Direct Assessment Indonesia Mengajar: Sebuah Tantangan

“Hidup ini penuh tantangan. Sejauh mana kamu mau mengambil tantangan itu?”

Tantangan bagi saya sebuah pencapaian yang membuat saya lebih hidup di dunia ini. Tidak mengambil tantangan? Namanya pecundang, at least ini menurut saya. Begitu pula tantangan di tanggal 7 Januari 2013 kemarin. Saya ditantang untuk bangun pagi di sebuah kota yang sangat padat dan sibuk, ya Jakarta. Beberapa kali ke Jakarta, saya tidak pernah merasa bagaimana grasak grusuknya bangun pagi dan naik ojek/kendaraan umum menuju suatu tempat. Nah, di hari senin dua minggu yang lalu-lah saya merasakannya. Direct Assessment Indonesia Mengajar (IM) yang berlokasi di Jl. Galuh 2 No. 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu, membuat saya berpikir: “Jangan sampai telat datang ke tempat seleksi yang sudah lama saya idam-idamkan ini. Harus bangun pagi! Harus siap dengan jalanan Jakarta yang kata orang suka macet gak ketulungan di pagi hari!” Well, saya pun pasang ikat kepala😀

Untunglah saya dikelilingi oleh orang-orang baik di hidup saya. Mbak Aisy, Pengajar Muda (PM) IM angkatan pertama berbaik hati memberikan saya tempat untuk memejamkan mata dan mengistirahatkan diri dalam waktu dua malam. Pun mbak Ayu, yang saya kenal dulu dari buku Kick Andy (yang kini kondisi kertas di buku itu sudah banyak lepas), berbaik hati meminjamkan saya gulingnya. Di sisi lain, bik Yuli sekeluarga menjemput saya di bandara Soetta dan mengantarkan saya ke kos mbak Aisy di malam tanggal 7 itu. Kebaikan hati orang-orang inilah yang membuat saya harus berani menantang apa yang sudah menjadi keputusan saya. Konsekuensi untuk bangun pagi dan bersiap diri menuju kantor IM sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Ditambah pula cerita dan dorongan semangat dari beberapa teman/kakak di PM sebelumnya makin semangatlah saya!

Naik ojek di Jambi? Pasti pernah. Tapi kalo naik ojek di Jakarta dan gak pake helm pula? Nah itu saya! Pasalnya waktu itu adalah hari pertama anak sekolah masuk sekolah, kata mbak Aisy dan mbak Ayu, jadi transportasi yang cukup efektif adalah ojek. Mengingat kalo naik busway atau bus akan memakan waktu yang sangat lama dan kemungkinan macet, sedangkan jam 7.30 saya harus sudah berada di kantor IM. Alhasil saya dibawa oleh mamang ojek, yang jalannya waktu itu cepet banget, tanpa pakai helm! Meski gak pakai helm, saya selalu berdoa agar diberi keselamatan selama di jalan, kan gak lucu kalo misalnya ditilang di Jakarta, sedangkan di Jambi aja gak pernah kena tilang hehe. Sempat juga sih melewati beberapa polisi, malahan dekat banget lewat depan mereka. Namun entah kenapa mereka gak menegur kami, dan saya pun percaya dengan perkataan mamang ojek ini: “Tenang aja mbak, insyaallah gak apa-apa kok.”

Setelah melewati jalanan Jakarta yang berlika-liku, sampailah saya di kantor IM pukul 06.30. Komplek kantor IM ini terletak di komplek perumahan elit, yang kata mbak Aisy harga sewanya ratusan juta. Alamak! Wajar saja sih saya pikir, bangunan rumahnya juga artistik, luas dan terdiri dari dua tingkat. Menurut saya sih, ini lebih cocok dijadikan rumah daripada kantor, soalnya unik banget sih😀 Nyampe jam segitu bikin saya memilih mencari makanan di sekitar kantor IM. Merasa bahwa perut belum diisi makanan apapun sejak bangun tidur kecuali air minum, saya bergegas ke warung kecil di sebelah kantor IM yang menjual makanan ringan dan gorengan. Saya beli 4 buah roti dan 3 gorengan. Bekal ini saya rasa cukup untuk mengganjal perut yang minta diisi sedari duduk di motor tadi. Beranjak dari sana, saya kembali menuju kantor IM, melangkahkan kaki dan hati J

