Catatan Dibalik Parlemen Muda Indonesia

Siang itu di bandara saya kasak kusuk menanti satu personil, Maya, untuk sama-sama berangkat ke Jakarta. Sudah lewat 12.15, dan yang dinanti tidak kunjung tiba. Jam di handphone bergerak cepat, seakan tidak sabar menuju ke 12.35, dimana pesawat Batavia Air akan membawa saya, Yunia, dan Maya ke Jakarta. Yup, Parlemen Muda Indonesia yang telah lama dinantikan akhirnya tiba juga. 28 Januari 2012 adalah permulaannya.

Sekelebat bayangan perempuan tinggi yang sedang mencari-cari saya dan Yunia akhirnya tampak! Well, ini bikin saya deg-degan abis. Pesawat 15 menit lagi akan meluncur tapi satu personil belum dateng. Rasanya gimana gitu ya. Alhasil ketika Maya sudah berada di sisi kami kala itu, langsung saja saya bergegas ke dalam ruang tunggu bandara, dan berpamitan dengan keluarga.

This is the journey! Saya selalu suka melakukan perjalanan dengan tujuan yang saya sukai, entah itu untuk jalan-jalan atau mengikuti kegiatan kepemudaan dan pengembangan diri seperti Parlemen Muda Indonesia. And I love to meet new people in my life ^_^ Setiap acara yang saya ikuti di tingkat nasional selalu punya kesan tersendiri. Semuanya keren dan bikin diri saya sadar bahwa Bella Moulina itu masih kecil, masih perlu banyak belajar dari mereka yang hebat-hebat. Dan Parlemen Muda Indonesia atau yang disingkat PMI membuktikan itu. I learn so much from this event!

Jujur, awalnya saya berekspektasi bahwa kata ‘parlemen’ identik dengan politik yang banget banget banget! Well, pandangan itu sedikit berubah ketika saya melihat website parlemenmuda.org dan indonesianfutureleaders.org yang menyatakan bahwa PMI merupakan tempat belajar politik dengan khas anak muda. Awalnya sih memang mengernyitkan dahi. Kenapa? Karena saya termasuk orang yang nggak suka politik dan sedikit ‘apatis’. Benar kata Iman, pendiri IFL sekaligus direktur PMI, banyak anak muda yang apatis dengan politik, dan saya salah satunya. Saya sadari ini dikarenakan sikap politisi banyak yang bikin nyesek hati dan nggak menyentuh rakyat. Pandangan ini semakin diperkuat dengan carut marutnya pemerintahan RI. Lantas apa mau diam di tempat? Then let’s do something!

PMI membuat saya belajar banyak hal, nggak melulu soal politik kok. Saya yang suka bertemu dengan banyak orang tentu saja punya banyak teman setelah mengikuti kegiatan ini. Mereka datang dari berbagai karakter dan kehidupan yang berbeda. Setiap orang dari mereka memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata (ecieee..). Bahkan saya sudah menuliskan karakter mereka (30 delegasi dari 21 provinsi) dalam sebuah catatan sebelumnya. Saya belajar dari karakter mereka, yang pendiam, yang suka kasih kritik dan saran, yang slow but sure, yang suka menertawai dan dtertawai, yang ramah, dan yang aneh, haha.. Meski saya tidak banyak omong dalam kegiatan ini, bukan berarti saya nggak turut andil lho. Rasanya kalau sudah ketemu banyak orang, saya jadi pendiam dan jadi pengamat😀

Nah, nggak hanya teman dari beragam karakter saja yang saya temui. Para panitia dan pembicara yang saya temui pun hebat-hebat! Mereka bekerja dan berbicara untuk kami, para delegasi. Contohnya saja panitia PMI yang dari pagi sampai malam pontang-panting ngurusin 30 pemuda yang banyak cakap ini, kemudian dipastikan mereka lembur dalam menyelesaikan tugas yang belum terurus. Di sisi lain Iman juga pernah bilang satu bulan sebelum acar dimulai, dana belum ada. And guess what? Acara ini tetap berjalan lancar meski dana berada di ujung permulaan acara, hehe.. They work hard😀 Sebagian panitia juga enak diajak ngobrol, seperti Berdi, Kiki, dan satu lagi mbak yang nyemangatin saya supaya cepet menyelesaikan skripsi (alahhh, haha..), saya lupa namanya siapa, yang jelas beliau rambut panjangnya berombak gitu. Kerja keras mereka terlihat dari kesempurnaan acara yang dari hari ke hari menyuguhkan tampilan menarik dan dikemas agar kami nggak kelimpungan.

