Dua Kisah di Dua Periode Ramadhan

Kawan, Ramadhan sudah kita jalani selama sehari penuh. Apa kesan kalian di bulan Ramadhan kali ini? Mungkin belum banyak cerita yang dapat saya dan kamu kisahkan. Tapi saat ini saya ingin menceritakan kisah Ramadhan yang membawa berkah bagi kehidupan saya. Dalam hidup saya, kisah Ramadhan pada tahun 2009 dan 2010 lalu lah yang paling mengingatkan saya akan kejadian yang tak mungkin saya lupakan. Pertama Ramadhan tahun 2009 saya memutuskan untuk berjilbab setelah Ramadhan usai. Sedangkan pada tahun 2010 saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menjelajah Indonesia, khususnya Banten, dalam program Aku Cinta Indonesia detik.com. Sebenarnya masih banyak kisah lain di bulan Ramadhan, namun saya bisa mengingat kedua hal tersebut.

Ramadhan 2009: Jilbab dan Surat Kecil Untuk Tuhan

“Apa yang memutuskan kamu berjilbab, Bel?” ujar seorang wartawan Tribun, Yoseph Kelik Prirahayanto, ketika berbincang2 di Hau’s Tea pada akhir Februari lalu. Ia menanyakan hal itu sebagai bagian tulisannya mengenai jilbab dan aktivitas perempuan yang mengenakannya.

Saya lantas terdiam. Kemudian mengambil helaan nafas sejenak, dan mulai bercerita. Saya mengatakan bahwa saya berjilbab karena terinspirasi dengan kisah almarhumah Keke, penderita kanker ganas yang menyerang jaringan lunak kulit, penyakit itu diketahui bernama rabdomiosarkoma. Ternyata bukan buku itu saja yang mengilhami saya untuk berjilbab. Hal serupa terjadi kepada teman saya di komplek tempat tinggal saya, almarhum Eki meninggal pula karena penyakit kanker hati yang menggerogoti raganya. Dan almarhum meninggal di bulan Ramadhan! Kisah wafat dalam usia muda itu lah yang membuat saya berpikir, “Tuhan, kalau Kau ambil nyawaku sekarang, apa yang mesti saya tunjukkan kepadaMu? Apa yang sudah aku berikan untuk orang di sekelilingku?”.

Memakai jilbab dulunya hanya kegundahan hati belaka. Saya sering dinasehati oleh beberapa orang tentang indahnya memakai jilbab, baik itu kalangan cewek maupun cowok. Dasarnya saya yang bebal, saya tidak terlalu mendengarkan. Hingga suatu saat kejadian tersebut nyata di kehidupan saya, dan saya menyaksikan sendiri teman saya meninggal di usia muda. Hati saya berdesir, saya menangis, saya membaca kembali buku memori Surat Kecil Untuk Tuhan yang ditulis berdasarkan biografi almarhumah Keke. Dengan diiringi lagu2 dalam kepingan cakram yang terdapat pada buku itu, saya sedih bukan kepalang. Bahkan ketika saya menulis ini pun, saya ditemani lagu2 tersebut. Dentingan pianonya mengalun syahdu. Membuat saya merasa sangat kecil di mataNya. Dan yang paling bikin saya tergugah, saya ingin memakai jilbab. Saya ingin sebelum saya pergi, saya bisa memberikan kontribusi positif bagi orang di sekitar. Bagi saya, memakai jilbab ya sekali untuk selamanya, seperti headline yang ditulis mas Kelik di Tribun waktu itu.

Saya pun sempat menuliskan curahan hati berdasarkan isi lagu Surat Kecil Untuk Tuhan dan terbit di halaman Deteksi JE pada 2009 lalu. Tulisan itu saya khususkan bagi teman saya, almarhum Eki. Saya berharap ia tenang di surga. Ya Allah, saya memang belum sempurna, tapi saya berusaha menjadi hambaMu yang baik, dan taat kepadaMu.

Pada akhirnya, setelah bulan Ramadhan 2009 lalu, saya memutuskan berjilbab. Senang sekali rasanya bisa memakai penutup kepala yang dianjurkan oleh Allah SWT ini. Senang sekali memakai jilbab, bukan untuk modis, bukan untuk dibilang alim, tapi lahir dari hati kecil saya, tanpa diminta orang, dan melakukan ibadah seikhlas mungkin, yang menjadikan saya sebagai hambaNya yang terus menerus memperbaiki kekurangan diri. Saya berharap jilbab ini membuat saya tetap istiqomah. ^_^

Hingga saat ini, saya masih ingat kondisi fisik alamarhum Eki di rumah duka ketika saya menyambangi setelah sholat Subuh pada bulan Ramadhan 2009 lalu. Tubuh yang kurus, mata yang sipit, hingga tak sehelai pun rambut menempel di kepalanya membuat saya terhenyak. Ya Allah, berikanlah ia tempat yang layak di sisiMu. Saya berdoa untuknya. Saya merindukannya.

Ramadhan 2010: Kesempatan Menjelajah Indonesia Bersama ACI detik.com

Ramadhan tahun kemarin menjadi saksi sejarah perjuangan saya dalam menembus 66 besar petualang ACI detik.com. Betapa tidak, dari mulai pengambilan video hingga tahapan audisi lainnya dikerjakan pada saat bulan puasa. Di tengah hecticnya hari saat puasa, saya berjibaku dengan perjuangan ini. Yang saya kerjakan pun tidak tergolong mudah. Saya mesti meminta izin dengan sekolah yang waktu itu saya sedang PPL disana. Alhamdulillah, jalan berliku pun saya lewati, izin dari SMP N 14 Kota Jambi pun saya kantongi, meski dua minggu ‘menghilang’ dari peredaran untuk berpetualang. Waktu selama ini bisa saja membuat saya gugur mendapatkan nilai PPL, tapi Allah SWT memudahkan jalan saya.