Direct Assessment IM ini merupakan kali pertama saya mengikuti seleksi di Jakarta. Rasanya sama kayak ngikutin seleksi di perusahaan asing ternama, hehe. Ya begitulah. Soalnya emosi dan perasaan bercampuk aduk mengikuti seleksi ini. Saya bertemu banyak teman-teman hebat yang memiliki cita-cita yang sama untuk mengajar di daerah terpencil pula. Ketemu pejuang PM yang sudah ditempatkan di daerah sebelumnya. Ketemu para pegawai IM yang selalu memancarkan semangat perubahan. Dan..ketemu pak Anies, meski hanya melirik sebentar dan beliau berada di dalam ruangan saya waktu itu pun hanya 10 menit (if I’m not mistaken). Seperti naik roller coaster atau bungee jumping (meski saya belum pernah naik keduanya), saya berusaha memberikan yang terbaik apa yang saya bisa. Tidak melebih-lebihkan atau mendramatisir kehidupan saya. Hanya bercerita, ya bercerita.

Bercerita menjadi saran utama dari kak Nino, alumni PM 3 yang saya temui waktu dia berada di Jambi bulan Januari ini juga. Ia menyarankan saya untuk menceritakan tentang hidup saya, bukan sekedar menyebutkan prestasi atau hal-hal formal saja. Begitu pula dengan mbak Aisy, ia menyarankan untuk fokus terhadap satu cerita saya yang mampu menyentuh. Alhasil saya pun terbayang untuk menceritakan tentang kehidupan saya dari kecil hingga sekarang. Kehidupan yang berasal dari kebaikan hati orang lain.

Self presentation merupakan ikhwal saya bercerita. Saya menyebutkan asal usul saya, seperti nama, almamater, hobi, dan profesi. Selanjutnya, saya mulai bercerita tentang kehidupan masa kecil saya di suatu desa yang membuat saya lebih menghargai hidup. Saya juga mengatakan bahwa hidup saya ini berasal dari kebaikan orang lain. Kebaikan pertama berasal dari orangtua saya yang telah memberikan pendidikan  dan motivasi untuk lebih baik lagi. Kebaikan kedua berasal dari oom dan tante saya yang mengirimkan buku/majalah anak-anak ke desa dimana dulu saya pernah tinggal. Kebaikan ketiga berasal dari guru-guru saya yang memberikan ilmu, yang membuat saya bercita-cita menjadi guru dan mendirikan taman baca sewaktu masih kecil di desa. Kebaikan keempat berasal dari guru SMA, Mom Rofi, yang membuat saya berani maju ke depan kelas untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Kebaikan kelima dari teman-teman yang ada di organisasi/pekerjaan yang saya jalani sejak awal masuk kuliah hingga sekarang, yang membuat saya lebih percaya diri dan berani menggapai impian.

Saya menutup self presentation selama 10-15 menit ini dengan kalimat: “Kini saatnya saya membalas kebaikan mereka tersebut. Saya ingin mengajar anak-anak di daerah lewat IM agar mereka kelak menjadi pribadi yang sukses di masa depan berkat kebaikan orang-orang di sekitarnya. Karena saya percaya hidup ini adalah belajar dan berbagi, jadi saya akan memberikan apa yang sudah saya pelajari kepada mereka di sekeliling saya. We have two hands, one to help yourself, and second to help others.” Alhamdulillah, I’ve done it well. Saya tersenyum puas dengan waktu yang singkat itu.

Next section is focus group discussion. Disini saya dan teman sekelompok, Widhi, Angga, Bahraini, Leni dan Farah mendiskusikan satu topik permasalahan di dalam pendidikan. Topiknya benar-benar kompleks. Di suatu pulau A memiliki permasalahan pendidikan yang kompleks. Dimulai dari tidak adanya gedung SMP, tidak ada siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP,ketidakpercayaan orangtua siswa untuk menyekolahkan anaknya di luar pulau dikarenakan banyak anak yang hamil di luar nikah dan pergaulan bebas di luar sana, beasiswa yang dibagi ke setiap keluarga dengan rata, dan lainnya. Kami harus memberikan 3 solusi utama yang telah tertulis di kertas tersebut. Sungguh rumit memilih 3 solusi utama karena masing-masing kami harus mempertimbangkan dengan kondisi sosiologis masyarakat di pulau A. Setelah menyampaikan pendapatnya masing-masing, kami mendiskusikan 3 solusi utama dan diputuskan untuk mengambil 3 solusi yang berkaitan dengan: memberikan solusi pendekatan kepada masyarakat, bekerjasama dengan pihak pemerintah setempat untuk membangun SMP, dan memberikan beasiswa untuk anak-anak SD kelas 6 (anyway saya lupa juga sih judul solusinya apa, ya kira-kira seperti itu lah hehe).

