Rindu Menjadi Guru, Rindu Berada di 3H

“Menjadi Guru Untuk Muridku”

Malam ini saya membaca buku karangan St. Kartono tersebut. Buku ini sebenarnya saya beli sejak 1 Agustus lalu, namun baru terbaca sekarang, karena masih menunggu antrian bacaan yang wajib dibaca :D  Membaca buku ini membuat saya mengenang kembali masa-masa PPL di SMP N 14 Jambi. Waktu itu sudah kewajiban bagi mahasiswa semester 7 untuk mengikuti PPL di sekolah-sekolah. Saya yang sudah lama tidak bersentuhan dengan anak murid pun sontak senang bisa mengajar kembali. Mengajarnya pun di institusi formal, jadi pasti lebih menantang, pikir saya.

Buku Menjadi Guru Untuk Muridku ini merupakan refleksi bagi saya dan teman-teman mahasiswa calon guru yang wajib dibaca. Kenapa? Buku ini bukan soal menjadi guru yang profesional, guru yang disenangi, dan guru berprestasi, tapi ia memantapkan hati dari sekecil cerita yang terjadi di kehidupan guru. Saya meyakini bahwa cerita di buku ini benar-benar terjadi di kehidupan nyata seorang guru, karena saya melihat, merasakan, dan mengalaminya sendiri. Praktis ketika saya membaca bagian tulisan berupa guru yang menginspirasi siswa, saya jadi kangen anak-anak murid yang hebat di kelas 3H! Hey guys, how’s your life now? ^_^

Well, I want to tell a story about this class, my students in this class of course. Pertama kalai masuk kelas ini saya langsung ingat dengan namanya 3H. Terlalu riskan jika dibandingkan dengan 3A. Pun ketika ada suara sumbang yang mengatakan bahwa kelas ini sangat hiperaktif, saya nggak mengacuhkannya. Toh semua anak istimewa, pikir saya. Mereka pasti cerdas!

Awalnya mengajar di 3H membuat saya senang, kemudian menantang. Senang karena kelas ini sangat variatif. Dari yang hobi ngomong, musik, kinestetiknya bergerak, pendiam, hiperaktif, menulis, suka foto, dan lainnya. I think they have their own uniqueness. Maka dari itu saya tidak pernah menganggap semua anak di kelas ini nakal atau bandel, karena mereka punya kelebihan masing-masing dan kecerdasan yang tentu berbeda. Lalu ada suatu saat dimana saya semakin bingung menghadapi mereka. Saya pun berusaha keras untuk tetap tersenyum meski keadaan kelas ribut dan tidak bisa dikendalikan. Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum dan menegur mereka dengan kata-kata penyemangat.

Akhirnya saya mengatakan kelas ini sangat menantang! Kalau mengajar di kelas unggul mungkin tidak menemukan anak-anak yang hiperaktif, malah guru bakal senang karena siswanya diam dan memperhatikan semua! Then, I realized that they were excellent! Saya menganggap kehiperaktifan mereka tersebut dengan cara mengimbangi mereka, lebih hiperaktif, lebih dekat dengan mereka, dan lebih lainnya. Bagi saya, si anak nakal bukanlah nakal seterusnya. Anak ini pasti punya kecerdasan yang harus dioptimalkan. So that, di setiap pertemuan di depan kelas, saya selalu mengatakan ini dalam hati: “Kalian semua cerdas dengan keunikan kalian masing-masing.”

Saya tidak pernah sekalipun menganggap mereka anugrah terburuk di penghujung kelas dari urutan A. Sekalipun tidak pernah! Saya hanya tersenyum jika mendengar omongan teman yang bilang kalau kelas ini bla bla bla. Sembari di dasar lubuk hati saya mengatakan: “Kita harus lebih sabar jadi guru, mereka semua cerdas-cerdas kok.” Murid yang cerdas bagi saya bukanlah murid yang selalu dapat nilai bagus pada mata pelajaran saja. Murid yang baik bukanlah murid yang selalu mengikuti apa kata gurunya. Bagi saya, murid terbaik adalah mereka yang mau mengeksplor kecerdasan yang mereka miliki dan mau berinteraksi dengan gurunya, memberi kritik dan saran terhadap pengajaran sang guru, dan suka bertanya.

Waktu mengajar disana berlangsung selama satu semester. Pahit manisnya mengajar tentu saya alami, saya tidak menampik hal tersebut. Toh di kepala saya yang selalu terngiang adalah mereka baik kepada saya. Tak pernah terlintas sedikitpun di kepala saya bahwa mereka dulu pernah menyueki saat belajar, pernah nggak sopan, dan pernah pernah lainnya.  Mengajar kelas 3H bagi saya merupakan anugrah tersendiri. Saya ketemu dengan anak didik yang mampu membuat saya menjadi guru yang lebih baik, murah senyum, dan selalu ramah kepada mereka.

