Cerita Saya Untuk Indonesia di Usia 66 (part II)

Pagi tadi saya sudah membulatkan tekad menuju Gubernuran di Telanai Pura untuk ikut melaksanakan upacara hari kemerdekaan RI yang ke-66 tahun. Tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun belakangan. Saya ikut upacara di Gubernuran, adik saya yang bungsu di SMP-nya, adik nomor dua di Bogor, dan kedua orangtua saya di Mendahara Ilir. Tapi kami tetap satu jua, meski berbeda-beda tempat melaksanakan upacara ^_^

Saya tiba di Gubernuran sekitar jam 9.45, itu sudah termasuk cepat karena saya bangun telat, untung saja saya terbangun oleh sms dari Ana yang bilang bahwa dia udah di RRI, dimana pada waktu itu dia sms jam 8! Sungguh2 telat sayanyyaaaaa..😀

Sebenarnya mau pergi upacar serempak dengan adik saya yang bungsu, Sadi, tapi karena dia pergi terlalu cepat, maka saya tidak sempat beres2, alhasil tidur lagi setelah mengantar dia ke sekolah. Bangun jam 8 itu pun masih puyeng kepala ini, tapi saya tetap pengin ke Gubernuran! Toh saya nggak pernah lagi upacara sejak lulus SMA, lagian satu tahun sekali juga sih, plus pengin liat prosesi upacara di Gubernuran, hehe..

Dengan tergesa2, saya memarkir motor di halaman RRI, sambil mengsms Ana. Ini anak pasti belum masuk halaman Gubernuran, eh ternyata bener juga. Dia masih nonggok di depan RRI, nungguin saya, hehe..makasih ya sobat J Ow ya, perkenalkan teman saya ini namanya Ana Wahyuni Arib, anaknya bapak ……. dan ibu ……. Dan dia ultahnya sama kayak RI lho guys, meski diketahui lebih lanjut bahwa itu terdapat pemalsuan jam dalam akte kelahirannya, haha.. Semoga semakin Indonesia ya na!

Upacara berlangsung pukul 10.00, dimana orang udah banyak nunggu sang gubernur, sambil panas2 ria di bawah terik matahari. Dikiran upacara cepat, eh malah molor, ehmm lama nunggu gubernur sih! Coba kalau cepat, bisa mulai jam 9 tuh. Saya rasa pemerintah juga nggak membiarkan orang yang ikut upacara nunggu hampir satu jam kali ya? Seharusnya mereka datang pas peserta upacara juga stand by disana. Ada baiknya membiasakan hal sepele ini biar kami yang rakyat jelata ini bisa memberi tauladan bagi anak cucu kelak. Ahh, ini hanya saran saya lho ^_^

Di Gubernuran tadi, teman saya yang sedang menunggu pengumuman 60 Petualang ACI detikcom 2011 juga berada disana. Ia kebetulan meliput atas nama Tribun, iya kan mas Pras? Sempat ngobrol bertiga dengan Ana dan Mas Pras, hingga akhirnya beliau maju ke dekat podium Pak HBA buat motret. Sayang saya nggak dipotret ama Ana, xixixi..

Upacara tadi berlangsung khidmat. Saya dan Ana mengaparkan diri di jalanan. Jarang banget ngegembel kayak tadi, haha..biasanya kan tuh jalan buat lalu lalang mobil pejabat, ini dengan seenaknya nonggok disana. Kami menonton prosesi satu tahun sekali itu, sambil bercakap2 soal skripsi yang memuyengkan! Cerita kemudian beralih ke pekerjaan yang tak sempat Ana ambil, kemudian berdecak kagum dengan kerapian dan ketegapan Paskibraka Provinsi Jambi. Aduuhhh, kalau bisa dulu saya jadi pasukan pengibar bendera saat 17 Agustus, alangkah senangnya! Tapi memang itu tinggal kenangan, saya nggak memenuhi kriteria lolos jadi anggota 17,8,dan 45. Saya sadar dengan kondisi fisik yang super slim ini, kawan -_____-

Kira2 jam 10.45 upacara selesai, kami pun bubar. Meski tak seramai tahun kemarin, dimana masyarakat tumplek di Gubernuran, menyaksikan acara sakral ini, namun saya begitu menikmatinya. Ada pula cerita saya yang kagum lihat orang berbadan tegap sambil menenteng senjata, namun hanya sebatas “Keren ya, Na?” Rasanya tadi pas ngelewati mereka, kok kayak mo diserang gitu, suara gemuruh abis, hehe..

Saya dan Ana pulang, Ana balik ke rumahnya, dan saya liputan di daerah belakang Unja Telanai dan 16. Disini saya benar2 tergugah, mata saya terbuka. Tahun ini bukan sekedar upacara saja, tapi saya melihat kondisi masyarakat Indonesia, khususnya Jambi yang kurang beruntung dan butuh uluran tangan kita. Saya terenyuh, baru kali ini saya liputan dengan pembicaraan yang agak hati2 dan tidak melukai perasaan mereka. Sungguh, Allah SWT tahu bagaimana merasakan penderitaan orang lain melalui cara hari ini.

Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah daerah di belakang Unja Telanai. Saya mendapatkan informasi dari LAZ Opsezi bahwa kawasan ini memiliki masyarakat yang kurang mampu. Mereka berada di ambang kemiskinan yang tak terperi. Awalnya sempat shok, apa benar di belakang Unja ada keadaan seperti yang Mbak Rina ceritakan? Ternyata benar! Kawasan itu dihuni kebanyakan orang Bugis yang tidak mampu, dan rata2 sudah janda. MIRIS KAWAN, MIRIS!

Ibu Icha, salah satu orang yang memiliki kebesaran hati untuk berbagi dengan sesama mengatakan bahwa di daerah ini terdapat buruh dan orang tidak mampu. Perempuan yang memiliki PAUD YABE LALE ini menampung beberapa orang yang tidak mampu di rumah singgahnya, meski ada juga beberapa di antara mereka yang sudah punya rumah. Namun memiliki rumah dalam pandangan mereka sudahlah cukup, mereka tak perlu pakai keramik atau benda2 mewah lainnya. -_____-

Lebih lanjut ibu Icha menuturkan bahwa kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh dengan penghasilan tidak tetap. Contohnya saja Bu Erna, ia janda dan memiliki anak yang sudah besar. Sehari2 biasa mulung, atau sambil kerjaan lain. Satu hal yang miris lagi, ia nggak bisa melanjutkan anaknya untuk masuk SMA. Alasan? Karena uang nggak cukup, uang hanya bisa buat makan, kawan. *pleasejangannetesairmata*

Kedua, seorang ibu juga bernama Ibu Halwiyah. Ibu ini mempunyai suami yang dulu seorang buruh bangunan. Namun karena tenaga yang semakin menua, suaminya tidak lagi bekerja. Praktis hanya ia lah seorang diri menghidupi keluarganya. Bahkan ia memiliki anak2 yang masih kecil, anaknya ada 3, dari usia 2-5,5 tahun. Bayangin guys, tiga anak kecil itu bergantung pada ibunya yang memiliki penghasilan tidak tetap! SAYA TIDAK BISA BERKATA APA2 LAGI. Entah lah rasanya di hari bersejarah ini, saya sedih bukan kepalang. Masih ada masyarakat kita yang ….. (saya bingung mo nulis lanjutannya apa, saking speechless).

Well, ada satu lagi cerita dari Ibu Indok Kenari. Ibu yang berusia 53 tahun ini terpaksa harus mengurus ibunya yang sakit, yakni Ibu Indok Palettei. Kedua ibu anak ini sama2 orang Bugis yang merantau ke Jambi. Mereka tinggal tepat bersebelahan dengan PAUD YABE LALE. Ibu Indok Kenari mengurus ibunya yang sakit komplikasi di gubuk mereka. Ibu itu mengutarakan bahwa sakit ibunya sudah diderita sejak masuk bulan puasa. “Kalu dak dibanguni, ibu saya dak bangun, susah nak bergerak,” ujar beliau. Ibu Indok Kenari juga bingung mau membawa ibunya ke RS, karena nggak punya uang. Sedangkan ia tahu uang yang dimiliki hanyalah cukup untuk kebutuhan sehari2, tidak bisa untuk mengobati ibunya. Sampai disini saya terharu lagi. Saya menatap badan ibu tersebut, kurus..memang sudah uzur, pikir saya. Saya pun berdoa agar siapapun yang melihat tulisan ini tergugah untuk membantu mereka, membantu saudara2 kita yang kurang beruntung. Karena saya yakin, dengan berbagi kita bisa lebih memaknai hidup, bisa membuat bersyukur, dan meningkatkan rasa memiliki sesama masyarakat Indonesia. ^_^

Sekitar satu jam mengobrol, akhirnya saya pamit. Saya berterima kasih sudah diperkenankan Ibu Icha bertemu dengan tiga orang yang membuat hati saya tergugah. Perjalanan pun dilanjutkan ke tempat berbeda. Dengan topik yang sama, saya mencari satu orang yang sakit tapi kurang mampu. Untuk satu ini, saya melancong ke daerah 16, dekat lorong Atap dan SD N 93, yang kata murid saya Wita agak rawan! Oh la la.. *berusahabernyanyimeskitakut*

Ya, saya akhirnya bertemu dengan Bang Andi, pemuda yang tinggal di daerah 16, yang kebetulan tahu seluk beluk masyarakat tidak mampu di sekitar rumahnya. Seperti Ibu Icha, saya tahu Bang Andi juga dari LAZ Opsezi lho. Setelah sholat Dzuhur, saya bertemu dengan Bang Andi di depan SD N 93.

Kawan, kata Wita, kawasan dekat lorong Atap dan SD N 93 ini adalah kawasan rawan menuju salah satu tempat lokasi prostitusi paling terkenal di Jambi. OH MY GOD! Pikir saya, mudah2an saya baik2 saja, hehe.. Saya yakinkan dalam hati, bahwa perjalanan kali ini akan aman2 saja. Meski hati saya ketar-ketir, tapi entah kenapa saya penasaran sekali dengan kondisi masyarakat yang akan saya temui nantinya.

