Cikal Bakal Menulis: Dari Surat Artis/Penyanyi Cilik Hingga Blogger

                “Hi Adys!!

                Apa kabar? Semoga kamu dalam keadaan sehat wal’afiat. Perkenalkan ya! Namaku Bella Moulina, sekarang aku duduk di kelas III A SLTPN 1 Nipah Panjang. Lebih jelasnya, lihat aja biodataku di bawah ini! Oke?”

Well, kira-kira sepenggal kalimat pembuka itulah yang kerap saya tuliskan ketika berkirim surat ke artis/penyanyi cilik semasa saya masa kecil. Kala itu, tidak ada yang lebih membahagiakan selain mengirimkan surat kepada mereka, meskipun harus merogoh kocek jajanan saya, atau bahkan meminta uang kepada orangtua untuk membeli prangko dan mengirimkan surat. Kala itu, sekitar kelas 4 SD di Nipah Panjang, merupakan titik mula saya menulis. Dan ternyata saya sadar, keberanian untuk menulis kepada artis/penyanyi cilik tersebut membuat saya menjadi hobi menulis. Kegemaran menulis itu berkembang seiring waktu berjalan. Dari versi surat hingga blog yang saya tulis ini.

Saya tidak mengingat begitu jelas, kenapa saya hobi menulis. Apakah itu sengaja diajarkan oleh mama atau tidak. Apakah itu memang dorongan pribadi atau tidak. Yang jelas, ingatan saya tertuju pada setumpuk majalah Bobo yang dulu saya baca, dimana ada halaman profil anak-anak berprestasi di majalah Bobo tersebut. Disana tercantum wawancara Bobo dan mereka, plus segudang prestasi yang mereka torehkan sejak kecil, yang tentu saja membuat saya iri setengah mati. Di kolom bagian kanan pojok halaman, saya menemukan daftar identitas diri artis/penyanyi cilik tersebut, lengkap dengan alamat rumahnya. Dari situlah saya termotivasi untuk mengirimkan surat kepada mereka, karena ada alamat, dan tinggal tulis, pikir saya kala itu.

Karena seringnya menulis surat kepada mereka, saya bahkan tidak hapal betul berapa artis/penyanyi cilik yang saya kirimkan suratnya. Saya pun sempat deg-degan, apakah surat saya akan dibalas? Apa mereka mau membalas surat anak daerah yang jauh dari hingar bingar ibu kota? Apa mereka sudi membalas surat saya ke Nipah Panjang, yang belum tentu terlihat di peta Indonesia secara seksama? Pada akhirnya di suatu hari, pak pos datang ke rumah saya, membawa surat balasan dari sekian banyak surat yang saya kirim, haha.. Ternyata surat pertama yang dibalas dari artis/penyanyi cilik adalah Leony Vitria Hartanti! Selanjutnya disusul surat balasan dari Sherina, Frisca Priscilia, Melati, Mega, Ken, Maya Riska (yang ternyata diketahui ia mahasiswi Unja), Maissy, dan lainnya. Senangnya bukan kepalang. Saya yang awalnya skeptis apakah surat bakal dibalas atau tidak, melonjak kegirangan ketika menerima surat itu. Esok harinya saya membawa surat tersebut ke sekolah, menunjukkannnya kepada teman-teman. Diantara mereka bahkan gak percaya lho, haha..meski ada juga yang berniat mengirim surat karena contoh balasannya sudah nyata.

Aktivitas menulis di atas secarik kertas itulah yang sampai sekarang masih saya ingat dan saya bersyukur kepadaNya. Padahal mungkin banyak orang di luar sana berpikiran bahwa buat apa membuang-buang uang membeli prangko dan mengirimkan surat, saya malah melakukan hal itu. Buat apa capke-capek nulis surat berlembar-lembar, minta biodata dan foto, serta balasan di setiap apa yang saya lakukan. Justru saya bersyukur karenanya. Aktivitas itulah yang membuat saya betah menulis hingga saat ini. Biarpun memiliki aktivitas yang banyak, saya tidak pernah melewatkan menulis dalam dekade satu bulan. Entah berapa banyak uang yang digunakan untuk membeli prangko, entah berapa banyak kertas file warna warni yang saya beli untuk ditulis, entah berapa kali saya memakai pena untuk menulis, dan entah berapa kali saya masuk ke kantor pos di usia yang masih belia hanya untuk mengirim surat kepada artis/penyanyi cilik. Saya rasa mungkin pak pos di Nipah Panjang dulu senyum-senyum sendiri melihat ulah gadis cilik ini😀 But yeah, I enjoyed did it, selalu menulis, mengirim surat lagi ke beberapa orang yang berbeda, dan menunggu balasan, tidak pernah membuat saya bosan.