Selain panitia, pembicara pun nggak kalah mengagumkan! Saya bisa ketemu langsung Pak Irman Gusman, Pak Anies Baswedan, Pak Joko Widodo, Kak Cea, Mas Leo, Mbak Ayu, Marshanda, Dik Doank, dan lainnya. They are inspiring, they are awesome, and they make me believe that Indonesia still has many heroes to give positive contribution for its country! Saya berandai-andai kalau saja Pak Anies Baswedan dan Pak Joko Widodo bisa disulap ke Jambi, atau mereka punya duplikatnya, alangkah indahnya negeri sepucuk nipah serumpun nibung itu ^_^ Atau semakin banyak pemuda yang berkontribusi bagi daerahnya seperti Kak Cea, Mbak Ayu, dan lainnya, maka makmurlah masyarakatnya! Oh well, yang jelas konferensi Meet the Leaders 29 Januari bikin semangat saya tumbuh lagi.

PMI juga memberi banyak kenangan bagi saya. Pertama saya diwawancarai oleh DAAI TV, dimana pak Hong Tjhin bertanya soal komunitas saya dan teman-teman gawangi di Jambi, yakni Sahabat Ilmu Jambi. Thanks to Iman for the chance, saya bisa memperkenalkan SIJ lebih luas. Sebenarnya nggak nyangka kenapa komunitas tersebut yang dipilih, dan saya rasa masih banyak komunitas atau proyek teman-teman PMI lainyang lebih bagus, tapi tangan Tuhan berkata lain. Saat wawancara saya ditanya banyak hal soal SIJ, mereka pun direncakan akan ke Jambi untuk mengambil gambar. Satu hal yang membuat saya agak riweh adalah dimake up! Rasanya udah berapa tahun gitu nggak dimake up, eh tahunya pas wawancara malah dimake up.😀

Ow ya pengalaman mengesankan kedua adalah saya bisa ketemu orang-orang yang sudah lama saya kenal via social media. Kak Cea contohnya, saya kenal beliau nggak sengaja, entah karena ngeadd kak Cea dari Gracia Paramitha, atau siapa yang ngeadd duluan saya udah lupa, hehe. Yang jelas tahun 2010 kalau nggak salah saya kenal kak Cea, kemudian berlanjut ke twitter, dan sempat banyak tanya soal KOPHI, eh nggak tahunya ketemu di PMI ketika beliau jd pembicara😀 Ada juga si Angga, moderator di acara PMI, anak asli Kerinci Jambi ini bikin saya bangga bahwa dia bisa sejajar dengan teman-teman yang hebat di atas panggung. Saya mengenal Angga juga dari twitter dan nggak sengaja, hehe. We meet then finally! Nah, pertemuan yang nggak disangka itu terjadi pada saya dan sepupu, Tian. Ternyata Tian tahu saya ikut PMI dari facebook, kemudian ia memutuskan ikut seminar dimana saya dan teman-teman juga nimbrung di dalamnya. Tiba-tiba sebelum saya wawancara itu, ada cowok manggil Kak Bella, dan ketika menoleh Tian! Haha, antara shock dan nggak percaya kenapa bisa ketemu sepupu yang udah lama nggak ketemu di RRI. Meski nggak bisa ngobrol lama, rasanya PMI memberi saya keajaiban kala itu ^_^

Hari-hari selanjutnya diisi dengan sidang. Yup, sidang layaknya anggota DPR gitu, bikin otak saya panas sekaligus menegangkan. Ternyata merumuskan masalah dan mencari solusi yang dilakukan para anggota DPR itu nggak semulus dan semudah yang dikira. Kami saja yang diberikan tiga tema (pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup) harus membuatnya dalam tiga hari berturut-turut, non stop pula, phiuhh! Dalam tiga hari itu kami seperti anggota DPR beneran, saling kritik dan kasih saran, tanya jawab yang menegangkan, dan sejuta perasaan yang harus dibendung ketika rekomendasi yang dibuat nggak masuk dalam persetujuan. Ini pelajaran berharga selama sidang: lapang dada saat rekomendasi nggak banyak disetujui orang dan menghormati orang lain ketika berbicara. Pelajaran penting tersebut akan saya ingat sepanjang hidup. Betapa banyaknya kepala dengan segudang ide brilian siap dituangkan dalam satu kertas, namun hanya beberapa yang diambil, kita pun harus bijaksana dalam mengambil sikap. Untungnya nggak ada peserta yang saling menghujat tuh, mereka bekerja dengan hormat dan sopan. Senangnya kalau ingat sikap pemuda Indonesia seperti ini :’)

Selain sidang, kami juga diberikan materi di setiap malamnya. Dari berbagai orang penting itulah saya belajar. Bagaimana membangun karakter, membangun komunitas, membuat orang tertarik dengan apa yang dipresentasikan, menciptakan suasana nyaman antar anggota, berdiskusi, dan bertanya secara lugas. Pembicara tiap malam ini berbeda-beda, Mbak Dyah dari McKinsey, Mas Agni dari Ashoka Young Changemakers, Mas Arief Aziz dari TedX Jakarta, serta Iman dan Afu dari IFL. Totally, presentasi yang mereka bawakan membuka cakrawal saya. Dari yang nggak tahu menjadi tahu. Ilmu itu benar-benar nggak sebatas bangku kuliah saja lho, ilmu bisa didapatkan dari mereka baik yang sudah dewasa ataupun masih muda.