Ketika waktu PPL menjelang usai, saya meminta satu hal kepada mereka. Saya ingin mereka menuliskan kesan-kesannya diajar dan dididik oleh saya. Meski tak semua menuliskannya, saya mengerti kondisi mereka. Mungkin saat itu mereka tidak mood menulis atau memang tidak hobi menulis barang satu kalimat pun. Komentar mereka tersebut masih tersimpan hingga kini, ada  sekitar 20 siswa yang memberikan kritik dan sarannya bagi pengajaran saya selama ini. Ini saya lakukan bukan untuk bernarsis ria, tapi saya sadar saya masih banyak kurang dalam mengajar mereka. Saya tahu orang terbaik yang melihat seorang guru setiap harinya adalah murid itu sendiri. Dia dapat menilai apa kelebihan dan kekurangan gurunya. Inilah yang bikin saya bersemangat meminta mereka untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan saya dalam mengajar mereka.

Kedua puluh komentar ini masih tersimpan rapi lho ^_^ Tulisan mereka menginspirasi saya untuk jadi guru yang lebih baik. Semua kritik saya anggap sebagai pompa hidup untuk menjadi guru di mata muridku. Beberapa kritik mereka seperti saya suka marah, suka nyubit, sering kasih ujian dadakan, nggak sabar, belajar terlalu serius, dan selalu on time masuk kelas, membuat saya termotivasi supaya hal-hal tersebut dapat dikurangi. Kecuali untuk on time, saya pasti selalu membawa hal ini ke hadapan mereka. Saya ingin membuat mereka mampu menghargai waktu, tidak ngaret dan tepat waktu. Bukankah perilaku displin dibentuk sejak dini, guys? ^_^

Ada pula yang mengomentari saya dengan penjelasan mudah dimengerti, tegas, murah senyum, kalau nyubit pakai perasaan nggak kayak guru lain, baik, perhatian, ramah, dan bahkan ada satu kalimat yang mengatakan: “Karena miss saya bisa bahasa Inggris, meskipun masih macet-macet.” Saya harap ungkapan kedua hal tersebut, negatif dan positif adalah ungkapan tulus mereka yang tidak dilabeli terpaksa menulis. Saya sungguh terharu jika siswa saya mampu berhasil dan menemukan kecerdasannya,, serta lebih hebat dari saya! Saya bangga ketika mereka mengkritik saya, karena seyogyanya memang interaksi dua arah harus selalu dilaksanakan untuk mengambil yang baik dan membuang yang buruk.

Apapun profesi dan hobi yang saya jalani saat ini, kelak saya akan kembali pada cita-cita saya sejak SD: GURU. Meski saya sekarang seorang wartawan, suka jalan-jalan keliling daerah di Indonesia, suka nulis di blog, suka hal berbau volunteerism, pecinta lingkungan, dan kepemudaan, tapi suatu saat saya akan menggapai cita-cita saya sebagai guru di daerah terpencil atau dimanapun ditempatkan. Kecintaan saya untuk menginspirasi siswa agar menjadi generasi penerus bangsa adalah hal yang tidak dapat digantikan oleh uang. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, saya akan mengajak murid untuk hobi baca dan nulis, mengenal dan mencintai Indonesia, memiliki jiwa sosial dan semangat nasionalisme, peduli lingkungan, dan mengembangkan bakat sesuai kecerdasan masing-masing. Itu akan saya tumbuhkan bagi kalian, Nak! Ibu guru akan berjumpa lagi dengan kalian,  dimana saat itu kalian pasti sudah jadi orang hebat dan membanggakan Indonesia!

Murid saya di kelas 3H saat hari terakhir mengajar mereka,murid sama seperti guru: hobi berfoto!😀

Anyway, thank you for the chance for me, my students in 3H class. Kalian membuat saya yakin bahwa tidak ada anak nakal di dunia ini! Kalian membuat saya belajar sabar bahwa siswa itu tidak selalu diam dan menuruti kata siswa. Kalian membuat saya mampu menyadari kelebihan dan kekurangan sebagai tolak ukur menjadi guru terbaik di mata kalian. Ibu guru hanya bisa bisa mendoakan kesuksesan dan keberhasilan kalian di masa depan. Doa tulus untuk kalian yang mampu membahagiakan keluarga dan Indonesia. Saya bangga menjadi guru untuk kalian :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s