Kala Senja di Kota Tua

Kota Tua, salah satu destinasi wisata Jakarta yang dari dulu pengen banget saya datengi. Kenapa? Tentu saja bangunan kuno dan sejarah Kota Tua yang tampak berkilau meski jadul ini membuat saya berhasrat kesini. Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya saya berhasil membujuk Wai, teman dari Parlemen Muda Indonesia yang juga pemuda asli Jambi untuk menjadi tour guide saya selama disana. And my dream comes true ^_^

Kecintaan saya pada jalan-jalan dan dunia wisata/budaya Indonesia memang tak terbendung. Apalagi jika suatu destinasi tersebut berhubungan dengan pantai, laut, alam, atau sejarah, tidak ada alasan untuk tidak berkunjung kesana. Nah, kesempatan saya berkunjung ke ibukota untuk kesekian kalinya kemarin pun tuntas sudah mengunjungi Kota Tua. And the journey began..

Saya berangkat ke Kota Tua dari rumah mas Andreas Harsono, guru menulis feature saya yang sempat memberikan ilmunya di Sei. Tapa, Jambi, Februari 2010 lalu. Berkunjungnya saya ke rumah mas Andreas pun untuk menuntaskan hutang saya yang tiap kali ke Jakarta tidak mampir ke apartemennya di daerah Senayan. Akhirnya pada 4 Februari lalu, saya ke rumah beliau dengan menggunakan busway bersama Wai. Hanya beberapa jam di apartemen beliau dan bertemu dengan keluarga besar mas Andreas (mereka ramah sekali lho), saya pun pamit pulang. Balik dari apartemen beliau, saya dioleh-olehi buku Sejarah Teror, terima kasih mas Andreas dan mbak Ari!

Well, menuju Kota Tua dari Senayan, saya harus naik busway, dan sendirian! Modal tekad naik busway sendirian di tengah isu nggak sedap soal transportasi ini? Keberanian! Yup, saya memberanikan diri untuk naik busway selama satu jam menuju Kota Tua. Seperti biasa saya membayar karcis sebesar Rp. 3.000, kemudian menunggu busway di halte jurusan Kota Tua. Nggak lama kemudian, bis berwarna orange itu berhenti di halte, dan saya bersama penumpang lainnya memasuki busway berdesak-desakan. Finally, kejadian desak-desakan itu membuahkan hasil manis, saya dapat tempat duduk, setidaknya selama satu jam berdiri sambil berpegangan letih juga bukan? Nongkrong lah saya di busway melewati berbahagai rute busway dan alunan ibukota, sambil mengamati penduduk kota Jakarta yang seakan tidak kehabisan energi untuk tetap tinggal di kota megapolitan itu.

Pukul 3 sore saya berangkat, tentu saja satu jam setelahnya yakni pukul 4 sore saya tiba Kota Tua. Disana Wai sudah menunggu, ya sambil menunggu saya dia ternyata rapat dengan teman-temannya di Youth’s Act for Indonesia (YAFI). Saya pun ketiban nongkrong bersama mereka di salah satu restoran cepat saji yang terletak di dalam stasiun kereta api disana. Selang beberapa menit kemudian, saya, Wai, dan anak-anak YAFI bergegas ke Kota Tua. Perasaan saya mulai jumpalitan, selalu nggak sabar jalan-jalan menuju destinasi favorit, haha..😀

Kala senja sore itu, kami menyusuri kawasan Kota Tua. Mata saya terbelalak melihat bangunan tua yang eksotis dan masih terawat dengan baik. Lantas saya ingat beberapa bangunan tua di Jambi yang nampaknya tidak terurus, mencoba membandingkannya dengan kawasan Kota Tua ini. Oh well, sungguh berbeda pasti! Suatu saat saya berharap bangunan tua yang memiliki sejarah di Jambi juga bisa dijadiin tempat wisata sama seperti halnya Kota Tua. As we wish, right?

Oke, kita balik lagi ke Kota Tua. Memasuki kompleks Kota Tua, saya menemukan pemandangan yang benar-benar ramai dipadati penduduk. Mulai dari pedagang, turis, hingga mereka yang lagi hunting foto ada disini. Beragam kostum dipakai, bermacam bahasa dituturkan, beragam promosi yang diberikan kepada kami agar bisa melihat-lihat dagangan mereka, dan ada pula games menarik yang membuat banyak orang melirik. Inilah yang saya suka dari Indonesia, semuanya beragam dan memberi warna, banyak kekayaan dari jati diri bangsa itu sendiri yang membuat saya berdecak kagum. Dan saya yakin hal ini nggak akan saya temui di luar negeri, karena itu hanya milik Indonesia, milik negera saya. ^_^

