Trotoar Dengan Segala Ceritanya

“Kak, dengan bangga redaksi telah siap segala galanya. doakan urusan lain lancar ya. kapan kapan ke bakso sukat lagi.”

Saya mendapatkan wall di atas dari junior saya di Trotoar yang ia kirimkan kepada saya. Silvi, ia dengan bangga menceritakan jerih payahnya dalam menyelesaikan berita yang ia kerjakan bersama teman-temannya. Ada rasa bangga dan terharu melihat mereka, ternyata Trotoar masih ada meski saya sudah satu tahun tidak berada dalam organisasi jurnalistik kampus tersebut.

Tulisan saya kali ini ingin menceritakan kisah perjuangan saya selama berada dalam naungan Trotoar. Sebenarnya sudah lama sekali ingin menuliskannya, tapi ketika saya membaca wall dari Silvi itu, hati saya tergerak, tulisan ini harus ditulis secepatnya. Mereka (junior saya dan rekan2 seperjuangan saya di Trotoar dulu) wajib tahu betapa berharganya sebuah Trotoar bagi saya. ^_^

Dahulu tepatnya ketika masih SMA, saya sangat kuper, ehm tapi tidak menutup diri dari lingkaran pertemanan ya. Mungkin teman2 saya waktu SMA bisa menilai siapa sih Bella? Boro2 yang tahu, ngelirik aja nggak, hehe.. Tapi beneran deh, saya dulu nggak mau masuk organisasi di sekolah saya. Yang ada dalam pikiran saya, organisasi seperti OSIS hanya diperuntukkan bagi mereka yang cantik, pintar, dan dekat dengan guru. Ketiga hal itu tidak ada dalam diri saya, entah karena minder atau apa, akhirnya saya praktis nggak mengikuti organisasi sekolah. Meskipun ada juga organisasi gemar membaca di sekolah, saya urung masuk di lembaga tersebut karena saya menilai kenapa tidak ada kegiatan yang menstimulus membaca? Malah yang dikedepankan jalan2nya. Akhirnya saya nggak mengambil organisasi apapun. Bahkan ketika saya ikut pramuka yang digawangi teman saya Satria, saya lagi2 mengundurkan diri, jiwa saya tidak cocok di kegiatan ini.

Ketika beranjak kuliah, semuanya mendadak berbalik 180 derajat! Entah lah, tidak terpikir dalam otak saya untuk menjadi bagian organisasi kampus. Saya yang notabene masih berpikiran seperti cerita SMA di atas, jadi bingung antara ikut organisasi atau tidak. Namun entah kenapa saya melihat sebuah pamflet jurnalistik kampus, bernama Trotoar, yang memberitahukan adanya perekrutan anggota untuk mahasiswa baru.

Sebenarnya waktu itu ada dua organisasi kampus yang ingin saya masuki, namun berhubung Trotoar lah yang kali pertama saya lihat, maka aplikasi pun tertuju ke Trotoar. Saya memilih Trotoar bukan asal2an. Saya hobi menulis, itu saja. Kalimat itu belum terpikirkan oleh saya untuk jadi jurnalis kampus atau jurnalis di media cetak seperti saat ini. Yang saya pikir, kenapa nggak dicoba aja oranisasi yang bisa mengembangkan minat menulis kamu, Bel? So I decided to join this organization, in the fact it is the first time for me!

Waktu berjalan sesuai kehendaknya, saya masuk Trotoar dan mengenal senior2 yang sudah terlebih dahulu menjadi jurnalis kampus, plus ketemu teman2 yang juga punya hobi yang sama, menulis. Angkatan pertama dinaungi oleh kak Nando cs beserta teman2 seperjuangan yang sangat hebat! Mereka mampu membuat kursi rektor bergoyang kala itu berkat tulisannya! Wow, saya pikir mungkinkah kejadian itu juga kami alami? Yang jelas, saya menjalaninya dengan sepenuh hati, dengan teman2 baru, seperti Dimas, Imron, kak Aris, Emi, Kak Nur, Widya, kak Tuti, Risna, Eka, Emi, dan Fida, ow ya satu lagi kakak dari peternakan yang aku lupa namanya, aduh maaf, someone please remind me ya if you remember that person ^_^

