Minat Baca Pemuda Tingkatkan Kualitas Pendidikan

“The foundation of every state is the education of its youth.” – Diogenes Laertius –

Pendidikan sebagai ujung tombak suatu negara sangat diperlukan untuk memajukan bangsa. Setiap pemuda di negara tersebut menjadi tumpuan kemana negara itu akan berjalan, dan pendidikan yang ada pemuda di setiap negaranya akan berkontribusi penting bagi kemajuan negara. Pendidikan tak hanya sekedar duduk di bangku sekolah, kalau saja setiap pemuda memahami bahwa membaca menjadi poin terpenting dalam kehidupannya, maka negara tersebut akan memiliki pemuda yang cerdas karena banyak membaca.

Ketimpangan Akses Bahan Bacaan di Kota Besar dan Desa Terpencil

Di beberapa wilayah Indonesia, anak-anak dan remaja disuguhi beragam jenis buku. Di kota-kota besar misalnya, akses mudah untuk memperoleh bahan bacaan kerap ditemukan di toko buku. Mereka dengan mudah membeli buku untuk dibaca bersama-sama atau sendiri. Mudahnya akses bahan bacaan di kota-kota besar tentu memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. Minat membaca di daerah tersebut dipastikan tinggi karena mereka tidak sulit memperoleh bahan bacaan yang mereka perlukan. Disinilah peran pendidikan, setiap mereka bertanggung jawab atas pengetahuan yang mereka miliki. Dengan membaca, pengetahuan mereka pun bertambah seiring berkembangnya usia mereka. Bahan bacaan yang awalnya komik, kemudian berlanjut ke buku motivasi. Sehingga pendidikan tidak terbatas pada apa yang guru sampaikan di kelas saja, namun ilmu pengetahuan mereka justru bertambah dari buku yang mereka baca.

Lalu apa jadinya jika fenomena di kota-kota besar itu berbanding terbalik dengan daerah terpencil di Indonesia? Bukan saja guru yang menjadi masalah utama karena kekurangan tenaga pengajar, tapi juga akses bahan bacaan juga menurun. Saya pernah mengalami hal ini sewaktu bersekolah di Kelurahan Nipah Panjang II, Kecamatan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjab Timur, Kota Jambi. Sekitar tahun 1999-2003 saya berada disana, sulit sekali menemukan buku bacaan bermutu bagi saya dan teman-teman. Saya hanya bisa menikmati buku bekas, atau dikirim dari keluarga yang berada di Palembang. Meski ada perpustakaan di sekolah, itu masih dirasa kurang untuk memotivasi siswa dalam membaca. Perpustakaan hanya didirikan, namun saya merasa daya tarik perpustakaan tersebut kurang, sehingga saya memilih membaca di luar daripada meminjam buku di sekolah.

Dari dua fenomena di atas, saya menyadari bahwa perlu adanya keseimbangan antara wilayah kota dan  desa terpencil untuk akses bahan bacaan. Jika saja minat baca anak-anak dan remaja di desa terpencil sama tingginya dengan mereka yang berada di kota, tentu ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan sama rata. Pendidikan mereka pun tak kalah dengan orang kota. Hal ini tentu meningkatkan motivasi mereka untuk belajar dan menggali informasi sebanyak mungkin, demi menambah khasanah wawasan pengetahuan.

Kurangnya Motivasi Membaca

Terkadang akses bahan bacaan sudah diperoleh, setiap orang bebas memilih buku yang ia sukai, namun tak jarang itu terbentur oleh kurangnya kesadaran diri untuk membaca buku. Meski buku mudah diperoleh dimana-mana, namun saya masih menemukan banyak orang tidak suka membaca. Dari pengamatan saya, bahan bacaan mereka hanya terbatas pada buku pelajaran dan buku diktat kuliah. Hal ini cenderung membentuk seseorang sebagai pribadi yang tidak ingin menambah pengetahuan, tidak berusaha mencari informasi seluas-luasnya dari bahan bacaan, dan yang paling penting wawasan hanya terbatas pada buku pelajaran saja.

Contoh paling kecil di sekitar saya adalah mereka memiliki uang untuk membeli buku, tapi mereka tidak membeli bahkan untuk membaca di perpustakaan saja tidak. Kejadian seperti ini membuktikan bahwa motivasi untuk membaca saja kurang, apalagi untuk membaca. Kurangnya minat membaca pada beberapa orang tak pelak membuat mereka kekurangan  pengetahuan. Padahal membaca justru membuka cakrawala dan menambah pengetahuan yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Dengan adanya motivasi membaca, seseorang akan terus menerus mencari bahan bacaan yang dapat menambah sudut pandang kehidupan.

Pendidikan sama halnya seperti perkembangan anak dari mulai bayi hingga dewasa, dan selalu diberikan gizi yang baik untuk meningkatkan perkembangan dari tahun ke tahun. Begitu pula dengan pendidikan, seseorang yang dari tahun ke tahun terus meningkatkan bahan bacaannya akan memperoleh ilmu pengetahuan yang luas daripada teman sebayanya. Ia akan mencari ilmu pengetahuan dari berbagai bahan bacaan, baik itu ia dapatkan dari buku atau brwosing di internet. Ketika minat baca seseorang meningkat, maka akan berdampak pada kualitas pendidikan  di negara tersebut.

Tugas Guru Dalam Meningkatkan Minat Baca

Dua masalah di atas adalah hal yang paling krusial untuk cepat dilaksanakan jika pendidikan di Indonesia maju. Guru sebagai pendidik bertugas tidak saja mengajar, tapi juga memotivasi siswanya untuk membaca. Namun, sebelum memotivasi siswa untuk membaca, tanyakan dulu pada diri kita, apa selama ini kita telah meningkatkan pengetahuan dengan membaca? Kalau guru saja tidak suka membaca, bagaimana dengan anak didiknya? Pendidikan justru bukan terekam pada tingginya nilai di raport akhir semester atau kenaikan kelas, namun pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa adalah tingginya minat baca setiap individu.

Sebagai calon guru, saya bersama teman-teman telah membentuk sebuah komunitas yang diprioritaskan kepada anak-anak dan remaja kurang beruntung di Jambi untuk meingkatkan minat baca dan nulis. Sahabat Ilmu Jambi setidaknya ingin memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan melalui peningkatan minat baca dan nulis. Dengan mengikuti konferensi ini, saya ingin menggali informasi dari setiap peserta yang berguna bagi pengembangan minat baca dan nulis di Jambi.

Menyadari pentingnya membaca sejak dini dan tersedianya bahan bacaan baik di kota maupun  desa terpencil, guru berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Disini guru bertindak memotivasi mereka untuk menumbuhkembangkan minat baca, menyediakan bahan bacaan, dan tidak sekedar mengajar. Guru sebaiknya banyak membaca agar ia banyak memberikan pengetahuan kepada anak didik, tidak terbatas pada bahan pengajaran saja. Guru sebaiknya memotivasi anak didik untuk banyak membaca. Karena banyak membaca akan menambah pengetahuan, dan jika pengetahuan bertambah maka kualitas pendidikan di Indonesia akan meingkat. Kecerdasan anak bangsa bergantung pada buku apa yang mereka baca.

“It is books that are the key to the wide world; if you can’t do anything else, read all that you can.”  – Jane Hamilton –

(NB: tulisan ini dibuat saat mengikuti International Conference of ASEAN Young Leaders, tp ini versi bahasa Indonesianya, hehe..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s