Sejumput Kenangan Tentang Nipah Panjang II

“Kakak kenal dengan Pak Miran?” tanya Udi suatu sore kepada saya.

                “Ya, kenapa?” saya balik nanya ke Udi.

                “Pak Miran itu ayah saya, kak,” jawabnya.

 

Percakapan di atas saya alami Kamis sore kemarin, waktu itu saya mau motret Bambang, anak Nipah Panjang yang baru saja diterima di Universitas Jambi, bersama temannya Udi, anak Pak Miran, guru TK saya waktu di Nipah Panjang. Saya yang waktu itu baru saja mau pulang, jadi agak terhenti karena nggak nyangka ketemu anak guru saya yang sudah membuat saya bisa baca dan nulis berkat bantuan guru TK, Pak Miran dan Ibu Dewi ^_^

Sebenarnya sudah lama sekali ingin menceritakan Desa Nipah Panjang II, sebuah desa yang terletak di kecamatan Nipah Panjang, kabupaten Tanjab Timur. Dia memiliki dua kelurahan yakni Nipah Panjang I dan Nipah Panjang II. Saya sejak 1990-1996 disana dan periode keduanya sejak 1999-2003 kembali datang lagi ke Nipah Panjang II. Desa dengan penghasil kopra, beras, dan hasil laut yang melimpah menjadi saksi sejarah saya ketika menghabiskan masa kecil dan beranjak remaja.

Dulu saya tak mau rasanya tinggal disana, karena impian anak kecil seperti punya rumah besar dan ada kolam renangnya terbayang di benak saya kala itu. Justru kenyataan berbanding terbalik. Rumah dinas papa saya di dekat kantor camat, kantor pos, dan kantor jaksa itu tidak seperti bayangan saya. Ia berdinding papan, kayu, dan berdiri di atas air sungai, dikelilingi dengan tanaman eceng gondok dan banyak ditumbuhi pohon kelapa di sekitar rumah saya. Dengan kondisi rumah sederhana tersebut, saya mencoba belajar hidup di desa, yang dulu tak pernah tahu mengapa papa harus bertugas disini? Kenapa tidak di kota saja?

Nipah Panjang II selalu saja bikin saya kangen. Terhitung sejak akhir 2003 angkat kaki dari sana, sampai saya menulis cerita ini pun tidak pernah lagi menyentuh tanahnya. Saya kangen suasana disana, sumpeehhhh.. Rasanya kenangan disana nggak akan mungkin saya lupakan seumur hidup. Begitu banyak orang dan pengalaman yang mewarnai perjalanan hidup saya, dan saya bersyukur, SANGAT BERSYUKUR BISA TINGGAL DISANA UNTUK BEBERAPA TAHUN LAMANYA.

Meski awalnya saya tahu hidup di desa itu sulit, tapi saya mengambil hikmahnya saat ini. Saya masih ingat betul bagaimana susahnya memperoleh bahan bacaan alias buku/majalah di Nipah Panjang II. Saya mengunjungi beberapa toko buku di daerah pasar dan dekat Masjid Agung demi memuaskan pengetahuan saya. Tak jarang pula saya harus merogoh kocek dari kantong sendiri untuk mendapatkan majalah Bobo, majalah Donald Bebek, ataupun komik bekas di toko kelontong dekat Masjid Agung. Bahkan ketika koleksi komik dan majalah saya sudah banyak, saya berbagi dengan teman-teman masa kecil saya, saya meminjamkannya kepada mereka dengan menyewakannya sebesar Rp. 100. Duh, saya rindu dengan teman-teman masa kecil -___-

Satu lagi hal yang saya risaukan ketika berada di Nipah Panjang adalah sulitnya untuk keluar dari daerah sana. Saya mengendap hingga musim liburan dan lebaran agar bisa refreshing dari sana. Ya, jauhnya jarak Nipah Panjang dan Kota Jambi kala itu membuat saya praktis hanya menunggu mama papa saya mengajak jalan-jalan ke Jambi atau memberitakan kabar baik “Lebaran tahun ini kita balik ke Palembang.” Seketika saya melonjak girang, keluar juga akhirnya ^_^