Dengan adanya perekrutan baru ini, saya semakin semangat menulis. Dan ujung2nya kami diarahkan menjadi jurnalis, saya pun nggak mempermasalahkan hal ini. Justru saya senang bisa bergabung dengan Trotoar, organisasi pertama yang saya ikuti dan pastilah ia memberikan cerita baru bagi saya. Ya cerita itulah yang membangkitkan saya menuliskannya dalam note fb, blog, dan tumblr saya. Tidak berselang beberapa lama setelah perekrutan, saya dan Fida berangkat ke Universitas Lampung, diundang oleh jurnalistik kampus paling tua di Indonesia, Teknokra, dengan tema Simposium Generasi Pers Mahasiswa Nasional pada Oktober 2008. Ini juga lah kali pertama saya keluar Jambi tanpa didampingi orang tua, kali pertama saya bertemu dengan teman2 pers mahasiswa se-Indonesia yang ternyata bikin mata saya terbuka, bikin pemikiran saya nggak terbatas pada Jambi saja, bikin idealisme saya akan jurnalisme semakin memuncak. Bertemu dengan orang baru yang sudah malah melintang dan lebih berpengalaman dari saya di dunia jurnalistik kampus membuat saya bahagia. Disinilah puncaknya, ketika saya kembali ke Jambi, saya merasa harus memajukan Trotoar. Biarpun orang berkata apapun terhadap organisasi yang saya geluti, biarpun orang menganggap saya sibuk dengan ini itu, but I know what I do. I will give my best for Trotoar. I don’t care with people’s opinion.

Sebuah amanah diberikan kepada saya ketika pulang dari Lampung. Saya dipercaya memegang posisi Pimpinan Umum, dan kak Eko yang notabene sudah lebih dahului dari saya malah menjadi Pimpinan Redaksi. Apa2an ini? Saya pikir begitu. Kok saya yang junior lebih tinggi daripada senior? Saya lantas menanyakan hal ini kepada PU dahulu, kak Nando, apa yang membuat beliau memutuskan saya seperti ini? Saya sejujurnya tidak enak hati dengan kak Eko, walau bagaimanapun saya menghormati senior, meski dulu suka marah2 nggak jelas dengan kak Eko, hehe.. Untungnya kejelasan dari pemilihan ini pun saya dapatkan. Meski awalnya canggung dan bingung, tapi saya menjalaninya sepenuh hati. Bagi saya, tidak ada yang lebih berharga daripada semangat menjalankan idealisme berorganisasi, selagi itu cocok dengan saya, kenapa tidak?

Kurun waktu dua tahun selama saya memimpin sebagai PU bukanlah waktu sebentar. Banyak kejadian yang bikin saya terpongah dan terheran, kok bisa ya saya bisa begitu? Kok bisa seorang Bella Moulina bisa melakukan hal itu untuk Trotoar? Saya tak habis pikir ketika berdebat dengan salah satu petinggi BEM kenapa berita ini itu harus dimuat di majalah Trotoar? Saya juga terkenang dengan lobian saya agar majalah ini bisa dijual melalui maru yang masuk Unja. Dan juga mendengar selentingan tidak baik mengenai Trotoar di luar. Pun ketika saya mengerjakan penerbitan tanpa didampingi kak Eko dan teman2 lain susah dihubungi, saya ikhlas menjalaninya. Saya pikir mungkin teman2 ada kesibukan lain, atau mungkin lebih baik saya mengerjakannya sendiri. Mungkin kalau dijadikan buku, kenangan selama di Trotoar nggak akan habis. Saya sangat menghargai kerja keras teman2 seperjuangan, baik itu kerja kerasa adik2 saya yang melanjutkan perjuangan ini. Yang saya rasakan saat ini, Trotoar menjadi ujung tombak bagi saya untuk keluar dari zona nyaman dan melakukan sesuatu untuk negeri ini.