Ketika saya pindah dari Nipah Panjang ke Kota Jambi pada 2003 lalu, saya beralih menulis dari artis/penyanyi cilik menjadi teman-teman sebaya yang saya tinggalkan ketika pindah rumah. Ya, saya menulis surat untuk teman-teman di Nipah Panjang, seperti Yohana, Nurhayati, Atik, Asbarayu, Jumalang, Rika, Irma, Ani, Puji, dan Dina. Surat-surat dari mereka tersebut menjadi penghibur hati saya ketika baru pindah ke Jambi, dan tidak tahu bagaimana sebaiknya beradaptasi dengan lingkungan baru. Di sisi lain, isi surat mereka menjadi penyemangat saya untuk menjadi yang terbaik di lingkungan baru. Pun isi surat dari teman saya, Yohana dan Nurhayati, bikin saya terpingkal-pingkal membacanya. Isinya seperti ini: “Bel, di kelas jadi sepi semenjak kamu nggak ada, habisnya nggak ada yang nyanyi dan nggak ada yang nangis.” Hahahaha..saya memang dikenal sebagai penyanyi ulung di kelas ketika lagi sepi atau ribut, bahkan menjadi seorang yang cengeng ketika diledekin teman-teman. Well, perilaku masa kecil selalu saja indah untuk diingat. Dan lewat surat inilah, saya bisa bernostalgia di masa lalu. Menyimpannya berarti menyimpan kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidup :’)

Anyway, beranjak remaja, saya mulai gemar menulis karya tulis, surat pembaca, puisi, cerpen, dan opini di koran Jambi Ekspres. Waktu itu ketika menjelang kelulusan SMA pada tahun 2007, saya ditantang oleh ayah untuk menulis di koran. Meski saya sadar saya sudah cukup lama meninggalkan aktivitas menulis sejak di Nipah Panjang, tapi ada keberanian dari diri saya untuk melakukannya. Saya memberanikan diri menulis surat pembaca pertama dengan topik kosmetik illegal. Alhamdulillah, dimuat pertama kali di koran tersebut membuat saya termotivasi mengirimkan surat pembaca lagi (dan terus dimuat!), selanjutnya karya tulis, dan berujung pada opini. Khususnya opini ini saya tulis ketika beranjak menjadi mahasiswa, selain itu puisi dan cerpen juga saya tulis meski tidak terlalu banyak. Dari sinilah saya mulai mendapatkan penghasilan dari apa yang saya tulis. Seneng banget lho dapet honor pertama menulis sebesar Rp. 50.000. Uang itu kalau tidak salah saya gunakan untuk membeli buku dan menambah uang saku. I earn that from my activity, writing. Sejak saat itulah, saya percaya pada kemampuan saya yang baru saya sadari adalah passion saya, menulis.

Pun ketika beranjak dewasa, gaya menulis pun berubah, ranah menulis juga semakin berkembang. Saya menyukai tulisan jurnalistik (karena sempat bergabung dalam pers mahasiswa Unja, Trotoar dan menjadi jurnalis anak muda awalnya di Jambi Ekspres, Xpresi) di kehidupan saya. Pengalaman di dunia jurnalistik itu pula yang mengubah hidup dan cara pandang saya. Saya tidak minder lagi, mulai percaya diri, dan terbuka terhadap orang-orang baru. Sejujurnya saya sangat berterima kasih pernah diberikan kesempatan oleh Allah Swt memiliki pengalaman di bidang jurnalistik, meski saat ini saya sudah tidak lagi menjalaninya. Ternyata itu membawa saya untuk lebih fokus menulis blog seperti saat ini (menceritakan pengalaman hidup) dan menulis catatan perjalanan ke suatu tempat wisata. Aktivitas menulis yang bertingkat-tingkat dari masa kecil hingga sekarang bikin saya percaya bahwa passion ini, menulis, tidak akan pernah mati, karena saya yakin ide untuk menulis tidak akan pernah habis untuk ditorehkan.

Ow ya satu hal juga yang membuat saya tersenyum-senyum sampai sekarang adalah, saya punya diary yang menjadi curahan hati saya terhadap seseorang. Diary itu bahkan masih ada sampai sekarang. Dan kalau saya membaca ulang tulisan di diary itu, saya merasa saya sangat alay disana, haha.. Justru memang masa-masa labil ketika SMA dan kuliah di semester-semester awal memberikan banyak pelajaran untuk tidak alay😀 Tulisan di diary itu tetap saya simpan kok, suatu saat kalau memang diary itu perlu dibaca oleh anak saya, saya akan mempersilahkannya, hehe.. Pun begitu juga dengan surat-surat, tulisan di koran, blog, ataupun ranah tulisan lain yang pernah saya salurkan, bisa menjadi bahan ajar buat anak nanti. “Gini lho, ibumu waktu kecil dulu, suka nulis ya berawal dari sini.”

All in all, bagi teman-teman yang merasa bahwa menulis itu sulit dan bakat sejak lahir, do not think about that anymore. Menulis itu sama saja mengasah kemampuan, dimana ketika kamu melakukannya dari tulisan yang kamu sukai, ketika kamu suka menulis suatu topik tertentu, atau bahkan setiap hari menulis pengalamanmu, itu akan melatihmu untuk gemar menulis. Jangan takut salah tulis atau kehilangan ide ya! Karena banyak sekali ide yang bakal muncul di kepala saat kamu berhadapan dengan laptop, diary, dan pengalaman yang kamu alami setiap hari. Jadi mulailah menulis dari sekarang, karena menulis akan mengabadikan kenangan semasa hidup kita. Pun saya ingin dikenang bukan sebagai mahasiswi FKIP Bahasa Inggris yang kata teman-teman sok sibuk, tapi saya ingin dikenang karena tulisan-tulisan saya yang tercecer di beragam tempat, karena saya mengukir sejarah disana.

Ini surat-surat dari artis/penyanyi cilik serta surat dari teman-teman saya masih disimpan lho🙂

2 thoughts on “Cikal Bakal Menulis: Dari Surat Artis/Penyanyi Cilik Hingga Blogger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s