Ketika Om Robi Pergi Meninggalkan Kami

Ada beberapa hal yang masih misteri dalam kehidupan seseorang di dunia ini. Salah satunya adalah umur. Ya, siapa yang tahu bahwa kita bakal pergi meninggalkan semua yang ada di dunia ini besok pagi? Atau beberapa hari, minggu, bulan, dan tahun lagi? Ajal memanggil, siapa yang bisa menolaknya. Bahkan ketika orang bilang: “Gak nyangka ya dia pergi secepat itu meninggalkan kita, tiba-tiba pula,” we never know the reason of that. Allah Swt lah yang tahu kapan kita lahir, meninggal, menikah dengan jodoh kita, rezeki yang diperoleh, serta harta benda yang kita miliki.

Inilah yang saya rasakan bersama keluarga besar papa sejak satu bulan yang lalu. Gak ada yang menyangka bahwa Almarhum Om Robi akan meninggalkan kami di akhir tahun 2012 ini. Padahal sebelumnya kami bertemu pada lebaran Idul Fitri di Palembang dan merayakannya bersama keluarga besar papa, termasuk ombai Solha, kemudian mengujungi makam akas Mahmud, dan makan di tengah kebun milik Alm. akas Mahmud pula. Di sisi lain, kami sang sepupu, meski saya sudah berpenghasilan, tetap diberi THR, begitu pula sepupu lainnya. Kami bercengkrama di rumah papa di dusun Campang Tiga, Ogan Komering Ulu. Indah banget waktu itu, dan senyum Alm. Om Robi seakan gak lepas dari pipinya yang chubby iyu. :’)

Siang itu, 5 November 2012. Saya ditelepon papa dari Muara Sabak. Terkejut. Jarang-jarang nih nelpon, paling kalo ada hal penting cuma sms doang, pikir saya. Saya yang saat itu memakai headset di jalan sambil bawa motor, langsung mengangkatnya (agak ngeri sih nelpon di tengah jalan, tapi untungnya saya bisa menjaga keseimbangan). Papa mengabarkan bahwa om Robi masuk RS dan sekarang lagi koma, mohon doanya, begitu kata papa. Saya shock berat. Kenapa tiba-tiba ya? Meski saat itu banyak pertanyaan yang belum papa jawab, saya tetap berdoa semoga Allah swt memberikan keringanan beban atas apa yang om Robi rasakan waktu itu.

Selang beberapa jam kemudian, mama dan papa pulang ke kota Jambi dari Muara Sabak. Saya pun tiba di rumah sekitar jam 7 malam. Saat itu pula papa meminta kami untuk semakin kuat membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menolong Om Robi, dikarenakan oom semakin kritis. Hingga pada akhirnya mama tiba-tiba keluar dari kamar dan melihat pintu kamar saya terbuka, kemudian menyampaikan pesan yang saya bahkan ingin menangis saat itu: “Bella, Om Robi udah dak ado lagi. Doain om Robi yo.” Lebih kurang jam 8 malam, kabar itu hadir di telinga kami, saya, mama, papa, dan Sadi.

Glekk..tubuh saya kaku, semacam disetrum. Bagaimana mungkin secepat ini om Robi meninggalkan kami? Bagaimana mungkin Allah Swt mengatur semuanya hari ini, dimana saat itu om Robi setelah mengantarkan kedua anak laki-lakinya berangkat ke sekolah, mencuci mobil yang ia beli baru beberapa minggu lalu (hasil kerja kerasnya bekerja di Qatar sejak 2008 silam). Pun ketika om Robi merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya, hingga ia berteriak menyebut “Allahuakbar”, dan istrinya terus berkata istighfar, lalu para tetangga menyambanginya di pagi hari tanggal 5 November itu. Hingga akhirnya pada malam itu, Om Robi pulang ke pangkuan Allah swt. Seharusnya om Robi pulang ke Qatar hari senin siang itu, namun belum sempat beliau balik kesana, Allah swt lebih dulu meminta beliau balik ke pangkuanNya untuk selama-lamanya. Bahkan kamu tahu kawan, plat mobil yang baru ia beli itu ternyata merupakan inisial tanggal dan bulan ia meninggal, A 1105, yang berarti meninggal pada 5 November. Is that right? Sungguh ada pertanda yang Alm. Om Robi berikan untuk kami, untuk kami kenang suatu hari nanti.

