Kekecewaan dan Kebahagiaan di Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia

“Membangun Karakter, Kreativitas dan Solidaritas.”

That was my first congress, even that was my first activity after graduate from my university J Yup, pada 6-9 November 2012 yang lalu, saya bersama 9 anak muda Jambi lainnya mengikuti kongres ini di Hotel Borobudur, Jakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini menyimpan banyak cerita. Meski gak semua berjalan lancar, ada beberapa hal yang mungkin kita bisa petik pelajarannya dari acara ini.

Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia (KKPI) berlangsung selama 4 hari. Dalam kurun waktu itu pula banyak hal yang terjadi. Dari yang dipuji hingga dicerca. Ya memang karena gak semua yang peserta inginkan terjadi disini. Meski beberapa fasilitas tidur di hotel, acara di hotel mewah, dapat uang saku, hingga ketemu anak muda se-Indonesia tersedia, beberapa peserta ternyata banyak komplain. Hmm, bagai kutub utara dan selatan sih.

KKPI dibuka pada malam tanggal 6 November. Acara berlangsung di Flores Ballroom, Hotel Borobudur. Dengan susunan round table, pembukaan dan kenduri budaya pemuda berlangsung meriah. Selain ada kata sambutan dari pihak Kementrian, ketua panitia acara tersebut, Marcella Zalianti, juga memberi kata sambutan. Sampai disini saya sedikit agak heran, kenapa Marcella yang didaulat sebagai ketua panitia? Apa bargaining position dia terhadap KKPI? Meski begitu, keheranan saya sementara disimpan dulu.

Acara semakin keren ketika panitia menghadirkan Putri Ayu, pemain orkestra yang isinya anak-anak muda berprestasi, pemain Sasando, dan 9 anak muda Indonesia yang berprestasi. Yang paling memukau saya dalam acara ini adalah kesembilan pemuda tersebut yang sudah berkontribusi untuk negara sesuai passionnya. Mereka adalah Nancy (Batik Fraktal), Cicilia (Yayasan Kampung Halaman), Maria (Peneliti Linguistik), Cholil ERK (Musik Indie Meng-Indonesia), Alif (Situs You Antri), Abdhyatmika (Video Demokrasi Go USA), Mahasiswa ITS (Aplikasi Gamelan Tutul di Android), Siswa SMK 4 Bandung (Animasi IT mendunia), dan Agus beserta murid-murid dari SMK 4 Jakarta (Mesin Batik Tulis).

Kegiatan di hari selanjutnya gak kalah amazing. Saya menyaksikan pak Taufik Ismail dua kali membacakan puisi, yang kedua ini saya menyaksikan beliau membacakan puisi di KKPI. Dalam kesempatan ini, beliau mengatakan bahwa ada baiknya Indonesia Aku Bangga diubah menjadi Indonesia Aku Bersyukur. Puisi beliau yang menceritakan temannya, Kasim Arifin, yang mengabdi di Pulau Seram hampir membuat semua peserta menitikkan air mata. Dua puisi lainnya yakni Pesimis dan Solusi Masalah membuat kami semakin percaya bahwa Indonesia akan hebat jika berada di tangan pemuda yang berkontribusi untuk negaranya. Pada 7 November ini pula, beberapa speaker turut berbicara pada Sarasehan Pemuda yang bertemakan Nasionalisme Kebangsaan, mereka adalah Mas Ari, Mbak Ibet, Mas Frank, Bapak Sukesti, dan Bapak Gede Prama. Sarasehan kedua pun dilanjutkan sore harinya, dengan pembicara Suryadi Laidang, Nila Riwut, Inaya Wahid, Edo Kondologit, dan Didi Kwartanada.

