Antara Seminar, Sertifikat, dan Keinginan

Sejak saya masuk kuliah hingga saya tamat dari universitas, saya selalu menjadi bagian dari ketiga hal ini. Cerita lengkapnya sendiri berasal dari pengamatan saya terhadap orang-orang di sekitar. Memang bukan pengamat yang baik, tapi setidaknya teman-teman bisa mengambil manfaat dari tulisan saya ini. I do hope so ^_^

Di dunia perkuliahan jaman saya dulu (emang kuliah sejak jaman kapan sih Bel?, baru aja lulus :p), adalah hal lumrah jika banyak seminar, workshop, kursus, pelatihan ataupun program pengembangan diri lainnya bagi mahasiswa. Setiap minggu selalu aja ada tema-tema dari program tersebut. Jadi ya memang kita ‘dijejali’ ilmu pengetahuan, yang diharapkan mahasiswanya sendiri aktif mengikuti program tersebut. Setidaknya kata ‘diharapkan’ itu bisa memberi sedikit cahaya bagi mahasiswa yang nggak hanya berkutat dengan kamar tidur-kelas-kampus. Karena apa? Ya karena sebagai mahasiswa dituntut untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, bahkan lebih keren kalo punya ilmu dari jurusan yang dijalani sekarang. Double job? Nggak juga, saya pikir. Justru jadi nilai plus kita dalam meniti karir di dunia kerja nantinya.

Nah, meski udah banyak acara seperti itu, atau bahkan bedah buku sekalipun, namun tetap aja, masih sepi peminat. Glekkk! Mau dibawa kemana ya mahasiswanya? Saya kerap melihat ruangan sebuah acara (entah apa pun namanya) sering banyak bangku kosong di belakang. Pun sesekali bangku kosong itu terpenuhi jika acara tersebut dihadiri oleh oknum terkenal dan teranyar di televisi. Selebihnya? Bisa dipastikan bahwa yang ikut kegiatan itu hanya duduk sebentar, keluar, kuliah, and do nothing else. Syukur-syukur kalo dia bakal balik lagi ke ruangan kegiatan ketika perkuliahan mereka yang bentrok selesai. Justru yang terjadi adalah langsung ngambil sertifikat, trus capcus keluar. Oh no, nggak menghargai pemateri banget! Ckckck.

Saya nggak tahu apa permasalahan di dunia perkuliahan Jambi sekarang? Apa nggak tertarik seminarnya? Ruangan dan kondisi yang ‘itu-itu’ aja? Pematerinya kurang greget? Atau materinya sendiri nggak ngena di hati mahasiswa? Sungguh banyak pertanyaan yang berkecamuk di otak saya. Saya sendiri kerap mengalami hal ini. Ketika mengajak beberapa orang pun sulitnya minta ampun ya Allah -____- Banyak lah alasannya, ini itu yang nggak bisa saya bantah. Tapi ketika film teranyar keluar di bioskop di Jambi, langsung deh semua capcus kesana. Atau misalnya ketika konser band-band papan atas, acara musik, atau kongkow di mall ngabisin duit, cepet banget arusnya. Jadi berasa kok orang Jambi ini kayak nggak butuh ilmu ya? Atau memang zona nyamannya masih berada dengan mereka? Jadi ngerasa nggak butuh apapun selama mereka masih ‘punya’?

Do you know, sejak adanya peraturan yang mengikat bahwa setiap mahasiswa di universitas saya dulu harus punya 20 sertifikat (saya nggak tahu siapa yang bikin peraturan itu), semua mahasiswa berlomba-lomba ikut seminar dan kegiatan semacamnya! Sungguh perubahan yang drastis, pikir saya. Tapi saking drastisnya, yang ikut seminar hanya pengen ngambil sertifikat doang. Daftarin nama, ngeluarin uang, nggak hadir saat acara, dan minta sertifikat setelah acara! Well, dalam bagian ini saya cukup mengalaminya dan bikin saya pengen ngomel-ngomel ke peserta. Dulu waktu nyelenggarain seminar di komunitas, anak-anak mahasiswa banyak yang nanya: “Boleh dak aku daftarin namo be kak, kagek pas abis acara aku ambil sertifikat, karena hari itu aku dak biso…(bla bla bla dengan sejuta alasannya).”

Untungnya saat itu saya masih punya emosi yang labil, kalo nggak ya bakal saya labrak. Saya jelaskan baik-baik kalo mau ambil sertifikat saja sebaiknya jangan disini, mending di acara lain saja. Lagian kita mengharapkan justru peserta seminar dapat melakukan sesuatu dari apa yang mereka peroleh setelah selesai seminar, bukan hanya duduk, dengar, diam, dan tonton. Nah kalo semua mahasiswa berpikiran untuk mendapatkan 20 sertifikat harus dengan cara seperti itu? Mental mahasiswa macam apa itu? Saya sendiri mendapatkan sertifikat karena saya memang ingin mengikuti kegiatan itu, bukan karena mau tenar dengan beragam sertifikat yang sudah dimiliki, dan bukan juga pengen dikenal gara-gara banyak ikut kegiatan ini itu. Rata-rata sertifikat saya berasal dari kegiatan yang memang benar-benar saya sukai, yang sekiranya bermanfaat bagi karir saya di masa depan. Ikut seminar gara-gara teman? No way. Saya memilih untuk menelusuri info lebih lengkap daripada salah ikut seminar yang diajak teman.

Permasalahannya menurut saya adalah keinginan. Seberapa butuh kita terhadap ilmu pengetahuan yang sesungguhnya Allah Swt telah tebarkan di bumi ini? Sejauh mana kita mau belajar dari berbagai sisi tentang apa yang ada di dunia? Penting untuk diingat, seberapa besar keinginan kita untuk meningkatkan kapasitas diri?

Jika teman-teman menjawab positif dari pertanyaan tersebut, mulai sekarang galilah informasi dari sekitar kamu. Cari info seminar atau kegiatan lainnya yang dapat menunjang kapasitas kamu sebagai mahasiswa.  Tapi jangan juga selalu ikut kegiatan yang sebenarnya kamu nggak sukai, tapi kamu paksain ikut demi tenar dan dikenal seantero universitas, saya pun nggak nyaranin begitu. The main point is, kamu masih muda, banyak kesempatan untuk eksplorasi diri, jadi ikutlah seminar atau kegiatan yang kamu sukai. Jangan hanya semangat nonton drama Korea, nonton film di bioskop, kongkow di mall atau cafe, tapi galilah ilmu dari kegiatan yang kamu ikuti. Nggak hanya terbatas di seminar formal aja sih, bisa juga lewat kegiatan sharing yang bersifat informal, apalagi kalo itu gratis, siapa yang nggak mau coba?

Bukankah belajar itu seumur hidup? Long life learning. Sejatinya itu pula yang ada di diri kita. Where there is a will, there is a way J

Seminar yang dilaksanakan oleh komunitas Sahabat Ilmu Jambi akhir Oktober lalu :)

Seminar yang dilaksanakan oleh komunitas Sahabat Ilmu Jambi akhir Oktober lalu🙂

4 thoughts on “Antara Seminar, Sertifikat, dan Keinginan

  1. Iya, Setujuu kakk .. I really-really Agree with your Opinion ..
    Thankss yaa kak .. udah mau buka wawasan ku .. aku Jdi Mengerti
    Klw kita tdk akan prnah brhti blajar smpai kapan pun ..
    Putri dwi apriyanti_Sulawesi Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s