Hidup Dari Kain baduy

Di Baduy luar, tepatnya kampung Kadeuketuk, terdapat banyak sekali pengrajin kain tenun khas Baduy. Salah satu pengrajin yang saya temui adalah Ibu Rawi. Beliau membuat kain Baduy sejak 12 tahun lalu. Dan itu turun temurun, ia mendapatkan ilmu tersebut dari Ibunya sendiri. Kini ia sudah memetik hasilnya, banyak kerajinan tangan yang sudah ia hasilkan dipajang di rumahnya. Harganya pun variatif, dari mulai ukuran kecil sampai besar, dari yang murah hingga mahal.

Seyogyanya, para wanita Baduy akan pergi ke ladang setiap pukul 6 pagi. Mereka berladang di sawah, dan memetik hasil panennya untuk dimakan sehari-hari. Tetapi aktifitas para wanita Baduy tidak cukup itu saja, Ibu Rawi contohnya, beliau juga menenun kain sarung Baduy sama seperti wanita disana. Bahkan ia belajar dari Ibunya, yang kalau dihitung ia sudah menggeluti bidang ini selama 12 tahun. Prestasi luar biasa!
Saya memperhatikan jari jemari Ibu Rawi menenun dengan kecepatan kemahiran yang hebat. Ia mampu memindahkan tangannya berkali-kali ke dalam Hapit, alat yang digunakan untuk menggulung kain. Bahkan sambil mengobrol pun ia masih tetap berkonsentrasi menenun.
Ia bercerita kalau hasil tenunannya tersebut sering dibeli oleh wisatawan. Tidak heran kalau ia sering memetik hasil dari kerajinan Baduy yang ia buat, karena banyak sekali wisatawan yang tertarik dengan hal itu.
“Kalau ada tamu yang datang ke Baduy, mereka beli kain yang saya pajang di rumah. Selain itu, saat pameran di Jakarta, hasil kerajinan saya sering dibawa oleh teman yang berjualan disana,” ujarnya memulai pembicaraan.
Ibu Rawi juga cerita soal selera wisatawan dalam memilih kain. Beberapa motif kain yang ia buat bervariasi. Karena dengan variasi warna serta model itu lah, banyak wisatawan yang menyukainya. Ibu Rawi bahkan menerima pesanan dari wisatawan. Saat saya berkunjung kesana, ia sedang mengerjakan pesanan oleh masyarakat.
“Saya membuat kain ini sesuka hati saja. Tapi kalau ada yang mesan, maka saya harus tahu apa keinginan mereka. Sekarang saya lagi mengerjakan kain pesanan orang lain. Saya mematok harga Rp. 250.000,- Kain ini lebih lebar dan panjang dari bentuk biasanya, makanya agak mahal,” tuturnya lagi.
Waktu yang diperlukan Ibu Rawi untuk menyelesaikan pesanan ini terbilang lama. Pemesan harus menunggu selama setengah bulan untuk mendapatkan hasil maksimal. Sedangkan kain berukuran kecil dan sedang hanya memerlukan waktu satu minggu. Meski pembuatan kain berukuran seperti ini sangat cepat, tapi kalau kesulitan menerpa Ibu Rawi, ia harus mau mengulang pekerjaannya. “Kalau salah masukin benang, saya harus mengulang dari awal. Jadi harus hati-hati sekali,” ujarnya sambil memasukkan benang ke Sisir, alat untuk memasukkan benang.
Alat-alat yang digunakan Ibu Rawi antara lain, Hapit, Sisir, Teropong (alat untuk memasukkan benang seperti Sisir), Barera (alat untuk memindahkan kain agar bagus dan rapi), Jinjingan dan Limbuhan (alat untuk menganyam), Totogan (alat untuk mengumpulkan benang yang belum jadi), dan Rorogan (alat untuk menyangga Barera).
Di akhir pembicaraan, Ibu Rawi menyampaikan harapannya agar omzet yang ia peroleh dapat meningkat seiring dengan kebutuhan hidup keluarganya.
“Semoga saja omzet yang saya dapatkan bisa meningkat dari sebelumnya,” tutur Ibu Rawi yang juga dibantu oleh kedua anaknya ketika menenun kain putih ini.

One thought on “Hidup Dari Kain baduy

  1. Mbak Bella, terima kasih untuk sharenya tentang Baduy. Saya tertarik untuk ke Baduy bersama beberapa rekan. Apakah punya kontak Kang Erwin (guide di baduy itu). Demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s