Semangat Bersekolah, Semangat Merubah Hidup

Pendampingan Sahabat Ilmu Jambi pada Sabtu lalu (12 Mei 2012) agak sedikit berbeda. Para relawan SIJ mengawalinya dengan pementasan drama bercerita yang bertemakan pendidikan. Kisah ini diangkat dari keprihatinan saya yang mendengar cerita dari bapak pemilik Panti Asuhan Darul Aitam yang berkisah bahwasanya beberapa anak panti asuhan suka bolos sekolah. Dan pasti sudah bisa diterka kan apa cerita drama pertama SIJ ini? Yup, seorang remaja yang terbujuk rayuan temannya untuk bolos sekolah, kemudian hal itu tidak terjadi karena ‘wejangan’ temannya yang lain yang mengajak mereka untuk tekun belajar dan melanjutkan pendidikan, bukan menyia-nyiakan perjuangan orangtua yang menyekolahkannya.

Drama itu diperankan oleh saya sendiri, Rikky, dan Rio, serta Amel sebagai narator. Kami memainkan peran lumayan seru, meski disana sini masih sedikit kacau dengan raut wajah yang menahan tawa😀 Tapi setidaknya drama itu mengena di hati mereka. Bahkan beberapa diantara adik asuh di Panti Asuhan Darul Aitam tersebut jujur kepada kami bahwa mereka (dulu) suka bolos sekolah. Kami pun mengajak mereka untuk menelaah siapa pemeran antagonis, protagonis, alur cerita, dan amanat dari cerita. Dari sekian banyak yang menjawab, akhirnya kami menyimpulkan bahwa drama bercerita ini bisa menumbuhkan karakter mereka untuk jujur, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, berani mengemukakan pendapat, tekun belajar, dan menghargai pemberian orangtua. Alhamdulillah pendampingan ini juga berjalan lancar di Panti Asuhan Madinatul Aitam. Glad to know that :’)

Saya percaya menumbuhkan semangat dan percaya diri bagi seorang anak bisa membuat mereka percaya bahwa pendidikan mampu membuat kehidupan mereka berubah ke arah yang lebih baik. Hal itu pula yang saya beritahukan kepada Juki dan Ibnu, adik asuh saya di panti tersebut. Mereka merupakan siswa kelas I SMP N 16 Kota Jambi. Mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Juki berasal dari keluarga yang kehidupannya bisa dibilang kembang kempis. Ia dan keluarganya menetap di Aur Gading, Sarolangun. Ia tinggal di panti ini hampir dua tahun, dimana kala itu keluarganya meminta Juki untuk berada di panti agar kelak ia bisa hidup lebih baik dan melanjutkan sekolahnya. Nasib Ibnu setidaknya lebih beruntung. Ibnu memiliki keluarga di kota Jambi. Ia sebenarnya bukan anak panti, namun ia sahabat karibnya Juki, dimana ia kerap diajak Juki untuk berkunjung ke panti. Setidaknya meski Ibnu tidak seberuntung mereka yang memiliki BlackBerry di usia remaja, tetapi Ibnu berada dalam kehangatan keluarganya, sedangkan Juki jauh dari keluarga (ia justru butuh waktu satu tahun untuk pulang kampung dan menuntaskan hasrat kerinduannya kepada orangtua).

Perbicangan kami Sabtu kemarin tidak terlepas dari drama bercerita, pentingnya pendidikan, dan mendeskripsikan gambar yang saya berikan kepada mereka. Setelah saya meminta mereka untuk mengambil kesimpulan dari drama bercerita dan deskripsi gambar yang saya berikan dalam bentuk tulisan, saya sedikit banyak memotivasi mereka agar tetap semangat bersekolah, meski kehidupan mereka terseok-seok. Awal cerita dimulai dari Juki. Saya seperti biasa selalu semangat mendengarkan anak bercerita tentang sekolah dan hidupnya, termasuk ketika Juki berkeluh kesah bahwa gurunya selalu marah-marah ketika belajar di kelas. Hal ini ternyata memicu Juki untuk bolos sekolah. “Gurunyo nak marah-marah terus kak kalo belajar di kelas kami, dak tahu ngapo, padahal kami dak ribut.” Begitu keluh Juki kepada saya. Lain halnya dengan Ibnu, anak pendiam ini tidak banyak omong, ia pun mengaku tidak pernah bolos, meski saya mendesaknya berulang kali apakah ia pernah membolos atau tidak. Hari itu perbincangan tentang pendidikan yang mampu merubah kehidupan keluarga mereka pun berlanjut. Saya menceritakan sesuatu kepada mereka.

Beruntung saya menonton kisah Kick Andy di Metro TV beberapa waktu lalu, yang menampilkan perjuangan anak SD yang hidupnya tidak mampu untuk bersekolah. Saya masih ingat betul tayangan di talkshow penggugah hati tersebut bahwasanya si anak SD setiap balik sekolah selalu mulung demi mendapatkan bayaran untuk melanjutkan sekolah dasarnya :’(  Saya juga menceritakan perjuangan seorang pemuda yang sejak kecilnya ia juga berkerja dan juga memulung untuk menambah biaya sekolah, dikarenakan orangtuanya secara terang-terangan berkata bahwa ia tidak mampu lagi menyekolahkan sang anak. Hingga saat ini, si pemuda yang saya dengar kisahnya di inspire-cast.com itu mampu menikmati jenjang perguruan tinggi dengan hasil keringatnya sendiri! Ia pantang menyerah. Disinilah saya menekankan kepada Juki dan Ibnu bahwa seberat apapun masalah keuangan dan kondisi keluarga yang mampu menghalangi kita bersekolah/meraih pendidikan yang lebih tinggi, itu akan sirna jika kita mau berusaha mencari jalan keluar untuk membiayai pendidikan itu sendiri. Si anak SD dan pemuda tadi adalah contoh nyata. Saya memberikan waktu luang bagi Juki dan Ibnu untuk berpikir, bukan hanya sekedar mendengar ‘ceramah singkat’ saya saja.

