Jambi-Kerinci: Melewati Danau Kerinci Hingga Desa Sungai Betung Mudik

Ada berbagai macam alasana kenapa orang ingin berlibur. Pertama, bosan dengan aktivitas rutin yang dilakukan setiap harinya. Kedua, pengin menjelajah daerah yang belum dilihat sebelumnya. Ketiga, mencoba mencari keindahan lain dan keluar dari kota yang sumpek untuk refreshing. Dan saya, mengamini ketiga hal tersebut ketika memutuskan berlibur ke Kerinci! ^_^
Apa yang membuat saya memilih Kerinci sebagai tempat berlibur di provinsi Jambi? Karena saya sudah bosan mendengar cerita orang-orang mengenai keindahan alam Kerinci, yang katanya hamparan hijau dan Gunung Kerinci nan sakti itu dilontarkan oleh teman-teman saya, dan sekarang saya pun ingin membuktikannya! Selain itu, saya suka jalan-jalan ke daerah yang kondisi alamnya keren, plus ada keluarga ato teman yang tinggal di daerah tersebut. So, saya nggak perlu ngeluarin budget buat nginep di hotel ato cottage kan? Cukup numpang di rumah teman yang waktu itu kampung halamannya emang di Kerinci, Ana, jadi deh saya melancong kesana! ^_^
Ya, saya dan Ana memutuskan untuk ke Kerinci, setelah saya putus asa mengajak teman-teman sekelas untuk berlibur kesana. Karena yang minat dan semangatnya menggebu-gebu cuma saya seorang, jadinya saya tetap menjadwalkan perjalanan ke Kerinci, meski yang lain ogah. Akhirnya Ana pun mau diajak pulkam lho, alhamdulillah ya, sesuatu banget.. ;D (SYAHRINI BANGET). Pada 28 Januari, Jum’at malem Sabtu, saya berangkat naik mobil travel ke Kerinci. Sekali naik hanya Rp. 100ribu, PP jadinya Rp. 200ribu. Menurut saya, harga ini lumayan masuk akal buat ke daerah yang pengin banget saya kunjungi, hehe..
Sebenarnya cerita perjalanan ini udah lama mo dituangin ke dalam bentuk tulisan, tapi baru sekarang ditulis, hehe.. Lama banget ya rentang waktunya dari Januari ke September? But, I think it’s oke lah ya? Cerita perjalanan ini dimulai dari packing, hingga rencana mo jalan-jalan kemana kalo udah di Kerinci, plus hingga balik lagi ke Jambi.
Saya masih ingat betul acara packing-packingan ke Kerinci adalah packing kedua saya setelah balik jalan-jalan dari Banten mengikuti program ACI Detikcom. Saya memasukkan beberapa perlengkapan selama di Kerinci. Saya cek semua kelengkapan. Ya, saya siap berangkatttssss! Setelahnya pesan tiket, waktu itu papa Ana yang memesan tiket kami berdua, saya tinggal datang ke loket dan duduk manis. Tibalah pada Jum’at malam Sabtu, sekitar jam 8 saya dan Ana berangkat dari Jambi. Saya waktu itu dilepas oleh keluarga, dan Ana pun demikian, lengkap banget, kayak mo ngelepas kemana gitu, padahal hanya di dalam provinsi lho, hehe, mungkin karena anak cewek kali ya?
Di jalan menuju Kerinci, Ana udah mengingatkan kepada saya agar nggak shock dengan jalanan perbatasan menuju Kerinci yang hancur berantakan, banyak lubang, dan bikin sakit perut. Saya pikir, segimana lah jalan Kerinci yang katanya infrastrukturnya nggak beres-beres itu? Mampukah saya melewatinya? Well guys, untunglah saat melewati jalanan itu kami semua pada pules, jadi nggak begitu terasa menyebalkan jalanannya. Yang saya ingat, kami sempat turun mobil dan pindah travel ke mobil sebelah di tengah jalan, gara-gara mobil pertama yang kami tuju tidak melewati penumpang yang banyak dimana kami berhenti, dan ternyata ada mobil kedua (yang akhirnya kami pindahi) yang melewati persinggahan kami. Allright, kami mengikut saja deh!
Sepanjang jalan saya mendengar lagu dari handphone, rasanya nggak sabar bertemu dengan Kerinci. Ya, perjalanan waktu itu bikin saya deg-degan, Kerinci gimana sih? Mungkin nggak ya saya ke tempat wisata yang paling oke di Jambi itu? Setelah banyak pertanyaan menghinggap di benak saya, sebuah sinar menerpa mata. Sinar apa kah ini?
Tarrraaaaa…! Itu adalah sinar matahari pagi yang memantul ke Danau Kerinci! That’s cool guys! Subhanallah ya Allah, sungguh keren ciptaanMu. ^_^ Saya melonjak-lonjak kegirangan, langsung buka mata dan merekam detik-detik melewati Kerinci di pagi hari. Sekitar pukul 06.00 WIB, saya nggak percaya melihat pantulan matahari pagi di atas Danau Kerinci. Awalnya bingung, ini cahaya apa gitu? Karena saya sangat jarang sekali melihat cahaya sekeren ini di kota Jambi. Walhasil, setelah terbangun dengan cahaya itu, setelahnya saya pasang mata, tak berkedip dan mengambil beberapa gambar untuk mengabadikan Danau Kerinci di pagi hari. It was very nice!
