Desa Tantan Dengan Segala Ceritanya

Aku memandangi bekas luka di kaki kanan karena terkena jos motor malam ini. Ia lumayan agak mengering. Tidak seperti minggu lalu, saya masih kesakitan ketika luka itu terkena air atau kebanyakan tegak. Perih sekali rasanya, apalagi ketika salep bioplacenton mengenai luka itu. Ngomong-ngomong soal luka kena jos motor ini, ternyata saya dan mama memiliki persamaan. Hanya saja mama tidak mengetahui soal ini, sengaja saya rahasiakan. Bisa dipastikan kalau luka ini diketahui oleh mereka, saya bisa dianggap perempuan bodoh yang sangat aneh. Oh well, jadi begini ceritanya…

Semua ini berawal dari berita SMP/SMA Satu Atap di Desa Tantan, Sekernan, Sengeti. Sudah beberapa kali saya baca koran yang menyebutkan sekolah tersebut kekurangan guru PNS, selebihnya hanya ada guru honorer yang bekerja disana. Tahu tidak? Guru PNS disana hanya ada dua orang lho! Dan menurut berita di koran, guru-guru PNS yang awalnya mengajar disana meminta dipindahkan ke kabupaten saja. Sampai disini, saya bertanya-tanya. Apa yang membuat mereka pengin pindah tugas dan meninggalkan murid mereka?

Then, saya pun mengajak teman yang asli Muaro Jambi untuk mengantarkan saya ke sekolah tersebut. Berangkat dari rasa penasaran, melanconglah saya dan mbak Desi pada hari rabu minggu kemarin, 30 November 2011. Paginya semua berjalan baik, saya makan dan berangkat menuju rumah mbak Desi untuk menjemputnya. Perjalanan dimulai pukul 09.00 WIB. Saya tiba di rumah mbak Desi setengah jam setelahnya, itu pun akibat nyasar nggak keruan -____-  Kami melanjutkan perjalanan dengan motor Beat saya ke Sengeti. Kami pun diantar oleh Fitri ke tempat penyebrangan menggunakan ketek. Ya, motor dan kami harus diangkut dengan ketek guys, karena SMP/SMA tersebut berada di seberang.

Tik tik tik tik.. Hujan perlahan turun. Satu hal yang membuat keraguan timbul kala itu adalah, Fitri menceritakan kalau daerah Tantan di seberang yang mau kami lewati pastilah becek kalau hujan begini. Saya dilirik mbak Desi berkali-kali seolah mengatakan: “Bel, masih mo lanjut gak? Udah mo gerimis nih.” Dasanya saya yang penasaran dan nggak mau menyerah sebelum ketemu SMP/SMA-nya, saya pun memutuskan tetap berangkat. Fitri pun pasrah, mungkin karena saya tetap bersikukuh kali ya?

Akhirnya kami berangkat naik ketek dan menyeberang dari Sengeti dengan membayar Rp. 3.000. di tengah Sungai Batang Hari yang kuning itu, hujan glekkk.. Kami diselimuti basah hingga naik ke atas tanah di tepian Desa Rantau Majo. Ternyata orang yang punya ketek itu sudah mengingatkan kami untuk tidak ke Desa Tantan (Desa Tantan terletak sesudah Desa Rantau Majo) dulu, karena kondisi jalan sangat hancur dan pasti menyulitkan kami yang membawa motor matic. Tapi perjalanan sudah terlanjur setengah jalan, kami malah semakin maju.

Berulang kali saya berkata, “Kita bisa kok, Bel.” Ya, kalimat itu diharapkan manjur bagi kami ketika melihat jalanan yang super duper becek dan jelek selama hidup kami. Saya shock, jujur banget! Gimana enggak, sepedelaman saya tinggal di Nipah Panjang (tapi nggak begitu pedalaman sih), saya jarang menemui jalan becek dengan tanah bertampung air di dalamnya! Berulang lagi saya melantunkan kalimat, “Ya Allah, lancarkanlah perjalanan kami yang niatnya mulia ini.”

