Mama Saya Terhebat Sedunia

                47 tahun bukan usia singkat bagi wanita yang saya saluti.

                47 tahun bukan waktu yang cepat untuk dilalui oleh ibu dengan tiga anak ini.

                Dan 47 tahun justru membuat mama saya mengukuhkan jati dirinya bahwa menjadi ibu yang baik lebih baik daripada mengejar karir.

 

Kalimat terakhir di atas merupakan refleksi kehidupan mama saya. Beliau yang lahir di Palembang, 3 Oktober 1964 ini, menjadi sosok yang saya banggakan di hidup ini. Beliau lah yang membuat Bella Moulina ada. Beliau juga lah yang mampu menepiskan cita-cita menjadi guru demi mengurus anaknya yang saat itu masih kecil di Nipah Panjang II. Mungkin tanpa keikhlasan hati beliau, saya tidak akan menjadi Bella, Iwan, dan Sadi seperti sekarang.

Baiklah, ini cerita mama saya. Beliau hari ini ulang tahun. Tapi sayangnya beliau tidak ada di tengah saya dan Sadi yang menghuni rumah di komplek dekat RSJ ini. Iwan justru kuliah di IPB, dan praktis hanya kami berdua menjaga dan merawat rumah ini. Mama saya harus ikut papa yang kini bertugas di Mendahara Ilir, beliau mendampingi papa disana karena ada urusan penting. Biasanya kalau mama di rumah dan tidak ikut papa kesana, artinya tidak ada kesibukan yang mendesak disana. Tapi justru di hari ulang tahunnya, mama jauh dari ketiga anaknya. -___-

Tadi pagi sebelum berangkat ke Mendahara Ilir, seperti biasa mama menyampaikan pesan-pesannya untuk jadi anak baik meski ia berada jauh dari kami. Dan saya mengiyakannya. Sempat saya mengucapkan selamat ultah kepada beliau, namun tak kunjung beliau harus pergi. Ya sudah, saya pikir doa saya untuk beliau lebih berharga daripada sekedar ucapan selamat. Tak apalah, yang penting saya sudah mengucapkan selamat ultah untuk beliau. Selebihnya, biarkan saya memanjatkan doa untuknya.

My mom is my hero. Beliau pahlawan bagi ketiga anaknya. Ia rela berkorban merelakan cita-citanya menjadi guru tidak tercapai demi mengurus ketiga anak yang nakal-nakal ini. Mama cerita kepada saya kalau guru merupakan impiannya, namun sayang harus ia tinggalkan karena papa lebih mengizinkan mama untuk mengurus anak daripada mendidik anak orang lain. Mungkin papa saya terdengar agak protektif, tapi ya begitulah. Sejak tinggal di Nipah Panjang II dan mama berniat mengajar di daerah yang kata papa tidak cocok untuk mama, mama memilih bungkam dan menurut. Seperti inilah istri, harus menuruti keinginan suami. Sungguh, apabila saya jadi mama yang harus mengikuti kata suami seperti ayah saya, mungkin saya sudah ngamuk karena dilarang menggapai cita-cita. But, it’s ok for her. Dialah mama saya, seorang ibu yang rela meninggalkan impiannya demi kami, Bella Moulina, Muhammad Julian Pagurawan, dan Muhammad Tian Arsyadi.

Hingga kini mama tidak pernah meninggalkan sifat khasnya, yakni suka mengurus rumah. Membersihkan halaman depan dan menanam tanaman. Sifat pendiam yang tak banyak omong, tidak suka shopping, dan tidak suka menghamburkan uang (lebih baik menabung kata beliau), sedikit banyak mempengaruhi kehidupan saya. Mama juga sensitif, sama seperti saya. Kalau sudah sedikit terluka hatinya, mama jadi down gitu, lalu nangis, dan saya paling nggak suka sebenarnya kalau mama nangis. Maafin Bella ya ma kalau Bella suka bikin mama nangis selama ini. :’)

Mama juga punya warung kecil di rumah. Kata mama, meski papa ada pekerjaan, beliau tetap ingin memberikan penghasilan bagi keluarganya. Pertama kali warung kecil ini berdiri ketika saya SMA, tapi saya lupa kelas berapa, karena sudah lama sekali. Warung ini yang bikin mama menajdi hidup sebagai orang yang bekerja. Penghasilannya memang tak seberapa bila dibandingkan dengan wiraswasta, pekerja bank, PNS, jurnalis, guru, atau profesi lainnya, but she enjoys her job. I know it from the way she treat her job, mama selalu mencatat dengan detail dalam pembukuan, apa yang dibeli hari ini dan jumlahnya. Sampai-sampai kami suka ketawa sendiri karena mama begitu jeli dibanding kami, hehe. Sampai disini saya semakin tahu kalau tugas ibu sangat berat. Ia harus mencatat segala hal baik itu pemasukan maupun pengeluaran bulanan agar uang tidak lari kemana-mana. And she starts from her small shop, mencatat semuanya dengan detail!

Ketika saya menulis cerita ini, saya sambil mendengarkan lagu Just For My Mom yang dinyanyikan oleh Sheila on 7. Yeah, just for my mom I write this story. Mama yang menginspirasi saya untuk meraih cita-citanya yang tertunda, menjadi guru. Mama membuat saya percaya bahwa wanita itu tak mesti berkarir tinggi-tinggi, mama justru membiarkan anak dan suaminya berhasil daripada dirinya, dan itu yang membuatnya bahagia saat ini.

Kawan, apakah ibumu sama seperti mama saya? Inilah mama saya. Dia nggak akan pernah terganti oleh apapun, he always in my heart. Beliau sangat berarti bagi hidup saya. Tanpa mama, I’m nothing. Benar deh, tanpa dukungan dan pengertian beliau, saya nggak berarti apa-apa di hidup ini. Segala wejangan dia mampu membuat saya kuat seperti ini, meski dilanda sedih sekalipun. Mama, Bella sayang mama selalu. Selamat ulang tahun ke-47 tahun. Mama paling hebat sedunia! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s