Setelah tes kedua selesai, kami mengikuti seleksi ketiga yakni psikotest. Di tes kali ini, saya cukup paham dengan psikotes karena sudah berkali-kali mengikutinya. Saya menjawab pernyataan yang tepat dari berpuluh-puluh pernyataan di selembar kertas. Kemudian menggambar seseorang dan pekerjaannya, menggambar pohon dengan syarat yang nggak boleh ini itu, dan menggambar orang, pohon, dan rumah dalam satu paket lengkap. Dengan minimnya pengetahuan menggambar (saya menyadari saya nggak lihai menggambar hehe), saya berusaha menggambar apa yang ada di benak saya semampu saya, tanpa memikirkan ini jelek atau nggak. Di satu sisi, suara teman-teman yang sedang micro teaching di sebelah ruangan tes psikotest mempengaruhi emosi kami pula. Saya pikir, ini semacam pemanasan sebelum tes simulasi mengajar benar-benar terjadi dan menggemparkan haha..😀

Oya kami sempat istirahat beberapa menit untuk sholat dan makan siang. Menyantap makan siang dengan teman-teman di ruangan ber-AC bikin saya tambah deg-degan. Apa pasal? Karena masih ada dua tes lagi yang saya inginkan cepat berakhir, haha..saking takutnya nih. Dua tes itu adalah wawancara dan simulasi mengajar. Yup, wawancara ini membuat saya harus hati-hati menjawab pertanyaan di pewawancara, karena menurut kak Nino, kita harus konsisten dengan apa yang kita tulis di aplikasi saat menjawab pertanyaan. Ada pula pertanyaan yang diubah cara bertanyanya namun makna jawabannya sama.

Lantas masuklah saya ke ruangan berbeda. Kali ini saya menjalani tes wawancara. Di dalam tes ini, saya ketemu dengan mas Ade yang mewawancarai saya berdasarkan aplikasi yang ia pegang. Seingat saya, pertanyaan yang saya jawab bisa memenuhi rasa ingin tahu mas Ade. Dari mulai aktivitas, impian, kekecewaan, permasalahan di organisasi, inisiasi suatu kegiatan dan lainnya. Sempat tertawa di sesi kali ini, karena saya menjalaninya cukup nyaman, toh mas Ade juga nggak bikin saya gugup. Namun saya baru ingat ada 2 atau 3 pertanyaan yang nggak saya jawab konsisten berdasarkan aplikasi yang saya tulis. Setelah menyadari hal itu ketika keluar dari ruangan, mendadak saya merasa bodoh, kenapa saya bisa lupa tulisan yang saya buat sendiri ya? Saya lantas mengecek aplikasi yang saya submit di IM, dan benar saja, beberapa pertanyaan dan jawaban ada yang terbalik bahkan nggak sinkron. Oh no.. I just hope the best for this interview then :’)

Nah..seleksi terakhir adalah simulasi mengajar! Hahaha.. Bila membayangkan kondisi kelas waktu simulasi mengajar ini, saya rasanya mau ketawa mulu, bukan emosi haha. Jadi begini, simulasi mengajar ini isinya adalah teman-teman sekelompok saya sebagai peserta didik di kelas, plus 3 alumni PM yang bertindak sebagai peserta didik yang membuat gaduh dan rusuh, haha. Saya mendapat giliran kedua setelah Angga. Saya sudah membawa alat permainan yang akan diajarkan secara tidak langsung kepada anak-anak, ya bermain role play. Tema pendidikan kewarganegaraan yang saya ambil adalah hidup rukun, saling tolong menolong dan saling berbagi. Saya membawa masing-masing 18 bunga merah dan ungu yang sudah saya tulis per hurufnya di balik bunga tersebut. Juga membawa bintang bagi kelompok yang berhasil memberikan yang terbaik dalam role play.

