Melirik Potensi Wisata Kota Tua di Jambi

Sebagai peradaban Kerajaan Melayu Kuno, Jambi menurut saya merupakan provinsi yang bisa saja menjadi destinasi kota tua di Indonesia. Ditemukannya situs Percandian Muaro Jambi, peninggalan bersejarah di tepi sungai Batanghari, dan geopark di Merangin yang berumur jutaan tahun, membuat Jambi sebenarnya banyak potensi wisata kuno. Bukan berarti kuno disini tidak bisa dikembangkan, justru sesuatu hal yang jadul dan lama bisa membuat eksotis. Lihat saja Kota Tua di Jakarta, yang eksisnya bukan main. Atau mungkin kita bisa melihat sederet bangunan tua di Kota tua Semarang. Dua tempat yang menurut saya contoh kota tua yang sukses dijadikan objek wisata, bukan malah mengeksploitasinya dan merobohkan bangunan tua itu sendiri.

Di kota Jambi, justru banyak bangunan kuno yang layak dijadikan destinasi wisata kota tua. Hanya saja, mungkin pemerintah belum melihat potensi wisata ini. Menurut saya, potensi wisata kota tua di Jambi bisa mengalahkan kunjungan anak mudanya ke mall jika ditata lebih baik lagi. Berikut beberapa destinasi wisata kota tua yang tersebar di kota Jambi. Semoga membuat teman-teman jadi hobi jalan-jalan di kota kita sendiri ya J

Pertama, kita bisa melirik ke Menara Air PDAM di samping SD Al-Falah, Putri Ayu. Menara air ini konon dulunya merupakan tempat dimana bendera merah putih berkibar pada pelaksanaan kemerdekaan RI. Di simpang tiga lokasi ini pula pejuang dan masyarakat Jambi menaikkan bendera merah putih tanda Indonesia sudah merdeka. Jadi wajar saja di dekat menara air ini terdapat Museum Perjuangan Rakyat Jambi guys, karena melambangkan perjuangan rakyat Jambi dalam meraih kemerdekaan di bumi sepucuk Jambi sembilan lurah ini. Menara air awalnya milik orang Belanda, yang mereka gunakan untuk mengintai orang-orang yang lewat di aliran Sungai Batanghari. Karena terletak di dataran tinggi, jadi menara air ini bisa memantau hampir di seluruh penjuru kota. Meski bangunan di sekitar menara ini sudah dicat dan diperbaiki, anehnya bangunan asli menara tersebut bahkan belum diperbaiki lho. Menurut petugas sih, hal ini dikarenakan sulitnya mengecat alur bangunan yang agak rumit tersebut. Namun jika kalian punya nyali yang cukup kuat, silahkan naik ke menara yang tingginya hampir 90 meter ini guys.😀

Destinasi kota tua lainnya ada di dua tempat peribadatan, yakni Mesjid Agung Al-Falah dan Kelenteng Hok Tek. Mesjid Agung Al-Falah awalnya merupakan benteng pertahanan Belanda, namun seiring berjalannya waktu ia diubah menjadi mesjid. Sedangkan Kelenteng Hok Tek yang terletak di simpang jalan menuju jembatan Makalam dari Pasar ini, merupakan tempat peribadatan umat Budha pertama kali di Jambi. Kelenteng ini berukuran kecil, sayangnya pagar yang memagari kelenteng ini membuat saya susah masuk ke dalam. Alhasil hanya bisa melewatinya saja. Dua tempat peribadatan ini pun membuat Jambi sebagai provinsi yang multikultur bukan?

Jika kita berkunjung ke SMP N 1 dan SMP N 2 Kota Jambi, tentu langsung akan terbayang sebuah bangunan tua yang dijadikan tempat sekolah. Yup, benar sekali! Bangunan tua di dua sekolah tersebut dulunya merupakan kediaman pemerintahan Belanda, namun ada pula yang menyebutkan bahwa itu adalah penjara Belanda. Jadi nggak heran kalau di dua sekolah ini sering terlihat penampakan hantu Belanda yang cukup mengerikan. Hhmmm, mirip Lawang Sewu-nya Semarang nih hehe.. Oya di sekitar SMP N 1 dan Simpang Sado juga terdapat Monumen Tugu Pelajar yang dibangun atas penghargaan bagi tentara pelajar Jambi yang turut serta berjuang merebut kemerdekaan Jambi. Monumen Tentara Pelajar ini dibangun pada 19 September 1992. Di monumen ini juga terdapat beragam relief yang menggambarkan kondisi pelajar Jambi waktu berjuang, SMP N 1 Kota Jambi, rumah dinas Gubernur Jambi yang berada di depan Sungai Batanghari, pesawat Catalina 005 yang replikanya ada di Museum Perjuangan Rakyat Jambi, Kilang Minyak di Tempino, Jembatang Aur Duri, Kapal Sanggat, Angso duo, Orang Kayo Hitam dengan keris di atas kepala, asal usul nama Jambi, dan relief-relief lainnya.

