Cerita Dibalik Kami Peduli, Kami Berbakti

Dalam buku The Dreamcatcher-nya Alanda Kariza, saya pernah menuliskan satu impian yang ternyata saya tulis paling bawah, saya lupa di urutan keberapa, tapi saya tulis impian paling bawah itu seperti ini: “Pengen bikin acara yang menginspirasi dari anak muda Jambi untuk anak muda Jambi.”  Meski ia berada pada urutan impian paling bawah, nyatanya impian itu mengalahkan impian saya yang berada di nomor satu, paling atas.

Semua berawal dari keinginan. Dan saya percaya pada pepatah ”Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.” No matter what people say, I believe what I want in this world is to share my knowledge with people. Ini yang menjadi patokan saya pertama kali saat menggagas seminar di komunitas saya dan teman-teman, Sahabat Ilmu Jambi. Meski saya minim pengalaman dalam menggagas acara seperti seminar atau talkshow, tapi saya percaya dengan kerja keras saya dan teman-teman relawan acara ini akan berjalan lancar, buktinya acara sukses diadakan pada 20 Oktober 2012 lalu. And finally, the story began..

Bagi beberapa orang, seminar ini berbeda dengan seminar lainnya. Kata mereka, kami menghadirkan sosok anak muda Jambi yang memang berbuat nyata untuk daerahnya, yakni Bang Borju (Mukhtar Hadi) dari Sekolah Alam Raya Muaro Jambi dan Linda Handayani dari SAD Rengke-rengke. Ditambah dengan klimaks acara, pembicara dari Jakarta mewakili Garuda Youth Community (GYC), David Sihombing yang berbagi cerita kepada anak muda Jambi tentang bagaimana ia mengawali GYC. Pun di tengah acara, kami menampilkan Bang Wawan, Wak Degum, dan Wak Zuhdi yang memberikan penampilan kesenian tradisional Senandung Jolo yang menggunakan alat musik tradisional Jambi, Kulintang Kayu, dan beberapa alat musik modern/tradisional lainnya. Penampilan musik ini cukup memukau penonton karena penonton diberi hadiah alat musik kulintang kayu untuk melestarikannya. Sounds great!

Acara yang dimulai pukul 14.00-17.30 WIB ini sangat sukses berjalan lancar dengan dukungan tim relawan seminar. Saya mengacungkan jempol untuk kerja keras relawan. Mereka mampu menyelesaikan seminar ini di tengah aktivitas mereka yang padat, pun juga di tengah kesibukan saya dalam mengajar dan menyelesaikan skripsi. Mungkin kalo nggak ada kerjasama dari mereka, acara ini bener-bener dibatalkan kala itu. Awalnya sulit mengorganisir teman-teman, menyatukan pola pikir dan menyatukan waktu, namun akhirnya semua berjalan mulus hingga menjelang detik-detik acara. Toh kalo ada kesalahan disana sini, anggaplah itu kita sebagai manusia yang gak lepas dari kesalahan bukan? Begitu pula dengan saya. Hehe.

Yup, sejujurnya acara ini hampir saja dibatalkan lho guys. Pertama karena kurang sponsor yang ikut mendanai kegiatan. Tiket masuk yang kami jual Rp. 15.000/orang tidak cukup untuk mencover semua keperluan. Meski yang mendaftar hingga 180 orang, namun uang tersebut masih saja kurang. Untungnya uang kas masih ada dan uang dari beberapa donatur diberikan menjelang hari H, jadi kami memakai uang tersebut untuk mengcover semuanya. We had tried to government institution, but there is no good response. Boro-boro deh ngasih semangat, tapi salah satu lembaga kepemudaannya malah bilang gini: “Oh masih ada ya jaman sekarang yang kerja gak digaji?” dan kalimat ini “Untuk apa bikin seminar terus sih, gak ada hasil konkritnya juga nanti.” Glek siapa sih yang gak ngenes dengarnya? Justru dari kepedulian sosial lah, manusia bisa berbuat sesuatu dan membantu mereka yang kekurangan. Untung saya masih punya nurani dan batas hormat kepada sosok itu, alhasil saya keluar ruangan dengan senyuman terbaik saya nan getir. Apakah ini realita kantor kepemudaan terhadap pemudanya?

