Dari Hati Lalu Ke Twitter

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 216.

Malam ini, saya dapat cerita baru dari mama saya yang ikut pelatihan kependudukan bersama ibu-ibu kecamatan lainnya di sebuah hotel ternama. Ceritanya sih bukan soal apa materi yang diberi saat mereka berada di hotel selama tiga hari, tapi lebih kepada personality mereka yang bikin mama mengernyitkan dahi. Haha, untuk hal satu ini, saya punya pikiran yang sama dengan mama. Ketika kita diberikan kehidupan yang cukup untuk saat ini, jangan pernah sombong dan tetaplah hidup sederhana. Kami mengamini kalimat tersebut yang pernah diberikan oleh salah seorang pembicara dulu. Tentu saja, apa yang kita miliki sekarang belum tentu akan dimiliki selamanya, jadi kenapa nggak hidup sederhana, tanpa kemewahan? Toh Allah Swt nggak ngelihat kita dari handphone apa atau baju merk apa yang kamu kenakan selama hidup bukan?

Obrolan itu sedikit menghentikan langkah saya untuk memberikan satu kabar. Saya harus menelan pahit ketika membicarakan sesuatu yang tak kunjung datangnya kepada orangtua saya. Mungkin karena malu mengabarkan hal yang sama kali ya? Haha.. Niat itu pun urung saya beritahukan  kepada mama. Mungkin bakal ada waktu yang tepat untuk memberitahu beliau, dan bukan malam ini, pikir saya. Anehnya, saya jadi sedikit curhat di Twitter tentang apa yang saya alami akhir-akhir ini. Well, tulisan ini bukanlah sebuah keluh kesah terhadap hidup, tapi tulisan ini sebaiknya dibaca oleh mereka yang berhati lapang agar bisa mengambil makna dari berbagai sudut soal apa yang saya alami. Saya harap kamu pun begitu ^_^

Ada beberapa hal yang mungkin saya mau share disini. Namun beberapa hal tersebut memang berujung pada bertolak belakangnya pikiran saya. Seperti beberapa hal di bawah ini:

*) Saat orang lain sibuk ingin kerja dengan pendapatan lebih tinggi dan kerja di tempat ternama, saya justru nggak berubah cita-citanya dari dulu, ingin menjadi guru yang siap ditempatkan dimana saja.

“Bagi saya, tidak ada salahnya memang ketika kamu memutuskan untuk mengambil satu tempat yang bisa mengembangkan karirmu lebih tinggi dan membanggakan orangtuamu. Tentu itu menjadi sebuah prestasi bukan? Setiap anak pasti ingin membahagiakan orangtuanya. Namun bertolak belakangnya pemikiran saya dalam hal ini adalah, menjadi guru yang sederhana dan mendiami suatu daerah yang belum saya tinggali sebelumnya mungkin lebih nyaman bagi saya.”

*) Papa pernah menyarankan saya untuk mengambil S2 dan menjadi dosen, tapi saya menolak pendapat itu. Saya ingin menjadi guru, bukan dosen.

“Lantas saya mikir, jiwa saya yang ingin menjadi guru tentu berbeda dengan menjadi dosen. Saya tidak tertarik menjadi dosen sama sekali. Dosen menurut saya tidak seintensif pertemuan guru dan siswa. Guru pun lebih sering bertemu dan tentunya akan menjadi pendamping mereka dalam menggapai impian bukan? Saya lebih nyaman menjadi guru yang sederhana, pendidik yang mengajar dengan hati, serta guru untuk murid-murid saya. Meski saya tahu jadi guru itu sulit, banyak kendalanya, dan siswa kadang bermasalah, tapi saya menikmatinya. Mungkin kalau saya jadi dosen, saya nggak bisa seenjoy menjadi guru kali ya?

*) Ketika orang-orang mengejar penelitian cepat dan sidang skripsi cepat pula agar bisa wisuda bulan Mei nanti, saya malah anteng ngerjain penelitian skripsi hingga akhir bulan ini. Dan sepertinya saya nggak terkejar wisuda di bulan kelahiran saya itu.