Kalian tahu? Hujan deras mengguyur kami selama perjalanan! Genangan air di jalan tanah membuat kami sulit melewatinya. Lagi-lagi saya menenangkan diri dalam hati, “Bella bisa nggak ya? Bella pasti bisa!” Ya, ketika saya bisa melewati medan terberat dengan infrastruktur parah ini, berarti saya sukses melewatinya! Namun sebuah keharusan bagi kami untuk mencari tempat berteduh setelah badan basah kuyup. Akhirnya mampirlah kami di pondok di tengah kebun sawit nan luas tersebut. Istirahat sejenak disana, setelah kecapean mendorong motor -___-

Beberapa menit kami nonggok di pondokan. Bercerita sedikit dan berfoto. Take video juga dilakukan layaknya berpetualang, haha.. Melakukan itu setidaknya membuat diri saya tenang melewati kondisi jalan. Akhirnya, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini kondisi jalan yang kami temui semakin parah guys! Genangan air semakin besar dan memuncratkan tanah becek itu ke baju saya dan mbak Desi. Beneran kotor deh saya waktu itu! Dari sepatu sampai baju kena tanah semua akibat hujan! Motor pun susah dilewati, dan kami terpaksa mendorong sambil jalan. Can you imagine?

Saya sempat pula memotret jalanan itu, berharap suatu saat kalau ketemu pejabat, saya bisa mengutarakan keluhan desa ini, yakni: INFRASTRUKTUR JALAN ASPAL BELUM ADA DAN SANGAT JELEK. Saya dan mbak Desi puna seperti habis tenaga. Tapi ketika ada jalan yang nggak begitu becek, saya lalu dibonceng mbak Desi. Namun di tengah jalan, ketika ban roda depan tidak mau bergerak, kami terjerambab. Posisi motor oleng ke kiri, mengakibatkan kaki saya sukses kena jos motor! Sumpah demi Allah yang memiliki alam raya ini, saya nggak pernah membayangkan sebelumnya bakal terkena jos motor sodara-sodara! Perihnya, sakitnya, dan takutnya saya melihat kulit melepuh kena panas merupakan ketakutan terbesar kala itu. Untungnya saja kejadian tersebut tepat berada di depan rumah yang sering dijadikan persinggahan bagi buruh sawit. Para laki-laki yang berjumlah tujuh orang itu kemudian menyuruh kami untuk beres-beres dulu. Istirahat disana, dan memberikan saya kuning telur yang dioleskan di kaki. Sekali lagi, ketika itu mengenai luka saya, “PERRIIIIIIIHHHHHH..” T_____T  Sempat saya nangis, saya jadi ngerasa bersalah dengan diri sendiri.

Laki-laki yang ada di camp tersebut sangat ramah dan baik. Kami beruntung di saat susah begini, pertolongan Tuhan masih berada di dekat kami. Akhirnya dengan langkah kaki tertatih, saya berjalan menuju sumur disana membereskan baju dan sepatu yang kotor. Setelah itu kami ngobrol cukup lama di camp tersebut dengan mereka. Ya, saya dan mbak Desi disarankan agar naik mobil saja ke Desa Tantan karena perjalanan memakai motor tidak memungkinkan bagi kami. Motor kami akan dibawa oleh dua pria yang kebetulan masyarakat disana. Dari ngobrol-ngobrol dengan mereka, saya jadi dapat informasi mengenai desa ini. Mereka sedikit curhat dengan kondisi jalan buruk yang ada di daerah mereka. Akses para guru untuk menempuh desa ini memang sulit karena jalan becek ketika hujan. Wajar saja hanya ada dua guru yang bertahan, pikir saya.

Ternyata dimana-mana masalah negeri ini tidak terlepas dari infrastruktur yang rusak dan nggak beres yang menyulitkan masyarakat daerah. Para lelaki ini juga menanyakan kami berasal dari mana dan apa tujuannya datang kemari. Saya pun menjelaskan panjang lebar, dan di benak mereka sedikit timbul kebahagiaan karena ada yang mau berkunjung melihat keadaan sekolah mereka. Well setelah agak lama menunggu mobil yang mengangkut kami datang ke camp, akhirnya mobil tersebut datang juga. Kami pun berpamitan dengan mereka, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga! Pertolongan mereka tentu akan dicatat Allah Swt :’)

