Behind Dream, Believe, and Make It Happen

Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi :)

Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi🙂

“Dreaming is believing.”

Percayalah pada kekuatan mimpi, begitulah kira-kira makna dari kalimat sederhana di atas. Sejak dahulu, saya percaya akan kekuatan dari dalam diri yang didasari keinginan kuat untuk menjadikan ia nyata, terjadi. Meski permulaannya hanya ilusi, tapi cobalah untuk menjadi pemimpi, lakukanlah dengan hati, dan percayalah bahwa suatu saat akan terjadi. Itu yang selalu saya tanamkan di benak saya dari tahun ke tahun. Doktrin positif bisa jadi, sungguh saya menyukai doktrin yang membuat saya ingin selalu meningkatkan kualitas diri terus menerus, terlebih lagi kalau itu bisa bermanfaat bagi orang lain.

Dibalik kalimat ini pula: “Dream, Believe, and Make It Happen,” yang dilontarkan oleh Agnes Monica, saya semakin yakin, bahwa ketika kita bermimpi, kita percaya, dan kita punya usaha untuk mewujudkannya, impian itu akan terjadi. Hal itu lah yang saya rasakan beberapa hari ini. Salah satu impian saya di tahun 2013 adalah menjadi Pengajar Muda angkatan VI dalam program yayasan Indonesia Mengajar (IM) yang diprakarsai oleh Bapak Anies Baswedan. Setelah melewati serangkaian tes yakni: pengiriman aplikasi online, wawancara, dan tes kesehatan, saya dinyatakan dapat bergabung dengan IM tahun ini. Setelah saya merepotkan banyak orang dalam mengikuti seleksi ini (begitu banyak yang membantu, dari orangtua, sahabat dekat dan jauh, dosen, dan relasi), akhirnya dukungan mereka tersebut lebih berarti bagi saya. Ternyata saya didukung oleh banyak orang untuk mewujudkan impian ini, dan ini bukan kerja keras saya sendiri. Ada mereka dibalik ini semua.

Untuk ikut IM ini modal terberat saya adalah meyakinkan orangtua saya, yang dulu selalu menganggap saya tidak bisa untuk ikut ini. Tubuh saya yang kurus, kata mereka yang saya belum mandiri, dan ketakutan jika anak perempuan satu-satunya akan hilang di negeri orang yang mereka belum pernah sambangi, adalah tiga alasan dari alasan-alasan lainnya. Sungguh kekhawatiran orangtua agak berlebihan, namun saya sadar bahwa mereka sangat memperhatikan saya, apalagi bagi masa depan saya, biar anak perempuannya tidak salah jalan. Perlu waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan orangtua saya.

Dari mengikuti kegiatan yang dihadiri oleh pak Anies Baswedan, menunjukkan buku-buku pengajar muda IM yang sudah selesai berbakti, hingga memberi tahu ketika ada pak Anies berbicara di televisi. Hingga ketika saya memutuskan untuk mendaftar sebagai pengajar muda IM lewat aplikasi online, saya katakan ini pada mama dan papa saya: “Ma, semua ini karena ridho mama dan papa. Kalo mama dan papa ridho, Allah SWT akan memberikan yang terbaik. Kalo Allah SWT menakdirkan IM adalah jalan hidup Bella, janganlah ragu terhadap keputusanNya. Itu pasti yang terbaik bagi Bella.”

Sejak 2010 ide dari pak Anies ini tercetus, saya langsung ingin menjadi bagian dari gerakan ini. Hal ini juga ditambah karena saya termotivasi dari film Laskar Pelangi, dimana ibu Muslimah merupakan salah satu pengajar di sekolah yang kadang bisa dijadikan kandang kambing pada waktu itu. Sungguh miris. Saya ingin sekali menjadi bagian dari pengajar, bukan itu saja namun juga pendidik. Maka sejak masih kuliah pula, saya sudah memantapkan hati untuk mengajar di daerah, meski tidak lama, tapi saya ingin mengambil pengalaman dari sana. Ingin menginspirasi anak-anak disana untuk melejitkan potensi mereka. Pun di sisi lain, cita-cita guru timbul ketika saya masih bersekolah di daerah yang terpencil pada era 1990-an, yakni Nipah Panjang, juga makin menyemangati saya untuk ikut IM. Saya menyadarai betul bagaimana anak daerah kekurangan informasi untuk berkompetisi dan mengembangkan bakat mereka. Tapi kami sebagai anak daerah tidak pernah kekurangan satu hal: semangat belajar dari murid dan para guru.

Setelah proses pemantapan hati bagi orangtua dan saya itu, tibalah pembukaan pengajar muda angkatan VI. Saya mengikuti proses seleksi dari awal hingga akhir dengan perasaan nyaman. Saya yakin bahwa ketika “Man Jadda Wajada” dan “Man Shabara Zhafira” ditanamkan di dalam hati, saya pasti bisa. Meski baik dan buruk terjadi silih berganti, saya percaya saya bisa melewatinya. Saya begitu menikmati proses yang indah ini. Saya banyak dibantu oleh orang-orang yang sangat baik kepada saya. Saya semakin semangat menjalaninya. Tidak peduli apakah saya akan lolos atau tidak, yang penting saya jalani dulu proses ini, begitu kata hati saya waktu itu. Dengan disertai doa dan tawakal kepada Allah SWT, hati saya semakin lapang, saya akan menerima apapun keputusan yang digariskanNya untuk saya. :’)

Setelah menanti berminggu-minggu keputusan dari pihak IM, saya pun menerima email di Jum’at siang kala itu. Sebelumnya mom Lilik, salah satu dosen di Universitas Jambi yang menjadi referee saya, menceritakan kepada saya bahwa ia baru saja ditelpon oleh pihak IM, yang menanyakan tentang saya. Beliau pun bialng kepada saya: “Apapun hasilnya, Bella harus percaya itu terbaik bagi saya. Terus semangat ya, Bella!” Harunya saya setelah menelepon beliau. Rasa galau karena belum adanya keputusan IM membuat hati saya mendadak jadi cerah. Hingga pada siangnya, saya mendapat email yang menyatakan saya lolos bergabung menjadi pengajar muda IM angkatan VI. Saya mengucap syukur, alhamdulillah, Allah SWT memberikan saya kepercayaan lewat pihak Indonesia Mengajar untuk semakin luas mengenal Indonesia lewat pendidikan anak negeri. Tanpa terasa waktu itu tubuh saya gemetar, air mata menetes, dan hanya haru yang meliputi hati saya kala itu.

Kini, menjelang keberangkatan IM untuk masuk camp pada 22 April nanti, hati saya semakin dag dig dug. Apakah saya bisa, mampu menjalankan amanah? Saya hanya meminat hilangkan keraguran dan ketakutan yang ada pada diri saya dan orang-orang di sekitar saya. Saya ingin jalan hidup ini sesuai dengan keinginan saya, karena yang tahu tujuan hidup saya ke depan adalah saya sendiri. Meski andil Allah SWT dan orangtua juga tidak terlepas dari hidup saya, tapi saya lah yang menentukan arah hidup saya ke depan bukan? Doakan semoga saya bisa ya teman-teman. Terima kasih atas ucapan selamat dan doa yang dipanjatkan kepada saya. Semoga langkah kecil ini berarti bagi anak-anak dan bangsa ini. Setahun mengabdi, seumur hidup menginspirasi!

8 thoughts on “Behind Dream, Believe, and Make It Happen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s