Lukisan Forum Indonesia Muda Serupa Harapan Untuk Indonesia

Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Saat itu saya lagi deg-degan menunggu kiriman surat rekomendasi dari Mbak Indri, panitia dari petualang Aku Cinta Indonesia 2010 Detikcom, untuk dikirim ke Forum Indonesia Muda. Tak dinyana surat rekomendasi itu pun tak kunjung saya terima saat jam sudah lewat dari 11 malam. Maka tak ada cara lain selain melewatkan surat tersebut, dan mulai mengklik forumindonesiamuda.org, serta menulis aplikasi di website tersebut. Saya pikir, saya masih punya dua surat rekomendasi, dari Sahabat Lingkungan WALHI Jambi dan Care Environmental Organization Semarang. Dengan tekad kuat saya klik website tersebut, saya tulis, dan saya kirim di malam terakhir penutupan pengiriman aplikasi. Alhamdulillah, sennnnttttttt…

Selang beberapa hari selanjutnya saya dikabarkan oleh seorang teman yang juga panitia FIM 11, Tika, bahwa surat rekomendasi saya nggak masuk. Bleg! Saya tersadar bahwa ketika mengirimkan aplikasi kemarin, proses pengiriman surat rekomendasi agak lama dan saya jadi ragu apakah itu tersampaikan atau tidak. Ternyata itu memang benar, untung saja teman saya tersebut meminta saya untuk mengirim ulang surat rekomendasi, kalau tidak tamatlah saya.

Sejak hari itu saya demikian pasrah sepasrah-pasrahnya. Saya sadar kapasitas sebagai anak daerah Jambi yang belum begitu dikenal membuat saya tidak punya harapan. I just send the application. Itu saja. Sedikit berharap lolos, namun nothing to lose. Saya pikir saya sudah sering gagal di kancah nasional, jadi kalau pun tidak diterima sebagai peserta FIM 11, saya maklum saja. Tapi, beberapa teman di Facebook menyemangati saya, mereka yakin saya lolos, sedang saya bingung. Malam itu ketika pengumuman 135 peserta akan lolos keesokan harinya, saya hanya berharap tunjukkan yang terbaik untuk saya ya Allah.

10 Oktober 2011. Pagi harinya saya membuka Facebook, kebetulan memang jadwal pagi selalu buka akun ini J Tidak lama setelah itu muncullah postingan dari Adit, teman CEO yang kuliah di Undip. Dia bilang kalau saya dan Wayan, anak CEO, lulus menjadi peserta Forum Indonesia Muda 11! Suatu hal yang patut saya syukuri di hari senin kala itu. I can’t believe that. Untuk kedua kalinya lolos di tingkat nasional bikin saya nggak percaya. Apa yang mereka lihat dari seorang Bella Moulina yang tidak ada apa-apanya ini. Di sisi hati saya yang lain, Allah SWT ternyata membukakan saya jalan untuk bertemu dengan pemuda hebat dan keluar dari Jambi lagi.

Guys, 22-28 Oktober itu bukanlah waktu yang singkat. Leadership Lifeskill Training yang berlangsung selama satu minggu itu bikin saya harus berpikir bagaimana mencari dan menulis berita selama dua minggu ke depan. Selain itu, saya harus meninggalkan skripsi tercinta yang saya kerjakan. Pun harus absen dari Sahabat Ilmu Jambi yang setiap sabtu datang ke panti. Terlebih lagi meninggalkan orang-orang terdekat dalam waktu satu minggu lebih membuat saya harus berpikir keras bahwa saya bisa dapat izin untuk mengikuti FIM 11. Finally, I got it. Semua berjalan mulus, lancar, hingga tibalah hari jum’at, 21 Oktober, saya terbang bersama burung besi ke Jakarta. Jekarda, akhirnya memelukmu lagi setelah dua bulan absen😀

Soekarno-Hatta tak banyak berubah. Setelah 1 jam kurang berada di dalam pesawat, saya sampai di Jekardah! *gayabule* Ia selalu setia 24 jam melayani pelancong yang datang dari berbagai wilayah manapun. Lapangannya yang luas dan bertaburan aneka jenis pesawat di halaman kedatangan pesawat . Mata saya kemudian tertuju pada jenis pesawat yang saya terka adalah pesawat luar negeri. Entah berapa kali saya memanjatkan doa untuk terbang bersama pesawat luar negeri, namun belum kesampaian juga. Saya tersenyum melihatnya dan pandangan pun tergerus pada warni-warni malam hari di Jawa. Indah sekali. Sungguh awal cerita yang baik pikir saya.