“Sekali lagi saya bilang, that’s our choice. Mereka ingin selesai wisuda lebih cepat monggo, dan kalaupun agak sedikit terlambat harus punya alasan yang benar-benar bisa meyakinkan dia mau jadi apa kelak. Saya berprinsip bahwa penelitian saya yang agak molor ini bukan terjadi karena kemalasan saya. Justru beberapa aktivitas yang saya lakukan di luar kampus memacu saya untuk berpikir bahwa saya juga harus menyelesaikan skripsi dengan tidak melupakan orang lain. Niatnya sih memang mau wisuda cepat, tapi kalau sesuatu tertunda dan belum memungkinkan, baiknya saya nunggu September toh? Saya malah nggak pengin setelah kelar kuliah malah bingung mau kemana, hanya duduk-duduk di rumah, hang out ama teman-teman menghabiskan uang orangtua, atau hedonisme lainnya. Saya bersyukur sedari beberapa tahun ini saya sudah mengetahui passion saya dimana, ini membuat saya yakin setelah lulus kuliah, mau jadi apa, seperti apa, dimana, dan berapa lama? Bukan saja membahagiakan keluarga dan teman, tapi juga masyarakat Indonesia. Jadi memang baiknya saya jalani dengan serius penelitian ini, masalah kapan waktu yang tepat untuk wisuda, saya sudah punya keputusan :’)”

*) Selesai S1, mau kemana? Mau lanjut S2 ya? Oh kesana ya? *manggutmanggut*

“S2 bagi saya sangat penting. Untuk keluarga saya yang sederhana ini, pendidikan merupakan segala-galanya untuk meningkatkan martabat hidup. Barangkali semua orang akan mengamini hal ini bukan? Faktanya adalah saya saja belum kelar S1, mau gimana S2? Hehe.. Anyway, saya punya cita-cita gini. Seandainya lulusan universitas yang kuliah di luar daerahnya atau memang kuliah di tempat ia tinggal, baiknya setelah selesai wisuda mengabdi kembali ke daerahnya. Mereka membangun daerah tersebut bersama pemuda lainnya. Atau misalnya sambil mengerjakan S2, dia bisa berbuat sesuatu untuk daerahnya. Saya heran sekali dengan orang-orang yang bangga ketika S2 di tangan, namun dikerjakan dengan tidak profesional dan ilmunya malah sulit diaplikasikan kepada masyarakat. Guna sarjana apa, guna orang-orang cerdas apa? Untuk mencerdaskan kaum marjinal bukan? Nah kalo ilmu yang cerdas itu disimpan untuk dirinya sendiri, saya gagal paham dengan mereka. Andaikan banyak pemuda yang menyadari pentingnya mereka membangun daerahnya, tanpa mengharap keuntungan, dan ikhlas hati yang mereka lakukan, saya yakin Indonesia lebih cemerlang di masa depan berkat pemudanya!”

*) Off menjadi wartawan, bukan keinginan saya.

“Bagi saya tugas wartawan adalah pencari berita dan mengabarkan berita/informasi sejujur-jujurnya kepada masyarakat. Keinginan saya jadi wartawan pun nggak sengaja lho, awalnya saya terjun di dunia pers mahasiswa kampus, kemudian ditawari di sebuah harian lokal, dan sampai beberapa tahun kemudian diterima. Perlahan-lahan jiwa kewartawanan yang sedikit idealis itu mendarah daging kepada saya. Terasa banget menikmatinya saat menulis berita, mulai dari halaman anak muda hingga gadget saya asuh. Namun entah kenapa beberapa waktu lalu, saya diresignin. Saya berusaha menerima alasan tersebut dengan hati yang lapang. Mama dan papa pun lantas mengingatkan, bahwa fokuslah menjadi guru, dan akhirnya saya sedikit bisa menerima keputusan sepihak itu. Meski bukan keinginan saya untuk off, saya tetap ingin menulis, dalam media apapun.”