Ya, Trotoar memang membukakan jalan bagi saya. Saya jadi banyak kenal orang, baik itu mahasiswa ataupun di luar lingkungan kampus. Ketika merekrut teman2 baru pada zaman Melly cs dan Irna cs, saya memiliki keluarga yang lebih banyak. Dengan mereka saya bisa merasakan pengalaman sedih dan bahagia di hidup saya. Dengan mereka semangat kembali menyala ketika harus dihadapi dengan deadline pengumpulan berita untuk segera dicetak di tempat pak Do dan dipasarkan ke teman2 mahasiswa. Tim ini bekerja tanpa ampun, saya berharap mereka tidak terpaksa bekerja ketika berada di bawah kepemimpinan saya. Bagaimanapun juga saya baru belajar dan saya baru memulai. Mohon maaf kepada teman2 yang mungkin tidak sreg dengan cara saya memimpin, mohon maaf jika ada kata2 yang tidak berkenan, ataupun tindakan saya yang melukai hati teman2.

Banyaknya orang saya temui, saya juga mendapatkan pengalaman dari mereka. Dari satu orang ke orang lain, saya berguru kepada mereka. Saya kenal A dari D. Saya bisa berinteraksi dengan orang yang sebelumnya saya pikir, wah mana mungkin saya bisa berbicara dengan dia, tapi di Trotoar hal itu terwujud. Pencapaian selama berorganisasi di Trotoar membuat kepercayaan diri saya timbul. Saya mulai membuka diri dengan banyak orang, dan berusaha mendapatkan informasi yang berguna bagi Trotoar. Bahkan ketika saya direkrut di Deteksi JE pada 2009 lalu, itu dikarenakan tulisan opini saya sering dimuat di JE, hal ini saya asah sejak masuk di Trotoar, saya mulai menulis topik yang serius. Ya, tidak ada kata lagi yang mampu saya ucapakan selain terima kasih kepada punggawa Trotoar yang telah memberikan s aya mendapatkan pengalaman yang banyak di organisasi ini. Kalian hebat!

Anyway, sejak 2010 saya lengser dari jabatan, dan Irna serta Silvi dipercaya memikul pundak kepemimpinan, saya berharap banyak dengan mereka. Saya dan senior2 Trotoar yang lain ingin jika kami kembali lagi ke Unja, kami masih bisa melihat Trotoar terpajang, dibaca, atau didiskusikan dengan kalangan mahasiswa. Perjuangan Irna cs bersama teman2nya saat ini patut saya acungi jempol. Hal2 yang tidak bisa saya kerjakan pada masa kepemimpinan saya akhirnya terwujud berkat semangat mereka. Saya sungguh bahagia ketika mereka bercerita baik itu kisah duka maupun suka kepada saya. Itu artinya mereka punya rasa memiliki di Trotoar. Meski mungkin ada perselisihan di organisasi ini, tapi saya sangat berharap Trotoar mampu menjadikan mereka pribadi yang cakap ketika menghadapi masalah. Jangan takut, jangan lari, dan jangan pergi dari semangat kalian! Jadikan Trotoar sebagai area pembelajaran kalian. Toh meskipun kalian tidak semuanya menjadi jurnalis nantinya, saya berharap cerita dan perjuangan kalian di Trotoar mampu menjadi ujung tombak dalam memperbaiki bangsa ini, mampu membuat kalian meraih passion di bidang masing2, dan tentunya dapat kalian ceritakan kepada anak cucu kelak, hehe..

Last but not least, seperti makna kata Trotoar yang berarti hitam putih, maka sudah selayaknyalah berita yang kita luncurkan memang hitam ya hitam, dan kalau putih ya putih. Jangan ada yang dilebihkan atau dikurangi. Yakinlah Trotoar akan selalu ada di setiap langkah kita. Ingatlah perjuangan kita dahulu ketika melewati masa suka dan duka. Berjuanglah teman2 Trotoar, saat ini adalah mimpi dan harapan kalian, jadi jangan sia2kan kesempatan untuk berkarya. You guys rock! Kalian pasti bisa, mampu, dan berdedikasi tinggi! Terima kasih atas perjuangan tanpa lelah, perjuangan ikhlas tanpa bayaran. Bumikan kembali jurnalistik kampus, kawan! PROUD BEING A PART OF Trotoar! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s