Destinasi keempat dari sejumlah bangunan tua di kota Jambi adalah rumah kuno peninggalan Belanda yang terletak di belakang RS Bratanata dan belakang rumah dinas Gubernur Jambi. Di kawasan ini banyak sekali rumah peninggalan Belanda yang didiami oleh penduduk Jambi. Dari mulai penduduk biasa, masyarakat Tionghoa, hingga pejabat-pejabat. Rumah salah satu teman, Eka, merupakan rumah dinas yang dahulunya ditinggali perwira TNI setelah dulu merupakan peninggalan Belanda. Rumah ini telah ditempati keluarga Eka sejak 1960-an. Rumah siswi SMA Xaverius 1 Jambi ini terbuat dari kayu jati, baik itu dinding maupun kayunya. Menurut informasi dari ayah Eka, lantai rumahnya bahkan terbuat dari kayu Bulian yang sangat terkenal itu. Pak Sugianto, ayah Eka, menyebutkan bahwa awalnya rumah ini ada 2 kamar, ruang utama terletak di tengah, dan pintu utama rumah menghadap ke timur. Sewaktu peserta tur Jambi Punyo Crito, komunitas jalan-jalan dengan berjalan kaki dalam mengeksplor tempat bersejarah dan berbudaya di Jambi, melakukan trip keduanya, ternyata bangunan seperti ini masih terawat dengan baik. Alangkah bagusnya jika suatu saat pemerintah Jambi bisa menunjuk salah satu rumah untuk dijadikan objek wisata. Kan keren tuh?!😀

Destinasi wisata kota tua terakhir di Jambi ada di Seberang Kota Jambi! Yup, disin justru lebih banyak destinasinya lho. Dimulai dari rumah batu milik Pangeran Wirokusumo, yang bernama asli Ali Idrus Al Jufri. Rumah batu ini menjadi primadona masyarakat Jambi, cocok dijadikan foto pre-wedding juga sih :p Anyway singkat cerita, rumah batu ini konon merupakan pemberian dari pihak Belanda kepada Pangeran Wirokusumo, karena ia berhasil memberi tahu Belanda dimana Raden Mattaher berada dibalik persembunyiannya. Meski cerita ini agak ‘aneh’, dimana pangeran tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan Thaha, namun ia memberi tahukan kepada pihak Belanda orang pribumi yang mereka cari, yakni Raden Mattaher. Pada akhirnya rumah batu ini pun dihadiahkan kepadanya. Arsitektur bangunan ini merupakan perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, dan Belanda. Dari sisi ukiran bangunan dan tempat masuk area rumah ini sudah menunjukkan bahwa ada 3 perpaduan budaya disana. Wowww sangat cantik sekali bangunan ini pada jaman dahulu kala ya! Istana ini akhirnya dijadikan cagar budaya oleh BP3 Jambi. Rumah hasil rancangan arsitek China, Shin Tai ini, sayangnya tidak dipugar, dibiarkan begitu saja yang menurut saya mirip rumah hantu. Namun kalau siang hari, tentu saja estimasi itu akan sirna hehe..

Di Sekoja juga ada rumah panggung milik masyarakat asli Jambi. Rumah panggung ini merupakan adat muslim di Jambi yang memiliki nilai-nilai yang tinggi. Meski saya nggak begitu ingat apa saja nilai-nilai yang ditanamkan pada rumah ini, seingat saya di bagian samping rumah selalu ada jendela atau pintu yang digunakan masyarakat untuk saling bertegur sapa dengan tetangga. Hal ini tentu menunjukkan kerukunan, keberagaman, serta keharmonisan masyarakat jaman dulu. Ahh semoga saja ini tidak luntur di jaman yang serba berteknologi ini ya J Btw di Sekoja merupakan pusat batik Jambi lho. Karena apa? Karena pada jaman dahulu kala para pedagang dari Arab dan beberapa daerah di Indonesia singgah di tepi sungai Batanghari ini sambil membawa barang-barang untuk membatik. Akhirnya lama kelamaan penduduknya pun membatik. Pengrajin batik Jambi pun mulai mencari motif baru sesuai daerah Jambi. Maka nggak heran kalau motif angso duo, kapal sanggat, durian pecah, melati, dan motif lainnya semakin memperkaya batik Jambi. Di sepanjang perkampungan di Sekoja ini juga terdapat industri batik Jambi di beberapa rumahnya. Sungguh kalau perkampungan batik Jambi ini dijadikan objek wisata belajar membatik, pasti keren deh! Apalagi kalau kesana nggak membutuhkan waktu yang lama, kita cukup menyeberang naik perahu dari Pasar Angso Duo atau dekat mall WTC Batanghari, atau bisa juga naik motor melewati jembatan Aur Duri. Setengah jam udah nyampe deh😀

Nah bagi saya sih itulah beberapa destinasi wisata kota tua yang (mungkin) bisa dijadikan objek wisata. Kita pun sebagai masyarakat kota Jambi bisa mengajak sanak saudara mengunjungi tempat tersebut. So we don’t always spend our time in mall or supermarket, kita pun bisa melirik destinasi kota tua yang ada di Jambi tersebut bukan? Yuk, lebih mengenal sejarah Jambi dari peninggalan kota tuanya, daripada harus selalu menghabiskan uang di mall😀 Hehe..

Di Monumen Tugu Tentara Pelajar🙂

7 thoughts on “Melirik Potensi Wisata Kota Tua di Jambi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s