Kata mama dan guru saya, Bella Moulina itu adalah murid yang cukup aktif di sekolah. Suka berjalan-jalan nggak jelas, suka nunjuk tangan buat maju ke depan, cerewet dan banyak tanya! Bahkan guru saya pernah bilang ke mama saya kalau Bella Moulina itu bakal bersinar dengan sejuta pertanyaan yang dilontarkannya. Entah lah, itu hanya prediksi. Tapi harapan  guru itu justru menyemangati saya hingga sekarang. Kini saya mantap menatap hidup ini, Bapak dan Ibu guru tersayang ^_^

Ow ya, akses untuk berkompetisi juga kurang disana. Saya menyadari keaktifan saya ini terhalang karena kurangnya informasi untuk mengikuti perlombaan. Saya pun manut saja. Menyimpan ide dan kesenangan di dalam hati, tanpa bisa menyuarakannya di depan orang. Meski begitu saya nggak mau ketinggalan soal pelajaran, saya aktif ikut les waktu SD dan SMP di rumah guru ataupun sekolah. Saya hobi bermain masak-masakan dengan anak tetangga, bermodalkan eceng gondok dan mainan rumah-rumahan anak kecil yang kami punya. Bahkan kami tidak memperdulikan seberapa jauh saya berjalan ketika pulang pergi ke SMP N 1 Nipah Panjang II yang jaraknya hampir 3 km. Saya senang bisa berjalan sejauh itu dengan teman-teman saya. Bahkan waktu di SD N 10/X Nipah Panjang II pun saya menikmati sekali. Di dua tempat itulah, saya menyemai cita-cita menjadi guru dan menyukai bahasa Inggris.

Ya, saya bercita-cita menjadi guru ketika saya terpukau oleh semangat Ibu Pane, wali kelas saya di kelas 6 SD N 10/X Nipah Panjang II. Mungkin juga karena semangat mama saya yang tertular kepada saya, karena beliau tidak tercapai cita-citanya menjadi guru. Saya entah kenapa sejak itulah, yang masih anak ingusan ini, mencintai pekerjaan guru. Saya rasa enak sekali berdampingan dengan anak murid dan memotivasi mereka untuk lebih baik. Selain itu, di SMP N 1 Nipah Panjang II, saya beranjak menyukai bahasa Inggris melalui guru saya, Pak Herman. Beliau adalah guru bahasa Inggris yang semakin membuat saya bahagia belajar bahasa Inggris. Meski waktu SD di Palembang saya les bahasa Inggris, tapi di desa inilah ilmu saya berkembang berkat beliau. Hingga sekarang saya kuliah di prodi bahasa Inggris Unja, ini berkat tangan beliau yang hebat!

Saya juga bertemu dengan teman-teman yang baik, ramah, dan mau berbagi dengan saya. Mereka sangat menjunjung tinggi arti persahabatan, kawan. Mereka berasal dari teman-teman di sekitar rumah, teman SD, teman madrasah, teman SMP, dan teman-teman lainnya! Masa kecil yang indah dikelilingi dengan teman-teman yang hebat, bermain sepeda bersama, les ke rumah guru, jalan-jalan ke rumah teman, dan mencari sesuatu di sungai adalah aktivitas yang saya lakukan bersama mereka. Saking banyaknya nama mereka, saya tak bisa menyebut satu persatu disini, biarlah menjadi kenangan terindah di lubuk hati saya. Ketika saya pindah ke Jambi pun, jejak mereka terekam dalam kumpula biodata yang tersimpan dalam diary plus foto mereka. Really, I miss them L

Hampir delapan tahun saya berada di kota Jambi. Ingin sekali rasanya bernostalgia kesana, tapi waktu belum tepat. Sudah lama saya ingin mengunjungi kota kecil di kecamatan itu, mengenang kebersama keluarga saya di sebuah rumah yang dulu banyak saya coret-coret bersama adik, dengan satu kolam ikan di sampingnya. Nipah Panjang itu seperti jiwa saya. Saya justru mendapatkan hikmahnya sekarang, karena apa? Kalau tidak berada disana, saya pasti nggak akan merasakan betapa sulitnya tinggal di desa, betapa indahnya kebersamaan yang dijalani disana, serta sejumput kenangan yang kalau tidak ada Nipah Panjang, maka tulisan ini tidak pernah saya ceritakan kepada teman-teman. The main point is, jiwa saya ada disana, ia memberikan ketenangan ketika mengenang Nipah Panjang.