Makin ke ujung jalanan ternyata makin parah. Untunglah kami naik mobil, sedangkan motor kami dibawa oleh dua penduduk dari camp menuju Desa Tantan. Tidak lama kemudian kami bertemu dengan guru SD ketika memasuki perkampungan. Saya lupa nama beliau, yang jelas ia laki-laki. Kami sedikit bercerita mengenai keadaan sekolah yang saya cari. Saya pun menanyakan apakah jam segini (waktu itu telah lewat jam 12) masih ada guru di sekolah, namun ternyata guru-guru dan murid sudah pulang. Wah, saya pikir, saya telat bertemu dengan mereka, padahal tujuan pertama adalah bertandang dan bertatap muka langsung.

Meski begitu kami setidaknya ingin melihat bentuk fisik gedung SMP/SMA Satu Atap itu. Akhirnya kami pamit dengan beliau. Kami mencari sekolah tersebut yang terletak pada pembelokan kanan jalan yang kami tempuh. Tidak lama setelahnya, kami menemui sebuah SD, yakni SD 155/IX Danau Saung. Kami juga bertemu dengan beberapa penduduk lokal, anak-anaknya, dan guru SD yang tinggal di komplek sekolah tersebut. Ternyata nih, SMP/SMA Satu Atap berada di belakang SD! Saya diberitahu oleh Pak Ib, guru bahasa Indonesia di SD tersebut. Sementara mbak Desi mau sholat Dzuhur, saya lantas melancong ke belakang. Saya melihat sendiri kondisi sekolah ini lho. Ternyata hanya ada beberapa ruang kelas untuk dua institusi yakni SMP dan SMA. Mereka satu atap, karena ya memang hanya ada sedikit bangunan untuk menampung murid. Saya melebarkan pandangan. Melihat kondisi lapangan yang becek. Saya pikir, bagaimana mereka mau olahraga kalau lapangannya becek?

Saya juga tertegun dengan sebuah kalimat yang ada pada luar kelas, berbunyi seperti ini: “Biar orang lebih pintar dari kita, yang penting kita harus lebih pintar dari yang kemarin.” Setelah puas mengabadikan apa yang saya lihat, saya pun beranjak pulang ke rumah bapak Ib. Disana beliau telah menunggu saya di teras rumahnya bersama anaknya. Beberapa cerita pun saya kumpulkan dari perbincangan singkat dengan bapak. Ia berujar, “Saya yang dulu mengusulkan membangun SMP/SMA Satu Atap ini. Awal berdirinya sangat miris, dek. Pertama kali membangunnya atap sekolah ini kena puting beliung, waktu itu memang belum dibangun dengan struktur bata. Disini hanya ada dua guru PN dan tujuh guru honorer. Mereka kadang tidak efektif belajar karena guru nggak datang,” paparnya.

Barulah saya mengerti dengan kondisi sekolah ini. Guru-guru itu mungkin tak kuat untuk berlama-lama mengajar disini karena akses yang sulit mereka tempuh untuk mencapai SMP/SMA Satu Atap. Kondisi ini berbanding terbalik dengan SD tempat pak Ib mengajar, justru di SD nya banyak guru mengajar. “Anak-anak disini mau lah belajar. Dulu saya pernah menemui anak kelas IV SD belum bisa mengeja huruf, sekarang anak-anak disini sudah banyak dapat ilmu karena sudah ada PAUD di Desa Tantan,” papar pak Ib.

Setelah lama mengobrol dengan bapak yang sudah 11 tahun menetap di Desa Tantan, kami pun pamit pulang. Ia sempat menuturkan bahwa saya harus memikirkan beberapa kali sebelum hendak berniat mengajar disini. Ia miris melihat luka jos motor saya yang terbuka menganga itu. Di sisi lain ia sedikit bahagia ada dua mahasiswa yang mau berkunjung melihat sekolah di desanya. Ia pun sempat berpesan jika kami ingin mengajar di SMP/SMA Satu Atap, ada baiknya menghubungi kepala sekolahnya yang tinggal di Perum. Aur Duri. Well, kalimat terima kasih berulang kali kami haturkan kepada beliau, istri, dan kedua anaknya. Entah kapan kami pikir kesini lagi. Yang penting kami sudah menuntaskan hasrat melihat sekolah ini sudah lebih dari cukup, meski tidak bertemu dengan punggawa sekolah.