Perjalanan dari Jambi ke Kerinci memakan waktu 10 jam lebih. Waktu yang cukup bikin pinggul pegel itu tentu harus dibayar dengan pemandangan indah, maka dari itu ketika Danau Kerinci berganti dengan areal sawah, mata pun tak lepas dari pemandangan hijau. Destinasi pertama setelah sampai di Kerinci pada 29 Januari lalu adalah Semurup. Kami mampir di rumah kakek Ana di Semurup. Mobil travel mengantarkan kami kesana dan berhenti tepat di depan rumah kakek Ana. Sesampainya disana kami disambut oleh pasutri yang notabene keluarga Ana juga. Mereka menyuruh kami masuk dengan barang bawaan kayak mo pindahan. Disuruh mandi, makan, dan tidur, haha.. Thanks banget buat keluarga Ana yang udah bersedia saya singgahi.
Kami pun beres-beres, yang paling utama adalah mandi! Sudah saya duga sebelumnya, berhati-hatilah terhadap air Kerinci yang sangat dingin, apalagi bagi para pemula yang baru datang kesana! Saya masukkan tangan ke dalam bak mandi, dan yaaaaaa…mampus dingin banget cuy! Tapi karena harus berangkat lagi ke rumah Pak Etek Ana di Tutung Bungkuk, saya pun bergegas menyelesaikan urusan. Tiba-tiba datang sms ke kami yang menyatakan bahwa kami harus mengurus keperluan KKN sebelum tanggal 2! Baahhh, ini apa-apaan pikir saya. Wong baru datang buat liburan udah direcokin ama keperluan KKN? Akhirnya perasaan tak menentu meliputi kami. Antara pengin liburan, tapi sepertinya tak direstui oleh Bapel -___-
Kami pun menghubungi rekan seperjuangan yang ikut KKN juga. Kami meminta waktu dispensasi agar bisa mengumpulkan bahan setelah balik dari Kerinci. Oke, selesai, kami diberikan berita baik agar mengumplkan setelah balik dari Kerinci. Yang artinya, kami harus mempersingkat liburan disini! Niat pengin refreshing, eh malah direcoki pikiran buat KKN. Aseeeemmmmmm bener deh. Tapi kami tetap yakin kalo liburan yang agak aneh ini bakal berjalan baik-baik saja, meski ada beberapa teman yang mempertanyakan kami kenapa berlibur saat orang mau KKN? (Yaa mana tahu lah kalo persiapan KKN mau diurus bertepatan kami liburan wooiiii..)
Oh well, kami harus menetralisir hati, biarlah mereka duluan, kita senang-senang dulu, haha.. Tak berapa lama dengan perasaan menentu antara balik lagi ke Jambi ato gak, Pak Etek Ana datang menjemput kami dengan mobil pick up hitamnya. Pak Etek Ana ini berdomisili di Tutung Bungkuk. Kami diboyong kesana guys. Hmm, sepertinya perjalanan kami belum selesai meski udah sampai di Kerinci. Kenapa? Karena tujuan utama kami menuju Desa Sungai Betung Mudik masih panjaannnnggggggg! Tak lupa sebelum angkat kaki dari rumah kakek Ana, kami berterima kasih dengan hati riang karena sudah diberikan tempat istirahat gratis beberapa jam, hehe..
Mobil pick up itu berangkat membawa kami. Segala tas dan perlengkapan dari Jambi menuju Kerinci ditaruh di belakang, sedangkan saya, Ana, dan Pak Etek duduk di depan. Tentu saja, Pak Etek yang mengendalikan mobil, kami duduk manis menunggu sampai di Tutung Bungkuk. Jarak dari Semurup ke Tutung Bungkuk nggak begitu lama, jadi saya nggak mau tidur! Justru saya mau melihat keindahan alam Kerinci yang di sisi kanan kirinya terbentang panorama bukit hijau nan indah, plus kegiatan persawahan yang dilakukan oleh petani-petani memnambah semarak perjalanan kali ini. I didn’t miss this moment, it was dangerously beautiful! ^_^
Kami sampai di Tutung Bungkuk hampir tengah hari. Rumah Pak Etek Ana dua tingkat, pusat dapur dan istirahat berada di lantai bawah, sedangkan lantai atas merupakan tempat berbagai alat elektronik yang merupakan sumber penghasilan Pak Etek Ana. Disana kami disuguhi makanan buatan Etek Ana. Etek pintar sekali memasak, pedas dan itu saya suka, haha.. Tapi sayang saya malu mau nambah makan, wong baru kenal pertama kok rakus gitu, harus jaim dongse😀
Cukuplah beberapa jam melepas penat di Tutung Bungkuk, kami harus melanjutkan pperjalan menuju Desa Sungai Betung Mudik. Anyway, perjalanan masih berlanjut man! Disinilah serunya berpetualang, rasanya jalanan ini nggak ada habis-habisnya dilewati. Melihat bentuk rumah penduduk dan alam yang asri adalah anugerah terindah ketika melewati sepanjang jalan Kerinci. Saya begitu terpesona dan menikmatinya. Dalam hati saya, saya berjanji akan kesini lagi, suatu saat, amin..