Saya senang mendengar cerita kalau Nipah Panjang sekarang sudah maju. Anak-anak dan remajanya pun sudah bisa belajar ke luar Nipah Panjang, mereka memiliki prestasi di bidang masing-masing. Kelak kalau anak muda itu sudah selesai belajar, alangkah indahnya jika mengabdi di kampung halaman mereka. Lebih mengembangkan daerah dimana ia dibesarkan, hal ini pula yang saya sampaikan kepada Bambang beberapa waktu lalu. Dan dia satu dari sekian pemuda Nipah Panjang yang mungkin suatu saat bisa berhasil. Tentunya orang-orang yang saya tag di tulisan ini ataupun tidak adalah pemuda Nipah Panjang II yang pastinya nggak akan melupakan daerahnya, dan saya yakin itu ^_^

Well, terima kasih sudah mengajak saya hinggap di Nipah Panjang II. I love this village so much! Tetap berkarya bagi daerah kita, kawan!

28 thoughts on “Sejumput Kenangan Tentang Nipah Panjang II

  1. so, why not ?!
    wujudkanlah rasa kangen tsb, selagi masih ada waktu.
    ingatlah, time is valueable.
    salam kenal dr warga twitter yg saat ini masih berdomisili di nipah panjang🙂

  2. iseng iseng browsing ttg berhala island ,,ehh malah ketemu blog ini..
    posting nya udah lama lgi baru tau saya…,
    Lumayan Baguuss cerita mu bela….

    Lanjutkan…..HHAHAHAA…

  3. Good story…. I want to share something here. Please join with us, the community of facebookers Nipah Panjang . Thank U )

  4. Ass…nama nya kayak g asing …nipah panjang desa kecil nan elok menyimpan sejuta kenangan masa kecil..bagi kami..anak pribumi..yg lagi mengadu nasib..di negeri orang..

  5. Woooow…

    Hatiku tersentuh ketika membaca artikel ini. Tak terasa sudah sepuluh tahun (10) aku meninggalkan Nipah Panjang II. Bahkan sampai detik ini, belum semua wilayah di Nipah Panjang II aku datangi. .

    Oh ya Mbak Bella, Nipah Panjang itu Kelurahan apa Desa ya? hehehehe.
    Memang benar apa yang dikatakan Mbak Bella, sangat sedikit sarana pendidikan di sana. Dulu saya pernah mewakili Nipah Panjang dalam Lomba Cerdas Cermat di tingkat Kabupaten, waktu itu rasanya “wow” sekali. Luar biasa rasanyaaaa.

    Pertengahan Tahun 2006 saya memutuskan pindah ke Kota Yogyakarta, melanjutkan studi SMA di Jogja. Banyak hal yang saya dapatkan di Jogja.

    Saya awalnya minder sekolah di Jogja, “apalah aku”, hanya seorang anak guru SD di wilayah terpencil. Tapi seiring berjalannya waktu, saya bisa bersaing di sini. Ternyata kualitas anak Nipah Panjang juga gak kalah-kalah amat. Hehehe

    Semoga kita semua suatu hari bisa memberikan sesuatu untuk NIpah Panjang. Aamiin ya Allah.

  6. hai bella,angkatan berapa di smp 1 nipah panjang.waktu itu kepala sekolahnya siapa klo masih ingat bellanya?salam kenal hendra anak nipah panjang

  7. Assalamualaikum kk bella
    Aku mridho abu yamin ..aku Aku tinggal d nipah panjang lorong pinang….aku adek spupu ibu dewi….kato ibu dewi kpan2 main lah k nipah, kunjungi ibu dewi dan pak miran….dan jgo kk bella ado cerito yg miris tentang ibu dewi tentang pernikahan nyo 😢😢😢😢😢😢

  8. Assalamualaikum kk bella
    Aku mridho abu yamin ..aku Aku tinggal d nipah panjang lorong pinang….aku adek spupu ibu dewi….kato ibu dewi kpan2 main lah k nipah, kunjungi ibu dewi dan pak miran….. sambil mengenang masa-masa Kak bella tinggal di Nipah

    • waalaikumsalam ridho. wah kita ketemu disini yo, dunio jambi kecil nian hehe.. hehe salam yo ke beliau, insyaAllah akan ke nipah panjang lagi. oya cerita menyedihkan apa ridho? semoga selalu sehat utk ridho dan guru2 kakak yo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s