Disana saya sengaja dijemput oleh oom dan tante dari Bogor, plus bertemu dengan tujuh anak muda yang masih berstatus mahasiswa di Unand dan Unsyiah. Saya yang notabene sendirian dari Jambi tak ayal memang harus sedemikian dekatnya memperkenalkan diri sebagai: “Saya Bella Moulina, dari Universitas Jambi. Saya sendiri nih, kalian banyak ya? Eh, namanya siapa?” Begitulah awal perkenalan saya dengan Vivi, Dina, Eep, Syukur, Hendriko, Taufik, dan Iskandar. Kami pun memutuskan berangkat dengan Damri malam itu juga. Di tengah perjalanan sejenak melepaskan pandangan seluas-luasnya dengan semerbak kerlap kerlip cahaya ibu kota. Saya pikir keindahan ini suatu saat pasti akan musnah karenaNya, tapi semoga saja Tuhan masih sayang dengan bumi, jadi Ia memberi waktu yang lama untuk kami generasi selanjutnya dapat menikmati keindahan ibu kota di malam hari.

Rasa kantuk mulai menerpa kami. Selebihnya oom dan tante saya asyik mengajak ngobrol dengan tema-tema yang membuat saya terpesona. Perjalanan yang lambat itu pun tak terasa bikin saya mengantuk. Ya, meski orang lain mengantuk, saya tidak mengatupkan kelopak mata sedikit pun. Saya masih asyik bercerita dengan tante. Hingga akhirnya bus Damri berganti mobil angkot di terminal Kampung Rambutan, secepat itulah saya dan teman-teman beranjak dari kursi kenyamanan penuh AC dan bergegas membawa barang-barang. Berpindah tempat. Itulah yang kami lakukan. Lalu kami menyewa mobil angkot yang sebelumnya telah disepakati harganya oleh tante  saya. Mobil angkot itu lah yang mengantarkan kami sampai di tempat pelatihan, dimana dalam seminggu saya tidak menyangka akan bertemu dengan orang-orang hebat se-Indonesia. Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur. Setelah berkeliling mencari wisma yang dimaksud, sampailah kami di depan wisma Ki Hajar Dewantara, disambut oleh mbak Riesni dan panitia cowok. Saya merasakan tubuh mulai lunglai. Di satu sisi saya senang, cerita akan dimulai besok Bella! Jadi persiapkan badanmu agar nggak tumbang besok! Senyum cerah terkembang di hati saya. Kemudian anak cewek masuk kamar bagian cewek, dan tarrrraaaa..sekelompok teman tengah berbaring di kasurnya, dan selebihnya lagi sedang asyik mengobrol di malam ini! Nggak lama kami datang, romobongan cewek dari provinsi lain pun hadir di tengah-tengah kami. Percakapan malam itu dimulai dengan: “Halo, saya (bla bla bla), dari (bla bla bla). Tidur aja di dekat kasurku, masih ada yang kosong kok.”

Malam itu saya tidur dengan gembira. Senyum selalu menghiasi wajah. Perasaan tak sabar menanti hari esok sebagai hari pertama pelatihan dan melihat wajah anak bangsa makin menjadi-jadi. Thanks God, you had sent me in this forum ^_^

Well, pagi harinya kami harus bangun pagi. Kekurangan kamar kecil untuk lebih dari 50 orang cewek membuat kami harus bangun pagi. Bangun dengan mata setengah melek, jam 5, dan mengantri di depan toilet membuat kami mau tidak mau memperkenalkan diri masing-masing dong? Sambil menunggu antrian mandi, sambil berkenalan. Muncullah kalimat seperti ini, “Oh ini yang namanya (bla bla bla).” Hingga akhirnya saya menemukan satu teman dari Jong Maluku, Tala. She is a member of Jong Maluku. Kami harus menemukan anggota lain, pikir kami waktu itu.

Siap? Pasti! Hari pertama harus dilewatkan dengan semangat 100% kan? Di hari sabtu saat orang lain asyik weekend, kami justru mendapatkan banyak teman baru dari penjuru Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Registrasi, berfoto, dan berkenalan adalah aktivitas pagi itu sebelum kami dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Kami juga mendapatkan kartu identitas dan sedikit kalimat misterius yang ditengarai adalah ciri-ciri sahabat dari 135 orang yang harus ditemui! Can you guess? Mencari orang dengan ciri-ciri kalimat yang tercantum itu sulit! Bayangkan harus mengeksplor anak-anak FIM 11 yang sebanyak 135 orang? Saya saja sempat bingung, siapa ya sahabat misterius ini? Meski beberapa hari tidak menemukannya, saya kemudian mengetahui siapa dia. Dia adalah…Tika Pertiwi.