Entah kenapa, saya dimudahkan oleh Allah SWT ketika mengikuti program ini. Yang dulunya sempat tiga kali gak lolos program apapun, eh di bulan Ramadhan ini saya malah dimuluskan jalannya oleh Allah SWT. Berawal dari kesukaan saya melihat akun Twitter para artis, saya tak sengaja mengecek tweet dari kak @TitiKamal yang waktu itu menginformasikan program dari detik.com ini. Saya lantas buka link itu dan mendaftarkan diri. Tak dipungkiri saya ingin sekali lolos, tapi nothing to lose deh.

Well, ternyata Allah SWT mengabulkan permintaan saya. Saya lolos ke 1000 besar dan kembali menjawab dua pertanyaan. Lalu sebuah email datang lagi, untuk menuju 66 petualang dari 500 besar yang terpilih (karena saya lolos ke 500 besar), maka saya harus membuat video tentang perkenalan diri, kenapa saya cinta Indonesia, dan kenapa saya harus dipilih sebagai petualang ACI. Pembuatan video inilah yang memakan waktu paling asoy seumur hidup saya!

Pertama, pengambilan video berlangsung sehari sebelum pengiriman video ditutup (waktu yang diberikan hanya tiga hari kalo tak salah). Saya bahkan iri banget pas tahu petualang ACIyang lolos 750 besar tahun ini diberikan waktu selama satu minggu untuk pengambilan video. Hmm, rentang waktu yang sangat mepet itu memaksa saya mengkonsep apa saja yang akan saya katakan di video.

Kedua, pengambilan video berlangsung saat bulan puasa! Seharian penuh setelah siswa/I pulang sekolah, saya mengambil video selama 2 jam-an lebih bersama kak Yandi dan Rexi di sekolah tempat saya mengajar sebagai PPL. Mereka membantu saya untuk mengambil video yang bagus. Cuaca yang panas dan kondisi siang hari saat Ramadhan tentu bisa dibayangkan bukan? Alhamdulillah video ini tidak sia-sia saya kirim, saya dinyatakan lolos menajdi bagian dari 66 petualang ACI. Disini saya merasa Allah SWT menjawab pertanyaan saya. Dia mendengar permintaan hambaNya yang menginginkan hasil terbaik untuk program ini. Thanks God!

Tidak sampai disitu saja perjuangan saya. Kembali saya harus menghadapi kepala sekolah untuk meminta izin agar selama dua minggu saya bisa konsen mengikuti program ini. Ibu Ida yang juga tetangga saya ini mengizinkan saya mengikuti program ini. Karena dia tahu, ini berguna bagi diri saya ke depannya, maka beliau mengizinkan. Namun ketika sesuatu hal terjadi dan saya tidak enak kepada beliau, saya meminta maaf, saya takut kalau salah ambil keputusan. Sempat saya menangis di hadapan beliau kala itu, pas bulan puasa juga lho. Saya benar2 meminta restu darinya, dan meminta maaf jika saya melakukan kesalahan. Alhamdulillah, beliau bijak sekali, ia memberikan izin. Maka hingga saat ini, saya tidak tahu harus seperti apa membalas kebaikan beliau dan segenap elemen SMP N 14, termasuk Pak Jhon yang sangat mendukung saya. Perjuangan ini membuat saya tersenyum. Kisah Ramadhan kali ini memberikan saya petunjuk untuk jadi orang yang sabar, kuat, dan selalu mengambil langkah yang tepat di hidup ini.

Kemudian saya pun terbang ke Jakarta. Saya berkumpul dengan teman2 kloter 2 di Hotel Grand Kemang pada hari minggu. Dan tibanya hari senin, saya pun menjelajah Banten bersama partner, kak Atre. Ketika saya di Jakarta, saya merasa bersyukur sekali. Saya terharu mengingat perjuangan yang saya tempuh selama bulan Ramadhan itu. Tidak sia2 Allah SWT memberikan kekuatan dan kepercayaan pada saya untuk menjalankan amanah ini dengan baik. Bulan Ramadhan 2010 sungguh berkesan bagi saya. Dan sampai di titik ini pun saya yakin seyakin2nya, Allah SWT pasti memberikan yang terbaik bagi saya, bagi mimpi2 saya yang belum terwujud.

4 thoughts on “Dua Kisah di Dua Periode Ramadhan

  1. Ramadhan mu begitu luar biasa bella. Memakai jilbab, satu keputsan yang tepat dan itu pasti tidak mudah untuk berkonsisten. Dan terpilih jadi salah satu petualang ACI detik.com 2010 adalah peristiwa besar dalm hidup yang juga tak terlupakan. Sukses selalu dalam hidup. Smoga Ramadhan tahun ini bisa menjadikan kita lebih baik.

  2. Kisah yang menarik. Entah mengapa, setiap membaca kisah semacam ini, saya seringkali merasa, hidup saya terlalu biasa dan minim sekali pengalaman seru. Hmm, mungkin Allah punya rencana lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s