Ketika Nyinyiran Itu Datang

Alkisah suatu sore saya ngobrol-ngobrol dengan seorang pemuda, yang masih satu jurusan dengan saya. Tanpa sengaja obrolan itu tertuju pada sebuah kenyataan yang sedikit mencengangkan. Pemuda itu bilang kepada saya bahwa ada kejadian yang ia dengar beberapa hari lalu. Pria ini pun mulai bercerita.

“Kak, beberapa hari yang lalu, aku ketemu orang di taman. Dia dulunya anak SIJ sih, tapi sekarang udah gak aktif lagi. Terus dia bertanya tentang perkembangan SIJ saat ini. Dan terakhir sebelum akhirnya aku kesal, dia bilang begini ke aku: “Kak, katanya kak Bella itu ngediriin SIJ karena mau ikut pertukaran pemuda ke luar negeri ya? Karena itu syaratnya?”. Aku marah lah kak, karena aku tahu kakak aja udah beberapa kali ikut kegiatan di luar tapi gak lolos, dan itu gak ada hubungannya dengan SIJ. Terus aku tanya, siapa yang bilang begitu, dia jawab dapat selentingan dari orang-orang. Akhirnya setelah aku marahin dia, aku suruh be dia pergi, aku pun dak jadi ngerjain tugas kuliah gara-gara dia tuh,” ujar pemuda itu.

Segelintir percakapan itu menohok hati saya. Dari mananya coba saya dikaitkan dengan mendirikan SIJ karena ingin lolos PPAN? Lalu saya menganggap mereka itu sebagai orang yang nggak tahu menahu apa yang melatarbelakangi SIJ berada. Saya mendirikan SIJ bersama kak Meila Rosianika, karena kami melihat bahwa teman-teman di sekitar jarang hobi membaca dan menulis. Kami juga memiliki passion di dua bidang itu, dan sangat mencintainya. Alangkah indah dunia jika setiap anak Indonesia hobi membaca dan menulis, yang menjadi bekal bagi mereka kedepannya. Jadi, sampai saat ini nggak ada alasan bagi diri saya pribadi untuk mendirikan SIJ sebagai sarana meloloskan diri sebagai wakil Jambi untuk mengikuti kegiatan pertukaran pemuda ke luar negeri atau konferensi internasional lainnya!

Oh well, andaikan mereka tahu perjuangan saya sejak 4 tahun lalu. Andaikan mereka tahu bahwa impian saya untuk bisa belajar di luar negeri sudah ada sejak SIJ belum didirikan. Andaikan mereka tahu bahwa proses menuju impian itu tercapai tidak ada hubungannya dengan SIJ, justru saya banyak mengalami kegagalan sebanyak 10 kali, dan hingga kini pun ketika saya mendirikan SIJ dengan kak Meila, saya masih belum diizinkan olehNya untuk belajar di luar, karena saya hanya bisa puas meraih nomor dua yang berarti cadangan? Apakah mata mereka tidak terbuka untuk mengenal saya dan apa yang saya lakukan lebih dekat? Apakah melihat seseorang dari satu sisi saja? Apakah mereka cukup puas dengan menjudge seseorang  seperti itu?

Saya merasakan dinyinyirin seperti itu sudah sejak lama, bahkan sebelum ada SIJ, ketika saya masih di Trotoar dulu, kebanyakan bilang saya gak fokus kuliah lah, hanya mementingkan organisasi yang menurut beberapa orang gak ada untungnya lah, pokoknya nyinyiran lainnya. Tapi saya gak peduli, saya berusaha memaafkan mereka. Saya meyakini apa yang saya jalani saat ini sesuai keinginan saya, panggilan jiwa dan hati saya, passion saya, dan tidak ada paksaan dari siapapun. I do everything in my life with love. Saya tidak memiliki maksud akan menjadi sesuatu berdasarkan apa yang kerjakan saat ini. Saya tetaplah manusia biasa, yang melakukan ini hanya untuk mengharapkan ridho Allah Swt, untuk membantu orang lain dan daerah saya, karena saya gak mau berdiam diri dan hanya berada pada keegosian diri sendiri. I wanna do something for this nation, and I don’t care what people say to me.

Kadang kita memang butuh orang-orang nyinyir untuk membutktikan bahwa kita BISA! Kadang mereka menjadi cambuk bagi kita untuk berjuang semakin kuat membuktikan bahwa apa yang dilakukan saat ini suatu saat akan berdampak baik! Kadang kita mungkin harus berterima kasih terhadap tipe orang seperti itu agar mata mereka terbuka bahwa melihat orang itu harus lebih dekat, jangan hanya mendengar sesuatu dari segelintir orang lantas menjudge dari satu sisi. Apa jadinya kalau seorang guru hanya melihat anak muridnya dari satu sisi? Mungkin saja anak itu susah diatur, tapi jika si guru itu bisa melihat potensi kecerdasan anak yang mampu membuatnya mudah diatur, why not? Jadi bagi siapapun yang menyinyirin apa yang saya lakukan, sekali lagi saya katakan bahwa daripada sibuk menyinyirin orang, mending lakukan sesuatu yang berguna gak cuma untuk diri sendiri tapi orang di sekitar juga. Daripada menjudge seseorang tanpa fakta dan selidik terlebih dahulu, lebih baik omongannya diredam dulu, baru dibuktikan :’)

“Semakin tinggi naik ke puncak pohon, semakin kencang angin menerpa, jadi maafkan mereka.” Begitulah yang kakak bilang kepada Bella, well tentu saja saya akan memaafkan mereka :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s