Jambi Juga Punya Tari Topeng

Pernah dengar kata Tari Topeng? Provinsi mana yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar Tari Topeng? Well, Tari Topeng tidak hanya milik masyarakat Pulau Jawa saja, namun Jambi pun memiliki sejarah Tari Topeng yang masih kental nuansa tradisionalnya. Kisah Tari Topeng memiliki banyak perbedaan dari kisah yang ada di Jawa. Apa saja?

Saat saya mengikuti kegiatan Forum Indonesia Muda 11 Oktober lalu, disana muncul berbagai pertanyaan melingkupi Tari Topeng yang asalnya dari Jambi ini. Banyak yang mempertanyakan apakah ini asalnya juga dari masyarakat Pulau Jawa atau bagaimana. Ajeng, salah satu peserta FIM 11 yang juga seorang traditional dancer di daerahnya mengaku surprised mengetahui hal ini. Saya pun menceritakan kisah Tari Topeng kepada dia dan beberapa orang lainnya. Alhasil, info ini sudah menyebar ke beberapa kalangan, setidaknya ia tidak menetap di Jambi saja.

Alkisah hiduplah seorang pemuda yang tinggal di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muara Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Pemuda tersebut ternyata memiliki penyakit kusta yang dianggap penduduk setempat dapat menular. Gonjang ganjing berita tersebut membuatnya tidak tahan dan memilih untuk ngutan (masuk hutan) supaya mengasingkan diri dari penduduk. Ini dilakukannya bertahun-tahun. Hingga tiba ia merasa ingin keluar hutan, dan itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Pemuda tersebut pun menggunakan atribut yang tidak bisa dikenali penduduk. Ia memakai topeng yang terbuat dari labu dan ijuk, sedikit dihiasi dengan ornamen-ornamen seramy yang membuat anak kecil takut. Ia lalu keluar hutan dan berjalan memasuki Desa Muaro Jambi, tempat ia dulu pernah tinggal. Ketika memasuki kampungnya, anak-anak ternyata menyukai atraksi dirinya yang berlenggak lenggok layaknya penari sambil memakai topeng. Ia juga membawa bakul di pundaknya. Atraksi yang menyenangkan tersebut disukai masyarakat dan mereka pun memberikan makanan ke dalam bakulnya.

Kini, atraksi yang sudah ada sejak puluhan tahun itu menjadi seni tradisional yang menciptakan budaya sendiri pada masyarakat Muaro Jambi. Ketika jaman penjajahan, masyarakat Muaro Jambi pernah memperkenalkan atraksi tersebut di hadapan orang penjajah di Kota Jambi. Cerita yang dituturkan oleh Borju dan masyarakat setempat ini terus berkembang hingga ke ranah anak-anak. Pun ternyata anak-anak di desa tersebut kini dilibatkan dalam seni Tari Topeng itu. Mereka kerap diundang pada acara kesenian dan melakukan aktraksi setelah sholat Hari Raya Idul Fitri.

Borju mengatakan, Tari Topeng ini setidaknya mengajarkan dua hal. Pertama, diskriminasi terhadap orang yang menderita penyakit kusta atau penyakit lain tidak boleh diterapkan lagi. Kedua, semua manusia derajatnya sama di hadapan Yang Maha Kuasa, oleh sebab itu manusia tidak berhak menjudge seseorang buruk hanya dari tampang luarnya saja. Makna tersebut telah ia turunkan kepada siswa Sekolah Alam Raya dimana ia mengajar anak-anak. Menurut Borju, jika Tari Topeng bisa membumi  di Jambi, dia yakin anak-anak semakin mencintai seni peninggalan budaya Jambi.

Ketika penulis menjalani Kuliah Kerja Nyata di Desa Muaro Jambi, desa dimana Situs Percandian Muaro Jambi dan Tari Topeng berada, penulis melihat sendiri bahwa Borju tidak main-main mengatakan anak-anak disana semakin mencintai seni pertunjukan tradisional ini. Buktinya suatu kali Borju mengajak anak-anak untuk membuat topeng yang terbuat dari kardus bekas (aslinya terbuat dari labu) yang dililiti dengan ijuk dan diwarnai menggunakan spidol warna-warni agar terlihat seram. Jangan ditanya soal antusias anak-anaknya.

Mereka justru sangat bersemangat mengambil ijuk di pohon, lalu membuatnya di sekitar candi. Anak-anak ini tampaknya tidak mempedulikan ponsel BB yang sedang digandrungi oleh orang seusia mereka, atau sibuk dengan play station yang menjamur di kalangan anak-anak. Mereka justru sangat akrab dengan alam dan belajar dari alam. Penulis rasa di kota Jambi sendiri pasti sangat jarang menemukan anak-anak yang antusias sekali dengan budaya tradisional daerahnya.

Borju mengajarkan anak-anak Desa Muaro Jambi dalam membuat topeng🙂

Well, Tari Topeng milik kita semua, masyarakat Provinsi Jambi, bukan hanya masyarakat Desa Muaro Jambi saja. Sudah saatnya kita mengenal dan mengabarkan informasi ini kepada saudara, teman, atau mereka yang berada jauh dari Jambi agar mereka pun dapat berkunjung ke Jambi suatu saat nanti. Setidaknya inilah yang bisa saya dan kamu lakukan untuk mempromosikan wisata dan budaya Jambi, tanpa harus ikut kontes putri bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s