Guys, we don’t have much time to wait. Kami segera menyemut di bagian depan pintu ruangan untuk dipanggil oleh panitia FIM 11. Aba-aba pun dimulai, pintu terbuka, dan kami seperti kesurupan masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan yang cukup besar menampung kami, disemarakkan oleh tepuk tangan yang riuh rendah dari panitia yang menyambut 135 peserta FIM 11. Alunan musik yang cukup ngebeat pun menyambut kami. Saya terhipnotis. Memasuki ruangan dan melihat sekeliling saya, mereka orang baru di hidup saya selama seminggu ke depan. I can’t belive this. I can’t believe I’m here. I can’t believe I meet them. It was nice moment. Cara menyambut peserta yang sangat baik, pikir saya kala itu.

Anyway, setelah tepuk tangan itu, kami disambut dengan kalimat: “Forum Indonesia Muda, Aku Untuk Bangsaku!” Ya Tuhan, ini kalimat ngena’ banget, pikir saya. FIM 11 paling oke deh kalau bikin kalimat penyemangat. Saya yang awalnya minder berada di tengah-tengah peserta, akhirnya turut cair dan mulai bercengkrama. Sambil duo MC memperkenalkan FIM dan pembicara, saya semakin penasaran, apalagi yang kami dapatkan setelah ini?

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya akan bertemu langsung dengan orang-orang hebat di sekitar saya, di depan saya, dan berbicara di hadapan saya. Mulai dari inisiator, panitia, peserta, dan pembicara! They have a great work! Saya makin minder tatkala mereka berbicara, bertanya, dan berdebat. Dalam hati jadi mikir, kenapa saya bisa ada disini? Saya mati kutu. Minder. Diam. Hanya menjadi pengamat.

Pak Elmir, bunda Tatty, dan sederet pembicara dari hari pertama sampai terakhir seperti: Donny, Buchori Nasution, Amien Rais, Taufik Ismail, Faisal Basri, M. Iman Usman, Leon Kamilius, Deny, Mirza, Roby Muhamad, Arif Munandar, Reza Pahlevi, bunda Masnah, Azimah, dan Hotman Z Arifien, mewarnai pikiran saya dengan ilmu dan pandangan yang membuat saya tercengang: KALAU SAYA HANYA MENGGERUTU DAN DEMO SAJA, LALU MANA AKTUALISASI NYATANYA? KENAPA HANYA BERBICARA? KENAPA TIDAK BERTINDAK MEMBERIKAN KONTRIBUSI NYATA UNTUK INDONESIA? Kira-kira itulah yang saya dapat dari FIM 11 ini. Ternyata pelatihan ini membuat saya berpikir Indonesia membutuhkan kami. Indonesia needs youth to empower and to improve this nation to become better.

Dari semua pembicara itu, mereka membuat saya menyadari bahwa start small itu berharga sekali. Saya mendapat cerita dari Pak Houtman Z Arifin yang memulai pekerjaannya sebagai Office Boy kemudian merangkak naik hingga menjadi vice president di City Bank untuk wilayah Asia Pasifik. Adapula cerita dari Pak Taufik Ismail yang menceritakan bahwa sahabatnya, Pak Karim, pernah hidup bertahun-tahun di desa Wai Mentel, Pulau Seram, untuk membina masyarakat tersebut berkembang di sektor pertanian. Dan Pak Karim berhasil membuat salah satu anak desa tersebut bisa keluar dari desa untuk melanjutkan kuliah, dan itu pertama kalinya bagi penduduk disana! Sampai disini saya terharu. Menitikkan air mata adalah pilihan yang tak bisa saya sangkal.

Saya ingat betul ketika M. Iman Usman dan Leon Kamilius bercerita soal kegiatan sosial mereka. Iman yang sukses dengan Indonesian Future Leaders-nya dan Leon Kamilius yang sukses dengan Koperasi Kasih Indonesia. Mereka adalah dua pemuda yang melakukan tindakan nyata bagi perubahan Indonesia. Bertemu Iman untuk pertama kalinya membuat saya gerah, anak ini baru 19 tahun tapi sudah memberikan kontribusi positif bagi Indonesia. Dia ingin melahirkan pemimpin bangsa yang mampu mengatasi permasalahan di Indonesia lewat IFL. Saya sendiri yang berumur 21 tahun saja belum terlalu banyak berkontribusi. -___- Di sisi lain, Leon Kamilius justru membangun social business berupa Koperasi Kasih Indonesia yang memberikan pinjaman modal membangun usaha bagi keluarga tidak mampu.

