjang saya juga mengunjungi beberapa tempat yang dulu memiliki banyak kenangan bagi saya. Pertama, rumah saya. Saya katakan di atas tadi, kalo bentuk rumah saya sudah reyot, hampir mau rubuh, dan nggak layak huni. Estimasi pertanyaan tersebut sebenarnya sudah saya peroleh dari orangtua yang sudah lebih dahulu kesana, namun alangkah terkejutnya saya ketika menyaksikan langsung kondisi rumah itu. Dulu rumah itu (yang meski kalo hujan agak sedikit bergoyang), menjadi tempat berlindung kami sekeluarga, kini boro-boro bisa menampung orang, kondisinya aja sudah begitu. Saya pun melihat bagian samping rumah, tempat dimana saya dulu meletakkan buku-buku yang dipinjam oleh teman. Saya ingat kejadian 2 adek saya yang jatuh ke air di bawah rumah saat debit air sungai Batanghari naik. Saya juga ingat ketika saya duduk-duduk di depan rumah, melihat kolam ikan di belakang rumah, dan mengingat dimana meja belajar saya diletakkan di dalam rumah itu. Sayangnya itu dulu. Kini, saya pun hanya bisa mengenangnya :’)

Tempat kedua yang disambangi adalah rumah Ibu Pane, guru SD saya yang menginspirasi saya untuk menjadi guru. Ibu Pane kini sudah udzur, sudah pakai jilbab, tetapi yang saya salutnya di umur beliau yang sudah udzur itu, semangatnya masih kentara, badan beliau masih tegap! Kami disambut dengan tekwan khas Nipah Panjang malam itu, yang beliau pesan di deket rumahnya. Kami juga diberi mie ala kadarnya (ibu Pane sendiri yang menyebut nama mie ini) setelah kami membuka taman baca pada hari Sabtu, 16 Maret 2013.

Tempat ketiga yang saya kunjungi adalah TK, SD, dan SMP. Di TK Dharma Wanita ini, saya dan dua saudara saya mendapatkan ilmu dari ibu Dewi dan pak Miran, sayangnya ketika saya kesana kemarin hanya ada ibu Dewi saja. Seingat saya pula, dahulu ruangan kelas yang hanya satu di TK ini lumayan luas, kini entah kenapa menurut saya agak mengecil. Ada juga permainan anak-anak disana, dan hasil karya anak-anak yang ditempel di mading sekolah. Saya pun sempat berfoto dengan ibu Dewi, yang sayangnya beliau masih melajang hingga saat ini :’)

Setelah dari TK, saya pun ke SMP N 3 (dulu SMP N 1). Saya sangat ingat ketika harus berjalan kaki dari sekolah ke rumah, atau sebaliknya. Perjalanan melalui Jl. Delta ini cukup jauh, kira-kira 3 km. Sesampainya disana, saya bertemu dengan pak Herman, pak Supeno, dan guru-guru lainnya. Guru-guru disana sebagian ada yang baru, sebagian pula dari jaman saya masih mengajar disana. Meski tidak masuk ke ruangan dimana dulu saya belajar, tapi melihat cat hijau sekolah ini, saya pikir tidak banyak yang berubah. Hanya saja pak Herman mengeluhkan perilaku siswa disana yang mudah terpengaruh oleh budaya luar sehingga kurang ingin mendapatkan ilmu.

Selepas dari SMP, tujuan sekolah terakhir adalah SD N 10 (dulunya SD N 24). Disinilah cita-cita saya hidup dari panutan guru-guru yang memberikan saya ilmu. Saya bertemu dengan ibu Pane, ibu Is, dan guru-guru lainnya yang ketika ketemu saya: “Wah Bella sudah besar, kerja dimana sekarang, dulu kuliah dimana, dan kapan mau nikah?” Jleb hahaha. Di SD ini saya dan relawan SIJ mengadakan kegiatan pendampingan untuk siswa kelas 6 SD. Tema yang digunakan masih sama ketika kami ke Desa Rukam, yakni Melukis Mimpi. Jadi, anak-anak disana menggambar profesi/cita-cita mereka di masa depan. Yang bikin terharu ada satu anak, namanya Aulia, yang menggambar cita-citanya sebagai seorang penyanyi, dia menggambar dirinya, panggung, orang-orang yang menonton, dan nama Konser Aulia di selembar kertas putih yang kami berikan. Kemudian dengan percaya diri, ia maju ke depan menjelaskan cita-citanya, dan diakhiri dengan suara merdunya yang menyanyikan sebuah lagu. Pendampingan di SD N 10 berjalan lancar, anak-anaknya sangat aktif, senang bisa berbagi dengan mereka :’)