Cobaan gak berhenti disana. Tempat berlangsungnya acara seminar yang awalnya saya temui kepala kantor (notabene beliau adalah dosen dimana saya kuliah di FKIP Bahasa Inggris), dan beliau mengatakan peminjaman kantor ini gratis, kami bersorak sorai, artinya kami masih saved uang untuk keperluan lain. Eh nggak tahunya ketika menemui orang yang berbeda dan notabene bawahan beliau, kami malah dipatokkan harga😥 Harga sewanya pun bikin kami kelimpungan, gimana dapat uang itu dan gimana supaya kami gak defisit? Menjelang hari H justru ditakutkan dengan hal ini, dan bikin saya sempet ingin membatalkannya saja. Pun saya sempet berlinang air mata melihat konsep acara baru beberapa persen, padahal hari H sebentar lagi. Meski begitu, kami tetap mengupayakan uang yang diminta orang kedua yang kami temui itu. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain pasrah. Sudah banyak yang menolong kami disini, salah satunya bang Lukman, kami sangat bersyukur, namun kadang kami harus berbesar hati bahwa gak semua hidup ini bisa gratis. Pelajarannya adalah, untuk melaksanakan acara selanjutnya, kami harus memasukkan dana peminjaman ruangan di biaya tiket. Kata teman-teman sih, harga Rp. 15.000 terlalu murah untuk acara kami, menurut mereka minimal Rp. 20.000/orang.

You know guys, dua hari menjelang acara berlangsung, ternyata percetakan dimana kami mempercayakan pin dan sertifikat (dua komponen utama yang akan kami bagikan kepada peserta) menyatakan ketidaksiapan mereka dalam mengerjakannya karena designer grafis dirawat di rumah sakit. Shocked? Tentu saja! How can we solve those problem within two days? Sedangkan satu hari sebelum acara itu Hari Raya Idul Adha lho, mana ada percetakan yang buka kan? Setelah berpikir keras dan sedikit frustasi saya di tengah malam, akhirnya masalah diselesaikan oleh saya dan Rikky, ketua panitia. Rikky mengerjakan sertifikat dan saya menyelesaikan pin. Meski hasilnya gak sempurna seperti yang kami inginkan sebelumnya, namun saya bersyukur pengerjaan dua benda itu selesai pada hari H acara. Hahaha, kalo ingat ini saya berasa gak percaya, kok bisa selesai sehari?😀

Diantara cobaan-cobaan itu, saya bersyukur selalu didukung oleh relawan dan sponsor. Para relawan di hari H bergerak aktif, ahh seneng deh rasanya :’) Meski ada kekurangan, tapi saya mengambil sisi positif. Saya orangnya yang pengen semua beres dilakukan bersama-sama selalu menginstruksikan teman-teman untuk seharusnya begini begitu, untungnya mereka pengertian dan memakluminya. Acara pun selesai sekitar jam 6.30 WIB. Di sisi lain, acara ini gak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari pihak Suzuki, Burger Nase, Temphoyac, Kedai Kopi, Tiket dan Loket, SAD Rengke-rengke, Gramedia, Ankso Production, Boss FM, Tribun Jambi, Xpresi Jambi Ekspres, dan Majalah Online Pipet. Terima kasih telah menjadikan acara seminar ini sukses, banyak diapresiasi anak muda Jambi, dan semua bentuk dukungan baik moril maupun materil untuk Sahabat Ilmu Jambi. Pun kepada donatur, pembicara seminar dan pengisi acara musik, serta peserta seminar yang turut ambil peran di seminr ini. Terima kasih telah membagikan inspirasi dari anak muda untuk anak muda. :’) Kalian semua hebaaaattttttt!!

“Dream, believe, and make it happen.” -Agnes Monica-

                “Don’t be afraid to fail in catching our dream. It will happen in our life.” -Bella Moulina-

Terima kasih sudah bersama-sama mewujudkan impian saya ini, relawan Sahabat Ilmu Jambi! J

Inilah relawan SIJ yang bersama-sama mewujudkan impian saya,thank you guys! All of your dreams will be come true if you have spirit to pursue them :)

Inilah relawan SIJ yang bersama-sama mewujudkan impian saya,thank you guys! All of your dreams will be come true if you have spirit to pursue them🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s