Dua Jam Menanti Ujung Kulon dari Sumur

Pagi-pagi buta kami beranjak dari penginapan Pondok Remaja Rhino menuju Pulau Peucang. Cuaca pantai yang dingin menusuk tulang. Meski dua lapis baju kupakai, tapi suasana tepi pantai di Sumur tetap saja membuatku berpikir, “Kemanakah petualangan ini selanjutnya?”

Where’s your sense of adventure? Kamu bisa menjawab pertanyaan jika kamu sudah/sedang merasakan petualangan itu sendiri. Bahkan ketika saya dan tim akan berangkat menuju Pulau Peucang setelah terdampar di Rhino satu malam, saya tetap bertanya-tanya, apa yang menarik di Pulau Peucang? Bagaimana perjalanan KM Samudra nantinya yang membawa kami kesana? Dan setelah sampai disana, apakah petualangan yang direncanakan akan terlaksana?
Kami pun menyusuri Selat Sunda, jurang pemisah antara pulau Jawa dan pulau Sumatera pada 06.00 WIB. Di dalam perjalanan dua setengah jam tersebut, saya menemukan banyak hal lama yang nggak saya lakukan. Ya, menyeberang di laut biru dan bertemu dengan satu nahkoda, dan empat awak kapal. Saya, Atre, Mas Dona, Mas Maman, dan Mas Yayus mengisi perjalanan dengan mengobrol dan tertawa.
Indonesia memang kaya dengan alamnya yang indah. Hamparan birunya laut di sepanjang selat. Pohon Bakau tinggi menjulang, menahan air di sekitarnya. Beberapa sampah kami temui di selat ini, tapi saya yakin orang Indonesia pasti nggak akan merusak negerinya sendiri dengan cara membuang sampah di selat. Ya, keindahan alam di Indonesia ini harus kita rawat dan jaga.
Di perjalanan, saya bertanya kepada Mas Yayus, local guide kami dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Saat itu saya bertanya enak dan nggak enaknya menjalani tugas sebagai local guide. Dia mengatakan bahwa tugasnya ini bisa membawanya mengenal banyak orang.
“Senang rasanya jika bertemu dengan teman baru ketika mengantarkan mereka ke TNUK. Jika saya nggak mengantar seperti ini, saya nggak kenal orang lain,” tuturnya.
Buat kamu yang ingin berkunjung ke TNUK, jangan lupa mampir di Balai TNUK ya. Disana kamu akan dijelaskan bagaimana cara menuju TNUK, ada apa saja disana, dan siapa yang akan mendampingi kamu selama menyusuri TNUK. Info sewa kapal yang ditengarai berkisar Rp. 3,5 juta ini pun akan kamu ketahui ketika berada disini.
Pemandangan indah bagai permadani dunia di atas kapal membuat saya terkesima. Saya pikir, inilah esensi dari petualangan! Saat kamu takut melakukan sesuatu, dan kamu berhasil menaklukkannya, so it’s adventure! Saya senang berada di atas kapal sewa ini lagi, setelah hampir sepuluh tahun nggak menginjakkan kaki disini. Hingga saatnya kami tiba di Pulau Peucang. Babi hutan dan penginapan milik Balai TNUK-lah yang menyambut kami dengan seribu pertanyaan kembali.
Di pulau ini, hanya sedikit orang yang menghuninya, itu sudah termasuk petugas dari Balai TNUK, masyarakat yang mencari nafkah untuk pengunjung, serta tim kami sendiri. Sebelum masuk di penginapan Fauna (penginapan yang kemarin saya tempati), kamu berkesempatan melihat replika dari TNUK. Potongan gambar seperti flora dan fauna di TNUK terpampang jelas di dinding. Ditambah lagi babi hutan dan rusa yang banyak berkeliaran di penginapan ini menambah suasana alam nan asri dan damai.
Lapar dan ngantuk sangat terasa ketika memasuki penginapan ini. Tapi kami harus melawannya dong! Destinasi berikutnya yang akan kami jelajahi adalah TNUK. Ya, setelah kami makan, TNUK akan menanti kami selama dua jam. Kami mempersiapkan tenaga dan isi perut yang cukup agar perjalanan dengan berjalan kaki ini tetap sukses seperti perjalanan sebelumnya.
So, tibalah kami di depan TNUK. KM Samudra yang mengantarkan kami sempat terhenti di tengah selat ini karena hujan turun. Nggak ada yang menyangka jika petualangan kali ini agak horror. Bayangkan hujan di tengah selat yang nggak ada satupun kapan terlihat, perahu digoyang-goyangkan angin, dan penantian akan hujan reda karena kami akan ke TNUK. Selang beberapa waktu, kami memutuskan menyusuri TNUK, meski gerimis belum reda.
Disini, di TNUK, our world heritage, kami menyaksikan satu petualangan baru bersama tim. Di sisi kanan dan kiri terkihat pepohonan rindang, suara jangkrik, Hutan Hujan Tropis, dan jalan becek. Perjalanan ini memakan tenaga yang ekstra, waktu dua jam dihabiskan dengan berjalan kaki, melewati jalan becek dan alami. Tapi semangat petualang harus dilanjutkan, karena wisata petualangan telah menanti kami di Tanjung Layar!
Berjalan menempuh Ujung Kulon nggak semudah dibayangkan. Jalan kaki dan tanah becek membuat saya kelelahan melewatinya. Tapi setelah diberitahukan bahwa disana ada bekas penjara peninggalan Belanda, saya langsung excited. Plus saya baru tahu kalau Tanjung Layar adalah paling ujungnya Pulau Jawa. Dengan semangat membara saya mantapkan dalam hati agar perjalanan ini akan selesai. Panorama indah pasti akan jadi hal milik, batin saya.
Hingga akhirnya saya dan tim tiba di tempat ini. Pertama saya melihat bekas penjara peninggalan Belanda. Bangunan ini diperkirakan berumur ratusan tahun. Layaknya bangunan tua, di setiap sisinya sudah berlumut, banyak pohon yang tumbuh, dan tampak begitu menyeramkan. Ow ya, masih ada lagi. Mercusuar yang dibuat pada zaman itu pun masih terlihat atapnya. Meski nggak begitu sempurna, tapi jejak Belanda di tanah Ujung Kulon ini tetap terasa.
Selain itu, ketika saya sampai di Tanjung Layar, hamparan karang terjal dan tinggi menemui saya. Dari atas karang saya dapat melihat luasnya laut, terjal tebing, dan ombak yang sangat deras. Di dekat mercusuar pun sempat diberitakan ada harta karun yang disimpan oleh pihak Belanda. Seorang pemandu lokal tim kami mengatakan seperti ini, “Ada isu kalau tempat ini tersimpan harta dari Belanda, tapi sampai saat ini belum ada masyarakat yang bisa menguaknya.”
Anyway, kalau kamu mau ke Ujung Kulon, jangan lewatkan tempat bersejarah satu ini. Meski kaki kamu sakit dan lecet, kamu akan menemukan panorama indah di ujung Pulau Jawa. I promise, you’ll be excited!
(Tulisan ini dipublish setelah keluar dari Pulau Peucang, karena disini tidak ada sinyal maka saya menunda publish tulisan pada waktu itu. Tulisan ini juga masuk dalam buku kumpulan cerita petualang ACI “Jelajah Eksotisme Negeri” yang diterbitkan oleh Mizan – Bentang Pustaka)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s