Setelah menuntaskan kunjungan ke 3 sekolah itu, tempat selanjutnya adalah rumah kerabat mama dan papa, yakni rumah Revi (mamanya teman mama saya); saya ketemu Revi sekeluarga disini, selanjutnya saya ke rumah Dahliana (mamanya juga teman mama saya), dilanjutkan ke rumah Rizky (ini teman SD Ein dan Rini), ke rumah Wak Aro yang menyisakan linangan air mata hehe, ke rumah wak Cek yang meski beliau tidak ada juga bisa ketemu suami beliau, wak Mat (mantri kesehatan yang bekerja di Puskesman, masih ada hubungan darah dengan keluarga saya), ke rumah Wak Nur Teguh dan Cuma ketemu suaminya juga, ke rumah Wak Siah yang dulu mengajari mengaji bagi saya dan adek-adek (beliau sabar banget dulu mengajari kami), dilanjutkan dengan Ancolnya Nipah Panjang di malam minggu waktu itu, hingga bertolak ke warung bakso mentraktir teman-teman.

Tempat terakhir dimana saya  dan relawan SIJ mengadakan kegiatan bersama-sama adalah di rumah ibu Pane. Disana kami membuka taman baca pada pukul 16.00 WIB. Anak-anak SD N 10 dan ibu Pane sendiri sudah menunggu sejak 30 menit yang lalu (mohon maaf telat *sungkem*). Disana ketika kami membuka 2 kardus yang isinya buku-buku dari para donatur itu, semua anak-anak langsung menyerbu. Saya dan teman-teman kewalahan. Rio apalagi, yang memberi pertanyaan tentang SIJ, lalu Amel, Rini, Romy, dan Maul yang sibuk mengantisipasi kegiatan, sungguh kebagaiaan tak terkira melihat anak-anak menyerbu ilmu. ;’) Disana SIJ mempercayakan rumah ibu Pane sebagai tempat taman baca, dan 2 anak perempuan yang dipercaya sebagai penanggung jawab apabila teman-temannya ingin meminjam buku. Semoga saja apa yang SIJ lakukan disana memberi efek yang meskipun tidak banyak, dapat berguna bagi masa depan mereka kelak, amiinnnn…

Akhirnya, dengan berat hati, pukul 03.30pagi, 17 Maret 2013, kami harus meninggalkan Nipah Panjang. Sebagian besar yang baru kesini, seperti Rio, Amel, Romy dan Maul ingin kembali lagi. Saya? Wah apalagi! Tidak terkecuali Rini yang notabene penduduk Nipah Panjang. Saya sangat bahagia bisa kembali ke masa  lalu, dimana Bella Moulina pernah berkembang hidupnya disini, dengan dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Semoga kebaikan mereka dibalas setimpal dengan apa yang telah mereka buat di dunia olehMu ya Allah. Semoga apa yang kami lakukan ini bermanfaat bukan hanya untuk kami sendiri, tapi juga bagi mereka, dan sebagai ladang pahala bagi amal kami di akhirat kelak.

Timbul satu pernyataan untuk masa depan Nipah Panjang. Masyarakatnya pasti dan harus maju dengan generasi muda yang mencari ilmu!

Ini rumah yang saya tempati sejak 1998 hingga 2003 akhir di Nipah Panjang II, kondisinya mengenaskan? :') Tapi ia cukup banyak memberikan pelajaran bagi saya.

Ini rumah yang saya tempati sejak 1998 hingga 2003 akhir di Nipah Panjang II, kondisinya mengenaskan? :’) Tapi ia cukup banyak memberikan pelajaran bagi saya.

9 thoughts on “Nipah Panjang: Dahulu, Kini, dan Nanti

  1. Nipah panjang, ibu Dewi dan pak Miran nama yang gak aku lupa, wajahnya nya pun sekilas masih ingat, tapi itu hampir 18 tahun yg lalu :’)

  2. Setelah 17 tahun akhirnya terdengar lagi nama itu. Pak miran, bu dewi? Nama yg tak pernah kulupa, gimana ya caranya supaya bisa menghubungi beliau..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s