Belum lagi saya sedikit terpesona oleh senyuman Reza Pahlevi, Presiden BEM IPB (anyone here?). Ia berduet dengan Pak Arief Munandar yang presentasinya membuat darah saya membuncah, Indonesia ini maunya apa? Mereka berdua kontras sekali. Yang satu pembawaannya berapi-api, dan satunya lagi kalem. Haha, sampai saat ini saya masih tak percaya bahwa panitia FIM 11 mampu menyandingkan mereka. Dan ini terlihat sangat istimewa di mata saya. Setiap Reza tersenyum, entah kenapa dia melihat saya. Nggak mau GR sih, apa mungkin karena saya duduk di depan dan saya antusias dengan presentasinya, saya jadi keki, haha.. Tapi tak apalah, dia contoh presiden BEM yang memberikan aksi nyata bagi masyarakat Bogor. Dalam waktu dekat mereka akan menurunkan 1000 mahasiswa IPB untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat. Dan saya rasa Unja bisa seperti ini (kalau mau).

Guys, menurut saya puncak dari segala pembicara adalah Pak Hotman Z Arifien. Beliau lah yang dengan sukses membuat saya menangis ketika mendengarkan presentasi! Nggak bisa dibayangkan deh wajah saya yang nangis tatkala mendengar kisah sedih Pak Houtman. Saya terharu, termotivasi, tergerak, dan hanyut dalam pembicaraan sore itu. Saya melirik teman di samping, mereka mulai sesenggukan. Dan bukan tanpa komando siapapun, saya melanjutkan tangisan teman di samping saya. Sontak, cewek dan cowok di dalam ruangan sore itu menangis koor. Pak Houtman benar-benar membuka mata kami untuk bisa berkontribusi nyata bagi masyarakat, sekarang bukan zamannya lagi untuk sukses berbicara! Kalimat yang saya ingat dari beliau adalah: “I do really understand.”

Teman-teman seluruh Indonesia yang saya temui baik itu panitia atau peserta semuanya keren2! Saya nggak bisa mendekripsikan satu persatu saking uniknya mereka. Dari partai apapun ada, dari pikiran manapun ada, dari suku dan agama apapun ada! Semuanya menyatu di FIM 11. Panitia sungguh ekstra keras melaksanakan programm tahunan ini. terima kasih sudah memasukkan nama saya menjadi urutan ke 28 dalam daftar peserta FIM 11 J Senang bisa berkumpul bersama disini.

Bicara soal perserta berarti bicara soal keunikan mereka. Semua organisasi kampus maupun yang punya kegiatan sosial, seni, budaya, jalan-jalan, hingga sering mengikuti acara nasional dan internasional. Mereka membuka mata saya tentang keberanekaragaman manusia di Indonesia. Semuanya bersinergi membentuk suatu misi: INDONESIA ADA DI TANGAN PEMUDA, DAN KITALAH YANG BERJUANG UNTUK NEGERI INI. Hal terunik diantara kami adalah ketika bermain Maga-maga dan Banana Chicken Dancer. Asisisisimaga..magaaaaa..dengan goyangan badan Poundra yang bikin kami bergerak, plus open banana, open banana..oleh Afdhil yang bikin tangan lemah gemulai! Haha, saya selalu tertawa mengenangnya. Ini bikin saya semakin berkesan mengenal mereka, kawan ^_^

Kali ini saya ingin cerita soal bertanya. Adalah hal yang paling sulit ketika saya harus mengacungkan jari setinggi mungkin dan dilirik panitia. Bertanya adalah hal tersulit yang saya dapatkan di FIM 11. Kalau di kampus sendiri bisa diterka berapa yang mau bertanya ketika di kelas atau menghadiri seminar. Setidaknya di FIM 11 saya belajar bersabar untuk bertanya, hehe. Saya pertama kali diberi kesempatan bertanya saat bunda Tatty Elmir berbicara soal Mengenal Diri di suatu malam. Setelah itu kesempatan bertanya saya dapatkan ketika Pak Houtman Z Aifien presentasi. Saya bertanya kepada beliau apa buku favoritnya dan apa yang membuatnya bisa percaya bahwa ia bisa sampai saat ini? Tidak sia-sia saya mengacungkan jari di hari seminar terakhir, saya mendapatkan kesempatan itu ^_^