Pedagang yang menjajakan dagangannya di sepanjang jalan ini membuat saya berpikir betapa kreatifnya penduduk Jawa! Berdagang baju, topi, sendal, makanan, souvenir, penyewaan sepeda, hingga games menarik sesuatu, bikin saya melirik. Mereka dengan nyamannya mengapar di lantai semen itu beralaskan terpal, sambil berteriak memanggil pelanggan, sambil berharap dagangannya laku. Di sisi lain, panorama bangunan tua menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melewatinya. Ada berbagai museum di kawasan ini, kantor yang sudah tua nan eksotis, cafe Kota Tua, serta bola-bola besar yang saya nggak tahu asalnya dari mana. Saya juga melihat bangunan tua yang sangat sudah lapuk, yang bahkan teman saya si Grace nggak pernah tahu kalao ada bangunan itu disana. Meski begitu, bangunan tersebut tampak indah dipandang mata, dan membuat saya langsung mengeluarkan kamera. Take a photo for sure!

Bangunan tua itu seolah-olah berbicara bahwa dulu disini, Batavia pernah berjaya. Kawasan ini pun termasuk kawasan industri pecinan yang lumayan diakui pada jaman penjajahan Belanda. Tidak heran banyak bangunan tua bergaya kolonial dan tionghoa menghiasi pemandangan mata saya. Sesekali teman Wai dari YAFI turut menjelaskan sejarah Kota Tua dan beberapa bangunan yang ada. Kami menelusuri setiap jengkal bangunan tua itu dengan seksama. Terlebih lagi saya, yang tidak melewatkan sedikit pun momen berharga bersama kamera untuk mengabadikannya dalam kamera pocket itu, hehe..

Beranjak dari suatu bangunan, kami mampir ke bangunan yang lain. Kami melewati jembatan dimana dibawahnya adalah Sungai Ciliwung, yang membuat saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kali itu penuh dengan sampah dan limbah, membuatnya bau dan tidak sedap dipandang mata. Kami bertengger di jembatan itu kira-kira 15 menit. Teman Wai mengatakan kali Ciliwung dulunya sangat bersih dan digunakan sebagai tempat lewatnya kapal, namun sekarang? Jangankan kapal, orang saja kasihan melihat nasib sungai itu -___- Yang anehnya, satu pemandangan yang bikin hati saya miris adalah, masih ada penduduk Jakarta yang termasuk kategori pinggiran, yang tinggal di bawah jembatan itu dan tentu saja dekat dengan Kali Ciliwung yang kotor itu. Phiuuhh, masih ada saja ya mereka yang rela tinggal di tempat yang menurut saya bahkan kesehatan mereka bisa terganggu kalo kelamaan disana. Pemandangan yang cukup miris di daerah wisata yang baru kali ini saya temui -___- Oh Indonesiaaaa…

Tidak ingin berlama-lama bermelankolis dengan kondisi itu, saya pun diajak menuju Jembatan Merah. Ya, jembatan ini memang berwarna merah, dan kata teman Wai dulunya jembatan ini bisa dibuka tutup ketika ada kapal lewat. Jembatan ini pun tetap berdiri kokoh di atas anak Sungai Ciliwung ini. Meski ukuran jembatan ini tidak panjang, tapi jembatan ini selalu ramai dikunjungi masyarakat. Entah itu buat foto-foto ataupun untuk pre wedding. Seperti halnya sore itu, kami sambil leyeh-leyeh di jembatan ini, duduk, cerita, foto, dan mendengarkan cerita singkat teman Wai soal Kota Tua. Kami juga menanti sore di jembatan itu. Dan lagi-lagi, pemandangan yang menyilaukan mata saya terlihat, ada lagi yang tinggal di bawah jembatan ini! Glekk, pemerintah dimana sih? Saya langsung berteriak keras di dalam hati. Memikirkan kalau seumur hidup anak cucu mereka tinggal disana, bagaiman mereka kedepannya? Atau bisakah mereka dipindahkan ke temat yang lebih baik wahai pemerintah?

Senja beranjak naik. Semburat merahnya perlahan-lahan terbenam. Kami pun beranjak dari jembatan bersejarah itu dan kembali pulang menuju tujuan masing-masing. Beberapa teman Wai juga berpisah dengan saya. Saya pun berterima kasih kepada mereka yang sudah mau menjadi tour guide di sela-sela aktivitas YAFI mereka. Saya dan Wai pun bergegas mempercepat langkah. Saya sambil menatap takjub bangunan tua yang sudah disinari lampu itu dengan pernyataan: I WANT TO LIVE IN THIS COUNTRY, WHATEVER HAPPPENS, I ONLY WANT TO LIVE IN INDONESIA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s