Perjalanan pun dilanjutkan setelah waktu Dzuhur selesai. Masih menggunakan pick up hitamnya Pak Etek, kami pun diantar menuju Desa Sungai Betung Mudik, ini destinasi terakhir kami! Duh, nggak sabar rasanya melihat desa itu, karena Ana udah menceritakan segala sesuatunya tentang desa ini. Desa yang kata Ana sangat dingin karena dapat melihat Gunung Kerinci, dan keramahtamahan warganya dengan pendatang baru. Ana, saya ingin membuktikan omonganmu, gumam saya kala itu.
Sekitar dua jam selama di jalan, akhirnya kami sampai di Desa Sungai Betung Mudik. Setelah sempat berhenti dan risuh dengan jalan menuju desa Ana yang rusak, kami pun disambut dengan guyuran hujan. Waahhhh, bahagia sekali sampai disana cuaca dingin menerpa. Nggak apa-apa pikir saya disambut dengan hujan, daripada terik matahari kan? Sesampainya disana, barang-barang kami turunkan dan dinaikkan ke atas rumah Ana. Ya, rumah keluarga besar Ana ini dua tingkat. Ciri khas rumah orang Kerinci, mereka pasti bangun rumah dua tingkat dan besaaarrrr! Sayangnya Pak Etek nggak sempat naik ke atas, beliau langsung balik lagi ke rumahnya.
Finalllyyyyy..we were home. Kami disambut oleh Etek Ana, yang merupakan adik bungsu dari mama Ana. Beliau mendiami rumah peninggalan orangtuanya tersebut bersama suami dan satu anaknya yang lucu, bernama Tami. Di bawah rumah Etek, terdapat banyak batang kayu manis yang merupakan komoditi perkebunan besar di Kerinci. Kayu manis itu sengaja digeletakkan di bawah rumah untuk segera diberikan kepada pengusaha kayu manis.
Etek pun bercerita panjang lebar dan bernostalgia dengan Ana karena sudah lama tak bertemu. Saya menyimak dengan seksama, ahh sungguh sebuah keluarga yang pertalian darahnya erat. Kadang sesekali mereka berbahasa Kerinci, yang saya tak tahu artinya. Pembendaharaan kata lama-lama pun bertambah. Seiring itu pula, kami diberitahu kalo hari minggu besok, 30 Januari lalu,diadakan Kenduri Seko. Yup, kebetulan banget nih. Saya udah lama pengin lihat acara adat panen padi yang disyukuri oleh masyarakat Kerinci ini. Karena kami kesini dengan bertepatan selesainya panen padi, maka Kenduri Seko pun siap dilaksanakan hari minggu. Pantas lah Etek Ana ini membuat hiasan dari padi yang dililitkan dengan benang, ini ternyata pelengkap seni lemang. Ya, kata Etek Ana di desa ini kalau Kenduri Seko diadakan setiap masyarakat diwajibkan membawa lemang (salah satu makanan khas Kerinci). Lemang ini dihiasi dengan kertas minyak dan untaian butiran padi di sekitar lemang. Amboiii, saya membayangkan esok hari akan semarak sekali! Ditambah pula Bupati Kerinci akan datang, pasti lah ramai. Saya sungguh senang perjalanan wisata ini memberikan satu ilmu budaya lagi ^_^
Sore pun beranjak. Kami banyak ngobrol banyak hal, tentang keluarga Ana, tentang Desa Sungai Betung Mudik, dan tentang aktivitas masyarakatnya yang bersawah di depan rumah. Jadi, kalo pagi hari ngerasa kusut pikirannya, mereka tinggal melihat hamparan hijau sawah di depan rumah mereka. Adem deh pikiran dan hati  Atau kalo pengin lihat Gunung Kerinci di pagi hari setelah bangun tidur, buka saja jendela pintu, maka Gunung Kerinci seakan menyapa dengan lembutnya: “Selamat pagi, wahai penduduk Kerinci. Selamat bekerja!”
Itulah yang saya rasakan disini. Hamparan hijau dan pemandangan Gunung Kerinci menjadi pelepas penat setelah hampir seharian berada di jalan pada hari sabtu tersebut. Sorenya saya melihat kabut putih menyelimuti Gunung Kerinci. Ya Allah, keren banggeeeetttttt! Saya potret pemdangan indah sore ini yang sedikit mendung. Momen itu terkenang di otak saya sampai detik ini. Berkali-kali saya bilang INDONESIA ITU INDAH!

(Tulisan ini baru diceritakan pada hari pertama di Kerinci, hari keduanya yakni hari Minggu yang merupakan puncak acara Kenduri Seko akan diceritakan pada bagian tulisan selanjutnya, sabar ya teman )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s