Lantas tidak berselang beberapa lama, timbullah suara parau Juki. Dengan mata yang agak berkaca-kaca, ia bercerita seperti ini kepada saya. Mendadak saya hening sejenak, begitu pula Ibnu. “Iyo kak, kehidupan kami tuh samo lah kayak anak SD itu. Orangtuo kami susah hidupnya di Aur Gading. Pernah kak dulu waktu kami SD, pas pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, kadang kami dak makan, karena dak katek duit orangtuo kami, jadi kami tetep berangkat lah ke sekolah. Kami jugo telat masuk SD kareno orangtuo kami nyari duit dulu baru setelah terkumpul kami bisa masuk SD, itupun di umur 7 tahun kak. Tapi kami jugo pernah ngebanggain orangtuo kami, waktu itu kami dapat rangking pas SD kelas 3, tapi malah nurun rangking setelah naik kelas. Dan parahnyo semenjak kami jauh tinggal samo orangtuo, kami jadi malas belajar kak, dak ado semangat karena jauh dari orangtuo. Meski begitu, kami selalu ingat apo kato ibu bapak kami kalo kami ke Jambi nih (tinggal di panti) ditujukan untuk serius sekolah, biar biso ngelanjutin sekolah ke jenjang SMP. Kalo dak ado yang bawa kami kesini, kayaknyo kami hanyo batas SD be lah sekolahnyo, karena orangtua gak ada biaya untuk nyekolahin kak. Waktu itu kami lamo nian berpikir apo mesti ke Jambi apo idak, karena kalo ke Jambi pasti jauh dari orangtuo, namun akhirnya kami milih untuk ngelanjutin sekolah jugo ke Jambi kak. Tapi dak tau ngapo, pas udah lamo disini kadang kami kangen orangtuo dan kami butuh semangat dari mereka supaya gak malas kak. Kami sadar kak kalo misalnyo belajar sungguh-sungguh, apapun rintangan/masalahnyo pasti bisa diatasi kalo kito semangat. Kami pengen kok kak membahagiakan orangtuo kami di Aur Gading,” kata Juki.

Begitulah kurang lebih yang Juki katakan kepada saya sore itu. Ibnu pun terdiam, entah karena nggak bisa ngomong apa-apa karena kisah sedih itu, entah karena emang dia yang terlalu pendiam. Yang jelas kisah jujur yang diutarakan Juki tadi semakin membuat saya ingin memacu semangat mereka untuk terus belajar dan bersekolah, meraih cita-cita dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar kehidupan keluarga mereka berubah ke arah lebih baik. Saya pun menyemangati Juki agar jangan menyia-nyiakan keinginan orangtuanya untuk melihat Juki berhasil suatu saat nanti. Begitu pula yang saya katakan kepada Ibnu, agar ia bisa terus semangat belajar meraih cita-cita. Saya pun mengatakan jika ada kesulitan belajar atau mau curhat, saya akan ada untuk mereka. Bagi saya mendengarkan orang bercerita itu bahagia sekali, saya memiliki pendengaran yang wajib saya berikan kepada mereka yang ingin bercerita hal-hal baik kepada saya. Tentu saja pemberian Allah Swt tersebut harus dimanfaatkan sebaiknya bukan? Jadi tidak ada kata yang lebih dari kata BAHAGIA saat itu ketika mendengar cerita Juki dan Ibnu bersamaan, cerita mengenai semangat mereka untuk bersekolah meski kehidupan tidak semulus di sinteron televisi.

Well, pendampingan hari itu ditutup dengan doa setulus hati agar setiap impian anak panti ini bisa tercapai demi kebahagiaan orangtua mereka. Selalu saja ada harapan atas apa yang saya dan teman-teman relawan ini lakukan untuk kebaikan adik asuh di masa depan. Tidak ingin meminta pujian, cukup dengan cerita mereka yang sudah sukses di masa depanlah yang akan membuat kami tersenyum. Ternyata membangun impian hidup mereka sejak dini itu perlu, agar mereka punya batu loncatan yang kuat agar percaya diri menatap masa depan. Berikut puisi Juki yang sempat ia tulis di buku harian saya mengenai gurunya. Semoga semua guru di Indonesia menyadari bahwa menginspirasi siswa dalam membangun cita-cita sama pentingnya dengan memberikan nilai baik di raport. Inilah puisi dari seorang anak laki-laki kelahiran Aur Gading, yang baru terihat bakatnya di bidang linguistik berkat sejumlah puisi buatannya selama di SIJ.

 

GURUKU

(Puisi ini didedikasikan buat guruku di sekolah, SMP N 16 Kota Jambi)

 

Guruku, aku sangat berterima kasih kepadamu

Karena engkau telah mendidik kami dan membimbing kami di sekolah

 

Engkau bagaikan matahari yang selalu bersinar

Engkau selalu mengajar kami, membuat kami pintar

Dan memberikan jalan terbaik bagi kami

Serta menjadi bekal bagi kami di masa depan hingga tua nanti

 

Guruku, kami akan selalu mengenangmu dan menyanyangimu

Karena kau telah mendidik kami

Terima kasih guruku, namamu akan selalu kuukir di hatiku hingga aku tua nanti

Ibnu (kiri) dan Juki (kanan) sedang menulis deskripsi gambar yg saya berikan kemarin pada saat pendampingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s