Bukan Seberapa Cepat/Lama, Tapi Seberapa Paham

Apa yang ada di benakmu ketika tamat SD mau ngapain? Tentu harus masuk SMP/MI bukan? Atau ketika kamu merasa bahwa setelah masuk SMP kamu harus pula menamatkannya, dan kembali berjuang untuk masuk SMA/MA? Namun perjuangan tidak berhenti disitu saja. Masih ada jenjang SMA yang harus ditamatkan dan kita harus berjuang untuk masuk di jurusan/universitas favorit kita. Setelah di universitas? Berjuang dengan skripsi dan pekerjaan!😀

Begitulah yang saya rasakan dalam beberapa tahun terakhir. Berjuang untuk menyelesaikan skripsi dan mencari pekerjaan yang sesuai passion. Skripsi ‘seperti’ tolak ukur seberapa lama/cepat kamu menyelesaikan kuliah. Sedangkan pekerjaan wajib dicari untuk meningkatkan ‘prestise’ atau memang itu sesuai dengan passion kita. Bagi saya, kalimat yang ditulis tersebut ada benarnya. Namun kita harus tahu, bahwa ternyata ada yang lebih penting dari seberapa lama/cepat kita lulus kuliah atau seberapa keren pekerjaan kita.

Belajarlah kata PAHAM. Dalam kurun waktu 2007-2012, lima tahun saya menyelesaikan status ‘mahasiswa’, banyak yang saya pahami terhadap hidup ini. Bukan hanya mengejar nilai A atau IP tinggi, namun juga belajar bagaimana nilai-nilai hidup ditanamkan sejak masa kuliah. Saya ingat betul, rasa tidak percaya diri cukup banyak mendera selama SMA, dan saya memutuskan untuk menghapuskannya sejak masuk kuliah. Caranya? Dengan ikut organisasi yang saya minati kala itu, majalah kampus Trotoar. That was my first turning point. Nilai hidup yang harus dipegang adalah percaya dengan kemampuan diri sendiri, jangan fokus pada kekurangan.

Selanjutnya saya belajar mengenal banyak orang dan berinteraksi dengan mereka. Jika dulunya saya susah banget untuk tune in dengan orang-orang baru, kini saya malah menyukai ketemu orang-orang baru. Selain untuk mengasah rasa PD bertemu dengan orang-orang baru, saya juga senang bisa sharing ilmu pengetahuan dengan mereka. Ada saja hal yang saya ambil pelajaran tentang hidup orang-orang baru di sekitar saya, atau bahkan dari pembicaraan sederhana yang tercipta dari tongkrongan di kantin kampus atau ketika mewawancarai seseorang waktu jadi jurnalis.

I’m not kind of person who always want to get A score in everything that I do. In my opinion, my experience in learning is important. Itulah makanya saya nggak risau dengan nilai C atau C+ yang beberapa kali hinggap di transkrip nilai semester saya. Not because I don’t care about my future, but I do care with my learning. Pernah saya mendapatkan nilai buruk, padahal waktu itu saya merasa sudah belajar dengan baik, sudah memahami dengan sebisa mungkin, dan berusaha menjawab soal ketika ujian dengan PD. Namun ketika nilai buruk yang didapat, sempat merasa getir bahwa percuma saya belajar ini itu, tapi hasilnya jelek. Well, that condition is no longer happen. I realize that, I learn something because of my curiousity, not to get good score. Jadi ketika saya merasa sudah memahami dengan baik tapi hasilnya tidak memuaskan, saya lebih sedikit beruntung daripada orang yang dapat nilai bagus tapi dia nggak ngerti sama sekali.