*) Ketika saya mendapat kabar off dari pekerjaan sebagai jurnalis, saya berharap ada kabar baik untuk saya terkait dengan belajar jurnalisme media baru di luar. Namun apa mau dikata, saya belum lolos lagi :’)

“1,2,3,4,5,6,7,8… I count this. Yup, perjuangan untuk bisa belajar di luar sulit sekali ternyata. Waktu saya dapat kabar nggak mengenakkan itu, saya sangat berharap sekali bisa lolos belajar jurnalisme di luar itu. Setidaknya meskipun saya baru keluar dari tempat kerja yang berhubungan dengan jurusan yang saya ajukan untuk diterima sebagai penerima beasiswa, toh ilmu itu tetap bisa saya pakai suatu saat. Pada kenyataannya, saya kembali tidak lolos, haha.. *evillaugh* Banyak yang menyemangati, dari saya yang curhat secara spontan, maupun saya curhat secara eksplisit melalui SMS dan Twitter. Mereka banyak menyemangati saya, mereka menguatkan saya, mereka membuat saya percaya bahwa mungkin ada jalan lain yang Ia berikan kepada saya, dan tentunya itu pasti lebih baik. Well, inilah yang membuat saya nggak mau menceritakan kepada mama sementara waktu. Perlu kekhususan kata-kata agar saya nggak mewek nantinya. Dan saya harus terlihat baik-baik saja dong di depan mama? ^_^ Lalu saya teringat sebuah ayat di Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 216. Allah Swt berfirman bahwasanya bisa saja yang kita nggap itu baik namun Allah Swt tidak menyetujuinya dan beranggapan bahwa itu baik, namun bisa saja yang kita anggap buruk justru baik untuk diri kita sendiri. Teman-teman mungkin bisa melihat kalimat tersebut lebih rinci di paragrap paling atas ya! Ok back to the topic, saya jadi bertanya-tanya, apakah Allah Swt tidak mengizinkan impian saya ini kah? Apakah itu tidak baik untuk saya? Dan saya berharap meskipun saya jatuh berkali-kali, yang saya inginkan adalah saya harap bisa selalu tersenyum dan semangat tersebut tidak hilang dari diri saya. Because I’m dreamcatcher!”

*) Dulu kita percaya banget bahwa orang yang ada di sebelah kita akan selalu menemani, mengerti, dan memahami apa yang ada di pikiran kita. Nyatanya keinginan kita itu nggak selalu benar, ternyata justru bertolak belakang dengan rencana Tuhan.

“Kadang saya jadi malas membicarakan makhluk Mars. Pemikiran mereka yang berbeda tampaknya terlihat pada apa yang saya alami. Saya dulu meyakini bahwa orang itu baik untuk kita. Saya meyakini dia mampu mengerti apa yang dirasakan, diinginkan, dan dilakukan. Semua itu tentu impian banyak orang bukan, memiliki seseorang yang bisa menjadi partner baik di dunia dan di akhirat? Namun tampaknya seiring berjalannya waktu, orang itu bukan menjadi pilihan tepat untuk kita. Entah itu karena menghilang tiba-tiba, atau memang Allah Swt sudah bilang kepada saya bahwa: Belum tentu sesuatu yang kita anggap baik, baik pula di mataNya. Sejauh ini saya agak sedikit kecewa dan menyesal. Dulu saya memberikan apa yang saya miliki, namun itu tidak menjadi kepingan kenangan yang berharga. Saya berdosa kepadaNya. Mohon ampun saya ya Allah. Ampuni dosa-dosa yang membuat Bella menjadi nista dihadapanMu. Tidak ada yang lebih kuasa daripada kekuasaanMu. Saya nggak mau masuk neraka, hapuskan dosa-dosa saya. Saya yakin ini pilihan terbaik untuk Bella dari Allah Swt, agar saya bisa menjalani hari-hari dengan hati yang lapang dan tanpa merasa bersalah kepadaMu. Semoga Engkau menghapuskan dosa saya dan membawa saya serta keluarga di alam paling nikmat, surga yang kekal abadi.”

2 thoughts on “Dari Hati Lalu Ke Twitter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s