Menerjemahkan Maul Dalam 154 Hari

Maul dan Tasya di Panti Asuhan Madinatul Aitam

Mama dan papa tiba di rumah sore ini. Seperti biasa mereka berdua tampak kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh dari Mendahara Ilir menuju kota Jambi, yang ditempuh selama dua jam-an, belum lagi beberapa kawasan jalan sedikit rusak. Empat hari sekali pulang ke rumah, membuat saya tak pelak harus mandiri sejak Agustus 2011 lalu. Saya mau tidak mau membereskan semua pekerjaan diri sendiri dan rumah bareng dengan adik saya dalam kurun waktu delapan bulan ini. Pun begitu pula dengan kedua orangtua saya itu, mengemban tugas di Mendahara Ilir untuk memberi nafkah anak-anaknya. Pulang ke rumah dengan tidak mengalami sesuatu kejadian apapun selalu membuat saya bersyukur, mama dan papa tidak kekurangan suatu apapun hingga mereka tiba di rumah. Inilah yang selalu saya mohon kepada Allah Swt, lindungilah keselamatan kedua orangtua dan keluarga saya dimanapun mereka berada.

Lantas saya pun teringat kejadian siang tadi, mungkin lebih tepatnya teman saya sesama relawan di Sahabat Ilmu Jambi, Maulana Iman Satria. Dia menjadi relawan SIJ sejak Desember 2011 lalu. Meski terbilang belum lama, tapi sedikit banyak saya mengetahui kehidupan Maul, hingga sedihnya ia ditinggal almarhumah ibunda ke pangkuanNya pagi tadi, pukul 08:30 WIB, 4 Mei 2012. Seolah memposisikan diri seperti dia saat ini, entah apa jadinya hidup saya ketika orangtua telah tiada. Akankah kuat? Apakah bisa menerima kenyataan yang telah digariskan oleh Allah Swt? Apakah ikhlas?

Saya mengenal Maul (kalau nggak salah) sewaktu menjadi kru Xpresi Jambi Ekspres. Dulu bangeettt…pernah nanyain anak satu itu soal pendapatnya terhadap sesuatu, dan kemudian diterbitkan pendapat serta fotonya di halaman Xpresi. Sejak saat itu juga tahu kalau Maul adalah penyiar GSP (dulunya) dan sering menjadi MC di acara ternama. Kemudian selang beberapa tahun kemudian, Maul tanpa sengaja melihat twitter @SahabatIlmuJBI. Ia bertanya apakah mungkin bisa menjadi relawan, lalu saya jawab bisa saja. Lantas pertemuan dengan calon relawan baru pun diadakan pada awal Desember 2011 lalu di Kedai Kopi. Diantara banyaknya relawan, ada Maul disana. Ternyata pada hari yang sama, dia juga nampil sebagai comic di Stand Up Comedy Jambi. Dalam forum diskusi dan gathering itu, ternyata Maul menyampaikan hasratnya untuk menyediakan sekretariat bagi Sahabat Ilmu Jambi di warung milik almarhumah ibunya. Baru pertama kali dateng, dan langsung percaya terhadap SIJ membuat saya menaruh respect yang tinggi terhadapnya. Kemudian teman-teman menyetujuinya, dan akhirnya sekretariat itu telah berubah menjadi taman baca nan apik. Yang awalnya gudang dan tidak berpenghuni, akhirnya disulap menjadi tempat berkumpulnya SIJ. We should thanks to him :’) Thank you very much!

Ternyata cerita tidak berhenti disitu saja. Saya yang awalnya melihat Maul sebagai sosok ceria, hobi ngelawak dan ngeledek, dan terlihat selalu baik-baik saja, ternyata menyembunyikan sesuatu dalam hidupnya. Kami tidak pernah menyangka bahwa suatu hari ketika kami mengunjungi rumah Maul (saya, Yani, Fani, dan Ein) untuk melihat kondisi warung almarhumah ibunya yang nggak terpakai itu mendapatkan sebuah cerita yang tidak bisa dipercaya. Almarhumah ibu Maul menderita stroke sudah sejak lama, dan saat itu beliau terbaring lemah di kasur yang diletakkan di depan televisi rumah Maul. Dari pertama kali melihat ibu Maul hingga senin kemarin terakhir melihat almarhumah, saya melihat beliau tidur di atas kasur. Tidak berdaya dan tidak punya daya upaya. Saya kerap sedih melihat panggilan almarhumah ibu Maul ketika memanggil dirinya, Shinta, atau Kiki saat kami para laskar SIJ berkumpul disana. Kadang ketika saya melewati almarhumah ibunya untuk mengambil wudhu dan sholat, saya kerap menegur sapa, meski hanya dengan seyuman, atau bahkan mengamini perkataan almarhumah ibu Maul kala itu. Dan sejenak saya berefleksi kepada diri saya sendiri, bagaimana kalau disana adalah ibu saya? Apa perasaan saya? Lalu bagaimana perasaan Maul yang telah melihat kondisi ibunya dalam rintihan sakit untuk bisa bertahan hidup? Yang saya tahu, Maul selalu berkata lemah lembut sekali kepada almarhumah ibunya dengan begini: “Sayang, sayang mau apa? Mama mau ngapain?” Itulah kalimat yang kerap saya dengar, yang membuat saya terharu, yang membayangi saya di rumah besar itu setiap masuk ke rumah Maul. That’s so sweet, tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang ibu kepada anak, dan anak kepada ibunya. :’)

