Terpudil di Sungai Batanghari

Ini cerita saya waktu menjalani KUKERTA dua bulan yang lalu. Cerita ini sebenarnya tidak terlalu menarik, tapi adegan ketakutan dan lucu yang menghinggapi saya akibat peristiwa terpudil di Sungai Batanghari itu membuat saya berniat untuk menuliskannya. Ini bisa jadi mengingatkan saya pada ‘nikmatnya’ jatuh dari perahu dan setengah badan tenggelam di Sungai Batanghari, plus dibantu oleh teman posko 03, Asep, yang menjadi pahlawan saya kala itu.

Mengingat kami berada di desa di tepi sungai, hal itu kerap menjadi keasyikan tersendiri apabila bisa berkeliling Sungai Batanghari dengan menggunakan ketek/kapal/perahu. Bahkan ketika saya diajak oleh teman-teman untuk bermain pasir di tengah sungai yang waktu itu sedang surut airnya, saya sih oke-oke saja. Saya pikir, ini sensasi baru yang belum saya temui di Jambi. Apalagi berada di tengah-tengah sungai yang pasirnya timbul, kemudian bermain dengan air sekaligus tak melupakan sesi foto, adalah suatu peristiwa yang menyenangkan. Lantas saya langsung mengiyakan, setelah sempat saya bingung apakah ikut ajakan teman atau tidak.

Saya berangkat pada kloter kedua, sedangkan kloter pertama yang terlebih dahulu sudah sampai di tengah sungai seperti Ana cs sudah asyik bermain dengan penduduk. Saya lihat anak-anak dan remaja juga turut bergabung di antara mereka. Saya, Mbak Vidia, dan Dimas menjadi kloter kedua, karena kami agak sedikit terlambat menuju ke tengah sungai. Tiba di tempat mandi penduduk yang berada di tepi sungai, kami pun diajak oleh anak yang mendayun perahu untuk menuju ke tengah sungai. Awalnya Dimas yang diantar, kemudian saya dan Mbak Vidia dijemput. Pikir saya, ini toh bakal aman-aman saja bukan? Tidak ada yang perlu ditakutkan, apalagi sampai terjatuh ke sungai, itu pasti bisa  dihindari.

Mbak Vidia yang melihat perubahan wajah saya ketika naik perahu kecil ini lantas berkata lembut, ia meminta saya menenangkan  diri agar perahu ini tidak oleng. Saya sebaiknya bersikap wajar-wajar saja dan tidak memikirkan  hal negatif, begitu katanya. Rasanya kehidupan saya berbalik 180° kala itu. Saya sangat takut dan menutup mata agar tidak berteriak. Namun selang beberapa lama kemudian, perahu kami sudah sampai di tengah sungai. Leganya hati ini kawan!

Sesampainya disana, saya bersyukur dalam hati karena perjalanan tadi tidak terjadi apapun. Lalu saya bergabung dengan teman-teman. Ada yang melempari saya dengan pasir, memercikkan air ke tubuh saya, hingga berfoto ria bersama teman-teman. Suasana sore hari yang saat itu berkisar pukul 5 menambah suasana asri. Dengan latar belakang matahari terbenam, saya sempat mengambil foto sambil loncat lho, hehe..ini angle favorit saya. Selain itu, anak-anak yang ada disana turut senang dengan kedatangan kami, nggak heran kalau mereka langsung menarik saya dan membujurkan pasir ke baju saya, mungkin itu bentuk kedekatan mereka dengan kami.

Kira-kira 30 menit berada disana, kami lantas puas dengan aktivitas sore itu. Dikomandoi Ana, kami bergegas pulang ke posko. Ya, mengingat senja sudah kembali ke peraduannya, tidak ada kata TIDAK untuk kami tetap berada disini, itu artinya kami sudah diminta pulang, agar tidak balik sore. Secepat kilat, perahu di sekitar tengah sungai merapat ke kami, saya pun langsung mengambil sendal dan naik ke perahu. Sebenarnya saya takut berada sendirian di atas perahu yang mana kebanyakan anak kecilnya (saat itu ada 4 anak kecil) dan saya sendiri satu-satunya mahasiswa KUKERTA yang ada di atas perahu. Sungguh ketika saya merasa takut karena sendirian dan di sisi lain teman saya membuat saya percaya kalau tidak terjadi apapun, saya mulai memberanikan diri. Alhasil di atas perahu itu berjumlah 5 orang. dengan kapasitas perahu yang sangat kecil dan muatan 5 orang, bagi saya itu sudah menjadi alasan untuk tetap waspada sekiranya hal buruk terjadi.