We have to continue our journey,itulah yang ada di benak saya. perjalanan pulang ini terasa agak lebih cepat karena kami disarankan melewati Selat, karena akses jalan kesana lebih cepat daripada lewat ke belakang yang kondisi jalannya pasti becek dan sepi. Ya, kami menurut anjuran pak Ib yang menyarankan kami lewat Selat saja. Meski itu membuat kami harus berputar balik lagi mengantar mbak Desi ke Sengeti, kami harus menjalaninya. Setidaknya kami bakal sering bertemu dengan orang di jalan, pikir kami.

Nah, kondisi jalan ternyata semakin parah dari jalan Desa pertama yang kami lewati. Lubang besar berada di depan kami. Kami berdua bingung. Mbak Desi membawa motor sambil terengah-engah, sedangkan saya berada di belakang turut mendorong motor. Saya makin tak percaya mampu melewati medan terberat seumur hidup ini. entah setan apa yang merasuki saya sehingga kami mau-mau saja melewati jalan ini. Akhirnya ketika di tengah jalan motor tidak bisa digerakkan karena banyak tanah di roda, kami dibantu oleh seorang bapak murah hati. Ya, lagi-lagi ketika masa sulit menimpa kami, pertolongan Allah Swt selalu menyertai. Tidak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti, dan berkali-kali pula ditolong oleh penduduk setempat. I thank you so much people :’) I never forget it..

Sungguh kala itu saya pantas menyebut diri ini super woman bersama mbak Desi. Kami mampu melewati jalan berliku tanpa berniat mundur ke belakang. Sungguh perjalanan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bekas luka jos motor yang menganga ini menjadi bukti bahwa saya pernah mengalam kejadian hebat di hidup ini. Ketika perlahan kami melewati jalan becek, akhirnya jalan beraspal nampak di mata kami. Sujud syukur dan ucapan terima kasih karena kami telah melewati jalan di Desa Tantan terungkap dengan jelas. Kami bagaikan berfatamorgana ketika tidak melihat jalan aspal. Kini setelah jalan aspal itu nyata di depan mata, kami bersorak senang. Seperti anak SD yang baru saja mendapat boneka sepertinya😀

Kami pun mampir di mesjid di Selat tersebut. Membersihkan motor dan diri masing-masing. Kami bergotong royong sama-sama. Yang tak pernah terpikirkan sebelumnya adalah, kami yang awalnya tidak terlalu dekat bisa jalan bersama-sama melewati rintangan terberat. Kami pun sempat tertawa bila mengingat perjalanan ini. Kami sama-sama berujar, “Pasti nggak ada yang nyangka kalau kita pernah melewati jalan sedahsyat itu.”

By the way guys, saya mungkin sedikit meyesal karena meniatkan diri ke Desa Tantan. Ini wajar saja bila mengingat luka jos motor mengenai kaki saya. Namun di sisi lain saya justru bersyukur telah melewati rintangan jalan terberat di hidup saya. Saya mengenal banyak orang baik disini, ramah, suka menolong, dan terbuka dengan pendatang. Desa Tantan mengajarkan saya untuk tetap semangat dan pantang menyerah melewati cobaan hidup sekalipun itu sangat berat. Saya seolah jadi perempuan tangguh yang siap ditempatkan di daerah terpencil. Ya, jika suatu saya hari saya ditempatkan untuk mengajar di daerah terpencil, setidaknya batin saya telah ditempa duluan di Desa Tantan ini, dan saya ikhlas karenanya. Menurut saya, mencerdaskan anak bangsa itu jangan hanya di kota saja, akan lebih bermakna jika kita mencerdaskan anak bangsa yang hidupnya jauh dari keadaan cukup, tidak punya pengetahuan lebih, dan terpencil dari kota. Honestly, I learn so much from this village. Terima kasih telah memberikan luka jos motor ini Tantan, :’) Setidaknya saya punya cerita kepada anak cucu kelak bagaimana seorang Bella Moulina dengan kegigihan dan kekukuhan hatinya mampu melewati ini semua.

See, beceknya jalan ini?😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s