Entah apa yang membuat saya ingin sekali ke Cilegon dalam kurun waktu 6-11 November waktu itu. Saya yang memang ada kegiatan di Jakarta pada tanggal tersebut ingin sekali ke Cilegon untuk berkunjung ke rumah bik Dewi (adek mama) dan almarhum om Robi (adek papa). Saya memang merencakannya setelah saya selesai acara. Namun, beruntungnya saya yang pada tanggal 6 November sudah dibelikan tiket untuk berangkat ke Jakarta dengan jadwal pagi, sangat beruntung. Karena apa? Karena kami sekeluarga menjadwalkan untuk melayat jenazah almarhum langsung ke Cilegon. Saya pun bersyukur dapat pesawat gratis pagi 6 November itu. Jadi, sebelum saya ikut acara pada malam harinya, saya hadir di pemakaman almarhum siangnya. Saya bahkan sempat melihat wajah almarhum om Robi sekilas, putih bersih, damai sekali melihatnya. Saya menetes mengenang kondisi dimana keluarga kami ditunggu sebelum beliau disholatkan dan dimakamkan, karena papa dari pihak keluarga laki-laki merupakan anak tertua yang bahkan sampai peristirahatan terakhir adiknya pun ia bertanggung jawab terhadap adiknya. Papa terlihat tegar, mama menangis dan saya juga, sadi dan Iwan (Iwan waktu itu berangkat dari Bogor dengan mama Mulkan) diam tak berkutik. Kami menuju mesjid deket rumah alm om Robi, menyolatkan, lalu membawa ke TPU yang cukup jauh dari perumahan itu, memakamkannya disana. Dan alm om Robi tampak kesepian berada di tempat itu, karena TPU tersebut memang baru dibuka. Lantas, pecahlah tangis saat almarhum dimakamkan. Kami berdoa, terus berdoa, isak tangis direda, agar almarhum tenang disana :’)

Kini, ketika lebih dari satu bulan almarhum meninggalkan kami, papa saya terus mengenang beliau sebagai adik paling bungsu dari pihak lelaki yang paling baik, penurut, dan royal terhadap keluarga. Ia hidup berkecukupan dengan istri dan dua anaknya, ia bekerja di Qatar, namun ia tetap berkepribadian sederhana. Selalu menyemangati kami para ponakannya, selalu perhatian dengan ombai Solha yang terbaring lemah di atas kasur, sangat menyayangi keluarga kecil yang ia tinggalkan jauh di Banten, dan yang membuat saya salut adalah almarhum adalah pribadi yang rajin beribadah. You know what guys, oom saya paling kece itu disholat ghaibkan di tiga mesjid di Qatar! Subhanallah, kami tidak menyangka beliau sangat disayangi disana, seolah-olah langit Qatar pun mendoakan beliau dengan jarak yang meski jauh namun kami merasakan relung-relung kedamaian itu bersama almarhum.

Saya pernah berangan-angan, kalau saya lolos pertukaran pemuda ke luar negeri dengan tujuan negara Kanada tahun depan, saya akan ketemu almarhum om Robi di bandara Qatar, sambil berkata: “Terima kasih om, terima kasih telah memberi pesan: “Jangan putus asa, terus semangat untuk ke luar negeri meski gagal berkali-kali.” Namun kalimat itu urung saya lontarkan karena alm. Om Robi sudah lebih dahulu dipanggil sebelum saya ikut seleksi pertukaran pemuda lagi tahun depan. Satu hal yang saya kenang dari beliau adalah, dia-lah orang pertama kali yang memberitahukan kepada Iwan, adek saya nomor dua, bahwa Iwan lolos sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor lewat jalur SNMPTN pada 2009 lalu. Ia menelepon saya via telpon rumah langsung dari Qatar! Di saat saya, Iwan, bahkan kedua orang tua saya belum melihat hasil pengumuman itu baik di koran maupun di internet! Dan almarhum yang dengan semangatnya memberi tahu kami pertama kali. Dan beruntungnya Iwan, ia berkali-kali diberi pesangon oleh beliau dan juga semangat untuk kuliah sebagai anak perantauan. Saya merasa ada semangat di dalam diri untuk terus menggapai impian ke luar negeri karena pesan alm. Om Robi itu. Saya ingin membuktikannya kepada almarhum, saya ingin mempersembahkannya untuk beliau, suatu saat nanti di hidup saya, amin.. :’)

Almarhum om Robi saya :)

Almarhum om Robi saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s