Pengalaman Jurnalisme Saya: Dari Mengirim Surat Hingga Jurnalis Muda

Saya hobi menulis sejak kecil. Ketika saya berumur delapan tahun, tepatnya ketika menjadi siswi Sekolah Dasar di Nipah Panjang, saya hobi menulis surat kepada artis atau penyanyi cilik. Surat tersebut ternyata melatih saya menggunakan kata-kata untuk menulis. Bagi saya, pengalaman menulis surat kepada artis itulah yang membuat saya hobi menulis hingga sekarang, serta mengantarkan saya menjadi jurnalis muda sejak Sekolah Menengah Atas.

Beranjak remaja, saya makin menyukai dunia menulis. Meski waktu itu tidak terlalu produktif dalam menulis, sedikit demi sedikit saya menemukan kembali passion saya. Pada masa remaja, tepatnya menginjak bangku sekolah menengah atas, saya dimotivasi oleh ayah untuk mengirimkan artikel ke halaman remaja di koran lokal yang ada di provinsi tempat saya tinggal di Indonesia, yakni Jambi. Koran lokal itu bernama Jambi Ekspres.

Karena termotivasi oleh papa, saya pun mengirimkan tulisan pertama saya yang ternyata membuat saya berkesempatan menjadi jurnalis muda di koran itu. Waktu itu tulisan pertama saya dimuat dalam Surat Pembaca, dengan judul Siswi SMA Tanggapi Kosmetik Illegal. Tercatat empat kali tulisan saya dimuat di kolom Surat Pembaca tersebut. Topik-topik yang saya tulis berkaitan dengan keprihatinan saya terhadap kosmetik illegal, penebangan hutan, nasionalisme, dan kecelakaan pesawat.

Tulisan yang hanya terdiri atas empat hingga enam paragrap tersebut membuat saya ketagihan menulis di kolom lain. Tetap di koran yang sama, kali ini saya menulis di kolom Karya Ilmiah, dimana saya menulis beberapa karya tulis ilmiah yang memberikan pengetahuan baru bagi remaja Jambi. Tulisan karya ilmiah yang telah dipublikasikan di Jambi Ekspres sekitar enam buah. Ia terdiri dari topik kesehatan, ilmu pengetahuan, motivasi, nasionalisme, dan lainnya. Tulisan tersebut ditulis ketika saya duduk di kelas tiga Sekolah menengah atas.

Kebiasaan menulis di koran atau di diary pun menggeliat. Saya sehari-harinya menuliskan kisah yang saya alami di sebuah diary. Ini pun menjadi batu loncatan saya dalam menulis apa yang ada di pikiran saya terhadap kejadian yang saya alami. Saya menulis yang ringan-ringan saja, tidak terlalu menitikberatkan harus dengan topik tertentu, tapi saya menulis apa yang menurut saya bagus untuk diberitahukan, dan saya memiliki ide untuk menulis. Menulis di diary pun menjadi kebiasaan saya dalam menuangkan pemikiran. Hingga saya pun beranjak dewasa dan menjadi mahasiswi di universitas, saya semakin mengasah kemampuan menulis. Disamping menulis diary, di usia menginjak dewasa ini saya juga tetap menulis di Jambi Ekspres ketika menjadi mahasiswi semester awal, saya menulis di halaman Opini. Halaman Opini ini merupakan halaman terbuka untuk masyarakat Jambi mengemukakan gagasan dan pandangannya terhadap isu terhangat. Tercatat kurang lebih lima belas tulisan yang dimuat di halaman ini, topik-topik yang saya bicarakan antara lain bahasa, nasionalisme, dunia hiburan, politik, dan lain-lain.

Kebutuhan menulis selama menjadi mahasiswa membuat saya tertarik bergabung di majalah kampus saya, Trotoar, sebagai reporter atau jurnalis muda. Pada waktu saya semester dua, saya mencoba memasukkan lamaran untuk bergabung dengan pegiat jurnalisme kampus. Saya mengikuti seleksi bersama teman-teman saya, dan kami semuanya diterima bergabung menjadi jurnalis. Saya pun mulai mengenal dunia jurnalistik. Saya mengenal beberapa senior yang juga mendukung saya untuk menulis di bidang jurnalisme ini. Saya juga berkesempatan menjadi perwakilan Jambi dalam Simposium Generasi Pers Mahasiswa Nasional di Universitas Lampung yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Teknokra, 1-2 November 2008. Disini saya semakin banyak mengenal teman-teman yang menyukai jurnalistik dan saya belajar dari mereka.