Semua konsep capturing attention, menyanyi, dan sebagainya sudah saya siapkan satu malam sebelum keberangkatan ke Jakarta. Nyatanya? NIHIL SODARA-SODARA. HAHAHAHA. Jadi waktu implementasi pengajaran PKN itu, apa yang sudah saya persiapkan sia-sia, nggak tercapai satu pun materinya haha😀 Soalnya saya sibuk meladeni dan mengayomi anak-anak SD yang gaduh itu yang diperankan oleh 3 alumni PM dengan aktingnya yang bikin saya mengucap astaghfirullah :’) Ada yang berteriak gempa, ada yang diam aja, ada yang berulah ini itu dan sebagainya. Lagi-lagi saya berusaha menunjukkan senyum terbaik kepada mereka walau dalam hati kesel juga hehe. Saya cukup sabar meladeni ‘anak-anak’ SD tadi, hingga akhirnya 7 menit berlalu, dan simulasi mengajar untuk saya pun selesai! Ckckck, setelah itu saya ketawa aja deh, hahaha.. Entah apa hasil penilaian terhadap pengajaran saya tadi ya😀

Last but not least, semua tes tahapan DA IM sudah saya jalani. Saya bersyukur mampu melewatinya dengan baik, atas dukungan dan dorongan Allah swt dan doa dari orang-orang disekeliling saya. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari 263 pemuda terpilih se-Indonesia yang mendaftar dari 7502 aplikasi. Saya yakin perjuangan saya ini masih banyak yang lebih baik dari saya, saya yakin 262 peserta DA IM lainnya hebat-hebat semua, mereka berusaha meyakinkan panitia IM bahwa mereka layak dipilih. Now, saya bertawakal saja. Semua keputusan saya serahkan kepada Allah swt yang menentukan nasib hambaNya ini mau dibawa kemana. Biarlah Ia yang menyampaikan kepada panitia IM jalan terbaik untuk saya, entah itu saya lolos jadi PM VI dan mengikuti tes tahap akhir medical check up atau nggak. I just pray the best, karena Allah swt tahu mana yang terbaik untuk saya.

Kini, 20 Januari 2013, saya harus menunggu masih lama lagi sebuah pengumuman melalui email di antara bulan Februari-Maret mendatang. Kata panitia IM, bagi peserta yang lulus akan diberitahukan via email antara kedua bulan tersebut. Saya pun merenung, akankah saya mendapatkan email yang memberitahukan saya lulus? Atau malah rejection letter untuk kesekian kalinya?

Tiba-tiba, saya jadi teringat dengan sms balasan dari papa sore itu, dimana saya bilang kalo saya sudah menyelesaikan seleksi dengan baik, saya juga mengirimkan sms itu kepada mama saya. Namun isi sms dari papa bikin saya lega, sebuah doa yang saya pikir papa bahkan belum merelakan saya ikut seleksi DA IM ini: “Semoga nanti hasilnyo bagus dan Bella lulus yo.” Singkat, padat, dan jelas.

Ahh semoga saja ya Allah :’)

Pose dulu hehe

Pose dulu hehe

11 thoughts on “Direct Assessment Indonesia Mengajar: Sebuah Tantangan

      • Kmaren saya baca2 blog pengalaman angkatan sebelumnya (I-V) yang ikut direct assesment, katanya pemberi rekomendasi ditelpon seputar kegiatan kita. sedangkan sampai hari ini perekomendasi saya belum ditelpon. apakah perekomendasi mbak bella sudah ditelpon waktu direct assessment? thx mbak Bella. semoga kita bisa lulus dan mendapat yang terbaik.

      • syukur, saya juga sudah ditelpon dan disuruh MCU tanggal 23 kmaren. tapi saya MCU tanggal 1 maret jadinya. btw brapa hari setelah MCU keluar pengumuman lolos MCU atau tidak mbak? apakah hasil MCU mbak Bella sudah keluar?
        trims

  1. hai bella. salam kenal🙂 wah sekarang masih dlm masa tugas PM di Rote yah? postingan kamu bagus. menginspirasi banget & membuat aku makin bermimpi untuk menjadi PM. Bikin semangat! fyi, aku stumble upon blog ini waktu cari2 info mengenai tes direct assessment IM lho🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s