Betapa Saya Bangga Memiliki Situs Candi Muaro Jambi!

“UNESCO: Situs Candi Muaro Jambi, Tentative List of World Heritage.”

Headline tulisan di atas membuat saya tertarik membaca harian lokal di kota saya, Jambi Ekspres. Saya mengambil kesimpulan bahwa candi yang paling dibanggakan provinsi ini akan masuk dalam daftar tunggu warisan budayanya UNESCO setelah membaca isi berita yang dimuat pada tahun lalu. Saya cukup senang melihat tulisan tersebut, ternyata dunia semakin mengenal Situs Candi Muaro Jambi!

Terhitung sejak April 2009 hingga Januari 2011, saya sudah lima kali mengunjungi kawasan yang membentang seluas 12 kilometer ini. Pertama kali saya mengunjunginya ketika mau meliput wisata dan budaya untuk majalah kampus TROTOAR yang ada di Jambi. Waktu itu mengunjungi Situs Candi Muaro Jambi bukanlah karena unsur kesengajaan, melainkan tidak sengaja berkunjung karena tempat pertama yang kami kunjungi (Sentra Batik Jambi di Seberang) terhambat. Saya dan dua teman, Wahyu dan Fadli, langsung memutuskan untuk meliput situs ini. Toh kami pikir, Situs Candi Muaro Jambi tidak kalah keren.

Perjalanan menuju Situs Candi Muaro Jambi memakan waktu ± 1 jam. Pada April 2009 lalu, hanya ada satu jalur menuju kawasan tersebut, yaitu melalui Jembatan Batanghari I Aur Duri, tetapi sejak 2010 lalu jalur menuju Situs Candi Muaro Jambi sudah bisa melalui Jembatan Batanghari II. Bagi yang belum pernah mengunjungi situs ini, tidak perlu takut, karena penduduk di sekitar Muaro Jambi sangat senang apabila ditanya tempat ini. Saya mengalaminya ketika baru pertama kali kesana, saya bertanya kepada penduduk lokal, dan mereka pun menunjukkan arah menuju Situs Candi Muaro Jambi. Di sisi jalan juga terdapat palang informasi mengenai area Situs Candi Muaro Jambi. Menurut saya, pemerintah seharusnya lebih memperbanyak palang informasi tersebut di sisi jalan, agar memudahkan wisatawan dari luar Jambi yang ingin berkunjung. Ow ya, jangan lupa siapkan tiket masuk Rp.8.000,-/motor agar kamu bisa menikmati kompleks ini.

Kali kedua saya berkunjung, ketika Februari 2010 lalu, saya dan rombongan Workshop Menulis Eka Tjipta Foundation-TROTOAR, berwisata ke kawasan ini setelah selesai workshop selama satu minggu di PT.WKS. Andreas Harsono, wartawan independen asal Jakarta ini bahkan bilang kepada saya suatu saat ingin menulis lebih dalam mengenai Situs Candi Muaro Jambi lho. Ia tertarik dengan luasnya candi kita!

Memang dalam kurun waktu April 2009-Februari 2010, saya sudah lama tidak berkunjung ke Situs ini, tapi perjalanan menuju Situs Candi Muaro Jambi kembali terulang pada tahun yang sama, Juli 2010. Mama, Papa, dan kedua adik saya turut serta dalam liburan keluarga ini. Iwan, adikku yang belajar di IPB plus Mama dan adikku Sadi, juga belum berkunjung kesini, maka tercetuslah Situs Candi Muaro Jambi dalam destinasi liburan kami. Kami tidak lupa membawa makanan dan lauk pauk, serta tikar yang bisa digelar di area Situs ini. Nikmatnya makan di bawah pohon dekat Candi Tinggi I (salah satu dari sembilan candi yang besar) bersama keluarga tidak akan pernah tergantikan.