Awal mula menjadi jurnalis biasa di pers mahasiswa itu menjadikan saya berusaha memberikan yang terbaik. Meski masih amatiran, tapi saya giat bertanya kepada orang lain. Saya juga mencari berita kampus di sela-sela aktivitas sebagai mahasiswa semester awal. Saya dan teman-teman tiap dua bulan sekali meluncurkan majalah Trotoar, yang diberikan kepada mahasiswa. Dimana di majalah tersebut memuat isu terhangat yang sedang diperbincangkan oleh stakeholders kampus. Majalah Trotoar juga memberikan saya kesempatan untuk memimpin sebagai pemimpin umum. Saya kemudian terpacu kembali untuk menulis lebih bagus bersama teman-teman. Hingga saat ini, saya sangat berterima kasih kepada Trotoar, karena dialah pengalaman jurnalistik saya berkembang.

Kurang lebih dua tahun menjadi jurnalis di Majalah Trotoar (2008-2010), saya dilirik oleh Jambi Ekspres untuk bergabung bersama mereka menjadi jurnalis muda. Kala itu saya ditelepon oleh pihak Jambi Ekspres untuk menjadi jurnalis muda di halaman Deteksi yang kini berubah menjadi halaman Xpresi. Deteksi awalnya adalah halaman anak muda yang berisikan 10 halaman dengan memberikan topik berbeda dan sangat up to date kepada remaja Jambi. Saya bergabung di Xpresi pada Juni 2009 lalu, kemudian pada awal 2011 saya resign dikarenakan saya ingin fokus kuliah kerja nyata di suatu desa di Jambi.

Setelah beberapa waktu saya tidak menulis di koran, saya pun memutuskan untuk bergabung menjadi jurnalis kembali, yakni pada Mei 2011 lalu. Saya direkrut kembali oleh Jambi Ekspres untuk menjadi jurnalis di halaman Seluler, halaman ini memuat berita mengenai gadget, handphone, dan barang-barang teknologi terkini kepada pembaca. Saya sangat menikmati menjadi jurnalis di topik yang berbeda, namun sayangnya pengalaman saya di halaman ini tidak banyak karena saya tidak bekerja lagi di halaman itu terhitung sejak Maret 2012 lalu. Meski begitu, di usia yang sangat muda ini, saya bersyukur pengalaman menulis di koran dan dibaca banyak orang menjadi bekal saya.

Dalam perjalanan saya menjadi jurnalis muda ini, saya juga bertemu  dengan Andreas Harsono dan Fahri Salam. Mereka adalah guru menulis saya yang memberikan ilmunya ketika saya mengikuti Workshop Menulis Feature yang diadakan oleh Eka Tjipta Foundation di Sei. Tapa, Kuala Tungkal, Jambi pada Februari 2010 lalu. Disana saya mengenal ranah tulisan bernama feature. Yang saya sukai dalam menulis feature adalah, ia tidak berupa tulisan straight news yang biasanya ditemui di halaman berita di koran, namun dalam penulisannya ia memberikan kita insting untuk melihat, mendengar, merasakan, dan meraba. Dalam feature-lah saya bisa enak menulis, karena keterlibatan semua panca indera membuat saya menikmati menulis. Ilmu yang diberikan oleh dua guru menulis saya tersebut tetap saya aplikasikan hingga saat ini. Meski saya tidak menjadi jurnalis di koran lokal, tapi saya menggunakan ilmu feature ketika menulis di blog dan membuatnya dalam ranah catatan perjalanan yang saya lalui.

Selain itu saya kerap mengikuti forum, diskusi, seminar, serta pelatihan menulis bersama rekan-rekan. Ilmu yang saya dapat dalam kegiatan itu tentunya berguna bagi saya. Dunia menulis sejak kecil tanpa sadar membawa saya untuk aktif menulis hingga sekarang, dengan atau tanpa gelar jurnalis. Untungnya lagi adalah, saya menulis dengan passion saya, karena saya sangat menyukai kegiatan ini. Jadi bagi saya tidak ada alasan tidak menulis setiap bulan, ya saya harus menulis dan menulis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s