Sedangkan pada sesi terakhir sarasehan, bagi saya ini merupakan puncaknya. Berbagai pelaku seni dihadirkan disini, sebut saja Mas Ario (pemain di film The Raid dan Merantau), dan menampar saya dengan kalimat “Semua Butuh Kerja Keras, Gak Ada Yang Instan.” Kemudian ada Mas Eko Supriyanto, penari internasional yang sempat bekerja dengan artis luar negeri (badannya lentur banget nge-dance gitu :D), ada mas Vicky Sianipar juga sebagai anak muda yang memadukan musik tradisional dan modern, Carmanita yang melukis batik di atas mobil (so WOWWW), dan mas Dynand Faiz, penggagas Jember Fashion Carnival yang bikin saya pengen secepatnya ke Jember tahun depan untuk menyaksikan karnaval terbesar ketiga di dunia ini! Pada malam harinya, kami berkesempatan menyaksikan film Atambua 39°C yang bikin otak saya berputar keras mengenai cerita film ini hehe. Namun tak mengapa, menyaksikan langsung mas Riri Riza dan Mbak Mira Lesmana ngomong di depan podium sedikitnya menuntaskan hasrat bertemu dengan mereka😀 Well, most of all, acara pada hari itu keren banget, ditambah lagi dengan banyaknya komentar dari mahasiswa, plus penampilan yang keren banget dengan konsep indoor yang ditampilkan oleh para model JFC dengan kostum yang amaziiinnnggggg!

On next day, mulailah terlihat kekhawatiran yang bagi saya di awal-awal akan terjadi, pun akhirnya sedikit demi sedikit terjadi. Hari itu, 8 Desember, kami mengujungi Museum Nasional untuk memasuki paralel session yang bertemakan Rencana Aksi Pembangunan Karakter. Entah kenapa feeling saya kemudian tidak enak. Pada akhir sesi di Museum Nasional ini, para peserta mulai memanas. Sebagian besar menilai bahwa acara ini seperti sia-sia, tidak ada sesuatu yang ‘in’ yang bisa pemuda ambil pelajarannya. Di satu sisi ada yang menilai bahwa kementrian hanya ingin menghabiskan uang di akhir tahun. Glekkk.. Tapiiii..kericuhan tidak berhenti disitu saja, justru setelah mengunjungi Kawasan Kota Tua, Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri, puncak kerisauan anak muda Indonesia berada pada malam dimana kami kumpul di Museum Bank Mandiri untuk makan malam. Selesai penampilan dari beragam kreativitas anak muda, beberapa orang perwakilan provinsi menyatakan sikapnya yang kecewa terhadap acara ini. Bahkan sempat adu jotos karena beberapa hal yang tidak beres, untungnya ini bisa dinetralisir oleh Kang Asep Kambali, founder Komunitas Historia Indonesia, mereka yang semula marah-marah kini teredam emosinya.

Hari terakhir entah kenapa malah peserta semakin sedikit. Setahu saya yang ikut kongres ini ada sekitar lebih dari 400 pemuda se-Indonesia, namun di hari terakhir, belum sampai acara penutupan, peserta berkurang. Hal ini terjadi karena beberapa peserta sudah ada yang memesan tiket pulang pagi, selebihnya ada yang tidak setuju dengan hasil kongres ini dan memilih pulang duluan. Saya? Karena tiket balik tanggal 11 November, jadinya saya adem ayem aja. Meski begitu, kondisi ruangan Flores Ballromm saat itu sama sekali nggak adem ayem. Banyak banget mahasiwa yang komplain dengan acara ini, semakin banyak yang menghujat, dan menuturkan kata-kata kasar.

Sungguh saya pikir, ini acara paling kacau yang saya ikuti. Entah kenapa judul acara yang ingin membentuk pribadi berkarakter semakin menjadi boomerang. Peserta banyak menuruti hawa nafsu waktu berbicara, akibatnya banyak yang saling nggak menghormati antara satu lawan bicara dengan lainnya. Di sisi lain, suara-suara keras mendominasi dan memekakkan telinga saya. Pun para peserta menilai, panitia acara dari kementrian dan EO tidak beres dalam menjalankan acara, akibatnya banyak yang protes dan menganggap kongres ini gagal. Acara penutupan yang saya kira pasti lebih meriah dari pembukaan ternyata berbanding terbalik. Saya pun terdiam. Ini sebenarnya salah siapa, salah peserta atau panitia? Hingga saya tiba di Jambi pun, saya nggak habis pikir,  gimana bisa saya menjadi bagian acara itu? Namun saya bersyukur (mengutip kata dari pak Taufik Ismail), saya banyak memetik pelajaran dari acara ini, dan mengenal orang-orang baru :’)100_6725

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s