Ow ya, saya dan teman-teman Jong yang berada dalam wilayah Cimanggis  harus stay di penginapan karena kami harus melakukan observasi dan social project di Cimanggis, yang notabene dekat ama penginapan. Nggak seperti teman-teman jong yang mendapat wilayah Maleber, mereka harus stay di Puncak selama beberapa hari karena mereka harus observasi dan bikin social project disana. Meski awalnya sempat iri kenapa saya tidak berada disana, ternyata Cimanggis juga memberikan warna yang berbeda. Saya jadi tahu bahwa kesenian Tari Topeng asli Betawi itu sedikit hilang karena penarinya sudah wafat dan tidak ada yang meneruskan budaya tersebut. Di sisi lain, bangunan tinggi dan rendah tampak kontras sekali, seolah-olah menunjukkan yang kaya makin kaya dan miskin makin miskin. Saya juga mengunjungi lokasi syuting yang rumahnya didesain ala Betawi, melihat dari jarak jauh rumah Pak Habibie, dan jalan sepanjang 3 km kayak turis😀 It was nice moment, I think!

Malam terakhir di FIM 11 kami disuguhkan penampilan panitia dan beberapa peserta. Saya menyebutnya drama treatikal. Beberapa peserta FIM 11 ada yang membaca puisi, nyanyi, dan panitia lain menyughkan penampilan berbeda seperti orasi kepemudaan dan  permainan alat musik khas Indonesia. Malam itu kami masuk ke dalam ruangan yang hanya terang karena lilin. Suasana temaram. Hanya disinari lilin. Drama treatrikal itu membuat kami merenung, apa yang dapat kami mampu lakukan sepulangnya dari FIM 11 ini? Yang bukan hanya retorika wacana semata, tapi aksi nyata. Kami sedih dibuatnya,  penampilan malam itu tak pelak membuat saya dan teman-teman menangis lagi. Indonesia butuh kami, butuh pemuda Indonesia yang bisa mengubah negara ini lebih baik! Kalau bukan kami, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Esok harinya 135 peserta disuguhkan oleh penampilan panitia FIM 11 yang sudah menerbitkan buku, penampilan seni dari 135 peserta yang mewakili jong masing-masing,  dan tukar kado. Hari itu hari terakhir. Saya ingat betul bagaimana Jong Maluku dan Jong-jong lain berusaha semaksimal mungkin menyuguhkan penampilan seni yang khas. Saya sendiri nggak jadi bawa Tari Topeng khas Desa Muaro Jambi itu, karena saya masuk ke Jong Maluku, dimana saya harus mengangkat tema Maluku kan? Penampilan drama kami siang itu mendapat urutan kedua katanya, sama seperti final debat dahulu, kelompok kami harus puas di nomor dua ^_^ Ow ya tukar kado juga berlangsung seru. Saya mendapatkan tiga buku anak-anak sebagai kadonya, dan kado saya sendiri yang berupa dodol kerinci dan tiga buah pembatas buku dengan motif batik Jambi diterima oleh Muhammad Sigit Susanto, ketua koordinator  FIM 11 yang baru terpilih. Semoga senang dengan kado saya ya Sigit J

Well guys, lima lembar lebih nggak cukup rasanya untuk menuliskan perasaan dan kenangan saya selama di FIM 11. Seingat saya ini tulisan tentang personal experince pertama yang sangaaatttttt panjaaaannnnggggg! Tapi tak mengapa, I’m happy to write this. I’m happy to share it with you guys. Sungguh manis mengingat persahabatan dengan keluarga baru yang tersebar di berbagai daerah, keluarga kunang-kunang, yang menyinari Indonesia. Saya sangat bahagia bisa bertemu dengan semuanya, I can’t say one by one hehe.. Semuanya hebat dan semuanya menginspirasi saya, memotivasi saya bahwa saya tidak sendiri, masih banyak pemuda yang peduli dengan Indonesia, dan itu kalian keluarga kunang-kunang J

Semoga dengan mengenal kalian saya semakin mencintai negeri ini dengan keanekaragamannya. Benar atau salah, inilah negara saya. Hitam atau putih,  kalian lah yang membuat hidup saya berwarna. Forum Indonesia Muda, AKU UNTUK BANGSAKU!!!!

4 thoughts on “Lukisan Forum Indonesia Muda Serupa Harapan Untuk Indonesia

  1. Berrkunjung dan meninggalkan jejak

    Beda deh tulisan yg udah ahli😉
    Lebih menelisik dan terperinci

    Gak ada bagian yg tiap pagi dibangunin paksa mbak?
    Hhe
    Lukisannya terrlihat nyata
    Bahkan mampu menarikku kembali ke moment itu

    Inspiring post🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s