Ziarah di Masjid Agung Banten

Memasuki area Masjid Agung Banten terasa berbeda bagi saya. Apa pasal? Area masjid yang sudah berumur 4 abad ini masih kokoh meski umurnya sudah uzur. Di sepanjang perjalanan menuju Masjid Agung Banten, saya melihat banyak kios makanan dan pakaian yang menjual cinderamata. Selebihnya para peziarah tidak kalah banyaknya memenuhi masjid. Sambut menyambut mengunjungi makan sultan Banten.

Menginjakkan kaki di Banten Lama sudah terjadawal dalam daftar petualang saya. Di hari ke-12, tepatnya setelah dari Baduy Luar, kami harus berada disana. Dan perjalanan pun dimulai.
Selang waktu berganti, kami memasuki daerah Banten Lama. Di Banten Lama ini banyak terdapat peninggalan bersejarah yang saya temui, khususnya Masjid Agung Banten, Benteng Surosowan, makam sultan, dan lainnya. Sesaat mobil diparkir di area Masjid Agung Banten. Saya turun dari mobil dan berbegas memesan semangkuk bakso khas Banten. Anehnya, di sepanjang jalan dekat masjid ini, banyak sekali penjual bakso yang menawarkan dagangannya. Apa bakso ikon Banten sampai-sampai kios ini mendominasi?
Setelah puas beristirahat, saya dan kak Atre pun berjalan ke arah masjid. Kami bertemu dengan para peziarah di berlawanan arah jalan. Mereka memakai jilbab, baju koko, dan berwajah ceria. Terlihat raut bahagia selepas mengunjungi makan sultan Banten yang ada di masjid tersebut.
Ya, masjid yang oleh Sultan Maulana Hasanudin atau putera dari Sunan Gunung Jati ini, terdapat makam-makam dari beberapa sultan Banten dan keluarganya, diantaranya makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar di serambi kiri (bagian utara masjid). Pantas saja banyak orang yang hilir mudik di area masjid sambil membawa bunga, tidak lain mereka ingin berziarah.
Ketika masuk ke dalam masjid untuk sholat Dzuhur, bulu kuduk saya langsung berdiri. Memang nggak ada hal negatif disini, tetapi saya merasa masjid ini beda dari biasanya, dan itu membuat saya takut. Entah kenapa, yang jelas masjid ini membuat saya berhati-hati dalam bertutur kata.
Di lahan masjid ini terdapat menara dengan ketinggian ± 30 meter dengan diameter bagian pangkalnya ± 10 meter. Menara ini dulunya selain sebagai tempat untuk mengumandangkan azan juga digunakan untuk melihat/mengawasi perairan laut. Konon menara ini dibangun semasa kekuasaan Sultan Haji pada tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucazoon Cardeel.
Selain itu, ada juga Tiyamah. Bentuknya berupa segiempat panjang dan bertingkat. Bangunan ini mempunyai langgam arsitektur Belanda kuno dan menurut sejarah didesain pula oleh Lucazoon Cardeel. Dahulu bangunan ini dipergunakan sebagai tempat musyawarah dan berdiskusi tentang soal-soal keagamaan.
Untuk mengunjungi Masjid Agung Banten ini tidak terlalu sulit, di jalanan cukup banyak penunjuk arah yang menunjukkan letak masjid. Masjid yang dijadikan tempat wisata ini ramai dikunjungi peziarah setiap harinya. Dan bagi kamu yang ingin melihat Masjid Agung Banten, jangan lupa berziarah ke makam sultan-sultan tersebut ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s