Lalu waktu berlalu. Dalam perjalanan mengenal sosok adik (karena Maul semester 6), meski sama-sama lahir di tahun 1990, saya melihat sebuah lika liku hidup Maul yang bikin saya seolah tak percaya. Ada beberapa cerita yang saya dengar sendiri dari dirinya bahwa bla bla bla. Bahkan ketika saya menghiburnya, Maul seakan mampu menutupi kesedihannya. Dia tetap tegar dengan perkataan yang baru saja ia ceritakan kepada saya tentang hidupnya dan keluarganya. Ia seolah berusaha tegar meski banyak rintangan di hidupnya. Atau bahkan ia tidak ingin menampakkan kesedihannya kepada orang lain? Atau dia hanya ingin kesedihan itu miliknya sendiri? Entahlah, yang pasti saya selalu berpesan kepadanya bahwa seorang lelaki harus mampu tegak diantara badai meski itu sulit, meski itu terseok-seok.

Suatu kali Maul pernah curhat kepada saya bahwa hanya ada dua wanita yang ia cintai saat ini dan selamanya, yakni ibunya dan Tasya (sang pacar?). Bagi Maul, mereka berdua adalah wanita yang ia cintai sepanjang hayatnya, tidak akan pernah tergantikan oleh apapun. Ibunya yang membesarkannya, dan dulu terbaring lemah, dan ia pun merawat ibunya dengan telaten. Yang saya tahu, di rumahnya itu yang paling sering berinteraksi dengan almarhumah ibunya adalah Maul sendiri dan Shinta. Dimana kadang ketika ia bepergian ke luar kota, ia kerap cemas kepada ibunya. Bahkan ketika ibunya sulit untuk berkata dan Maul sudah terbiasa menerjemahkan keinginan ibunya, ia sudah tampak telaten memenuhi permintaan sang ibu. Bagi saya itu sudah cukup menunjukkan Maul sangat sayang kepada ibunya. Kemudian Tasya, sosok wanita yang bisa menaklukkan hati Maul setelah dulu ditinggal pacar, melengkapi hari-harinya, and he loves her very much. Meski Maul suka flirting nggak jelas, namun hatinya terpaut pada Tasya seorang (ceilahh). Ia bahkan menyayangi Tasya hingga saat ini, meski saya pun tidak bisa menerjemahkan hubungan mereka saat ini seperti apa, but I know that he loves her very much. Terbukti dari beberapa kali Maul sempat curhat bukan hanya tentang kegalauan hidupnya saja, namun juga tentang Tasya, saya menyadari bahwa ia sangat menaruh hormat yang tinggi kepada kedua wanita yang ia cintai.

Phiuuhh, saya jadi teringat kejadian hari Senin lalu, dimana saya menjaga taman baca di rumah Maul. Kala itu almarhumah ibunya sudah lama tidak bisa bergerak, dan saya menyaksikan ibunya terbaring lesu di atas kasur, sambil dililiti kain. Itulah terakhir kalinya saya melihat ibu Maul, sambil berdoa agar kemudahan dari penyakit yang diderita. Ternyata 4 Mei 2012 pagi tadi, almarhumah dipanggil menghadap Sang Kuasa. Saya dan Tasya tadi ikut memakamkan almarhumah ibunya di pemakaman di Kotabaru. Terdengar suara Maul yang mengazankan ibunya di liang lahat, saya pun teringat ketika kecil, kita yang masih bayi dan baru lahir diazankan oleh ayah kita, kini dia-lah yang mengazankan ibunya. Kemudian liang lahat itu perlahan-lahan tertutup oleh tanah, dan terdengar suara tangis Maul yang sampai sekarang masih saya ingat. Pesan saya hanya satu, “Mama Maul merindukan doa anak yang sholeh, doakan selalu mamamu, ingatlah selalu pesan ibu agar Maul sukses di masa depan. Doakan mama agar tenang bersamaNya di surga, amiiinnnn.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s