Ketika Harus Bertanya

                Jika saya boleh bertanya, “Tuhan, sampai ke berapa usaha saya ini sampai pada waktunya?”

                Kalau saja saya boleh bertanya kepada mereka, “Dimana letak kekurangan saya kali ini?”

                Dan jika saya tahu apa jawabannya, saya pasti akan berusaha memperbaikinya.

 

Tuhan itu baik, saya percaya itu. Tuhan itu tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Ia memilih paling baik dari terbaik. Entah itu soal impian, kehidupan, cinta, dan sahabat. Kini ketika saya sadar pilihan dari Tuhan itu seketika hampir lenyap dari hidup saya, saya jadi bertanya: “Ada apa dengan diri saya, Tuhan? Mengapa dia pergi meninggalkan saya? Kenapa saya tidak lolos untuk kedua kalinya di program dan seleksi yang sama? Apa tujuh kali belum cukup? Atau kenapa sahabat mulai meninggalkan saya? Saya capek, boleh Tuhan?”

Perlahan-lahan semuanya hilang sesuai rencana saya. Bagi saya, keluarga ini satu-satunya tempat agar saya berdiri tegap, menatap hidup yang tak satupun diketahui bagaimana kedepannya. Bagi saya, keluarga menjadi sandaran ketika semuanya saya rasa terasa letih, ketika tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan saya. Impian saya, harapan saya, dan cinta saya.

Mama pun berujar, “Mungkin karena fisik Bella lemah, jadi nggak lolos.” Atau celotehan papa yang bilang, “Tukar bae lah orang dari luar tinggal di rumah kito, Bella tinggal di luar.” Atau kata si adik Rikky, “Alhamdulillah Tuhan pasti punya rencana lain karena Tuhan memberikan yang kita butuh, bukan yang kita ingin.” Dan juga kata Irna, “I believe there will be another chance sista.”

Saya rapuh, bisa jadi. Saya bingung, pasti iya. Entah apalagi yang membuat itu tidak lolos seleksi bahan kedua kalinya? Entah apalagi yang direncakan Tuhan untuk jodoh saya kelak? Entah tipe sahabat seperti apa pula yang diberikan Tuhan dalam waktu dekat? Saya harus kemana mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di benak ini? Mengertikah mereka? Tuhan, mengertikah Kau pada hambamu yang lemah ini?

Berusaha untuk tetap tersenyum adalah Bella Moulina. Saya selalu berdoa yang terbaik kepada mereka yang meninggalkan saya dan kepada mereka yang lolos. Saya berharap mereka mampu memberikan yang terbaik bagi hidupnya. Berbahagia karena hidup mereka bahagia, itu yang membuat saya bisa tersenyum sampai sekarang. Berbahagia ketika orang itu meninggalkan saya tanpa tahu apa maksud dari semuanya. Berbahagia ketika mereka bisa lebih sukses dari saya. Itulah saya, yang selalu mendoakan kebaikan mereka, kalian, dan kamu, dimanapun berada.

Tuhan, harus sampai kapan saya mempertanyakan itu dan menemui jawabannya? Yang kemudian saya lakukan, apakah memusnahkan impian dan harapan itu? Tapi saya sadar, saya hidup sekarang harus memanfaatkan apa yang saya sukai, yang saya bangun, meski tanpa harus lolos. Saya yakin jika masih diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan, saya akan lebih banyak berbuat. Saya tidak menyerah Tuhan, saya akan tetap semangat. Masih ada satu jalan lain, semoga itu Engkau kabulkan untuk saya. Semoga. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s