Akhirnya Bang Andi datang juga di hadapan saya. Ia menuntun saya menuju sebuah rumah yang agak terpencil, namun rumah ini ternyata tidak masuk ke dalam kawasan rawan tadi, melainkan Jl. Syailendra, seketika saya berkata: alhamdulillah ya.. J

Saya pun tiba di sebuah rumah sederhana, amat sederhana bisa saya bilang. Di rumah itu terdapat satu keluarga, sepasang suami istri dengan 4 anaknya. Mereka hidup di rumah itu sudah puluhan tahun. Mencoba mengais rezeki di tengah mewahnya perilaku hedonis.

Diketahui sang suami bernama Pak Yanto, dan Ibunya bernama Ibu Carini. Sempat saya keseleo manggil Ibu Syahrini tadi, hehe.. Dengan bantuan Bang Andi, akhirnya keluarga ini mau bercerita kepada saya. Pak Yanto ternyata sudah tiga tahun menderita stroke, astaghfirullah.. Beliau sempat berkali2 berobat dengan biaya sendiri, namun terhenti karena sudah tak punya uang yang cukup. Penyakit yang melanda Pak Yanto akhir 2008 lalu ini membuatnya tak bisa bergerak cepat. “Dulu bahkan beliau nggak bisa bergerak sama sekali, sekarang sudah mendingan udah bisa jalan,” kata Ibu Carini kepada saya sambil memasak panganan yang akan ia jual.

Perbicangan di dapur itu juga membuat hati saya tersentuh. Pak Yanto yang keturunan Tionghoa ini ingin sekali berobat ke Medan, dimana disana diketahui ada pengobatan alternatif yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Namun hal itu urung ia laksanakan mengingat biaya yang lagi2 tak cukup jika harus dibawa ke Medan. Terapi medis dan non-medis pun terhenti karena kendala ini. Alhasil Pak Yanto hanya bisa jalan perlahan dan tidak bisa bekerja, sedangkan Ibu Carini-lah yang menafkahi keluarganya.

Jika kalian berkunjung ke rumah keluarga ini, kalian akan sangat sedih. Rumah ini hanya beralaskan tanah, tak ada keramik seperti di rumah kita. Ia terdapat dua kamar, yang masing2 tidak mewah dan keliatan sesak dengan barang2 yang ada di dalamnya. Ia juga tak punya ruang tamu seperti kita yang biasa meletakkan barang2 di tengah ruang tamu. Dapurnya pun ala kadarnya, dilengkapi tungku untuk memasak dan meja kayu. Tak satupun barang mewah yang saya lihat di rumah ini. Meski ada motor, tapi itu milik orang lain, dimana ia menitipkannya ke rumah Pak Yanto sementara. Keluarga ini berharap agar masyarakat bisa tergerak hatinya untuk membantu mereka. Ini pula yang saya doakan setelah pulang dari rumah beliau. God, please save them, kuatkan mereka ya Allah L

Sampai disini, bagaimana tanggapan kalian terhadap cerita yang saya alami hari ini? saya yakin semua pasti tergugah, nggak ada lah rasanya yang ketawa baca catatan ini, kecuali emang dia nggak punya rasa empati. Satu hal yang saya harapkan, Indonesia bisa mengulurkan tangan kepada mereka yang kurang beruntung ini. semakin banyak orang yang mau berbagi dan peduli dengan kesejahteraan kaum sebangsanya. Dan suatu saat mereka akan benar2 merdeka!

Saya yakin orang Indonesia nggak akan membiarkan masyarakat negeri ini hancur dilebur zaman. Kawan, mari kita bantu mereka, mari kita naikkan derajat mereka ke arah yang lebih baik. Bantu mereka dengan segenap apa yang kalian bisa bantu dan apa yang bisa kalian berikan untuk mereka. Lihatlah masih ada yang lebih kurang beruntung dari kita, maka sebaiknya kita bersyukur di usia Indonesia yang ke 66 tahun ini kita masih leluasa beli barang yang kita inginkan. Sedangkan mereka untuk makan saja susah.

Terakhir saya memberikan harapan ini yang juga dilontarkan oleh Alexander Abimanyu kepada siapapun yang membaca catatan ini.

“Selamat ulang tahun untuk negeriku,Indonesia.Tidak banyak berharap.Hanya ingin agar negeri dengan alam yang indah ini akan dipimpin oleh orang-orang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang agar kemerdekaan yang diraih dengan tidak mudah,dapat benar-benar bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Selamat ulang tahun Indonesiaku, semoga kau benar2 memerdekakan orang yang kurang beruntung dari kami! Love this country to the max!

2 thoughts on “Cerita Saya Untuk Indonesia di Usia 66 (part II)

  1. 66 tahun merdeka, sudah terbilang TUA.. tapi masih aja berasa seperti jaman belum merdeka, eh tapi saya gak tau juga ding, jaman belum merdeka rasanya seperti apa.. turut berdo’a semoga di usia lanjutnya ini Indonesia menjadi lebih baik pelayannannya terhadap masyarakat.. Amiin Yaa Allah..~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s