Keempat kalinya, saya mengunjungi Situs Candi Muaro Jambi bersama teman-teman dari KKN Tematik Unja yang akan survey lokasi KKN disini. Yup, saya dan teman-teman dalam waktu dekat akan KKN disini, jadi pada Desember 2010 lalu kami survey di Desa Candi Muaro Jambi dan Desa Danau Lamo (dua desa yang berada dekat dengan kawasan Situs ini). Berbeda ketika pertama kali mengunjungi Situs Candi Muaro Jambi saya bertemu dengan Pak Bujang, seorang guide yang sangat ramah, waktu itu kami juga bertemu dengan seorang guide bernama Bang Borju. Saya rasa dia memiliki rasa cinta yang sangat tinggi terhadap Jambi. Ia menjadi guide dengan sukarela, plus mendirikan Sekolah Alam Raya (sekolah informal setiap hari minggu) bagi anak-anak di sekitar kompleks candi, dan ia membiayai sekolah ini dengan uangnya sendiri lho! Can you imagine? Pemuda Indonesia satu ini begitu mengabdi pada bangsanya.

Terakhir kali, pada 24 Januari lalu, saya kembali mengunjungi Situs yang ditemukan oleh Letnan S.C. Crooke pada 1820 ini bersama teman-teman satu kelas di FKIP Bahasa Inggris 2007. Kami sengaja merencanakan liburan ke tempat ini karena telah habis mata kuliah di semester 7, and it was time to refresh our mind! Perjalanan kali ini ditempuh dari Jembatan Batanghari II, ditemani dengan rintik hujan dan semangat membara akan kebersamaan 25 mahasiswa/i yang cukup gokil.

Lagi-lagi saya bertemu dengan Bang Borju. Sebenarnya kami berencana akan mengelilingi 12 km Situs Candi Muaro Jambi, tapi karena cuaca yang tidak mendukung, maka kami memutuskan untuk tidak mengelilinginya. Bang Borju ternyata masih ingat dengan saya, Ana, dan Alsep, yang ketika itu pernah bertemu beliau sewaktu survey KKN Tematik. Ia ramah, dan sangat senang berbicara dengan kami, ia nggak sungkan-sungkan menawarkan bantuan kepada kami. What a nice guide, right?

Di dalam kompleks Situs yang sering didatangi wisatawan lokal, nasional, dan internasional ini terdapat 82 candi, diantaranya sembilan candi besar yang sudah ditemukan, Candi Kedaton, Candi Kotomahligai, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, Candi Kembar Batu, dan Candi astano, beberapa kanal kuno (digunakan sebagai akses memasuki candi dari jalur kanal), Gedung Koleksi Kepurbakalaan, Telago Rajo (kolam kuno), dan menapo (gundukan tanah yang berisi struktur bata). Di museum tersebut juga terdapat arca yang terbuat dari batu maupun bata, keramik lokal berupa gerabah dan keramik yang terbuat dari porselin atau batuan, prasasti pada bata kuno, genteng tanah liat polos maupun berglasir, gong/belanga perunggu,  mau mengelilingi kompleks 12 kilometer ini, Bang Borju dengan senang hati mengantarkan kamu keliling kok. Bang Borju juga pernah bercerita kepada saya kalau nanti akan ada trip keliling Situs Candi Muaro Jambi, dilanjutkan dengan menyantap kuliner khas Muaro Jambi juga lho! Nah kenapa nggak dicoba tuh?

Cerita Situs yang memotret kejayaan Kerajaan Melayu Kuno pada abad 4-5 masehi ini juga terdengar sampai ke Jerman lho. Teman saya, Supriadi, pernah bertemu dengan seorang turis asal Jerman yang lagi jalan kaki dari arah Simpang Rimbo menuju Aur Duri. Guess what? Jan Warschewski, pemuda ini datang jauh-jauh dari Jerman untuk mengunjungi Situs ini! Ia mengaku mengetahui informasi ini dari internet, kemudian ia memutuskan untuk menjelajah Indonesia, termasuk Situs Candi Muaro Jambi. Jujur, saya bangga! Lain halnya ama dua petualang Aku Cinta Indonesia (ACI) Detik.com, kak Titis dan Zulfi, mereka sebenarnya dijadwalkan hanya berkeliling Bengkulu dan Lampung dalam trip mencintai Indonesia ini, tapi mereka bersikeras menuju Situs Candi Muaro Jambi karena pengin penasaran! Keren banget semangatnya guys! Saya senang mendengarnya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s