Terpukau Dengan Tingkatan Candi Borobudur

Matahari belum begitu hangat menyapa pada 11 Juni 2012 lalu. Hangatnya nuansa Jogjakarta menyapa sejak saya menampatkan kaki di kota kecil ini. Sesaat setelah mengikuti kegiatan Java Summer Camp di Jogja dari tanggal 8-10 Juni, saya masih memiliki dua hari di Jogja untuk mengeksplorasinya. Kali ini, saya berpikir untuk menapaki kaki di Candi Borobudur, yang sejak dulu sudah saya impikan. Tanpa pikir panjang, saya lantas menghubungi kawan yang berada di kota tersebut untuk menemani berangkat ke Candi Borobudur. Dan voilaaa! 11 Juni impian itu terwujud!

Saya tidak tahu apa yang membuat saya tersihir oleh candi-candi yang ada di Indonesia. Baiknya lupakan sejenak persoalan agama. Saya entah kenapa selalu kagum dengan bangunan candi, yang terdiri dari perundakan batu bata atau andesit, memiliki nilai filosofi dari cerita yang berkembang, dan menjadi bukti sejarah peradaban kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Seperti halnya Candi Borobudur yang dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra pada 826 masehi. Bayangin masehi! Entah apa bentuk candi pada awal berdiri, entah apa kejadian dibalik pembangunan candi, semuanya misteri dan membuat saya terkesima menatap bangunan tersebut.

Bangunan mahakarya ini menyimpan banyak pesona. Diawali oleh Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, yang tertarik dengan Borobudur. Kemudian ia memerintahkan penggalian dan konservasi Borobudur kala itu. Dalam catatannya, Raffles menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata Bore (nama suatu desa terdekat) dan Budur (dari kata Jawa kuno, buda, yang artinya kuno). Di sisi lain, bangunan setinggi 35,4 meter ini berasal dari dua kata, bara dan beduhur. Dimana bara berarti vihara yang bermaksud candi atau biara, sedangkan beduhur artinya tinggi. Jika dilihat seksama, memang Candi Borobudur terletak di atas perbukitan atau tempat yang tinggi.

Singkat cerita dari dua asal muasal kata Borobudur tersebut, saya semakin tidak sabar mengunjunginya. Akhirnya saya berangkat juga bersama kawan, kak Ardhy namanya, menuju candi ini. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih untuk sampai disini dari pusat kota Jogja, dengan menggunakan motor. Di sepanjang jalan saya disuguhi pemandangan Jogja di pagi hari, sawah-sawah membentang, dan sisa-sisa hebatnya Gunung Merapi di jalan menuju Magelang. Panas matahari mulai menyengat tatkala jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kami pun bergegas membeli tiket karcis, kemudian diberikan kain batik untuk menutupi bagian perut dan paha. Begitupun dengan pengunjung lainnya. Ketika ditanyakan kenapa pakai sarung batik ini, kak Ardhy berujar bahwa ini sebagai bentuk penghormatan suci bagi siapa saja yang menapaki Borobudur, alias tidak serta merta memakai celana pendek saja.

Foto-foto merupakan acara yang wajib! Yup, saya pun nggak ketinggalan mengambil gambar Borobudur mulai dari bawah hingga atas. Saya menaiki tangga, dan hoplaaa sampailah di atas tanah Borobudur dimana bangunan ini didirkan. Bicara soal tingkatan tangga yang ada di Borobudur, ternyata ia memiliki keistimewaan filosofi yang agung. Saya diceritakan pula oleh kak Ardhy soal ini. Selain ukurannya yang megah, Candi Borobudur mempunyai 10 tingkat yang menggambarkan falsafah agama Budha. Bahwa kalau kita ingin mencapai tingkat kesempurnaan, haruslah melewati 10 tingkat yang ada.

Tingkat terbawah adalah Kamadhatu, merupakan bagian kaki Borobudur. Pada tingkat ini, manusia masih dikuasai hawa nafsu sehingga ia banyak berbuat kesalahan di dunia. Empat tingkat di atas Kamadhatu disebut dengan Rupadhatu. Lantainya pun berbentuk lingkaran. Jika kita sudah mencapai tingkat ini, itu artinya kita sudah bisa melepaskan diri dari nafsu meski masih terikat. Pada tingkat selanjutnya, mulai ketujuh hingga kesepuluh adalah Arupadhatu. Tingkat ini dinamakan kesempurnaan karena manusia telah meninggalkan keinginan duniawi dan menuju tahap nirwana. Tidak sama seperti tingkat sebelumnya yang terdiri atas relief-relief, tingkat ini hanya polis saja. Pada tingkat ini juga digambarkan bahwa Borobudur bukanlah biara pemujaan, namun lebih kepada ibadah ziarah.

Penjelasan yang diberikan kak Ardhy sebagai guide tour saya waktu itu membuat saya terpukau. Ternyata sisi filosofis candi semegah ini pun sangat dalam. Intinya pada masyarakat, jika ingin mencampai kesempurnaan maka naiklah hingga tangga kesepuluh. Di sisi lain, cerita yang mengatakan bahwa ketika tangan bisa menyentuh bagian tubuh arca yang ada di dalam setiap undakan candi akan membuat keinginan terkabul membuat saya tergelitik mendengarnya. Iseng-iseng saya menyentuh badan arca tersebut, namun sayangnya tidak tersetuh seluruhnya. Ah tak apalah, yang penting saya bisa memuaskan hasrat mengenal warisan budaya yang sudah ditetapkan UNESCO ini bukan?🙂

2 thoughts on “Terpukau Dengan Tingkatan Candi Borobudur

  1. Padahal banyak objek wisata negara kita yg sangat memukau ya
    Tapi kenapa masih banyak yg cari liburan ke Singapur, Malaysia dsb?
    Padahal kita tidak kalah dari mereka, malah lebih indah alam kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s