Mungkin, bagi sebagian orang, mengikuti organisasi di kampus seperti menaikkan taraf gengsi. Atau mungkin sebagian pula berkata bahwa, itu merupakan keharusan sebagai mahasiswa, jadi nggak hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Toh di sisi lain, ada pernyataan yang menggelitik saya seperti ini: Ikutlah organisasi yang kamu sukai, dimana passion kamu ada disana. Dan sepertinya saya setuju dengan kalimat terakhir ini. Well, that’s also the turning point in my life when I was university student. Jadi saya percaya dengan mengikuti organisasi, kepribadian kita akan dibentuk disana, how to balance our study and organization, know many people around us and interact with them, and many more benefits. The most important is, saya bersyukur karena saya ikut organisasi yang sesuai minat dan passion saya, menulis dan ketemu banyak orang baru. Akhirnya jadilah saya jurnalis di pers kampus Universitas Jambi dan jurnalis di harian lokal Jambi di waktu yang bersamaan. Kinda hectic? Yup, but I enjoy it. Penting diingat bahwa kamu nggak akan bisa menikmati apa yang kamu lakukan kalo itu bukan passion kamu J

Mengikuti berbagai kompetisi, konferensi, pelatihan, dan kursus adalah salah satu cara saya untuk menambah nilai lebih selama menjad mahasiswa. Namun, sekali lagi yang perlu diingat, ikutlah sesuai minat dan passion kamu. Jangan mengikuti semuanya, tapi kamu nggak ngedapatin manfaat dari sana. Meski kata teman-teman saya banyak ikut kegiatan di luar Jambi dan sempat mengecilkan studi saya, nyatanya saya malah bersyukur bisa diingatkan oleh mereka. Toh seberapa banyak kegiatan saya di luar, saya membuktikannya dengan selalu mengikuti mata kuliah dengan baik di kelas, selalu mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian dengan baik.

Bagi saya, mengikuti kompetisi, konferensi, pelatihan, dan kursus itu merupakan kewajiban bagi mahasiswa, atau mungkin setiap orang dengan jenjang pendidikannya saat ini. Toh ilmu di bangku kuliah nggak cukup saya rasakan, saya harus banyak belajar memahami yang ada di luar bangku kuliah, saya harus banyak gali ilmu dengan orang lain, dan saya harus meningkatkan kualitas diri. Pun seringnya saya ikut konferensi baru bermula pada akhir tahun 2011 dan 2012, tahun dimana saya tingkat akhir dan sambil mengerjakan skripsi. Meski sebelumnya pernah ikut kgiatan juga, tapi itu tidak sesering yang saya rasakan satu tahun belakangan ini. Bahkan pernah setelah saya mengikuti kegiatan di Jawa dan seketikanya pulang ke Jambi, dosen Pembimbing Skripsi 1 saya yang berada di luar negeri dan sudah 1 bulan tidak membalas email saya (padahal saat itu saya hanya tinggal menunggu koreksi beliau dan langsung sidang skripsi lho) akhirnya membalas email dan langsung menyuruh saya sidang skripsi tanpa mengoreksinya sedikitpun! How lucky I am, right? Abis jalan-jalan langsung dapat durian runtuh haha..😀

Guys, itulah mengapa saya bilang, bukan seberapa lama/cepat kamu selesai kuliah, tapi seberapa banyak kamu memahami kehidupan selama kuliah. Pun nggak salah kok dengan orang-orang yang lulus kuliahnya cepat, tapi yang jadi masalah adalah ketika mereka sudah lulus kuliah dan nggak tahu mau ngapain setelah itu, nah jadi berabe dong ya? Mungkin yang paling bener adalah, lulus kuliah cepet, dapat pekerjaan sesuai passion, dan kamu juga memahami nilai-nilai kehidupan selama kuliah. But on my track now is, saya lulus agak lama 5 tahun dan saya tidak menyesal, karena saya banyak memahami nilai-nilai kehidupan dalam kurun waktu selama itu J Saya yakin Allah Swt punya rencana di setiap hidup makhluknya, jadi saya tidak meragukan rencana baik itu untuk saya.

Foto wisuda yang kece :D

Foto wisuda yang kece😀

(PS: Thank you for my parents, big family, my friends, my teachers and lecturers, my relatives, and the universe that had accomplished one of my dream to finish my study and thesis, entitled “Improving Student’s Writing Skill by Using Scrapbook at the Second Grade of Junior High School 14 Kota Jambi 2011/2012” On July 25th 2012 with B+, and October 20th 2012 was my graduation. This story is dedicated to you all.)

2 thoughts on “Bukan Seberapa Cepat/Lama, Tapi Seberapa Paham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s