Perahu mulai berjalan, semuanya baik-baik saja. Namun, belum sampai ke dekat tepi sungai, perahu kami terpudil! Dalam kamus Desa Muaro Jambi, terpudil disini berarti terjatuh. Ya, perahu kami oleng dan menenggelamkan kami! Sungguh kejadian yang sudah saya prediksikan sebelumnya terjadi juga. Gusti Allah, saya membaca apapun yang saya yakini dalam agama saya untuk menenangkan hati ini. Saya sungguh takut berada di tengah sungai dan hanya menggantungkan kedua tangan di perahu, tanpa ada dasar di bawah kaki saya, serta mendayung perahu dan diri sendiri untuk tiba ke tengah sungai lagi.  Saya melihat beberapa teman dari kejauhan melihat saya. Saya pikir, kenapa mereka tidak berenang dan menyelamatkan saya? Kenapa hanya tegak berkacak pinggang? Ahh, mungkin mereka menolong saya lewat doa, batin saya.

Hingga 10 menit sudah waktu berjalan. Tanpa saya sadari, seorang kawan di posko, Asep Suhendro, sudah berada di sebelah kanan saya! What, darimana datangnya nih orang ya? Saya sungguh terkejut melihat dia berada di samping saya. Tapi keterkejutan itu tidak berlangsung lama ketika ia berkata pada saya: “Bella masih kuat kan? Sambil dayung perahu ini ya biar kita sampai di tengah sungai lagi.”

Saya lantas bilang: ”Tanganku sakit sep,” sambil menunjukkan muka memelas. Ia pun berkata lagi: “Ayo bel tahan ya, bentar lagi kita sampai di tengah sungai.” Ya tengah sungai yang dimaksud dia ini adalah tempat yang ada pasirnya tadi, itu artinya saya kembali ke tempat pasir itu.

Well, saya melihat ke belakang, ternyata tengah sungai itu masih jauh! Ahh Asep membuat saya berfatamorgana kala itu. Padahal dalam hati sudah berharap bentar lagi sampai, eh nggak tahunya masih jauh. Pasrah, itu adalah kata yang menggambarkan perasaan saya. Toh kalau masih lama menuju tengah sungai, saya harus bersabar mendayung perahu dalam kondisi badan yang sudah masuk sungai.

Ingat kejadian ini membuat saya tergelak.  Ada sedih, menegangkan, sekaligus lucu, hehe.. Ow ya romantisnya juga ada nih, waktu itu saya tak sengaja refleks memegang tangan kiri Asep saking takutnya jatuh ke dalam air sungai, tapi selang 5 detik saya melepaskannya, hehe..karena saya ingat dia itu kan anak Rohis, kalau saya pegang tangannya apa kata dunia? Saya pun berpegangan kembali di perahu.

Ternyata tiba juga perahu penyelamat yang datang menghampiri saya. Ia beranggotakan Supriadi, teman posko saya, dan dua remaja putri, mereka membantu saya naik ke atas perahunya, dan segera membawa saya pergi dari keterpudilan itu. Sedangkan Asep? Dia memilih untuk tetap mendayung perahu hingga ke tengah sungai bersama ana-anak desa. Saya ajak dia naik ke atas perahu, tapi dia tidak mau. Pemuda satu ini cukup nekat rupanya, kata teman saya ia berenang dari tengah sungai menuju ke tempat saya terpudil, bermodalkan keberanian dan kenekatannya itu, dia berenang menghampiri saya. Saya sangat berterima kasih kepadamu kawan! ^_^

Finally saya tiba di tepi sungai dan naik ke daratan. Setibanya disana saya langsung diinterogasi oleh teman-teman dan diledeki anak-anak karena keterpudilan saya itu, hehe.. Saya belajar banyak dari hal ini, mungkin saya wajib belajar berenang kali ya? Biar tidak shock kalau terpudil lagi, hehe.. Sampai saat ini, saya masih sering diledeki karena jatuhnya saya ke sungai. Saya sih cuma ketawa saja, menganggap hal itu menjadi bahan lelucon yang tidak perlu dihindari, toh saya sendiri senang karena kejadian itu saya makin dikenal di kalangan anak-anak, haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s