Di hari terakhir PMI, kami membawa rekomendasi dari tiga tema yang telah dirumuskan beberapa hari sebelumnya. Kami bersama-sama ke Kementrian Pemuda dan Olahraga, lalu dilanjutkan ke DPD RI Kementrian Pendidikan dan Budaya Nasional, Kementrian kesehatan, dan Kementrian Lingkungan Hidup. Parahnya ketika hari terakhir ini, saya dan teman sekamar malah telat bangun! Haha..alhasil nebeng mobilnya Maulana untuk mengejar peserta lain yang sudah sampai di kemenpora😀 Ow ya saya sendiri kebagian berkunjung ke Kemendiknas, karena saya memilih kementrian ini yang sesuai dengan passion saya di bidang pendidikan. Ingin sekali suatu saat bisa jadi Menteri Pendidikan, pengin menyejahterakan semua anak Indonesia dari pendidikannya. I wish, I can make it happen insyaallah ^_^

At the night, peserta PMI berbondong-bondong ke Nasi Goreng Kemang, tempat paling hip buat anak gahol Jakarta gitu deh.😀 Lebih kerennya, kami para peserta memakai pakaian adat masing-masing daerah. Bisa dibayangin datang ke Kemang pakai pakaian adat gitu? Tapi kita tetep PD dong! Kami hampir semua memakai pakaian daerah, meski ada juga yang memakai batik resmi. Saya sendiri memakai pakaian yang dibaluti kain batik Jambi, baju kurung, dan tengkuluk di atas kepala. Pakaian ini bikin saya bangga jadi pemuda Jambi, meski saya aslinya orang Palembang, hehe.. Malam itu bener-bener nggak akan dilupakan deh! Malam dimana kami senang bareng-bareng, banyak foto-foto dan makan-makan, serta joget bersama sebelum esok harinya kami balik ke daerah. Oh ya waktu joget bersama itu, teman-teman asli parah banget! Jogetnya ala alay-alay ada, yang nyanyi sambil teriak-teriak juga ada, yang diangkat badannya ke atas oleh teman-teman juga ada, dan lucunya si Iman tanpa malu-malu joget di tengah-tengah peserta😀 Nggak nyangka seorang Iman bisa total dalam hal ini ya? Hehe.. Sayangnya inisiatif Iman ini nggak diikuti oleh panitia lain, kalo panitia rame joget kan seru tuh, kolaborasi antara panitia dan peserta jadinya😀

Daaannnnn..tulisan ini sudah tiga halaman ditulis di layar laptop malam ini. Sepertinya kalo mo jujur sih bisa sampai 10 halaman, tapi yang sekiranya penting sih hanya tiga halaman lebih sedikit ini. Kenangan satu lagi yang nggak terlupakan adalah Sigit. Seorang cowok yang hadir di acara Meet the Leaders, yang membuat peserta semakin akrab dan kompak ketawa bareng gara-gara dia, haha.. I still can laugh by myself if I remember this😀 Saya berharap saya bisa bertemu dengan Sigit suatu saat nanti, dan bilang kepadanya bahwa dia lah yang membuat PMI berwarna. Karena kekonyolan dia yang memanggil Marshanda dan sok dekat dengan peserta PMI, kami tambah kompak. Thank Sigit, you are is our inspiration!

Kami, parlemen muda indonesia!

All in all, saya katakan pada Iman sewaktu acara penutupan di Nasgor Kemang dahulu bahwa saya nggak nyesal tiap kali ikut kegiatan nasional. Dan PMI benar-benar sukses bikin saya tersenyum malam itu. Nggak sia-sia selama ini meminta dukungan dengan orang-orang yang saya temui. Acara ini berjalan sukses, dan membekas paling baik di untuk saat ini. Terlepas dari segala omongan orang yang mencap bahwa ini tidak baik atau segalanya, Iman membuktikan bahwa PMI sangat berkesan di hati kami semua. Kami tidak peduli apa tanggapan orang lain, yang jelas setelah acara ini kami akan melanjutkan perjuangan di komunitas masing-masing, atau membentuk komunitas baru, dan bahkan membawa tiga rekomendasi yang telah dirumuskan tersebut ke pemerintah daerah. Dengan harapan tentunya suara pemuda ini benar-benar didengar. Nurani bangsa ini tercetus dari keanekaragaman peserta dan kesungguhan peserta untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Yup, because we are Indonesian youth, we are one, and we can make a change! “Parlemen Muda Indonesia, suara pemuda, nurani bangsa!” Sayup-sayup suara ini terngiang di kepala dalam ruangan kamar tidur di Bogor, 9-10 Februari 2012. ^_^ How I miss them so much!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s